Abianandita

Abianandita
l i m a


__ADS_3

Bip...


Suara klakson membuat Anandita yang sedang memasang sepatu mendongak. Ia terkejut melihat sosok yang baru saja dikenalinya beberapa hari lalu dan menjadi akrab berada di balik pagar rumahnya.


"Ngapain lo?" tanya Anandita pada lelaki yang sedang menyengir di atas motor itu.


"Jemput Si Manis, Anandita Khaerani, untuk bersekolah," ucapnya dengan senyuman manis. Anandita membalas senyuman Abian.


"Udah selesai kan siap-siapnya?" Anandita mengangguk.


"Gue kunci rumah dulu,"


Anandita menghampiri Abian sontak saja Abian menyodorkan helm pada Anandita.


"Makasih,"


"Siap?"


"Siap!" seru Anandita.


Abian melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Dari kejauhan seorang gadis menatap nanar kedekatan keduanya. Gadis tersebut mengusap kasar jejak air mata yang membasahi pipi tirusnya.


"Gue harus pisahin kalian apapun caranya." batin gadis itu.


Di SMA Garuda Bangsa para guru sedang rapat untuk ujian kenaikan kelas 10 dan 11. Siswa-siswi diizinkan melakukan apa saja asal tidak keluar dari lingkungan sekolah. Abian dan Anandita memilih untuk berdiskusi tentang kelanjutan usahanya di rooftop.


"Lo ada ide nggak, Bi?"


"Ada. Gue punya bayangan kalau kita jualan masakan tradisional. Biar anak muda yang kekinian juga tau makanan khas Indonesia. Biasanya kan remaja-remaja kurang tau soal makanan jadul,"


"Boleh, tuh. Tapi, kalau ada pemikiran 'Ah, makanan tradisional udah ketinggalan zaman, ga keren lagi' cara lo ngadepin gimana?"


"Iya juga ya. Gue gabisa mikir lagi, lo ada masukan nggak?"


"Aha! Kita bikin makanan tradisional tapi nuansa modern,"


"Hah? Gimana caranya?"


"Dari alat makan, suasana, dan segala macem nuansa modern," jelas Anandita.


"Gini, nuansa modern udah biasa dikalangan masyarakat khususnya remaja,"


"Nah kalau gitu dibalik aja. Masakannya modern nuansanya tradisional,"


"GOOD IDEA!!" pekik Abian.


"Gue setuju banget. Jarang juga ada yang kayak gini," tambah Abian.


"Sekarang lokasinya. Ipar gue punya temen yang jual beli ruko. Kalau lo mau gue bisa bicara nanti sama beliau,"


"Wait, lo tau rumah tua yang deket sekolah?"

__ADS_1


"Rumah itu tua tapi masih terawat kayaknya," ucap Anandita mengingat-ingat.


"Iya, itu punya bokap gue. Kita bisa minta rumah itu."


"Lo aja, lo kan anaknya," tolak Anandita mentah-mentah.


"Ck. Ini urusan bisnis jadi ga ada ikatan anak sama ayah. Anggep aja ini bagian dari usaha,"


"Yaudah iya, kapan?"


"Pulang dari sekolah kita ke kantor bokap gue."


"Okay,"


Langkah Abian dan Anandita yang hendak menuruni tangga dihadang oleh seorang gadis dengan plastik bening berisi dua buah roti dan dua botol air mineral di tangannya.


"Mau ke atas, Fel?" Feli menggeleng canggung.


"Gue mau bawa ini ke kalian," ucapnya seraya menyodorkan plastik tersebut ke Abian.


"Oh, makasih, Fel. Uang lo kepake berapa? Biar gue ganti," pandangan Feli kini beralih pada Anandita yang berujar.


"Sepuluh ribu aja,"


"Harga air lima ribu, harga roti juga lima ribu, terus lo beli masing-masing dua. Kok cuma sepuluh ribu?" protes Abian.


"Yaudah sih kalau mau lebihin," timpal Feli dan Anandita mengangguk setuju.


"Untung di gue dong. Tadi ada anak kelas 11 IPA1 yang nitip buat Anandita. Jadi, gue beliin juga buat Bian, karena gue tau kalian di sini jadi sekalian aja dianterin." jelas Feli panjang lebar.


"Waduh ngerepotin lo banget ya gue. Hehe, maap dan makasih, Fel." ungkap Abian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Iya, sama-sama. Urusan kalian udah beres? Oh iya kalau boleh tau urusan kalian apa sih?" tanya Feli beruntun.


"Em, anu,"


"Biasa, Fel. Gue lagi pdkt-an sama Dita." Abian menyela perkataan Anandita.


"Ooh gitu, yaudah gue cabut duluan." Feli berlari tanpa menunggu jawaban dari Anandita dan Abian.


Aaaaaaakhh


Brukk


"Feli!!!"


Abian mengangkat tubuh Feli yang terkapar di ujung tangga ala bridal style. Dengan berjalan cepat menuju ruang UKS diikuti Anandita di belakangnya.


Selang setengah jam Feli melenguh. Abian dan Anandita yang terdiam sejak tadi kini mendekati brankar UKS.


"Nih minum dulu," ucap Abian menyerahkan air mineral miliknya yang belum sempat ia minum.

__ADS_1


"Makasih, Bi."


"Fel, lo beneran jatoh?" tanya Anandita.


"Lo nggak liat tadi, Dit?" Abian menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.


"Gue liat tadi posisi kaki Feli ga ada yang salah," ucap Anandita menatap keduanya bergantian.


"Maksud lo, gue pura-pura jatoh? Emang gue sebodoh itu ya?"


"Nggak, maksud gue bisa aja lo didorong sama makhluk halus," ucap Anandita takut-takut.


"Sensi amat, Fel." ujar Abian terkekeh.


"Maaf, Dit,"


"Bukan masalah."


"Perhatian siswa-siswi SMA Garuda Bangsa, wkrkfhdhsusbd....."


"Kalian denger?" tanya Abian membuat Feli dan Anandita menggeleng.


"Biar gue yang nyari tau," Abian keluar dari ruangan.


Menit berikutnya Abian kembali dengan senyuman lebar.


"Udah bisa pulang,"


"Asik," pekik Anandita kegirangan.


"Aws," ringis Feli saat kakinya ia sentuhkan ke tanah.


"Biar gue bantu."


Abian memapah tubuh mungil Feli kemudian menatap Anandita yang berdiri di sebelahnya.


"Dit, ketemu bokap gue ditunda dulu gapapa kan?"


"I-iya gapapa,"


Jujur, Anandita kecewa. Abian mengingkari janji yang ia buat sendiri. Tapi, dirinya tidak boleh egois. Feli jauh lebih membutuhkan Abian.


Sedangkan Feli? Mendengar penuturan Abian membuatnya merasa ribuan belati menusuk dadanya. Menyakitkan. Sudah sejauh ini hubungan mereka? Bukannya baru kenal beberapa hari? Pertanyaan itu yang berputar dalam benak gadis yang dulunya berkacamata tebal dan sekarang hanya memakai softlens berwarna hitam.


Sekarang pukul 13.23 dan Anandita masih menunggu di halte sekolahan. Dan sialnya, baterai ponselnya habis. Sedari tadi menunggu angkot dan tak ada satu pun yang lewat. Bahkan jalanan sepi. Faktor mendung mungkin?


Anandita terkejut dua orang pria tiba-tiba ada di dekatnya. Satu berambut gimbal dan yang satunya tak berambut alias botak. Gadis itu berusaha tetap tenang walaupun jantungnya berdebar kencang. Rasa takutnya bertambah akibat kilatan petir.


Tak terputus doa yang ia langitkan di dalam hati. Dua pria itu sudah duduk di sampingnya. Anandita berdiri namun, tangannya ditarik oleh pria yang botak.


Pria yang berambut gimbal mengeluarkan sapu tangan dari sakunya. Mengarahkan sapu tangan itu ke hidung dan mulut Anandita. Pandangan Anandita menjadi buram dan kesadarannya direnggut paksa.

__ADS_1


__ADS_2