
"Siapa kalian!!" Ucap salah satu prajurit.
Kami sedang menuju ibukota Kerajaan Ebys akan tetapi malah disergap begini.
"Kami adalah petualang yang berasal dari Benua seberang." Ucap Lil, dia ternyata bagus juga untuk aktingnya.
Tiba tiba muncul seseorang lagi yang muncul di belakang kami.
"Lalu, yang disebelahmu?! Aku merasakan jika dia tidak memiliki energi sihir apakah dia juga manusia?!"
"Dia adalah Golem ciptaan ku, namanya... Nama..." Kok malah bingung.
"Arli *aku membisiki Lil*"
"Namanya Arli."
"Arli? Nama yang tidak pernah ku dengar, semuanya! Serang!" Tiba tiba dia malah menyuruh semua prajurit yang ada untuk menyerang kami.
"Arli! Mode Bertempur!" Lil malah menyikutku.
"Hat!!!" Terpaksa aku mengeluarkan Senjata Peledak Omega. Aku pun menembakkan laser yang sangat besar ke arah mereka, untungnya tidak ada yang kena.
*Duuurrttt!!!* Laserku terkena tanah, setelah terkena laser tanah tersebut menjadi berlubang dan bewarna merah.
"Semuanya berhenti!! Oi! Apa apaan benda itu!" Seketika laki laki itu menjadi takut.
"Arli, mode siaga."
Dibilang mode siaga tapi apa yang harus aku lakukan? Ee.... Mending diem dah.
"Ini? Ini adalah senjata Golem milikku, jika kami tidak diizinkan masuk ya sudah kami akan pergi." Wow... Lil cukup keren juga.
"B-baiklah, kalian ku izinkan masuk." Mukanya Terlihat senyum senyum.
Akhirnya kami memasuki ibukota kerajaan Ebys. Didalam ibukota ada banyak sekali gelandang, apakah ini karena kepemimpinan yang buruk?
*Bruk!* Seorang anak perempuan menabrak ku.
"Akh! Aduhh!!! Sakit!!! Kakak pakai pakaian apa sih?!" Anak perempuan itu memiliki rambut pirang panjang dan mata biru Langit.
"Oi!! Berhenti!!" Ada Seseorang yang berlari menuju kesini.
"K-kak! Kakak ini petualang kan?! Kalau begitu tolong saya! Kumohon!" Seorang perempuan dengan jubah yang menutupi wajahnya meminta tolong kepada ku dengan sangat.
"Baiklah, Arli mode Bertarung."
"Oi, kenapa bilang begitu Mulu sih?!" Protesku.
"Dah nurut aja, kamu sini sama kakak, biar golemku yang mengalahkannya." Perempuan itu berjalan kearah Lil.
"Jangan sampai mati..." ucapku, aku mengincar kepala.
Aku mengepalkan tangan dan mulai bersiap untuk serangan pembuka.
"Jangan menghalangi ku!!! Wahai api yang membakar segalanya! Fire Ball!!"
"Eh?"
*Duffftt...* Aku menutup mukaku dengan tangan dan tidak ada yang terjadi.
|Kerusakan yang diterima tidak berpengaruh|
Dengan memprediksi pergerakannya aku maju dan memukul kepalanya.
*Durt... brak...* Suara jatuhnya laki laki tersebut.
"I-ini gak mati kan?" Ucap Lil.
|Hanya pingsan, jika anda memukulnya dengan lebih keras lagi, ada kemungkinan pria itu akan mati|
"Dia ti-" omongan ku terpotong oleh Lil.
"Mode siaga!" Lil menatapku dengan tatapan tajam.
"Ugh..." Ini agak menyebalkan.
Lalu Lil menatap perempuan itu.
"Jadi, Ada apa? Kenapa kamu dikejar?"
"Emm... D-dia penculik..." Dari mukanya terlihat dia sedang tidak berbohong.
|Face Natural mendeteksi adanya skill kepalsuan dari wajahnya|
'kepalsuan? Apaan dah itu.'
|Dia menyamarkan wajahnya|
'owalah... Kalau begitu... Tandai dia, agar aku tau kemana dia akan pergi.'
|Penandaan selesai, anda dapat melihatnya di Peta|
"Ya udah kak, terimakasih sudah menyelamatkan ku, kalau begitu, permisi." Perempuan itu pergi menjauh.
"Lil, aku mendeteksi jika dia sedang menyamarkan wajahnya, aku agak khawatir dengan apa yang terjadi kepadanya."
"Ha begitu, daripada ngurusin orang lain, mending ngurusin diri sendiri dulu."
Kami berjalan kembali kearah bangunan yang terdapat tulisan Guild.
*Ngieeekk...* Suara pintu terbuka.
Semua orang yang ada disini terlihat sangar dan menyeramkan. Tetapi entah kenapa di resepsionis nya membuat mataku segar kembali.
"Ada yang bisa kami bantu?" Ucap resepsionis Guild.
"Kami ingin mendaftar sebagai petualang di guild ini." Ucap Lil.
__ADS_1
"Kalau begitu, silahkan isi formulir ini." Mba resepsionis memberikan sebuah kertas dan memberikannya kepada aku dan Lil. Tapi anehnya dia mengenakan kalung besi di lehernya, dan juga wajahnya agak pucat.
Tiba-tiba Lil marah tak karuan "Woi!! Apa apaan ini!! Ini Guild apa Hotel percintaan?!! Masa iya disini tertulis 'Syarat menjadi anggota Guild yaitu Menjadi Budak Se*' yang seperti itu GAK ADA TAU!!!"
'hmm? Apa iya?' lalu aku melihat formulirnya, dan ternyata benar disitu tertulis 'Syarat untuk menjadi anggota Guild adalah menjadi Budak.'
"Oi Oi jangan bikin keributan dong mba, disini memang seperti itu peraturannya, jadi tidak sabar untuk mencicipi-" dari belakang muncul laki laki aneh dengan omongan yang terpotong karena tertendang oleh Lil.
"Aggrrhh!!" laki laki itu kesakitan.
"Jangan melihat ku seperti itu, DASAR BINATANG!!!" Wow... Lil sadis...
Akhirnya kami pergi dari tempat ini, tapi kami dihadang oleh sekelompok orang yang kebanyakan orang orang itu adalah laki laki yang terlihat seperti petualang.
"Kami tidak akan membiarkan kalian pergi!!" Ucap salah satu orang itu.
"Lil, kali ini biarkan aku yang melakukannya." Ucapku dengan yakin karena aku ingin mencoba Senjata Peledak Omega.
"Baiklah, lakukan." Mata Lil berubah menjadi merah.
"Senjata Peledak Omega!!" Dari yang terlihat seperti armor di tanganku, berubah menjadi senjata yang terlihat cukup besar.
"Mainan apaan itu, whaahaha." Ucap salah pria yang lain.
|Semua target telah di konfirmasi|
"Haaatt!!! Meriam Cahaya!!"
Dengan suara senjata ku yang kecil, senjata ku muncul sebuah laser yang sangat besar menuju ke arah mereka.
|Semua target telah mati|
'A-aku membunuh... manusia... a-aku seorang pembu-'
|Tidak lama lagi akan datang bala bantuan, diharapkan untuk cepat pergi|
Selagi ada kesempatan, kami pergi dari tempat itu.
"Lil, permisi."
"Eh? Wa?!wawawa..." Lil terkejut sambil tersipu malu.
Karena Lil tidak boleh memperlihatkan sayapnya aku pun menggendong Lil layaknya seorang putri agar lebih mudah untuk membawanya.
"Baiklah, kita akan terbang!" Aku berlari sekuat tenaga lalu melompat sambil meregangkan kaki, tak lama kemudian muncul api dari telapak kakiku.
"Katoru, kamu bisa terbang?" Lil terkejut.
"Kurang lebih, setidaknya aku tau cara mengaktifkannya, sekarang kita harus kemana... Kerajaan Ebys sepertinya bukan tempat yang nyaman."
"Sumpah, gak habis pikir aku, gak nyangka bakal jadi tempat seperti itu. Nee Katoru, bisa kah kamu meledakkan kerajaan Ebys?"
"Mungkin untuk saat ini tidak, malahan aku lebih tidak menyangka kalau malaikat bakal berpikir seperti itu."
"K-katoru... Kepalaku sakit..." A... Aku lupa untuk menyimpan senjatanya kepala Lil ternyata bersenderan dengan senjata ku.
"T-tidak ada cara lain?!"
"Ti-dak" kok malah begini sih.
|Senjata Peledak Omega telah tersimpan|
Setelah tersimpan Lil, mengeluarkan sayapnya.
"L-lil!! Kalo ada orang bagaimana coba!!!" Panik aku.
"Memangnya ada manusia yang bisa terbang lebih tinggi dari awan..." Aku pun melihat sekeliling, A... Bener juga, aku yang tidak sadar sudah terbang sangat tinggi.
"Sekarang tinggal..." Ketika aku akan melihat peta, tiba-tiba muncul lingkaran sihir di bawah Lil.
"K-katoru... Sepertinya aku telah membuat kesalahan..." Wajah Lil menjadi pucat.
"L-lil!!" Aku mendekatinya sedekat mungkin, tetapi aku terlambat.
"Selamat tinggal Katoru... Terimakasih sudah menjagaku." Lil menghilang bersama dengan lingkaran sihir nya.
Tak lama kemudian muncul sebuah pesan di sistemku, aku pun membuka pesan tersebut.
'tak ku sangka jika ada malaikat yang datang keduniaku, mulai sekarang aku biarkan dia yang mengawasi mu dari sini, tenang saja, kamu bisa menemuinya di gereja, sebagai gantinya akan ku beri skill pengganda kekuatan dan skill pembuat sihir, gunakan kekuatan itu dengan benar.[dari Raphael]'
"R-raphael... SIAL!!! Seenaknya dia menukarkan Lil dengan skill... Kalo kaya begini, aku tidak punya teman ngobrol."
Dengan pasrah, aku melanjutkan perjalananku. Setelah terbang selama setengah hari, tibalah diriku di sebuah kota yang bernama Kota Monalri.
Didepan gerbang kota itu, aku diperiksa oleh penjaga yang disana apakah aku memilih catatan kriminal atau tidak. Karena aku tertulis tidak ada, akupun diizinkan masuk, padahal sebelumnya aku membunuh manusia, tapi apakah itu tidak dihitung?
"Sekarang aku harus ke Guild kota ini untuk mencari uang." Aku berjalan mengelilingi kota untuk mencari bangunan yang memiliki tulisan Guild.
Setelah berjalan sana sini akhirnya aku menemukannya, kalau dilihat dari luar, tempat ini terlihat sangat dirawat dengan baik.
*Ngieeekk* suara pintu terbuka.
"Ah, selamat datang." Disambut oleh perempuan yang membawa kertas, sepertinya dia resepsionis disini.
Aku berjalan menuju meja
resepsionis, semua orang disini terlihat sangat ramah, mereka bersenang senang dengan temannya dan tidak menindas dengan orang lain.
"Ada yang bisa kami bantu?" Sekarang mba resepsionis nya terlihat seperti resepsionis pada umumnya, dia mengenakan pakaian yang serba hijau putih dan memiliki kartu nama.
"Aku ingin mendaftar disini."
"Mendaftar? Maksudmu mendaftar menjadi petualang?"
"Iya."
"Kalau begitu silahkan isi formulir disini dan bayar biaya pendaftarannya disini."
__ADS_1
'waduh... Juga harus membayar... Kan aku belum punya uang.'
"Anu... Apakah aku dapat menjual beberapa barang disini sebagai ganti biaya pendaftarannya?"
"Tentu, tergantung dengan kualitas dan barang apa yang akan anda jual."
Lantas tanpa pikir panjang aku mengeluarkan Advance Sword lalu menyerahkannya kepada mba resepsionis.
"N-nyonya... Apakah anda ingin menjual pedang ini?"
"Iya, apakah bisa?"
"Tentu, tunggu sebentar biar saya lihat statusnya." Mba mba resepsionis disini kebanyakan menggunakan kacamata yang mungkin kacamata itu memiliki kemampuan untuk melihat status barang.
"I-ini!!! M-manager! Bisakah bantu saya!" Seketika dia terkejut.
"Ada apa sih Eli? Sampai memanggil ku begitu." Datang seorang wanita yang berparas seperti guru.
"P-pedang ini..." Dia mengecek pedang ku, dan dia juga terkejut.
"A-apah!!!!!!! Dari mana kau mendapatkan ini?!!!" Dilanjut dengan bertanya padaku?
Sunyi...
"Oi! Kamu! Aku sedang bertanya kepadamu!!!" Si manager menunjukkan jarinya ke arahku.
Aku melihat orang di belakangku.
"Ealah..." Manager itu berjalan kearah ku sampai tepat didepanku.
"Jadi... Kamu, yang berambut biru cerah pendek dengan mata merah, dari mana kamu mendapatkan pedang ini?" wajahnya didekatkan ke mukaku.
"I-itu... Aku yang membuatnya..."
"S-serius?! Bisakah kamu membuatnya lagi?!"
"T-tidak... Bahannya sudah tidak ada lagi di dunia ini."
'sial tidak ada alasan lain yang sedang kupikirkan.'
"Jadi begitu... Baiklah akan ku beli dengan 50.000 koin emas."
"APA??!!!!" Seluruh orang di Guild terkejut.
"Baiklah akan ku terima, tapi sebelum itu, ada yang ingin ku tanyakan." Ucapku.
"Apa itu? Selama aku mengetahuinya, akan ku jawab."
"Bisa ajarkan mata uang di sini? *Membisik*
"Kamu!" Dia menepuk pundak ku.
"Ikut denganku." Lanjutnya.
Kami pergi ke ruangannya.
"Jadi... Kamu tidak tau hal sesimpel itu?"
"M-maaf, tapi aku beneran tidak tau, bisa tolong ajarkan?"
"Baiklah, lagian ini juga untuk mendapatkan pedang itu, Di Kota Monalri yang berada di wilayah Kerajaan Soil ini memiliki mata uang yaitu kami sebut dengan koin, setiap yang koin memiliki bahan berbeda maka harganya pun berbeda, contoh koin tembaga, perak dan emas. Setiap kenaikan jenis koin berharga 100 koin yang berarti 1 koin perak sama dengan 100 koin tembaga."
"Jadi begitu... Kurang lebih aku paham, terimakasih, dan satu lagi, kenapa harga pedang ini sangat mahal? Memang status nya seperti apa?"
"Hmm... Bahkan yang punya saja tidak mengetahuinya, pedang ini memiliki efek "Anti Hancur" dan dapat menaikkan kekuatan sebesar 4 kali lipat penggunanya." Dengan terkejutnya yang ternyata aku telah membuat senjata yang super kuat.
"W-waduh... Semoga pedang itu tidak jatuh ke tangan yang salah."
"Tenang, jika berada di guild ini pasti akan di simpan hingga waktunya."
Waktunya kah... Mungkin yang dia maksud itu disaat kota ini dalam bahaya.
"Kalau begitu, bisakah aku menerima uangnya?" Lagian aku ingin cepat cepat keluar dari tempat ini, rasanya aku ingin segera mencari penginapan dan tidur.
"Oh? Ingin cepat cepat tidur ya? Ya maklumlah, kamu juga sudah mendapatkan uang sebanyak ini." Aku terkejut dia dapat membaca pikiranku.
"Hehehe..." Aku tidak bisa mengelak.
"Kalau begitu ini dia." Dia memberikan 5 emas batangan.
"Emas batangan?"
"Ah aku lupa, emas batangan disini memiliki harga 10.000 koin emas, jadi hati hati kalau membawanya."
"W-waduh!"
"Oh ya, perkenalkan namaku Ciha."
"Arli."
Aku keluar dari ruangannya Ciha, kembali ke meja resepsionis.
"Kalau begitu ini, akan kubayar dengan ini." Aku menyerahkan emas batangan itu.
"Baiklah, tunggu sebentar."
Eli masuk keruangan di belakangnya dan keluar dengan membawa sekantung koin emas dan perak.
"Jadi ini kembaliannya, 9.999 koin emas dan 888 koin perak." Jadi harga pendaftarannya 12 perak kah...
"Dan ini kartu guild mu, jangan sampai hilang ya."
'banyaknya... Bentar, kalo tidak salah kata Raphael aku dikasih skill Pembuat Sihir, dan juga kalo aku lihat di film-film... Bayangkan sebuah kotak penyimpanan... Lebih jelas... Lebih jelas... Dan...'
|Skill : Penyimpanan, ditambah ke status|
Setelah menerima uang itu, aku memasukkannya kedalam penyimpananku, semua orang disana kaget lagi. Lalu aku menerima kartu guild, aku langsung pergi mencari penginapan di daerah kota Monalri dengan saran dari Eli.
__ADS_1