
Begitu pintu lift terbuka aku melangkah keluar. Berjalan menuju apartemen bernomor 217 dengan pintu depan berwarna putih yang sedikit kusam. Apartemen berukuran 25 meter persegi ini didominasi warna abu-abu dan putih dengan beberapa tanaman hias yang kuletakkan di beberapa lokasi. Aku memang menyukai tanaman hias. Beberapa koleksiku bahkan termasuk langka dengan harga yang bisa dibilang lumayan mahal. Untuk sebuah hobi, aku tidak ragu mengeluarkan uang lebih meskipun pada akhirnya harus berhemat dalam hal makanan.
Kuletakkan kotak berisi barang-barang yang kubawa dari kantor ke atas meja kaca. Duduk di sofa, kemudian menyandarkan diri pada sandaran sofa yang empuk. Hari pertamaku sebagai pengangguran resmi dimulai hari ini. Kupejamkan mata, mencoba menyusun rencana-rencana yang kemungkinan akan kulakukan selama masa kekosongan ini. Satu-satunya hal yang kupikirkan sejak memutuskan resign adalah menulis. Sebuah hobi yang dulu pernah kutekuni semasa kuliah dan berhasil menghasilkan satu buah naskah tamat.
Di dalam folder laptopku, tersimpan puluhan ide mentah yang menunggu untuk dieksekusi. Bekerja sebagai seorang editor webtoon tidak memberiku waktu untuk menyelesaikan proyekku sendiri. Setiap hari, aku selalu disibukkan dengan karya-karya orang lain, membantu mereka menemukkan ide saat mengalami kebuntuan, menyemangati mereka, memberikan saran dan nasihat, serta membantu mereka membangun nama besar.
Bekerja di belakang layar memang menyenangkan dan memberikanku pegalaman berharga, tapi benar-benar menyita waktuku. Bahkan hanya untuk mengembangkan hobi saja tidak bisa. Meskipun begitu, ada banyak hal yang kupelajari selama lima tahun ini dan setelah melepaskan semua itu, dalam beberapa hari aku yakin kalau hal yang bernama kesepian dan kehilangan arah akan datang menghampiri. Sebelum mengalaminya, harus ada kegiatan untuk menyibukkan diri.
Aku bangkit dari sofa. Mengambil jurnal yang tersimpan rapi di atas meja kemudian mulai mengisinya. Aku juga membuat list kegiatan selama dua puluh satu hari kedepan. Dan siapa sangka kalau menyusun rencana dalam jangka waktu sebanyak itu adalah hal sangat sulit? Alhasil, aku hanya menulis sampai hari ketujuh. Selebihnya, kupikirkan nanti.
Semua list yang kubuat didominasi dengan kegiatan di dalam rumah. Membaca, menulis, memasak, mencari inspirasi dengan pergi ke perpustakaan kota, serta berolahraga. Aku tidak bisa mengabaikan kegiatan itu. Selama ini, aku terlalu malas untuk berolahraga sehingga lemak di tubuhku mulai tampak menonjol dan mengganggu.
Di dalam folder lamaku, terdapat sebuah naskah yang baru kutulis sekitar lima bab dan mandeg. Tentang hubungan unik antara seorang karyawa dengan manajer keuangan sebuah perusahaan. Saat mencoba untuk membaca-baca lagi, aku malah menemukan kesenangan aneh. Bahkan sebuah ide besar mendobrak pikiranku.
Buru-buru kubuka software pengolah kata, halaman kosong yang siap diisi oleh kata-kata memberiku semangat. Ide-ide yang muncul beberapa detik lalu perlahan kutuangkan dalam bentuk tulisan. Kata-demi kata yang membentuk kalimat, dan begitu kalimat terkumpul, rangkaian paragraf panjang terbentuk.
Saat energi tengah kufokuskan pada menulis, ponselku tiba-tiba berbunyi. Imajinasiku seketika menguap tergantikan oleh kekesalan karena sudah lama aku tidak pernah merasakan perasaan tadi. Sebuah nama bertuliskan Ko Hae Soo muncul di layar telepon. Dengan malas aku menerimat panggilan kemudian menempelkan ponsel pada telinga.
“Halo?” balasku kesal.
“Kau benar-benar tega, Kyung Hee. Kau pergi tanpa berpamitan denganku? Selama ini, kau menganggapku apa, huh?” Apa dia mabuk?
“Kau mabuk?” tanyaku memastikan.
“Tidak. Aku tidak pernah mabuk. Kau ... kau tahu sendiri kalau aku memiliki masalah dengan alkohol.”
__ADS_1
“Kau di mana?”
“Kau mau menemuiku?” Dia tersenyum. Aku bisa tahu hanya dengan mendengar suaranya saja. “Bukankah kau sudah pulang ke Namhae? Kau mau datang jauh-jauh dari Namhae untuk menemuiku?” Siapa orang bodoh yang sudah memberi informasi ngawur padanya?
“Kau di mana?” tanyaku sekali lagi.
“Tempat biasa,” ujarnya mengingatkanku pada warung tenda tempat biasa kita berdua makan dan mengobrol sepulang bekerja. “Dan ingat! Aku ... tidak ... mabuk. Aku baik-baik saja, Kyung Hee.”
Enggan untuk terus menerus mendengarkannya mengoceh, aku langsung mematikan sambungan telepon. Menyimpan file yang baru saja kutulis kemudian menutup laptop.
Warung tenda tempat kami biasa menghabiskan waktu terletak tidak jauh dari kawasan apartemen. Hanya butuh waktu berjalan ke sana sekitar sepuluh menit dengan langkah normal, tapi karena sedikit khawatir pada Hae Soo aku mempercepat langkah agar bisa sampai di sana lebih cepat.
Hae Soo adalah sahabatku. Meskipun terkadang menyebalkan tapi dia adalah pria yang baik. Hubungan persahabatan kami sudah berlangsung sekitar lima tahun, tepatnya sejak aku diterima bekerja di BlueToon. Kala itu, kami bertemu saat wawancara kerja. Mengobrol sambil menunggu giliran wawancara dan entah kenapa aku menemukan kecocokan dengan pria itu. Alhasil, kami bertukar nomor dan dari sanalah hubungan pertemanan kami dimulai.
Apartemen kami berdekatan, hanya beda beberapa unit. Itulah yang membuatku merasa kalau Tuhan memang menakdirkan kami untuk berteman. Siapa sangka kalau orang yang tidak sengaja kau temui saat wawancara kerja adalah tetanggamu sendiri?
Sebuah kerumunan terlihat dari kejauhan. Lokasinya tepat di depan warung tenda tempatku dan Hae Soo biasa bertemu. Penasaran dengan apa yang membuat orang-orang berkerumun, aku berjalan cepat mendekat. Menerobos beberapa orang yang terlihat asyik menonton, kemudian mendapati sosok Hae Soo yang tengah berkelahi dengan seorang pria bersweter putih.
Dia memukulinya beberapa kali di tanah, tapi karena lawannya cukup kuat posisi malah berbalik. Kini Hae Soo yang dipukuli dan pukulannya benar-benar sangat keras sampai hidung dan bibirnya berdarah. Merasa khawatir, aku berteriak.
“Sudah cukup!”
Mendengar teriakanku mereka berhenti saling menyakiti. Menoleh ke arahku dan saat itu juga aku langsung mengenali sosok yang tengah menindih Hae Soo. Kini aku yakin, kalau dia benar-benar Kim Young Bum, orang yang pernah kukenal saat masih kuliah.
Hae Soo melepaskan cengkramannya dari leher Young Bum, dan Young Bum menurunkan tinju yang siap dilayangkan ke wajah Hae Soo.
__ADS_1
“Apa yang kau lakukan di sini, huh?” teriakku mendekati keduanya kemudian mendorong Young Bum menyingkir dari tubuh Hae Soo.
Tatapan mataku fokus pada Hae Soo, tapi meskipun begitu aku juga melihat samar-samar kalau Young Bum memperhatikanku. Apa dia mengenaliku? Ah ... tentu saja. Bagaimana mungkin dia melupakan sosok wanita yang paling dibencinya. Aku yakin betul itulah alasan kenapa Young Bum menghindar tadi siang.
Aku membantu Hae Soo bangun. Mengecek luka di wajahnya yang lumayan parah. Terdapat memar di beberapa area dan hidung yang mimisan.
“Kau bodoh? Kenapa kau berkelahi, huh?” tanyaku masih diliputi kekesalan.
Hae Soo menggunakan lengan baju hitamnya untuk mengelap darah di hidung. Tatapannya tajam mengarah pada Young Bum. “Dia benar-benar kurang ajar padaku!” Hae Soo menunjuk ke arah Young Bum yang kini berdiri sambil mengelap darah di bibirnya –aku baru menyadari kalau dia juga terluka. “Dia yang memulai masalah dan ....”
“Pria itu yang memulai,” ujar seorang wanita tiba-tiba menunjuk ke arah Hae Soo. “Dia yang lebih dahulu memukul pria itu,” lanjutnya menyalahkan. Entah siapa yang benar dan siapa yang salah, aku belum bisa memutuskan. Yang jelas, saat ini kondisi Hae Soo benar-benar buruk. Sudah seharusnya aku membelanya sebagai seorang sahabat.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” Aku berbalik ke arah Young Bum sambil menatapnya lekat.
“Aku akan ganti rugi. Tulis saja nominal dan nomor rekeningnya.” Apa dia benar-benar Young Bum? Bagaimana bisa Young Bum mengatakan hal semacam itu? “Ini kartu namanku. Dan kau bisa menghubungiku untuk meminta ganti rugi. Aku tidak akan kabur,” katanya memberikan sebuah karu nama kemudian berlalu melewatiku.
“Tunggu!” teriakku, tapi sama sekali tidak digubris. Dia terus berjalan pergi sampai akhirnya aku berjalan cepat ke arahnya lalu menarik lengan sweternya. “Apa kau kira semua masalah hanya bisa diselesaikan dengan uang? Apa kau tidak tahu apa itu permintaan maaf?”
“Maaf?” Dia menyeringai. “Apa kau yakin kalau aku yang salah?” lanjutnya.
“Bagaimana pun juga kau memukulinya,” balasku.
“Apa dia tidak memukuliku?” Arrgh ... pria ini benar-benar .... “Aku tidak punya banyak waktu. Kalau kau mau, kau bisa minta ganti rugi padaku dan aku anggap masalah ini selesai. Kalau tidak mau dan ingin membawa masalah ini ke jalur hukum, aku juga tidak keberatan karena banyak saksi di sini,” ujarnya dengan nada yang benar-benar menyebalkan. “Pikirkan itu!” tukasnya sambil menunjuk wajahku kemudian berlalu pergi.
“Sunbae!” teriakku.
__ADS_1