Abianandita

Abianandita
e m p a t


__ADS_3

Anandita tak bisa konsentrasi sejak menerima pesan dari kakaknya tadi pagi.


Setelah Jenita berpamitan pulang, notifikasi chat masuk di ponsel Anandita.


Kakak💗


papa rawat inap di RS


^^^dita mau ketemu papa^^^


jangan, sebentar lagi kamu ujian kenaikan kelas.


fokus belajar dan buat ayah bangga.


ga perlu khawatir, papa aman sama aku.


^^^kabarin terus kondisi papa ya, kak.^^^


pasti.


Mood-nya sangat berantakan. Bahkan sepulang sekolah dirinya tidak berpamitan pada Feli. Pikirannya melayang. Papanya sedang tidak baik-baik saja. Ia ingin bertemu papa. Tapi, tidak bisa. Anandita harus mencari cara agar bisa membantu kakaknya membayar biaya berobat papa. Ya, harus.


Anandita menatap sendu pantulan wajahnya.


"Anandita ayo cari cara..." monolognya.


Gadis itu berjalan keluar dari rumah berniat ingin mencari pengganjal perut. Bisa saja ia memasak, tapi, suasana hatinya tidak mendukung. Langkah Anandita terhenti melihat rumah makan baru yang terletak di 4 rumah setelah rumahnya.


"Oh, ini punya Ibu Tatik," gumamnya.


"Wah ramai juga. Ga heran sih, resep Ibu Tatik emang best." batin Anandita berdecak kagum.


Anandita duduk setelah memesan nasi dan ayam balado untuk dibawa pulang. Berseling satu meja adalah meja sosok lelaki yang terus-terusan memandangi gerak-gerik Anandita.


Ibu Tatik keluar dari arah dapur dengan raut panik. Tersirat sedikit rasa lega saat melihat keberadaan Anandita di tempatnya. Ibu Tatik menghampiri Anandita dan berkata,


"Nak Dita, tolong ibu... Juru masak rumah makan ini ibunya meninggal, jadi buru-buru pulang. Nak Dita mau kan tolong ibu masak di dapur? Nanti ibu kasih gaji sebulan untuk sehari. Mau ya, Nak?" Anandita menimang-nimang permintaan Ibu Tatik.


Tujuan Anandita mencari masakan jadi karena perasaannya yang kurang mengenakkan. Namun, menolak orang yang membutuhkan bantuan bukannya sifat tercela? Perlahan Anandita meyakinkan hatinya kemudian mengangguk membuat Ibu Tatik menghembuskan napas lega.

__ADS_1


Satu persatu pesanan pelanggan terselesaikan. Kini tersisa satu lelaki yang duduk di meja tunggu.


"Permisi, ini nasi goreng komplit tanpa sosis," ucap Anandita seraya menyodorkan kresek berisi makanan pesanan lelaki itu.


"Terima kasih,"


"Dita?" kaget lelaki itu.


"Eh Bian,"


"Lo kerja di sini?" tanya Abian.


"Nggak, gue cuma bantuin Ibu Tatik. Juru masaknya ada urusan penting jadi harus pulang." Abian ber'oh'ria.


"Jadi bener lo bisa masak?"


"Bisalah dikit-dikit," Abian hanya manggut-manggut paham.


"Kok lo bisa di sini?" tanya Anandita.


"Nyari inspirasi buat usaha," jawab Abian seadanya.


"Lo mau buka usaha apa?" tanya Anandita lagi.


"Sorry gue sela. Gue pamitan dulu ke Bu Tatik ya. Tungguin gue kalau lo ga sibuk," menit berikutnya, Anandita memunculkan batang hidungnya kembali di hadapan Abian.


"Mampir rumah gue dulu mau?"


"Boleh," Abian menyetujui.


Sesampainya di rumah Anandita, Abian dipersilakan duduk di ruang tamu. Anandita izin ke dapur untuk membuat teh namun, dicegah oleh Abian.


"Gue buatin teh, bentar ya,"


"Gausah, gue mau ngobrol aja sama lo," Anandita kembali duduk.


"Dit, jadi gue dimodalin sama bokap buat usaha. Masukan tante gue usaha makanan. Tapi, gue ga tau apa-apa soal makan kecuali dikunyah dan bikin perut kenyang," sontak Anandita tertawa lepas.


"Lah kok ketawa sih?" tanya Abian tak terima ditertawakan.

__ADS_1


"Lo manyun-manyun gitu lucu," ucap Anandita disela tawanya.


"Ehem, jujur, gue sekarang lagi nyari pekerjaan,"


"AYO KERJASAMA!!" ucap Abian dan Anandita bersamaan. Keduanya tertawa kemudian berjabat tangan.


"Senang bekerja sama dengan Anda, Tuan Abian," ungkap Anandita dengan nada serius.


Lengan Abian terangkat menarik hidung Anandita.


"Imut banget, Dit," pipi Anandita bersemu kemerahan. Abian merentangkan kedua tangannya dan berkata, "Sini, Dit."


Anandita menghamburkan pelukannya dengan perasaan senang.


"Makasih, Dita. Gue terbantu banget, habis ini bokap ga bakal omelin gue lagi," Abian mengencangkan pelukannya.


"Iya sama-sama," Anandita menguraikan pelukan itu.


"Lo sendiri? Mau gue panggilin Fara?"


"Ga usah repot-repot, gue udah biasa kok." tolak Anandita.


"Yaudah, kalau ada apa-apa hubungin gue."


"Nomer lo mana?"


"Loh? Gue udah chat tapi lo ga bales,"


"Hah? Ga ada nomer ga dikenal yang ngechat gue," ucap Anandita jujur.


"Feli ada pegang hp lo nggak?"


"Nggak tau, waktu lo pulang gue ketiduran di sofa. Hp gue di meja belajar,"


"Udah jangan mikir aneh-aneh, mungkin hp gue yang error," Anandita berusaha berpikir positif.


"Sana balik, udah mau masuk maghrib,"


"Lo ngusir?" Anandita hanya mengangguk.

__ADS_1


"Bacrit lo ah, buruan sana," ucap Anandita seraya mendorong Abian.


"Iya iya, gue pamit, bye. Kalau kangen call aja." ucap Abian mengedipkan sebelah matanya.


__ADS_2