After 7 Years

After 7 Years
Kau dapat masalah


__ADS_3

Pria itu benar-benar tak acuh, dia terus melangkah pergi mengabaikan teriakanku. Tatapanku mengekornya sampai dia tak lagi terlihat karena jalanan yang terlalu gelap. Aku mendengkus kesal. Kuembuskan napas panjang kemudian berbalik, mendapati Hae Soo yang tengah duduk hendak meminum soju lagi. Buru-buru aku mendekat, merebut gelas dari tangannya.


“Kau mau membuat keributan lagi?” Aku benar-benar kehabisan kesabaran. “Berhenti minum dan pergi sekarang!” ujarku menyeretnya dari kursi.


Kondisi Hae Soo benar-benar mabuk berat. Dia bahkan tidak memiliki tenaga untuk berdiri tegak. Anehnya, bagaimana bisa tadi dia memiliki kekuatan untuk berkelahi dengan Young Bum?


“Aku janji, akan membuat perhitungan padamu besok!” tukasku padanya.


“Aku senang kau kembali,” gumamnya sambil senyum-senyum. “Aku ....”


“Diamlah! Atau kutinggal di sini!” ujarku dengan napas tersengal-sengal karena menahan tubuh Hae Soo yang berat. Aku yakin kalau besok, dia akan menyangkal kejadian malam ini seandainya tidak ada luka yang tertinggal di wajahnya.


Usai membaringkannya di ranjang, aku berlalu pergi dan kembali ke apartemenku. Mengempaskan tubuh di atas ranjang untuk melepaskan kepenatan setelah mengurus Hae Soo. Anak itu benar-benar mengacaukan mood-ku hari ini. Apa tidak cukup hariku dirusak oleh Noh Jun Go?


Keesokan harinya saat tengah menggosok gigi, seseorang menekan bel. Aku berkumur, meletakkan sikat gigi di tempatnya kemudian pergi membuka pintu. Begitu pintu berayun terbuka, sosok pembawa masalah itu muncul dari balik pintu.


“Apa yang terjadi pada wajahku?” tanyanya sambil meraba pipi kanannya yang lebam. “Bagaimana bisa aku bangun dan wajahku sudah seperti ini?”


“Kau pikir saja sendiri!” kataku kemudian menutup pintu, tapi tiba-tiba kaki kanan Hae Soo menghalangi pintu.


“Jelaskan padaku, Kyung Hae! Apa yang terjadi padaku semalam?” tanya anak itu. Apa dia sungguh melupakan kejadian semalam? Mudah sekali dia melupakan kekacauan besar yang dia buat?


“Apa aku membuat masalah?” Kedua alisnya mengernyit.


“Ya!” balasku kesal.


“Apa yang kulakukan?” Hae Soo memaksa membuka pintu, kemudian masuk padahal aku belum mengijinkan. “Apa aku berkelahi?” tanyanya kemudian duduk dengan santai di atas sofa.


“Kau membuat masalah besar.”


“Benarkah?”


“Jika tidak, apa kau bisa menjelaskan tentang luka di wajahmu itu?”

__ADS_1


Hae Soo terdiam. Tampaknya dia tengah berusaha mengingat-ingat kejadian semalam, meskipun aku tidak yakin kalau dia akan segera mengingatnya. “Aku hanya ingat kalau semalam aku minum kemudian menelponmu. Selebihnya, ingatanku samar-samar.” Jelas sekali kalau saat ini dia tengah mengingat-ingat kejadian semalam. “Tidak! ....” Matanya tiba-tiba membelalak. “Aku dalam masalah besar. Benar-benar dalam masalah besar jika ingatan samar itu benar.”


“Kenapa?”


“Ahh ... sial!” katanya menepuk kepalanya sendiri, lalu menekan kedua pelipisnya dengan tangan.


“Apa? Ada apa?!”


“Apa kau lihat orang yang berkelahi denganku kemarin?”


“Tentu saja,” jawabku.


Hae Soo beringsut merogoh saku celananya untuk mengeluarkan ponsel, lalu menunjukkan sebuah foto padaku.


“Apa dia orangnya?” Aku mengangguk. “Tamat riwayatku,” ujarnya kemudian mengempaskan tubuh ke sandaran sofa.


“Kau mengenal Young Bum?” tanyaku.


“Kita satu kampus dan dia adalah seniorku.”


“Apa kau bisa membantuku untuk membujuknya?


“Hubungan kami tidak baik,” jelasku.


“Bagus sekali. Aku yakin setelah ini aku akan dipecat.”


Aku mengembuskan napas panjang. “Kau harus bersiap menghadapi konsekuensi dari tindakanmu, kawan.”


 “Arghh ... aku bahkan belum melunasi cicilan mobilku. Bagaimana aku akan membayar cicilannya jika tidak bekerja?”


“Semalam dia memberiku ini,” aku mengambil kartu nama Young Bum dari dalam cardigan yang semalam kupakai. “Aku tidak memperhatikannya semalam. Kalau saja memperhatikannya, aku akan memperlakukannya dengan sangat baik dan bukan sebaliknya.”


Dia menutup mata, menunduk, kemudian membenturkan kepalanya ke meja. Benar-benar tak ada harapan lagi. Kutepuk punggungnya pelan untuk sedikit menenangkan perasaanya meskipun tidak terlalu membantu.

__ADS_1


***


Supermarket berada tidak jauh dari kompleks apartemen tempat tinggalku. Mereka –para pengembang—sengaja memilih lokasi ini karena dekat dengan beberapa fasilitas publik seperti halte bus, supermarket, rumah sakit, bahkan stasiun bawah tanah dan beberapa fasilitas publik lain. Aku selalu menggunakan kereta untuk pergi bekerja dan menggunakan bus untuk pergi ke apartemen Noh Jun Go, dia adalah satu-satunya seniman webtoon yang sering mengajakku bertemu di apartemennya.


Dibanding para seniman lain yang lebih suka berdiskusi melalui e-mail atau chatting, Jun Go lebih suka bertemu secara langsung. Menurutnya, itu jauh lebih efektif dan dapat membangun hubungan yang lebih baik antara seniman dan editornya. Karena itu adalah tugasku, aku tidak bisa menolak setiap kali dia memintaku datang. Meskipun jarak apartemennya cukup jauh dariku.


Aku mengambil dua bungkus daging segar. Alasan utamaku datang ke sini sebenarnya untuk ini. Daging sapi diskon dengan kualitas yang lumayan baik. Untungnya aku datang tepat waktu. Berdiri di antrean yang tidak terlalu panjang dan menunggu untuk mengambil daging kesukaanku. Tepat di belakangku antrean tiba-tiba sudah memanjang padahal beberapa saat lalu, hanya ada tiga orang yang mengantre. Mereka benar-benar memanfaatkan kesempatan dengan sebaik-baiknya.


Selain daging, aku juga membeli beberapa bahan makanan lainnya seperti tahu, beberapa jenis sayuran, bumbu dapur, ramyeon dan masih banyak lagi. Ketika hendak mengambil saus tiram, suara isak tangis anak kecil terdengar. Dia berdiri di depan rak kopi dengan lengan menutupi mata dan bahu yang bergetar.  Kuamati sekitar dan tidak mendapati seorang pun yang tampak seperti orang tuanya. Apa dia terpisah dari orang tuanya? Merasa penasaran, aku pun mendekat. Berjongkok kemudian mencoba berbicara dengannya.


“Kau mencari ibumu?” tanyaku sehalus mungkin agar dia tidak ketakutan. Anak laki-laki itu menggeleng. Kalau dilihat-lihat usianya masih sekitar empat sampai lima tahun.


“Lalu, kau mencari ayahmu?” Kali ini dia mengangguk. “Bagaimana kalau kubantu cari ayahmu?” tawarku.


Dia mengalihkan lengan dari wajahnya. Mengedipkan mata kemudian menatapku. “Ajumma mau mencari ayahku?”


Ajumma? Apa aku terlihat setua itu?


Aku mengangguk menanggapi pertanyaan anak itu. “Tentu. Jadi berhenti menangis, oke?” Dia mengangguk lalu mengusap air matanya yang masih terus mengalir.


Kugenggam telapak tangan mungilnya. Berjalan bersama menuju bagian costumer service untuk memberikan pengumuman agar ayahnya tahu kalau anaknya ada di sini. Belum sempat sampai di sana, seseorang tiba-tiba menarik tangan anak itu. Dia berjongkok kemudian memeriksanya seolah-olah aku baru saja melakukan hal buruk pada anak itu.


“Kau baik-baik saja?” Sang anak mengangguk sementara pria itu menoleh ke arahku dan rupanya dia adalah Kim Young Bum. Lagi. Aku benar-benar tidak paham dengan semua kebetulan ini. Kenapa akhir-akhir ini aku selalu bertemu dengannya padahal sudah sangat lama kita tidak pernah sekalipun bertemu.


“Kenapa kau lagi?” tanya Young Bum terlihat tidak senang dengan pertemuan ini.


“Aku?” Aku menunjuk diriku sendiri. ‘Memangnya aku juga mau terus menerus bertemu denganmu?’ Ingin sekali aku mengucapkan kalimat itu, tapi urung kulakukan karena ada anaknya yang tengah memperhatikan kami.


“Ahjumma mau membantuku menemukan ayah,” ujar sang anak menjelaskan. Dia tersenyum kecil padaku kemudian menggandeng erat ayahnya.


“Terima kasih, dan ... kuharap ini kali terakhir pertemuan kita,” ujarnya kemudian menarik anaknya pergi dari hadapanku.


“Apa?”

__ADS_1


__ADS_2