Abianandita

Abianandita
t u j u h


__ADS_3

"Good morning, dunia tipu-tipu," teriak Riko membuat seisi kelas mengembangkan senyuman kecuali Feli.


"Eh, Dita ama Bian mana?" tanya Riko.


"Ga tau tuh, tumben banget mereka lambat." jawab Bona.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," salam Anandita dan Abian.


"Wihh panjang umur kalian, baru dicariin udah nongol aja," timpal Fanya.


"Fel? Diem aja?" heran Riko. Bukankah sebelumnya Feli sudah mulai berbaur?


"Gue harus gimana?"


"Gausah gimana-gimana, Fel. Gausah dengerin Riko. Dia muna," ucap Abian diangguki Feli.


"Sialan lo, Bi." umpat Riko.


"Fel, ini buat lo." ucap Anandita sembari menyodorkan kotak bekal.


"Dalam rangka apa nih, Dit?" tanya Feli berbinar.


"Bian yang nyuruh. Makanya gue agak lambat datengnya," jelas Anandita menjawab pertanyaan Feli sekaligus kebingungan seisi kelas.


"kalau gue liat-liat kapalnya udah berlayar nih," goda Bona dan semuanya bersorak,


"Cieeee...."


Abian melirik Anandita yang kini juga menatapnya. Bibir Abian melengkung ke atas kemudian mengeluarkan gelang dengan manik warna-warni dari saku seragamnya. Tungkai lelaki itu mendekati meja Anandita lalu berujar,


"Daripada difitnah terus, mending kita realisasikan. Dita, will you be mine?"


"OMG!! MELEYOT GUE!!"


"Baru kali ini liat orang nembak pake gelang mainan malah bikin baper."


"Jantung aman ga, Dit?"


Dan masih banyak pekikan orang yang menyaksikan. Berbeda dengan Feli yang rautnya sulit diartikan.


"Ah gelang Amyra lo colong, Bi. Ga modal amat, minimal beli sendiri lah," ucap Riko mengundang gelak tawa teman-temannya.


"Lo pikir Amyra punya ini duit dari siapa?"


"Bokap lo?" tebak Riko.


"Ngga, pake duit gue sendiri." Abian menepuk dadanya bangga.


"Sebahagia lo aja deh, Bi."


"Gimana, Dit? Bian diterima nggak?" tanya Fanya setengah berteriak.


"Nggak lah. Kita tuh friend forever. Ya ga, Dit?" Anandita mengangguk membenarkan.


"Penonton kecewa berat!"


"Merasa di-PHP-in."


"Udah baper padahal."


Sorakan itu terdengar.


"Huft," hembusan napas lega keluar dari mulut Feli, mengundang perhatian semuanya.


"Lo kenapa, Fel?" tanya Bona.


"Ng-nggak, gapapa," gugup Feli.


"Selamat pagi, Anak-anak..." guru mata pelajaran sudah masuk, semuanya kembali ke tempat duduk masing-masing tak terkecuali Abian.


Tak terasa waktu istirahat tiba. Seperti biasa Anandita dan Feli mengantri untuk membeli mie ayam kesukaan mereka.


"Cewek culun di kelas 11 IPS 2 udah berubah, Coy," ucap salah satu siswi yang sedang mengantri di belakang Feli ber-nametag Cyana Jelita.


"Orang emang gampang berubah kali," rekannya yang ber-nametag Kaila Amela menduga.


"Nggaklah, ga mungkin banget. Yang culun modelan dia bisa jadi keren tuh ga mungkin." sergah Cyana.

__ADS_1


"Ga punya kerjaan ya lo berdua?" tanya Feli sinis.


"Oh, ini yang lo maksud mirip si culun ya?" bisik Kaila dan Cyana mengangguk.


"Gue Feliana Maheswari, siswi culun dari kelas 11 IPS 2 yang lo maksud. Gue berubah karena gue mau. Dan gue rasa lo ga perlu komentar soal kehidupan gue." pungkas Feli menarik perhatian orang kantin.


Mandapat tatapan aneh dari sekitar membuat Feli menatap tajam mereka satu persatu.


"Apa liat-liat?!" kemudian Feli berjalan cepat keluar dari kantin dengan napas memburu.


"Fe--" hendak menyusul langkah Feli, lengan Anandita dicekal oleh Abian yang entah datang dari mana.


"Bi, lepasin! gue mau ngejar Feli," pinta Anandita sedikit memberontak.


"Biar Riko yang tenangin dia," balas Abian santai.


"Tapi, Bi, Feli butuh gue," Abian menarik Anandita menjauhi kantin.


Abian membawa Anandita ke rooftop sekolah.


"Dit, udah ya? Lo cukup temenin gue. Masalah Feli, biar Riko yang selesaiin." ujar Abian pelan sambil mengusap pipi Anandita. Gadis itu hanya mengangguk.


"Dit, ntar pulsek nge-mall dulu yuk," ajaknya.


"Bukannya ada janji sama bokap lo ya?"


"Oh iya gue lupa. Yaudah ntar sore gue jemput ya."


...----------------...


Anandita sedang duduk sendirian di halaman rumahnya sambil menunggu Abian menjemputnya untuk bertemu Ayahnya. Dengan earphone yang terpasang apik di telinganya, mata Anandita terpejam meyakinkan dirinya sesuai lirik lagu.


Kan kukejar mimpi


Dan kuterbang tinggi


Tak ada kata tidak ku pasti bisa


Kan kucoba lagi


Tak ada yang tak mungkin


Ku pasti bisa


Terkadang kita lupa


Dunia ini tak akan selamanya


Menunggu kita


Menaklukan ragu beranikan diri


^^^Maudy Ayunda-Kejar mimpi^^^


"Asik banget, Dit," ucap Abian yang entah sejak kapan berada di sampingnya.


"Bian, udah dateng?" pertanyaan bodoh itu keluar dari bibir ranum Anandita.


"Belom, gue masih mandi," ucap Abian santai membuat Anandita terkekeh.


"Kapan datangnya Bi?"


"Waktu lo tidur,"


"Gue nggak tidur cuma merem aja,"


"Yaudah, ayo berangkat."


Motor hitam milik Abian mulai membelah jalanan yang cukup ramai. Tangan Anandita bertengger manis di pahanya tak berlangsung lama, karena Abian menariknya hingga melingkar di pinggangnya.


"Lo pasti capek. Tadi masaknya banyak," ujar Abian mampu membuat pipi Anandita memerah.


skip kantor ayah Abian...


"Permisi," ucap Abian sambil mengetuk pintu ruangan.


"Silakan masuk." teriakan yang dapat terdengar dari dalam sana.

__ADS_1


Cklek


"Ayo, duduk dulu," mereka berdua segera duduk berdampingan di sofa dan ayah Abian--Pak Arjaya duduk di single sofa.


"Baru aja Ayah mau pulang eh kamu udah nyamperin. Gimana kabar kamu sama Amyra?" tanya Arjaya kala Abian mencium punggung tangannya disusul Anandita.


"Amyra kangen ayah tau. Lagian kenapa ga langsung ke rumah sih, Yah?" protes Abian.


"Ayah harus cepat menandatangani kontrak jadi buru-buru ke sini." jelas Arjaya kemudian menatap Anandita dengan senyuman ramah.


"Kenalin Pak, saya Anandita Khaerani siswi pindahan dan teman sekelas Abian." ucap Anandita memperkenalkan diri.


"Calon, Yah," bisik Abian pada Arjaya tentu saja terdengar oleh Anandita. Lelaki berkepala tiga itu hanya menggeleng heran melihat tingkah putranya.


"Kalian ke sini pasti ada tujuan kan?" Abian dan Anandita kompak mengangguk.


Abian menyenggol lengan mungil Anandita.


"Emm, gini, Pak. Saya--" ucapan Anandita disela oleh Arjaya.


"Bahasanya gausah formal. Santai aja," ucap Arjaya dibalas anggukan canggung Anandita.


"Jadi gini Om, Dita sama Bian punya rencana bikin rumah makan nuansa tradisional. Kami butuh tempat yang strategis dan mudah dijumpai orang terkhusus remaja. Apa boleh, Om bantu kami?" tutur Anandita dapat mengembangkan senyum Arjaya.


"Tentu bisa, Dita. Rumah Om yang di dekat sekolahan kalian cukup strategis,"


"Kalau boleh tau, harga sewanya berapa ya, Om?"


"Bayarnya pake kesuksesan kalian, ya?"


"Maksud Om?"


"Maksudnya dibayar pake suksesnya kita, Yah?" tanya Abian memastikan.


"Siaran ulang, Astaghfirullah akhi," ucap Arjaya sembari mengelus dada. Abian menyengir.


"Makasih banyak, Om bantuannya. Doain kami ya, Om."


"Iya, Anandita. Oh iya, sepertinya wajah kamu mirip sahabat saya. Boleh tau siapa nama ibumu?" pertanyaan Arjaya adalah hal yang sensitif bagi Anandita.


"Em, papa pernah ngigau nyebut Aswi tapi Dita ga yakin itu mama Dita atau bukan, Om." jawab Anandita seadanya.


"Kamu gatau nama mama kamu, Yang?" Gadis itu menatap tajam Abian sambil menggeleng.


"Yeng yang yeng yang, pala lo!" damprat Anandita dalam hati. Mana berani ia mengatakan itu di hadapan Arjaya? Hahaha.


"Saya punya sahabat namanya Winda, nama lengkapnya Aswinda. Dan ya, beliau lah yang saya maksud mirip dengan kamu. Cerita beliau tentang anaknya juga persis,"


"Gimana Ayah tau?"


"Kemaren Ayah ketemu beliau di Jepang. Sempat berbincang sedikit di kedai kopi,"


"Beliau juga tunjukin gambar anaknya tapi belum sempat lihat, ponselnya udah mati," jelas Arjaya lagi.


"Mungkin kebetulan aja Om." ucap Anandita tidak mau berekspektasi tinggi. Papa sudah melarangnya mencari informasi tentang mama. Jadi, lebih baik jika ia menurut saja.


"Yaudah, Yah. Bian sama Dita pamit dulu. Makasih, Yah." Abian menyalimi Arjaya diikuti Anandita lalu meninggalkan ruangan tersebut.


"Bokap lo super baik, Bi,"


"Jelas dong! Bokap gue gitu loh,"


"Gue jadi kangen papa," murung Anandita.


Drrrtt...


Ponsel Anandita berdering. Panggilan dari kakaknya.


"Assalamu'alaikum, Kak,"


"wa'alaikumussalam, Dit. Papa-"


"Papa kenapa, Kak?"


"Papa udah nggak ada..."


Brak!

__ADS_1


__ADS_2