After 7 Years

After 7 Years
Kembali ke Namhae


__ADS_3

Tiga hari berlalu sejak kejadian warung tenda itu. Tak ada komunikasi antara aku dan Hae Soo. Mungkin dia tengah sibuk membenahi masalahnya. Karirnya di ujung tanduk sejak kejadian itu. Aku ragu Young Bum akan membiarkan masalah ini begitu saja. Apalagi kenyataan kalau Hae Soo adalah orang yang kukenal. Dia bisa saja memanfaatkan ini untuk memperbesar masalah.


Kuambil sisa kopi yang sudah dingin di atas meja. Meminumnya dalam sekali tenggak kemudian menurunkan kaki dari kursi. Sudah satu setengah jam aku menatap layar kosong. Tak ada satu pun kalimat yang kutulis. Hanya sebuah kata “Aku” yang sejak tadi bertengger di sana. Ideku macet. Padahal aku sudah berniat untuk menyelesaikan novel dalam satu bulan. Tapi kalau begini terus, kapan selesainya?


Sementara terus menatap layar monitor, pikiranku tiba-tiba beralih pada Young Bum. Pada anak laki-lakinya yang waktu itu kutemui di supermarket. Kemarin, setelah dari supermarket aku melihatnya masuk bersama wanita paruh baya, mungkin usianya sekitar empat puluh tiga tahun. Tangannya membawa ice cream dan sebelah kakinya berdarah tepat di bagian lutut. Dia tidak menangis tapi aku yakin kalau rasa sakit menggerogoti kakinya.


Young Bum dan anaknya tinggal di apartemen unit 221. Tidak jauh dari apartemenku. Beberapa kali aku tidak sengaja berpapasan dengannya di sekitar apartemen. Saat hendak membuang sampah, berolahraga, saat hendak pergi ke minimarket. Aku juga pernah melihatnya dari balkon tengah berjalan menggandeng putranya. Dan setiap kali melihatnya, aku belum pernah sekalipun melihat istrinya.


Tentu saja ini bukan urusanku. Namun, mereka sebuah keluarga. Paling tidak seharusnya aku bisa melihat mereka bersama walaupun hanya sekali? Dan wanita paruh baya itu, apakah itu ibu Young Bum yang mengurus anaknya saat ia pergi bekerja?


Suara bel terdenggar nyaring sampai-sampai membuatku terkejut dan tersadar dari lamunan. Kubuka pintu dan sosok Hae Soo muncul. Senyuman melengkung di bibirnya. Tangannya membawa tas plastik berisi sekotak pizza, beberapa kaleng soda dan cemilan kesukaanku yang berkumpul bersama kaleng-kaleng soda.


Dia akan lama di apartemenku. Pasti.


“Kau tidak memiliki kegiatan akhir pekan sampai-sampai mau menghabiskan waktu di sini?” tanyaku masih menghalangi pintu, belum mengijinkannya masuk.


Hae Soo mendorong pintu kemudian menerobos masuk dan langsung duduk di sofa.


“Aku membawa makanan. Setidaknya, kau menghargainya.” Dia meletakkan bungkus makanan di atas meja.


“Kau menghilang tiga hari ini setelah membuat kekacauan. Kukira kau sudah tidak membutuhkanku lagi,” ujarku.


“Tiga hari ini aku selalu lembur. Banyak perkerjaan yang harus kuurus,” jawabnya sambil membuka kotak pizza. Wah ... toping kesukaanku. Dia memang selalu bisa menyenangkanku dengan makanan.


“Kau masih bekerja di sana?” Kuambil sepotong pizza –kejunya meleleh saat ditarik—kemudian memasukkannya ke dalam mulut.


“Tentu,” jawabnya santai.


“Masalahmu dengan Young Bum?”


“Dia tidak mengungkit masalah itu di kantor. Aneh memang, tapi yang terpenting aku masih bekerja di sana,” ujarnya kemudian membuka kaleng soda. Menyodorkan ke arahku kemudian membuka satu lagi untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


“Aneh sekali,” komentarku. “Kalau aku jadi dia ... aku sudah memecatmu. Bawahan kurang ajar yang berani mengajak berkelahi atasannya.”


“Soal itu, aku benar-benar menyesal. Aku tidak tahu dan ... kurasa itu akan jadi pelajaran berharga untuk tidak lagi minum soju lebih dari dua gelas.”


“Tentu saja,” sahutku.


Young Bum melupakan masalah itu? Tampak bukan seperti dirinya. Aku yakin betul kalau malam itu dia benar-benar marah. Matanya pun menyorotkan kebencian yang teramat besar terhadapku dan juga Hae Soo. Lalu, kenapa dia membiarkan masalah ini berlalu begitu saja seolah tidak pernah terjadi? Apa yang dia rencanakan?


“Ngomong-ngomong, kau belum cerita masalahmu.” Hae Soo menarik sepotong pizza. Memakannya dengan suapan besar kemudian mengelap sisa keju yang tertinggal di ujung bibir.


“Noh Jun Go. Dia membuat masalah. The Fire Man tidak diperpanjang dan dia juga menandatangani kontrak dengan LeafToon. Kau ingat soal taruhanku dengan Pak Lee?” Hae Soo mengangguk. “Karena gagal membuat Jun Go tetap di BlueToon, aku terpaksa harus menyerahkan surat pengunduran diri.”


“Kau tidak mencoba membujuknya untuk tetap bertahan?” tanyanya dengan mulut penuh.


“Semuanya terjadi tiba-tiba. Dia tidak mengabariku. Dan saat aku baru membujuknya  katanya dia sudah terlanjur menandatangani kontrak dengan LeafToon.” Sampai saat ini aku bahkan masih kesal dengan pria itu.


“Kurang ajar! Berikan alamat rumahnya! Dan akan kuberi dia pelajaran tentang bagaimana menghargai orang lain.” Wajah Hae Soo menegang.


Aku tahu betul bagaimana sifat Hae Soo saat marah. Dia bisa saja membuat orang masuk rumah sakit hanya untuk memberi perhitungan. Sebuah pengeculian kemarin. Kondisi mabuk membuatnya jauh lebih lemah dibanding saat dalam kondisi normal.


“Dia tidak tahu balas budi, Kyung Hee!” Dia malah membentakku. “Kau menghabiskan sebagian besar waktu berhargamu untuk mengurusnya. Dan setelah sudah memiliki semuanya, dia malah membuat hidupmu kesulitan.”


 “Aku tahu. Aku juga hampir meninjunya waktu itu. Tapi aku sadar, kalau semua yang kulakukan memang bagian dari pekerjaanku dan ... aku tidak bisa memungkiri kalau dia juga memiliki hak untuk memilih, mau bertahan dengan BlueToon atau pergi. Yang jelas, dia sudah memenuhi tanggung jawab dengan menyelesaikan karyanya,” jelasku panjang lebar.


“Arghhh ....” Hae Soo berusaha menahan emosinya yang memuncak. “Tapi setidaknya dia seharusnya memberitahumu dulu mengenai penandatanganan kontrak dengan LeafToon. Jadi kau tidak pernah membuat taruhan bodoh itu.”


Dia benar, tapi semuanya sudah terjadi. Mau apa lagi sekarang? Toh aku tidak bisa memutar ulang waktu.


“Sudahlah. Lagi pula sudah lewat beberapa hari. Akan aneh jika kau memberinya perhitungan setelah tiga hari berlalu.”


Dia meminum sodanya beberapa teguk untuk menenangkan diri. “Lalu, apa yang akan kau lakukan setelah ini?”

__ADS_1


“Menulis. Aku ingin menjadi novelis.”


“Kau pernah membahas ini dulu. Tapi, bukankah prosesnya lama sampai bukumu terbit? Apa kau hanya akan menulis tanpa bekerja untuk menghasilkan uang?”


Ponselku bergetar di atas meja. “Aku tidak bodoh Hae Soo ....” kuraih ponsel dan mendapati nama Jung Hee di layar. Tumben sekali dia menelpon. “Sebentar!” kataku memberitahu Hae Soo.


“Halo?” jawabku mengangkat panggilan di depan Hae Soo.


“Nunna, ibu sekarang di rumah sakit.”


“Huh?” Aku cukup terkejut mendengar ucapan Jung Hee.


“Dia pingsan. Tadi saat pulang berolahraga aku melihatnya tergeletak di dapur. Mungkin kelelahan setelah semalam bekerja.”


“Bagaimana kondisinya saat ini?”


“Masih belum sadar. Aku juga masih menunggu informasi lebih lanjut dari dokter.”


“Aku akan pulang. Tolong jaga ibu dulu.” Jung Hee mengiyakan permintaanku.


Kututup sambungan telepon dan untuk sesaat, aku tertegun.


“Ibumu pingsan?” Aku mengangguk.


“Aku harus pulang saat ini juga,” ujarku kemudian beringsut mengambil jaket dan tas.


“Biar kuantar,” kata Hae Soo tiba-tiba.


“Tidak perlu. Kau masih harus bekerja besok. Dan kurasa aku akan beberapa hari di sana,” jelasku enggan untuk merepotkannya.


“Aku bisa pulang lebih dulu setelahnya. Yang terpenting, kau bisa sampai di sana secepatnya. Lagi pula ini masih pagi.” Dia bersikeras menjelaskan.

__ADS_1


Aku berpikir sejenak, kemudian mengiyakan.


__ADS_2