
Lenguhan Anandita disadari oleh lelaki yang sedang menuang air dari teko ke gelas.
"Dit? Lo ga diapa-apain kan?" tanya lelaki itu setelah berdiri di samping ranjang tempat Anandita berbaring.
"Riko?" tanya Anandita memastikan.
"Iya, ini gue. Tadinya gue mau nawarin lo pulang bareng karena gue liat Bian bareng Feli. Waktu gue mau nyamperin eh Bu Dewi dateng minta tolong beresin bangku. Pas mau pulang gue liat lo diganggu sama preman itu," jelas Riko panjang lebar.
"Makasih banyak ya, Rik. Gue gatau lagi keadaan gue kalau ga ada lo."
"Sama-sama, Dita. Kalau lo butuh sesuatu jangan sungkan bilang ke gue. Mana tau gue bisa bantu kan? Asal jangan minta contekan mtk aja karena gue benci itu,"
"Mtk ga ngapa-ngapain lo benci, Rik, hahahaha," ucap Anandita tertawa pelan.
"Dit, lo pulangnya besok aja ya? Di luar hujan,"
"Nggak ah. Masa gue nginep di rumah cowok. Ntar apa kata orang,"
"Ini panti asuhan. Temen-temen gue banyak di luar. Kamar pribadi cuma ini sih, tapi gapapa buat lo aja. Gue bisa bareng temen gue yang cowok."
"Maaf lancang, kok bisa lo tinggal di sini?" tanya Anandita ragu-ragu.
"Ini milik almarhum kakek gue. Ayah sama bunda gue jarang di rumah. Jadi gue milih tinggal di sini,"
"Jadi yang ngurus panti ini sekarang lo?" Riko tersenyum kemudian mengangguk pelan.
"Dibantu sama Mbak Yuna." Anandita ber-oh-ria.
"Gue mau nanya lagi, boleh?"
"Boleh,"
"Lo pulang ke rumah berapa kali seminggu atau sebulan?"
"Jujur nih, Dit. Gue itu ga pinter jadi pergi berapa haripun tetep ga bakalan dicari," ucap Riko tersirat rasa kecewa, sakit, dan amarah di matanya.
Anandita menatap kasihan pada Riko. Lengan Anandita terangkat mengelus bahu lelaki yang menyelamatkannya beberapa waktu lalu.
"Lo bukan ga pinter. Gue yakin lo punya keahlian di bidang lain," ucap Anandita membuat Riko menatap sendu padanya.
"Tapi keinginan bokap gue, gue yang lanjut ngurusin perusahaannya. Sedangkan perusahaannya bergerak di bidang pertambangan. Gue difasilitasi lengkap tapi gue juga butuh mereka buat berkeluh kesah. Gue cowok, manusia biasa. Gue juga butuh teman cerita," ucap Riko panjang lebar.
"Riko, kalau mau cerita ke gue aja. Telinga gue bisa kok dengerin keluh kesah lo. Gue tau, rasanya ga bakal sama kalau cerita ke ortu. Seenggaknya hati lo lega. Kita bisa bersahabat mulai sekarang," ucap Anandita lalu mengulurkan tangannya disambut penuh dengan senang hati oleh Riko.
"Makasih ya, Dit. Sahabat gue jadi dua. Abian dan lo,"
"Lo di rumah sama di sekolah beda ya," ujar Anandita.
"Bedanya apa?" bingung Riko.
"Di rumah lo adem kalau diliat. Kalau di sekolah kayak cacing kepanasan alias banyak gerak."
"Yehh, di sini banyak adek gue. Gue kan harus jadi contoh yang baik buat mereka,"
"Cara mikir lo keren," puji Anandita.
"Permisi Bang Iko, ini tehnya," ujar seorang gadis.
"Eh, makasih yaa," ucap Anandita.
"Iya kak, sama-sama," ucap gadis tersebut. Saat berbalik dan ingin meninggalkan ruangan, gadis itu ditahan oleh Riko.
"Put, kamu di sini dulu. Takut timbul fitnah kalau cuma berdua," Putri mengangguk kemudian duduk di sofa.
"Ntar lagi masuk waktu ashar. Lo butuh mukenah ga?" tawar Riko.
"Gue lagi libur,"
"Oh yaudah, gue mau siap-siap dulu. Kalau mau keliling ajak Putri aja. Hati-hati juga, lantai licin lagi hujan." peringat Riko.
"Iya, Riko. Makasih banyak ya," Riko mengangguk kemudian berlalu meninggalkan kamar.
__ADS_1
Hening. Anandita diam menatap Putri yang juga diam sembari menunduk.
"Emm, Putri," panggil Anandita membuat sang empu nama menoleh ke arahnya.
"Putri sekolah?" gadis itu mengangguk.
"Kelas berapa?" tanya Anandita lagi.
"Sembilan, Kak,"
"Wah umur kita ga terlalu jauh dong,"
"Umur Putri 15, kalau kakak?"
"Umur Dita 17,"
"Seumuran Bang Iko. Kakak pacarnya Bang Iko?" tanya Putri yang sudah mau berbicara banyak.
"Bukan, Dita sahabatnya Riko. Baru tadi resmi sahabatan, hahahaha," ucap Anandita sambil terkekeh. Putri pun ikut terkekeh.
"Oh iya, Riko ultahnya kapan?"
"18 Februari," jawab Putri.
"Ooh udah lewat ya," Putri hanya mengangguk mengiyakan.
"Kak Dita mau keliling panti nggak?"
"Nggak dulu deh, Put. Kepala Dita masih pusing."
"Mau dipijitin?" tawar Putri.
"Ga usah, Putri. Temenin Dita aja di sini,"
Obrolan Anandita dan Putri berlanjut cukup lama. Membahas tentang skincare, haircare, dsb.
Riko kembali bersama dengan Yanti--anak berusia 7 tahun.
"Dit, ini Yanti bocil yang paling deket sama gue." ucap Riko memperkenalkan Yanti.
"Hai, kakak Anandita," Anandita menatap bingung pada Riko seakan bertanya 'Kok bisa tau?'.
"Tadi Bang Iko cerita kalau ada kakak kakak yang cantik di kamar terus, dikasih tau namanya," ucap Yanti mengundang senyum lebar Anandita.
"Yanti, sini," panggil Anandita menepuk-nepuk pahanya dan Yanti langsung berjalan ke tempat yang ditunjuk Anandita.
"Gemesin banget sih," gemas Anandita menarik pelan pipi Yanti.
"Tau nggak kak? Tadi kak Iko bilang gini, 'Nti, mau liat kakak bidadari yang cantik nggak? Namanya Anandita, ayo Abang kasih liat' gitu, Kak," ucap Yanti. Riko membelalakkan matanya.
"Nti, kalau boong diapain, hm?" tanya Riko dengan nada mengancam.
Yanti menyengir kemudian meminta maaf.
" Hehehe, maaf Bang Iko, Kak Dita." ungkapnya.
"Yang bener 'Nti, Abang punya sahabat baru, cantik loh' jadi Yanti maksa biar bisa liat kakak. Ternyata beneran cantik, hehehe," ujar Yanti diakhiri kekehan.
"Yanti takut sama Riko?" Yanti mengangguk.
"Emang Yanti diapain kalau boong?"
"Disuruh makan keripik yang pedas terus ga bisa minum," ucap Yanti mengadu.
Mata Anandita kini beralih menatap Riko. "Jahat banget lo Rik," ucapnya.
"Itu biar mereka kapok boong."
"Bang Iko ga jahat kok. Ini kan demi kebaikan kita juga," ujar Putri yang sedari tadi menyimak. Yanti mengangguk membenarkan.
"Hebat banget kalian. Attitude-nya juga best." ucap Anandita mengacungkan dua jempol.
__ADS_1
"Makasih, Kak Dita,"ucap Yanti dan Putri bersamaan.
"Kak Dita ayo ke ruang tengah kita main bareng yang lainnya," ajak Yanti.
"Biarin kakak Ditanya istirahat, Nti." tegur Riko.
"Gue udah enakan kok. Yuk."
Akhirnya Yanti, Putri, Anandita, serta Riko keluar dari kamar. Malam hari tiba. Semua anak disuruh tidur setelah makan malam terlaksana dengan khidmat.
Anandita masih duduk di ayunan yang terletak di teras. Ponselnya berdering.
incoming call Abian
Segera Anandita menerima panggilan tersebut.
"Assalamu'alaikum, Dit,"
"Wa'alaikumussalam, kenapa Bi?"
"Gue cuma mau mastiin, lo baik-baik aja kan?"
"Tadi gue hampir diculik, Bi,"
"Maafin gue, Dit. Maaf banget. Tadi lo liat sendiri kan keadaan Feli? Sekarang lo dimana?"
"Santai aja kali, Bi. Untung juga tadi ada Riko yang liat gue udah dibius. Sekarang gue di panti asuhan almarhum kakeknya Riko,"
"Lo nggak pulang?"
"Hujan ga reda dari tadi sore,"
"Sekarang udah reda, lo mau gue jemput?"
"Ga usah, Bi udah jam berapa nih,"
"Baru jam sembilan,"
"Yaudah, boleh deh. Gue juga ga bawa baju ganti. Ini aja masih pake seragam,"
"Sip, gue ke sana sekarang."
"Hati-hati."
Tut.
Panggilan terputus. Riko menghampiri Anandita dengan baju ditangannya.
"Dita, gue ga sengaja denger lo mau pulang?" tanya Riko memastikan.
"Iya, Rik. Gue ga bawa baju ganti sama seragam buat besok,"
"Nih, baru aja gue ambil stok baju di gudang buat lo,"
"Maaf ngerepotin, Rik."
"Aman, gue mah santai aja,"
"Gue titip salam ya buat Yanti sama yang lainnya," ucap Anandita.
Bip
Klakson Abian membuat Riko dan Anandita menoleh.
"Tunggu sebentar, Bi. Gue mau ambil tas," Anandita berlari kecil ke kamar dan mengambil tasnya.
"Gue duluan ya, Rik." ucapnya setelah kembali dari kamar.
"Hati-hati, jangan ngebut. Anak orang lo bawa." peringat Riko pada Abian.
"Iya, Ustadz Riko." canda Abian.
__ADS_1
"Jangan deh, gue ga pantes dipanggil ustadz. Panggil ayang aja." Riko membalas candaan Abian.
"NAJIS!" teriak Abian sambil menancap gas dan menjauh dari pekarangan rumah itu. Riko hanya tertawa kecil sembari menggelengkan kepalanya.