Abianandita

Abianandita
t i g a


__ADS_3

Matahari yang cerah mengusik Abian dari tidur lelapnya.


"Bian, ayo bangun ntar telat sekolahnya," teriak Tante Cantik dari dapur.


Abian melangkah menuju dapur setelah mandi secepat kilat. Lelaki tersebut hanya membutuhkan waktu 10 menit untuk membersihkan diri.


"Rumah Tante udah beres? Kok cepet dateng?" tanya Abian.


"Belum, Bian. Kalau kamu ke sekolah, Tante mau ajak Amyra main ke rumah. Bisa kan?"


"Bisa dong, Tan. Oh iya, Bian ada tabungan, Tan. Rencananya Bian mau ngajak Tante sama Amyra buat makan siang di luar. Mau nggak?"


"Bian, sebentar lagi kamu ujian kenaikan kelas, kebutuhan kamu pasti ada. Soal kesenangan Amyra kamu jangan khawatir, ayahmu udah transfer untuk Amyra."


"Ayah kapan pulang, Tan? Bunda? Kalau bunda apa kabar?" tanya Abian beruntun.


"Bunda kamu susah dihubungi,"


"Bunda sesibuk itu ya, Tan? Apa udah lupa kalau di sini juga ada anaknya? Bunda ga suka Bian wajar karena Bian keras kepala. Tapi, Amyra... Amyra masih butuh bunda." mata Abian berkaca-kaca.


Lengan Tante Cantik terangkat mengelus bahu Abian guna memenangkan.


"Maafin bunda kamu ya, Bian. Kita nggak tau apa penyebab Alisa melakukan ini " Abian hanya tersenyum kecut.


"Bian pamit dulu, Tan. Titip Amyra lagi. Oh iya, ntar Bian jemput Amyra setelah kerja ya, Tan. Makasih banyak. Assalamu'alaikum." setelah mencium punggung tangan Tante Cantik, Abian mengendarai motornya dengan kecepatan sangat pelan.


Setengah perjalanan, Abian melihat seorang gadis dengan seragam yang persis dengannya menunggu di halte. Niatnya yang ingin memberikan tumpangan diurungkan saat melihat siapa gadis itu.


"Kalau gue tolong Bona ntar dia kena masalah lagi," monolognya. Detik berikutnya Abian memutar gas hingga kecepatan motornya jauh lebih cepat.


Abian berjalan memasuki gerbang kedua yang menghubungkan antara parkiran dan koridor kelas.


"Assalamu'alaikum para penggemar Abian Naelzain Arjaya..." teriaknya memasuki kelas.


"Wa'alaikumussalam," jawab seisi kelas serempak.


"Tumben lambat, Bi," ucap Riko--teman sebangku Abian.


"Motor gue males ngebut," balas Abian.


"Eh, Bian PR lo udah kelar? Bagi dong," pinta Jenita--murid termalas di jelas 11 IPS2.

__ADS_1


"Astaga, gue lupa kerja," ucap Abian dengan mata yang terbelalak.


"Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumussalam,"


"Dita, itu siapa?" tanya Jenita sambil menunjuk gadis yang rambutnya diurai dengan bando berwarna biru di samping Anandita.


Senyum Anandita merekah. Ia merangkul gadis di sebelahnya. "Ini Feliana." ucapnya sembari mengangkat dagu Feli agar berhenti menunduk.


"Mulai hari ini, lo ga boleh nunduk. Okay?" bisik Anandita membuat Feli tersenyum ragu dan mengangguk.


"Wih, gilaaa... Si cupu penampilannya berubah jadi suhu,"


"Anjay, ini Feli?" kaget Bona yang baru saja sampai di kelas.


"Iya, ini gue," seisi kelas kecuali Anandita kaget mendengar gaya bicara Feli.


"Lo ngubah orang jadi bidadari dalam satu malam, Dit?" tanya Abian membuat pipi Feli memanas.


"Eh, mau ke mana?" tanya Abian pada Anandita.


"Toilet," jawabnya setengah berteriak.


"Itu mah gausah diraguin lagi," timpal Abian mampu melukai hati Feli jika didengar gadis itu.


"Gue harap lo ga ngecewain Anandita," ucap Jenita tepat di samping telinga Feli. Kaki Jenita menyusul Anandita ke toilet.


"Dit, saran gue jangan terlalu percaya sama Feli,"


"Ke--" ucapan Anandita terhenti akibat deringan ponsel Jenita.


"..."


"Mama?" kaget Jenita dengan suara serak menahan tangis.


"..."


"Y-yaudah Nita keluar sekarang,"


"..."

__ADS_1


"Dit, mama gue meninggal hiks, gu-gue harus pergi sekarang." ucap Jenita dengan napas tercekat dan air mata yang mengalir deras.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun." ucap Anandita menatap kasihan punggung Jenita yang kian menjauh.


Anandita kembali ke kelas dan duduk sebangku dengan Feliana. Bel pertanda jam pelajaran akan dimulai menggema di seantero sekolah. Tak lama, Pak Ridwan--guru PJOK masuk ke kelas XI IPS2.


"Anak-anak, sekarang jamnya matematika wajib. Berhubung Ibu Mauren tidak bisa hadir jadi, saya disuruh untuk mengisi jamnya beliau agar tidak ada yang keluar-masuk kelas. Yang PRnya sudah selesai silakan kumpul dan yang belum bisa diselesaikan sekarang..." pelajaran berjalan lancar diiringi sedikit lawakan dari Abian, Riko, maupun murid lainnya.


Waktu istirahat tiba. Anandita masih fokus pada kertas penuh coretan di hadapannya. Gadis itu menoleh sekilas pada Feli lalu berkata,


"Lo istirahat duluan, gue masih kenyang,"


"Lo sakit, Dit?" tanya Abian saat Feli sudah berlalu. Respon Anandita hanya gelengan pelan.


"Tapi, lo pucat banget. Gue beliin roti?" Anandita menggeleng lagi.


"Lo ke kantin aja, Bi. Ga perlu khawatir soal gue," Abian tau senyuman itu terpaksa. Ada apa dengan Anandita?


"Bener lo baik-baik aja? Kalau ada apa-apa jangan sungkan cerita ke gue siapa tau gue bisa bantu,"


"Gue sebenernya butuh banget bantuan. Tapi, gue ga mau ngerepotin siapapun," bahu Anandita merosot.


"Nanti gue cerita deh kalau udah siap." ucap Anandita tersenyum lebar.


"Yaudah, sekarang ngantin dulu yuk." ajak Abian dengan menengadahkan tangan kanannya diterima hangat oleh tangan kiri Anandita.


Dengan tangan yang terpaut, Abian dan Anandita hanya membeli dua buah susu kotan dan dua roti selai kacang. Abian dan Anandita menghampiri Feli yang duduk sendirian di meja 1.


"Eh, kalian," sapa Feli keduanya tersenyum.


"Dit, lo cantik pasti ga bisa masak," ucap Abian membuat Feli menatap tak suka. Detik kemudian Feli berkata,


"Tadi sih Dita mau masak tapi katanya waktu ga keburu, ga jadi deh,"


"Gabisa masak kali ah," timpal Riko tiba-tiba duduk di samping Abian.


"Bisa, Gue bisa masak," ucap Anandita yakin.


"Nanti kalau kalian maen ke rumah gue, gue masakin deh," ucap Anandita lagi.


"Ntar pulang sekolah gimana?" saran Abian.

__ADS_1


"Hari ini gue nggak bisa, ada urusan penting." ujar Anandita dengan raut yang hampir menangis.


"Oke, sebisanya lo aja. Jangan lupa kabarin ya," ucap Riko sebelum meninggalkan meja tersebut.


__ADS_2