After 7 Years

After 7 Years
Akibat menguping


__ADS_3

“Awal pertemuanku dengan Lee Young Bum adalah saat musim dingin.” Ingatan itu masih jelas tergambar di kepala. Bahkan seolah baru terjadi kemarin.


“Salju turun malam sebelumnya, sehingga membuat hampir seluruh area tertutup salju. Semua orang yang melintas mengenakan baju hangat mereka yang berlapis, termasuk aku. Waktu itu mungkin sekitar jam sembilan pagi. Ada toko buku yang baru buka di dekat kampus memberikan penawaran diskon 50%. Karena tertarik, aku langsung masuk ke dalam toko,” lanjutku sambil terus mengatur napas agar bisa bercerita sambil terus berlari.


“Kau bertemu dengannya di sana?” tanya Hae Soo. Wajahnya mulai memerah padahal baru berlari sekitar seratus meter.


“Belum. Dengarkan dulu!” tukasku.


“Oke,” sahutnya.


“Di toko itu, aku berhasil mendapatkan dua buku dengan harga miring, ditambah lagi itu adalah buku yang selama ini kuinginkan. Tentu kau tahu bagaimana perasaanku saat itu. Tapi ....”


“Kau bertabrakan dengan Pak Lee setelahnya? Seperti di drama-drama?” Dia terkekeh dengan ucapannya sendiri.


“Bukan ... lebih tepatnya, Young Bum yang ditabrak. Dia ditabrak sebuah mobil saat tengah bersepeda,” aku menoleh sejenak ke arahnya.


“Eh?” Hae Soo terkejut mendengar ucapanku dan spontan berhenti berlari.


Spontan aku juga menghentikan laju lariku beberapa meter di depannya.


“Bagaimana bisa?” Hae Soo berjalan mendekat.


“Penyebabnya jalanan licin,” jawabku sambil mengatur napas sembari berkacang pinggang. “Aku yang saat itu baru saja keluar dari toko buku, langsung mendekat dan berusaha menolongnya. Kau tahu, saat pertama kali melihatnya, aku langsung teringat dengan si jenius yang sering dibicarakan di kampus. Dan wajahnya memang sama persis dengan foto yang pernah kulihat. Hanya saja, dia jauh lebih tampan dari yang ada di foto. Meskipun dengan kacamata dan behel yang memagari giginya.”


“Pak Lee memakai kacamata dan behel?”


Aku mengangguk. “Penampilannya benar-benar berbeda dari yang sekarang kau kenal.”

__ADS_1


“Lanjut!” Aku tidak menyangka kalau Hae Soo seantusias itu mendengarkan ceritaku.


“Karena aku mengenalnya, aku menawarkan diri untuk ikut bersamanya ke rumah sakit. Dia mengalami gegar otak ringan dan tangan kanan yang terkilir sampai harus memakai gips. Ada luka juga tapi tidak untungnya parah.”


“Dari sana kalian saling mengenal?”


“Tepat sekali,” jawabku. “Ngomong-ngomong ... aku akan mengunggah naskahku di Writersleaf.”


“Apa kau sadar, kalau kau baru saja mengalihkan pembicaraan tiba-tiba?”


Aku mengangguk kemudian tersenyum lebar. “Tidak terlalu menarik setelahnya. Kau akan bosan mendengarnya.”


“Ceritamu bahkan belum mencapai *******. Dan aku yakin, setelah itu kalian akan semakin akrab dan ....”


“Jangan membuat versimu sendiri! Lain kali akan kuceritakan lagi. Saat ini, aku ingin membahas ceritaku denganmu.”


Aku mengekor, berusaha menyamai laju larinya sambil berteriak, “tunggu aku!” tapi dia enggan mendengarkan dan terus berlari.


Setelah lelah berlari, aku menagih janji kepada Hae Soo untuk mentraktirku makan. Selesai makan dan beristirahat beberapa saat, kami kembali ke apartemen. Menunjukkan draft yang sudah kutulis kepadanya kemudian membiarkannya membaca tiga chapter pertama. Tak banyak reaksi di wajahnya saat membaca. Aku sempat khawatir kalau dia akan mengkritik habis-habisan, sampai akhirnya dia berkata, “ide ceritanya bagus. Hanya perlu sedikit perbaikan saja pada narasi agar lebih mengalir,” katanya kemudian berbalik ke arahku. Ngomong-ngomong ... kau dapat ide ini dari mana?” sebelah alisnya naik.


“Ini draft yang pernah kutulis saat masih di bangku kuliah dulu, tapi tidak selesai.”


“Apa kau sadar kalau karakter Choi Jeong Hun sangat mirip dengan Pak Lee?”


“Pak Lee? Lee Young Bum?” tanyaku kaget.


“Iya. Penggambaran sifat, bentuk fisik, bahkan pekerjaannya sama persis.”

__ADS_1


“Karakter ini bahkan sudah ada sebelum Young Bum bekerja,” ujarku menegaskan. Kurasa dia terlaku terpaku pada atasannya itu, dan menyamakannya karakter yang kubuat dengan pria itu. Padahal mereka memiliki sifat yang berbeda.


Choi Jeong Hun memiliki tubuh tinggi, ramping tapi berotot dan selalu memperhatikan penampilan tetap rapi. Wajahnya tegas dan mata yang tajam. Memiliki gaya rambut comma hair dengan bantuan sedikit pomade. Bibirnya agak tebal dan saat tersenyum terlihat begitu manis. Sifatnya lembut sekaligus tegas di beberapa kesempatan. Dia juga ahli beladiri dan yang jelas dia adalah pria pemberani yang kuat.


Bisa dibilang, aku memiliki imajinasi yang luar biasa berkaitan dengan Choi Jeong Hun, meskipun hanya tokoh fiksi, tapi jika bertemu langsung dengannya, aku mungkin akan jatuh hati kepadanya.


Sangat berbeda dengan Lee Young Bum. Kepribadiannya minus, dia kasar, menyebalkan, dan pendendam. Meskipun kuakui kalau dia juga memiliki gaya rambut dan bentuk fisik yang sedikit mirip dengan Choi Jeong Hun, tapi ... hanya sebatas itu. Di Korea juga banyak yang memiliki bentuk fisik yang mirip dengan Choi Jeong Hun. Dan itu bukan hal yang aneh. Aku juga terinspirasi dari aktor dalam drama yang kutonton.


“Oke. Yang jelas, aku memiliki ketertarikan terhadap ceritamu ini. Kalau kau mengunggahnya di Writersleaf, aku akan membacanya di sana. Memberikan komentar pujian serta memberikan vote. Aku akan jadi penggemar pertamamu,” ujar Hae Soo antusias. Membuatku tanpa terasa tersenyum dibuatnya.


“Aku akan merevisinya sedikit, dan kemungkinan besar akan kuunggah malam ini,” jelasku memberitahu.


“Bagus. Makin cepat makin bagus,” katanya,


***


Minggu pertama, aku memperoleh masing-masing 24 dan 16 pembaca untuk dua chapter ceritaku. Minggu kedua, lumayan bertambah, minggu ketiga saat tempo cerita sudah mulai menanjak, jumlah pembaca yang kuperoleh lebih banyak dan bahkan ada yang memberikan komentar dan juga gift kepadaku. Komentar dari akun @leeky yang kucurigai sebagai Hae Soo menulis komentar, “ceritanya keren. Seru dan menegangkan. Aku berharap kalau author mau mengunggah lebih banyak chapter setiap minggunya.” Ini adalah komentar pertama yang kudapat sejak menulis di Writersleaf, dan harus kukonfirmasi apakah yang menulisnya adalah Hae Soo atau bukan.


Sekitar pukul delapan lebih, aku keluar dari apartemen dengan laptop di pelukanku. Aku harus bertemu Hae Soo. Rasa penasaranku mengenai akun @leeky sudah tidak dapat lagi terbendung. Ketika sampai di depan pintu apartemen Hae Soo, aku melihat Young Bum berjalan melewatiku.


Tangannya menggenggam ponsel di telinga. Terlihat kesal, bahkan berteriak saat bicara. Aku tidak tahu jelas apa yang ia bicarakan, tapi aku mendengar kata-kata tidak biasa di sela pembicaraannya. Yaitu, penjara dan korupsi. Aku sama sekali tidak berbalik, hanya berdiri di depan pintu sambil mencuri dengar percakapan Young Bum dengan seseorang di telepon.


Namun, tiba-tiba Young Bum menoleh. Sorot  matanya yang tajam mengarah padaku. Apa dia sadar kalau aku tengah menguping?


Di saat aku bingung harus berbuat apa atau mencari-cari alasan seandainya dia bertanya padaku, pintu apartemen Hae Soo terbuka padahal aku belum mengetuknya. Buru-buru aku masuk ke dalam, mendorong Hae Soo yang menghalangi pintu. Sampai akhirnya, karena tidak siap, Hae Soo terjengkang ke belakang. Aku jatuh menindih tubuhnya. Matanya melotot ke arahku dan di saat yang bersamaan, aku melihat ke arah laptop yang tertindih tubuhku.


Sial!

__ADS_1


__ADS_2