
Perjalanan dari Seoul menuju Namhae cukup jauh. Makin jauh jarak, makin lama otakku dipenuhi kekhawatiran. Sejauh yang kutahu, ibu tidak pernah pingsan. Dia tipe orang tua yang sangat tangguh dan juga disiplin. Dia tahu kapan bekerja dan kapan beristirahat. Lalu, bagaimana dia bisa pingsan? Apa benar karena terlalu kelelahan sampai lupa beristirahat?
“Kau baik-baik saja?” tanya Hae Soo menoleh sejenak.
“Ya,” jawabku singkat.
“Ibumu baik-baik saja. Kau tidak perlu cemas,” katanya berusaha menenangkanku. Meskipun menurutku itu sama sekali tidak membantu. Sebelum aku melihatnya secara langsung, aku masih belum bisa meyakinkan diri mengenai kondisinya yang sebenarnya.
“Ibumu adalah orang yang tangguh. Kau ingat pertemuan pertamaku dengannya? Dia memukulku dengan sapu hanya karena mengira aku menciummu.”
Untuk sesaat, aku tersenyum mengingat saat itu. Kejadian itu terjadi setahun lalu. Tepatnya saat musim panas. Aku pulang ke Namhae bersama dengan Hae Soo karena dia memaksa untuk ikut denganku. Salahku karena sebelumnya menceritakan keindahan desaku padanya.
Singkat cerita, malam itu aku bersama Hae Soo duduk di luar. Mengamati bintang-bintang yang bertaburan di langit. Cahayanya sangat indah apalagi malam itu bulan juga bersinar terang. Bagi Hae Soo dan aku, melihat begitu banyak bintang adalah pamandangan langka yang tidak bisa kami saksikan begitu kembali ke Seoul. Polusi cahaya membuat langit terlihat cerah dan bintang-bintang jadi tidak terlihat jelas.
Saat udara terasa makin dingin, aku menyuruh Hae Soo untuk kembali ke dalam rumah. Tanpa kusadari kalau masalah dimulai dari sana. Saat beranjak pergi, kaki Hae Soo tersandung dan entah bagaimana bisa terjadi, dia menubrukku. Membuatku terjengkang ke belakang dan dia menindihku. Bibir kami bersentuhan. Mataku membelalak menatapnya dan detik selanjutnya, suara langkah kaki yang menghentak terdengar. Ibu tiba-tiba memukul Hae Soo dari belakang dengan sapu dan berteriak ke arahnya.
Dia kesakitan, berlari menghindar sambil berusaha menjelaskan. Aku yang tahu bagaimana kejadian aslinya berusaha untuk membelanya. Setidaknya, supaya ibu bisa menghentikan kegiatannya memukuli Hae Soo. Untungnya, ibu mendengarkan dan percaya kalau kejadian itu hanyalah ketidak sengajaan. Dia juga percaya kalau aku dan Hae Soo tidak lebih dari sekadar teman.
Sampai saat ini, saat mengingat kejadian itu aku selalu tertawa. Entah kenapa aku merasa puas melihat Hae Soo dipukul oleh ibu. Ekspresinya yang ketakutan dan bingung benar-benar menghiburku.
“Kau masih ingat hal itu,” ujarku menanggapinya sambil tersenyum.
“Tentu saja. Bagaimana bisa aku melupakan kejadian itu? Punggungku bahkan terasa sakit setiap melihat ibumu.”
“Bagaimana mungkin?” elakku.
“Mungkin trauma?” Dia menoleh kemudian tersenyum singkat.
Matahari semakin terik saat kami hampir sampai di tujuan. Ibu dirawat di rumah sakit tak jauh dari rumah. Beberapa saat yang lalu, Jung Hee juga mengirimu pesan berisi nomor kamar tempat ibu dirawat.
Begitu sampai di basement, kami keluar dari dalam mobil. Berjalan bersama menuju lift untuk sampai di lantai empat. Di lorong rumah sakit, kudapati Jung Hee yang tengah duduk di kursi. Menunduk melihat ke arah ponselnya. Dia bahkan tidak menyadari kedatanganku sampai aku memanggil namanya.
__ADS_1
“Bagaimana kondisinya?” tanyaku.
“Masih menunggu tes laboratorium,” sahutnya.
“Apa buruk?”
“Aku tidak tahu. Tapi kenyataan kalau dia masih belum sadar sampai saat ini membuatku khawatir.”
“Semoga tidak ada hal buruk yang terjadi. Semoga dia baik-baik saja,” ujarku sambil mencengkram lengan Jung Hee.
Hubunganku dengan Jung Hee seperti kakak adik pada umumnya. Terkadang rukun dan terkadang bertengkar bahkan saling memukul. Meskipun begitu, saat ini dia cukup dewasa. Bisa diandalkan dalam banyak hal termasuk menjaga ibu.
Jung Hee saat ini duduk di bangku kuliah, semester enam. Untungnya meskipun dia tidak mendapatkan beasiswa dia mau bekerja paruh waktu untuk membiayai kuliahnya sendiri.
“Kak Hae Soo,” sapa Jung Hee menoleh ke arah sosok yang tengah berdiri di depan kami. “Lama tidak bertemu,” lanjutnya.
“Kau sudah semakin besar saja.” Ucapan Hae Soo terdengar seperti orang tua yang kolot. “Bagaimana kuliahmu?”
“Syukurlah, tidak seperti kakakmu.”
Aku melirik ke arah Hae Soo. Jangan sampai dia memberitahu Jung Hee kalau aku sudah tidak bekerja.
“Kenapa? Nunna membuat masalah?” Jung Hee mulai penasaran.
Aku beranjak dari kursi, berdiri di samping Hae Soo lalu mencubit lengannya. Spontan dia mengaduh kesakitan. “Aku akan membunuhmu jika Jung Hee sampai tahu kalau aku sudah tidak bekerja,” bisikku.
Hae Soo melirik ke arahku. Mengangguk paham.
“Bukan masalah besar. Hanya ... itu urusan di antara kami berdua.” Aku menunjuk Hae Soo.
Tiba-tiba Jung Hee menutup mulut. “Daebak! Serius ... kalian akhirnya berkencan?”
__ADS_1
Refleks, aku langsung memukul kepalanya. “Kau gila!”
“Argh ... kenapa memukul?! Kau bisa langsung menjelaskan saja!” Jung Hee memegangi kepalanya dengan wajah kesal. Aku hanya tersenyum meringis ke arahnya.
Salah siapa tiba-tiba membuat kesimpulan sendiri?
Aroma desinfektan rumah sakit membuatku tidak terlalu betah untuk berlama-lama di sini. Meskipun begitu aku harus menahannya. Setidaknya sampai ibu dinyatakan sehat dan bisa keluar dari sini.
“Nunna ... aku mau cari makan dulu,” kata Jung Hae berpamitan. Aku menghentikan langkahnya, memberinya kartu agar dia bisa membayar dengan kartuku. Tentu saja dia tidak menolak. Mana mungkin seorang Jung Hee menolak uang.
“Apa aku yang tidak sadar atau dia memang terlihat lebih tinggi dari sebelumnya?”
“Dia memang setinggi itu. Jadi kurasa kau yang tidak sadar,” sahutku sambil memasukkan kedua tangan di saku blazer. Udara di sini cukup dingin dan bodohnya aku hanya mengenakan blazer tipis.
“Oh ....”
Tak berselang lama, seorang dokter muda mendatangi kami. Jas putih menutupi baju praktiknya yang berwarna biru. Kacamata minus membingkai wajah ovalnya dengan rambut berantakan serta lingkaran hitam terlihat jelas di sekitar mata. Di tangannya terdapat sebuah papan yang kemungkinan besar berisi informasi medis dan saat dokter itu sudah berjarak dua meter dari kami, dia mulai menjelaskan.
Aku tidak terlalu paham beberapa hal yang dia ucapkan karena menggunakan bahasa medis. Tapi satu hal yang kutangkap dari penjelasannya tadi adalah, ibu menderita penyakit jantung.
Mendengar pernyataan itu, untuk sesaat aku bahkan lupa bagaimana cara bernapas. Tubuhku terasa lemas dan aku bahkan hampir tumbang jika Hae Soo tidak buru-buru menyeimbangkan tubuhku.
Wajah dokter muda itu tidak banyak berekspresi. Mungkin karena sudah terlalu sering mengabarkan hal buruk kepada keluarga pasien sehingga simpatinya terhadap orang lain sedikit demi sedikit terkikis. Dia juga menjelaskan padaku kalau aku tidak perlu khawatir karena kondisi ibu saat ini sudah stabil meskipun harus dirawat beberapa hari ke depan.
Hae Soo pulang ketika malam semakin larut. Dia benar-benar menemaniku seharian di sini, padahal esok hari dia harus bekerja dan perjalanan ke Seoul bukanlah perjalanan yang singkat. Membutuhkan setidaknya waktu lima jam untuk ke sana.
Ada perasaan khawatir ketika membiarkannya berkendara di malam hari seperti ini. Tapi aku bisa apa? Aku juga harus merawat ibu. Memintanya untuk tetap di sini lebih lama juga tidak bisa karena dia bekerja.
Jam di pergelangan tanganku sudah menunjukkan pukul satu. Jung Hee sudah tidur sekitar dua jam yang lalu. Pulas seperti bayi padahal aku tahu kalau dia tidak benar-benar baik-baik saja. Kelelahan membuatnya terlelap, bagaikan obat tidur yang membuat siapapun tak bisa menolak kantuknya.
Pikiranku mulai mengambil alih. Ramai dan gaduh. Untuk sesaat aku merasa kalau mewujudkan impian di saat-saat seperti ini bukanlah hal yang penting. Ibu sakit, dan aku harus memiliki tabungan lebih jika sewaktu-waktu terjadi hal yang tidak diinginkan. Bukan apa-apa, siapa yang mau orang tua yang sangat disayanginya sakit? Tapi bukankah orang harus berpikir reaslistis? Penyakit jantung bisa kambuh kapan saja. Tanpa mengenal waktu dan tempat. Setidaknya jika aku memiliki uang lebih aku bisa memberikannya perawatan terbaik.
__ADS_1
Jadi, untuk saat ini aku harus memiliki pekerjaan tetap. Di mana pun itu.