
Saat ini aku tengah duduk menatap ke arah jendela, melihat pemandangan yang dilewati oleh kereta yang kutumpangi. Kursi di sebelahku kosong, sehingga aku bisa lebih leluasa untuk bergerak. Sudah satu jam kereta melaju dan beberapa kali berhenti di stasiun. Jarak ke kota tujuanku masih jauh, dan sampai saat ini rasa kantuk belum juga menghampiriku. Aku tidak tahu jelas alasannya, tapi mungkin karena otakku terlalu aktif berpikir.
Beberapa saat yang lalu, ibu memintaku untuk pulang ke Seoul. Katanya, dia tidak mau aku terkena masalah karena membolos kerja dua hari berturut-turut. Dia tidak tahu kalau saat ini aku sudah tidak lagi bekerja dan memiliki banyak waktu luang. Sejujurnya, aku tergelitik untuk menjelaskan soal kondisiku kepadanya, hanya karena ingin menemaninya lebih lama. Namun, setelah memikirkannya untuk yang kedua kali, akhirnya aku memutuskan untuk tetap merahasiakan masalah itu darinya. Setidaknya, agar dia tidak memiliki lebih banyak beban pikiran.
“Tolong jaga ibu,” ujarku saat itu kepada Jung Hee. “Jangan biarkan dia bekerja terlalu keras, dan ... selalu kabari aku tentang kondisinya!”
Jung Hee mengangguk kemudian berkata, “tentu. Nunna jangan khawatir! Aku akan menjaganya dengan baik.” Aku mengelus rambutnya, kemudian pergi meninggalkan rumah sakit.
Meskipun anak itu bisa diandalkan, tetap saja aku merasa khawatir padanya. Jung Hee memiliki kegiatan di luar rumah seperti kuliah dan bekerja paruh waktu. Untuk beberapa hari ke depan, ibu masih akan di rumah sakit dengan perawat dan dokter yang rutin mengecek kondisinya, tapi saat nanti sudah dipulangkan, dia akan sendiri saat Jung Hee pergi.
Apa sebaiknya aku jujur saja padanya agar bisa menjaganya di rumah? Tidak. Aku harus percaya kalau ibu akan baik-baik saja. Setelah ini, dia pasti akan lebih berhati-hati terhadap kesehatannya sendiri. Aku yakin. Mengabarkan kalau aku saat ini berstatus pengangguran bukanlah hal yang baik untuk diungkapkan di saat-saat seperti ini.
Aku tidak yakin kapan aku tertidur. Sampai akhirnya, sebuah suara pengumuman yang mengabarkan kalau kereta telah sampai di stasiun Seoul terdengar di telinga. Begitu kereta berhenti sepenuhnya, aku langsung keluar dan berjalan di sepanjang peron menuju pintu keluar.
Aku berhenti di depan begitu menyadari ponselku yang berada di dalam tas berbunyi. Buru-buru aku meraihnya kemudian mendapati Hae Soo menelpon.
“Kau di mana?” tanya pria itu.
“Stasiun Seoul. Aku baru saja tiba.”
“Jangan ke mana-mana, sebentar lagi aku sampai.”
“Kau sedang ke sini?” tanyaku heran.
“Tunggu aku, oke?” Kemudian dia menutup sambungan telepon.
Hae Soo tiba sekitar sepuluh menit setelahnya. Aku langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang kemudian meletakkan tas di kursi belakang.
“Apa kau langsung ke sini setelah dari kantor?”
Dia mengangguk, kemudian melaju meninggalkan area stasiun.
“Ibumu sudah baikan?” tanya Hae Soo menoleh singkat ke arahku.
“Ya, sudah lebih baik. Meskipun dokter masih belum mengijinkannya pulang,” jawabku menoleh.
“Syukurlah. Jika kau ingin ke sana lagi, kabari aku! Aku akan mengantarmu,” ujarnya santai seolah jarak antara Seoul dan Namhae hanya satu jam.
“Tidak. Terima kasih. Lagi pula yang ibu tahu aku tengah bekerja dan ....”
__ADS_1
“Weekend bukankah hari libur untuk semua pekerja?”
“Iya, tapi ....”
“Kabari aku jika kau ingin ke sana!”
“Akan lebih baik jika aku menemukan pekerjaan dulu sebelum ke sana lagi. Lagi pula Jung Hee berjanji akan menjaga ibu dengan baik. Dia juga akan mengabariku mengenai perkembangan kondisi ibu.”
“Bagus, kalau begitu,” jawabnya singkat.
Di saat yang bersamaan, aku menoleh ke luar jendela. Sebuah bus berhenti di samping kami tepat di lampu merah. Di bagian badan bus, tertempel sebuah iklan platform menulis online bernama Leafdream. Hijau muda menjadi warna dominan pada iklan itu dan sebuah tulisan berbunyi, “kembangkan imajinasimu bersama kami dan gapai impian menjadi penulis sukses,” membuatku cukup tertarik untuk tahu lebih jauh soal platform itu.
Suara klakson terdengar dari belakang. Fokusku pada iklan itu terpecah. Aku menoleh ke arah Hae Soo. Dan rupanya dia juga tengah melamun sampai-sampai tidak tahu lampu sudah berubah hijau. Buru-buru kakinya menginjak pedal gas untuk membuat mobil melaju.
“Kau bengong?” tanyaku.
“Tidak. Mobil itu hanya tidak sabaran saja,” ujarnya mengelak.
“Oh ya, apa kau tahu mengenai platform menulis Writerleaf?” tanyaku.
“Kurasa aku pernah mendengarnya,” dia berusaha mengingat-ingat. “Tapi ... di mana, ya?”
“Lupakan! Akan kucari sendiri di internet.”
“Bagaimana menurutmu?” tanyaku.
Dia mengidikkan bahu. “Aku belum pernah mencobanya sendiri, jadi tidak bisa memberikan komentar apapun. Memangnya kenapa? Kau mau mencoba menulis di sana?” tanya Hae Soo mencoba membaca keinginanku.
“Belum tahu. Sama sepertimu.”
“Sejauh yang kutahu, platform itu memang tengah popular. Kalau kau tertarik tidak ada salahnya mencoba memasukkan naskahmu ke sana,” ujarnya menyunggingkan sedikit senyum ke arahku. Kurasa ucapan Hae Soo ada benarnya juga. Tidak ada salahnya untuk mencoba memasukkan karyaku ke sana.
Setelah semalaman berpikir, akhirnya aku memutuskan untuk sign up di Writerleaf. Prosesnya sederhana dan tidak kurang dari sepuluh menit, aku sudah terdaftar sebagai penulis di platform tersebut. Hanya perlu menunggah karya sampai aku resmi menjadi bagian dari komunitas penulis di sana.
Saat ini, aku memiliki sebuah draft yang benar-benar sudah siap. Langsung saja, aku menekan ‘buat karya’ pada website. Aku perlu memasukkan cover cerita, judul, dan beberapa hal lain termasuk blurb. Butuh waktu sekitar dua jam sampai akhirnya aku selesai mempublikasikan bab pertama. Siapa sangka kalau membuat sebuah cover yang menarik bisa membutuhkan waktu sangat lama?
Aku mengatur agar setiap episode diperbaharui secara otomatis setiap dua kali seminggu dengan jadwal Sabtu dan Minggu. Itu akan memudahkanku seandainya aku melupakan waktu update dan mengecewakan pembaca seandainya tulisanku ‘mungkin’ dibaca oleh orang.
Sabtu pagi aku pergi ke luar dari apartemen dengan jaket dan celana olahraga. Akhir-akhir ini kurasakan lemak di tubuhku semakin mengganggu penampilan dan mau tidak mau aku harus menguranginya agar bisa lebih percaya diri. Namun sayangnya, saat barusaja ke luar aku melihat sosok Young Bum yang tengah berjalan bersama putranya.
__ADS_1
Dari mana mereka pagi-pagi sekali?
Sejujurnya, akan lebih mudah jika aku masuk kembali ke apartemen alih-alih melanjutkan langkah, berpapasan dengannya sambil berpura-pura tidak mengenal satu sama lain. Itu terasa sangat canggung. Dan aku membenci hal-hal semacam itu. Sialnya, saat hendak berputar arah untuk kembali ke apartemen, putranya yang manis itu memanggilku.
“Ahjumma!” Suaranya nyaring dan lugas.
Jelas aku tidak bisa tidak menyahutinya. Terlepas dari bagaimana hubungan burukku dan ayahnya tercipta, anak ini tidak salah apapun. Jadi, sudah seharusnya aku bersikap baik padanya.
“Ahjumma tinggal di sini?” tanya anak itu. Senyuman menghiasi wajah manisnya.
Aku mengangguk cepat. “Di sana!” Aku menunjuk pintu apartemenku.
“Wah … ternyata Ahjumma tetangga kita,” ujarnya sambil menggoyang-goyangkan tangan Young Bum. Wajah pria itu terlihat datar tanpa ekspresi. Aku tahu kalau dia tidak menyukaiku. Tapi, tidak bisakan dia berpura-pura sedikit baik padaku di depan anaknya?
“Ngomong-ngomong, kita belum kenalan. Siapa namamu?” tanyaku pada anak itu.
“Lee Yo-Han,” jawabnya dengan penuh percaya diri.
“Nama yang sangat bagus. Aku Kim Kyung Hee,” kataku memperkenalkan diri padanya.
“Apa lain kali aku bisa main ke apartemenmu?” tanya anak itu. Aku melirik ke arah Young Bum. Dan tampaknya dia tidak suka dengan ide itu. “Boleh?”
“Boleh asalkan sudah dapat izin dari ayahmu. Oke?”
“Oke.” Dia mengacungkan jempol ke arahku.
Setelahnya, Young Bum mengajak Yo-Han pergi. Masuk ke dalam apartemen kemudian menutup pintu.
“Aku heran ...”
“Astaga!” ujarku spontan karena terkejut dia tiba-tiba berada di sampingku.
“Sebenarnya apa masalahmu dengan Pak Lee?” tanya Hae Soo. Pakaiannya saat ini terlihat hendak berolah raga. Jaket hitam sekaligus celana pendek, earbuds serta smart watch yang melingkar di pergelangan tangannya.
“Panjang ceritanya,” ujarku.
“Kebetulan, kita bisa menceritakannya sambil lari pagi. Ayo! Mumpung aku sangat bersemangat pagi ini!” senyuman lebar tercipta dari bibir tipisnya.
“Traktir aku sarapan setelah ini!”
__ADS_1
“Setuju.”
--To be continue--