
Inikah akhirnya?
Pertanyaan itu muncul begitu saja setelah aku mendapatkan surel dari Noh Jun Go semalam. Sebuah episode akhir dari seri The Fire Man, sekaligus akhir dari kerjasama di antara kami. Webtoon The Fire Man telah menjadi saksi perjalanan karirku di BlueToon dan tidak kusangka akan menjadi akhir pula bagiku untuk tetap berada di sini.
Jumat malam, kami berdebat hebat –aku dan Jun Go—membahas mengenai proyek The Fire Man. Perusahaan tempatku bekerja menginginkan agar proyek itu terus dilanjutkan karena respon dari para pembaca masih sangat bagus. Namun, Jun Go berpikiran lain. Dia merasa kalau The Fire Man sudah selesai. Dia ingin agar karyanya memiliki akhir yang sesuai dengan ekspektasinya. Dan baginya, Pak Bum Gil –tokoh utama dalam webtoonya—sudah tidak memiliki kisah lagi untuk diceritakan. Parahnya lagi adalah, Jun Go membunuh karakter utamanya di akhir episode.
Aku hampir tidak bisa tidur semalaman memikirkan bagaimana cara untuk menangani hal itu. Membujuk Jun Go untuk mengubah ending adalah hal paling mustahil yang bisa kulakukan. Selama lima tahun bekerja sama dengannya, dia tidak pernah sekalipun mau mengubah cerita yang sudah dia gambar. Lain halnya jika dalam proses diskusi, dia masih mau menerima masukan meskipun enggan mengubah plot utama cerita. Jadi, satu-satunya yang bisa kulakukan hanyalah memintanya agar mau terus bekerja sama dengan BlueToon pada karya selanjutnya.
Pagi hari, aku mengunjungi kediamannya dengan membawa beberapa makanan. Menekan bel dan dia membuka pintu hanya dengan memakai baju handuk.
“Bukankah aku sudah mengirim episode terakhir?” tanya Jun Go begitu melihatku. Dia tidak membuka pintu lebar-lebar, hanya pas baginya untuk menyembulkan kepala.
“Bolehkan aku masuk?” tanyaku sambil mengangkat barang bawaanku untuk ditunjukkan kepadanya.
“Jika kau ke sini untuk membujukku agar aku mengubah endingnya, lupakan saja. Kau hanya akan membuang-buang waktu, karena aku tidak akan pernah mengubah apa pun yang sudah kutetapkan sejak awal.”
Aku menerobos masuk begitu saja. Duduk di sofa, kemudian meletakkan barang bawaanku di meja. Jun Go menatapku lekat saat aku tersenyum ke arahnya. Dia pasti tahu, kalau saat ini aku tengah berusaha untuk membujuknya melakukan kemauanku.
“Jagga-nim, aku tidak akan memintamu untuk merevisi The Fire Man. Meskipun memiliki akhir yang menyedihkan, tapi bagiku cukup bermakna. Park Bum Gil pada akhirnya menjadi pahlawan yang gugur dan semua kesalahannya pada akhirnya tehapuskan berkat jasanya. Dia pantas mendapatkan semua pujian dari orang-orang.” Aku menjelaskan.
“Akhirnya kau paham dengan tujuanku.”
“Maaf karena sempat berdebat denganmu soal ini.”
“Bukan masalah.” Dia tersenyum. “Lalu, jika kau tidak datang untuk memintaku merevisi, apa tujuanmu ke sini?”
“Memintamu melanjutkan kerja sama di proyek terbarumu.”
Untuk sesaat, Jun Go terdiam. Raut wajahnya mendadak bingung. Apa yang dia pikirkan saat ini?
“Kau terlambat, Kim PD. Aku sudah terlanjur menandatangani kontrak dengan LeafToon.” Dia mengembuskan napas keras. “Bukan apa-apa ... aku merasa kalau karya terbaruku ini tidak terlalu cocok dengan perusahaanmu.”
__ADS_1
“Bukankah kau seharusnya membicarakan hal ini kepadaku lebih dulu?” Suaraku meninggi.
“Aku sudah. Setahun yang lalu. Dan responmu saat itu tidak terlalu baik. Katamu, cerita itu kurang diminati pasaran dan terlalu sadis.”
“Ya, dan dengan sedikit perbaikan dan masukan ... aku bisa membantumu untuk mendapatkan atensi lebih dari pembaca,” ujarku dengan nada tinggi.
Aku benar-benar tidak menyangka kalau pada akhirnya dia dengan semudah itu berpindah tempat.
Aku mengembuskan napas panjang. Mencoba menenangkan diri agar jangan sampai membuat keributan di rumah ini. Begitu membuka mata aku berkata, “baik ... aku menghargai semua keputusanmu. Kita akhiri hubungan kerja sama ini baik-baik. Terima kasih atas lima tahun ini, dan ... jika kau ada waktu senggang kita bisa rayakan perpisahan besok malam di restoran dekat kantor. Aku yang traktir.” Suaraku sedikit bergetar.
“Akan kupikirkan. Kukabari jika bisa,” ujarnya sambil meraih ponsel yang menyala di atas meja. “Terima kasih juga untuk semuanya. Berkatmu, aku sekarang memiliki nama besar. Aku benar-benar berhutang padamu, Kim PD.” Matanya mengarah ke ponsel saat mengatakannya.
‘Ya, kau benar. Kau berhutang banyak padaku. Tapi, apa balasanmu? Kau malah menghancurkan karir orang yang telah membesarkan namamu,’ gumamku dalam kepala.
“Kalau begitu, aku pergi dulu.”
***
Dan sekarang aku gagal melakukan keduanya. Konsekuensi yang harus kuterima adalah keluar, sesuai dengan ucapanku waktu itu.
Tepat di depan gedung BlueToon, taksi yang kutumpangi berhenti. Aku terdiam selama beberapa saat. Entah kenapa, kakiku terasa berat untuk melangkah keluar. Mungkin karena enggan untuk menyerahkan surat itu. Tapi, janji adalah janji. Sebuah janji yang sudah terlanjur keluar dari mulut harus ditepati. Akhirnya, aku memberanikan diri melangkah keluar dan berjalan memasuki gedung berlantai dua puluh.
Kuabaikan tatapan penuh tanya dari hampir seluruh pegawai. Berjalan cepat menuju ruangan Pak Lee. Mengetuk pintu, kemudian membukanya usai mendengar suaranya dari dalam ruangan.
“Timjangnim ...” aku menunduk memberi salam, kemudian berjalan mendekat. Merogoh tas, lalu mengeluarkan sebuah surat pengunduran diri.
“Saya gagal membujuk Noh Jun Go bekerja sama dalam proyek baru.” Suaraku terdengar lebih lirih dari biasanya. “Saya benar-benar minta maaf,” ujarku lalu meletakkan surat itu di atas meja, tepat di samping keyboard Pak Lee.
“Rupanya kau benar-benar serius untuk pergi setelah membuat kekacauan. Pengecut sekali ...,” komentarnya.
Apa yang dia katakan sebenarnya tidak terlalu buruk. Aku memang pengecut. Tapi, bagaimanapun juga aku telah berjanji untuk mempertaruhkan pekerjaanku jika gagal mempertahankan Noh Jun Go.
__ADS_1
“Aku sudah berjanji akan mengundurkan diri setelah gagal,” jelasku menoba mengingatkannya mengenai ucapanku minggu lalu saat makan malam kantor.
“Baiklah, terserah kau saja,” ujarnya. Aku bisa melihat kalau sebenarnya, tersirat kemarahan dari wajahnya. Meskipun begitu, aku juga tak bisa mengingkari janjiku sendiri, apalagi memohon padanya untuk tetap menjadikanku sebagai karyawan di sini.
“Terima kasih atas semuanya. Lima tahun bekerja di sini, aku mendapatkan banyak sekali pengalaman berharga.”
“Ya,” jawabnya singkat. Dia membenciku, jelas sekali terlihat dari raut wajahnya. Dia bahkan enggan untuk menatap mataku saat berbicara.
Karena enggan berlama-lama dalam kecanggungan, akhirnya kuputuskan meninggalkan ruangan. Membereskan barang-barangku yang masih berserakan di meja serta berpamitan dengan beberapa rekan kerjaku.
Begitu sampai di tangga terakhir, aku menoleh ke pintu masuk. Tersenyum, dan air mata tiba-tiba mengalir begitu saja di pipiku. Rasanya tidak rela untuk meninggalkan tempat yang sudah penuh kenangan ini. Lima tahun bukan waktu yang singkat. Lima tahun adalah waktu yang cukup untuk membuatku merasa terikat dengan tempat itu. Kini, aku harus mengubah semuanya. Mulai dari awal lagi dengan tujuan baru. Aku akan mulai dengan mewujudkan impian masa kecilku.
Kau pasti bisa, Kyung Hae!
“Fighting!” teriakku lantang kemudian berbalik dan melangkah maju. Seseorang yang entah dari mana tiba-tiba muncul, dan baru saja kutabrak. Barang-barang di kotakku jatuh berserakan dan orang itu jatuh terjengkang.
“Arghh!” Dia menggerutu sambil memungut ponsel yang tergeletak di samping. Membersihkannya kemudian mencoba menyalakan. Syukurlah, kelihatannya tidak ada masalah pada ponselnya.
“Maaf, aku benar-benar tidak sengaja,” ujarku berusaha membantu dengan mengulurkan tangan, tapi dia mengabaikan dan bangkit sendiri.
“Sebaiknya kau ....” Dia menghentikan ucapan begitu menatapku.
Tunggu. Sorot mata ini? Kurasa aku pernah melihatnya.
Dia .... Tidak! Tidak mungkin kalau dia adalah Lee Young Bum yang dulu kukenal.
“Lupakan!” ujarnya tiba-tiba, kemudian meninggalkanku begitu saja.
Tepat ketika dia baru melangkah sekitar empat langkah, aku berteriak, “Lee Young Bum, kau kah itu?”
Secara refleks, pria itu menghentikan langkah, namun hanya selang beberapa detik, dia kembali melanjutkan langkah kembali seperti tak ada apapun yang terjadi.
__ADS_1
“Apa dia benar-benar Lee Young Bum yang kukenal?” pikirku.