
Sementara itu di alam dewa Raphael
"A-aku dimana?!" Lil terkejut, karena seharusnya dia telah di mati karena lingkaran sihir yang tadi, disaat Lil dan aku terbang.
"Selamat datang Ex-Lil, di singgasana duniaku." Tertampak seorang perempuan dengan rambut pirang.
"A-anda Dewi Raphael-sama?!" Terkejut karena baru Kali ini Lil pergi ketempat dewa lain tanpa tuanya.
"Ara, tidak perlu takut begitu, aku tidak akan melukai mu." Raphael mengatakannya dengan ekspresi tersenyum.
"J-jadi... Mengapa Raphael-sama membawa saya kemari?" Lil masih ragu ragu.
"Yah, karena ada seorang malaikat di dunia buatanku ini, takutnya nanti si malaikat bakalan menghancurkan semua yang ku ciptakan, Kan repot kalau mengulangi dari awal."
"B-begitu..." Lil sedikit lega.
"Oleh karena itu, kamu akan ku kirimkan lagi ke tuanmu."
"Lalu! Bagaimana dengan Katoru?!"
"Dia sudah ku beri tahu untuk melupakan mu karena kami sudah mati."
"K-kenapa anda melakukan itu..."
"Yah... Kan sudah ku bilang, kamu itu halangan terbesar ku untuk rencana ku."
Lil terpikir rencana baru agar dapat mengganti Dewi sialan ini.
"Oke oke, saya akan kembali ke tuanku."
"Ara~ tumben jadi penurut begini." Raphael mulai curiga.
"Jadi tidak? Katanya anda akan mengembalikan ku."
"Tentu, akan ku mulai, Wahai ruang dan waktu, ku perintahkan dirimu untuk memindahkan malaikat ini kembali ke Tuhan dari planet yang bernama Bumi."
Sekitar Lil muncul lingkaran sihir.
"Dan tutuplah semua jalur komunikasi nya." Lil terkejut.
"R-raphael sialan kam- akkhh!!!" Semua tentang informasi Raphael di otak Lil telah terkunci.
Disaat itu juga, Lil berpindah tempat ke depan singgasana tuannya.
Itu juga membuat seluruh orang yang disekitar singgasana terkejut.
"Ex-Lil?! Apa yang terjadi?!! Kenapa kamu tiba-tiba muncul disini?! Bukannya kamu harusnya bersama Katoru?" Dewa terkejut.
"Tuan... Ku.. mohon... Sel... lamatkan.. Katoru... dari... Raph- AKKKHHH." Seperti sihir budak tetapi lebih parah karena saat Lil mengatakan sesuatu yang dilarang maka jiwanya lah yang akan rusak.
Lil pingsan disaat itu juga, Dewa bersiap menuju ketempat nya Raphael, dia langsung mengerti apa yang Lil ingin katakan.
Kembali kepada Katoru.
Di pagi hari yang cerah, aku membuka jendela dan terlihat pemandangan kota yang begitu ramai.
"Oh iya aku baru kepikiran, sebenarnya yang menjawab setiap pertanyaan ku ini siapa dah."
|Sistem dari AI tercanggih, pikiran kedua, Fiction|
"Pikiran kedua?" Maksudnya kesadaran kedua?
|Benar, saya dapat mengolah berbagai data yang Dewa berikan untuk anda|
"Begitu kah... Maa... Sekarang aku ingin mandi... Sudah lama juga kan aku tidak mandi."
|Peringatan! Jika anda terkena air, ada kemungkinan anda akan kehilangan berbagai macam sistem, tetapi jika anda sudah mengupgrade modul Water Proof maka kemungkinan tersebut akan hilang total|
Seketika aku merasa sangat kecewa.
"Hmm... Crafting."
|Weapon
|Tool
|Modul
|UPGRADE
"Modul."
|Akan terbuka disaat level 50|
Jadi semuanya sudah terbuat kah...
"Cara cepat menaikkan level."
|Berburu
|Membuat barang
|Menyelesaikan quest
"Bukannya itu normal!!! Kalau begitu cara tercepat."
|Menyelesaikan Quest tingkat A dengan Monster buruan tingkat A akan dapat membuat anda naik level secara signifikan|
__ADS_1
"Yosh, aku akan memilih itu saja."
Dengan semangat aku akan pergi ke Guild, tapi disaat aku akan turun dari lantai 2.
|Sebuah sihir pengendali pikiran terdeteksi|
"Lah..."
Aku pun menuruni tangga, tetapi yang ku lihat semuanya tetap normal normal saja.
"Ah, Kak Arli, mau sarapan?"
'apa aku bisa makan walaupun dayaku masih penuh ya?'
|Masih, jika daya masih penuh maka akan berganti menjadi Material Point|
"Kalau begitu aku pesan yang seperti kemarin."
"Siap kak."
Nina pergi ke dapur untuk mempersiapkan makanan nya, tapi hari ini aku tidak melihat Ibu Nire.
"Ibu Nire kira kira kemana ya..."
|Manusia yang bernama Nire sedang berada di tempat peternakan sapi, mungkin dia ingin membeli daging sapi.|
"S-sejak kapan kamu menandainya..."
|Sejak kemarin|
Hah... Ternyata Fiction bisa berbuat tanpa sepengetahuanku ya, mungkin itu dapat membantu disaat aku sedang bertarung. Tak lama kemudian hidangan ku datang.
"Selamat dinikmati."
"I-ini Nina yang membuat nya?"
"Benar, tapi kalau soal rasa, juga tidak kalah kok." Dengan percaya diri Nina mengatakannya.
"Amm..." Ternyata rasanya lebih kuat kalau Nina yang membuatnya, kali ini tidak ada aroma bunga itu, tapi yang ini lebih gurih.
"Apakah enak?" Nina masih sedikit ragu.
"Banget, Nina ternyata hebat juga."
"Hehe, terimakasih kak."
Lanjut makan, tapi ada yang menggangguku. Ada seseorang yang datang lalu duduk disebelah ku.
"Nee... Kamu imut ya, mau kah kamu berbagi makananmu itu?"
|Peringatan! Sihir pengendali pikiran terdeteksi|
"Silahkan." Aku memberinya sebuah garpu.
"Terimakasih banyak cantik."
Sekarang tinggal membayar.
"Nina!!"
"Iya Kak?" Nina datang setelah melayani orang lain.
"Tagihannya kasih ke dia."
"Memangnya kenapa kak?"
"Disaat aku baru makan satu gigit dia minta sisanya, ya sudah aku kasih, kebetulan juga aku sedang buru buru ke Guild."
"J-jadi kakak kurang suka makanan buatan saya ya... Hiks... Hiks..." Nina menangis.
"B-bukan begitu..."
"Bercanda kak, ya sudah, cepetan sana, mungkin lagi ditungguin." Ternyata hanya bercanda.
Aku pergi dari penginapan menggunakan Flash, tentu saja orang yang tadi tidak sadar saat aku pergi. Setelah aku sampai di Guild aku menuju tempat quest dipajang, lalu menemukan quest yang cukup unik.
|Quest non rank|
|Carikan 10 kristal nagari|
|Hadiah menyelesaikan quest|
|2 Koin Emas untuk perbuah|
Karena aku penasaran dengan yang namanya Nagari aku mengambil quest itu dan menuju resepsionis untuk mengkonfirmasi nya.
"Ah, Arli-san selamat datang, ingin mengambil Quest?" Disana Eli nampaknya sudah berjaga dari tadi.
"Iya, aku ingin mengambil Quest yang ini." Aku menyerahkan Kertas Quest nya.
"Arli-san, kamu serius ingin mengambil Quest ini?!" Eli terlihat ketakutan.
"Iya, memangnya kenapa?"
"Kamu tahu Monster Nagari?"
"Mungkin seekor Naga?"
__ADS_1
"Nah itu tau, memangnya kamu bisa mengalahkan naga?!" Tiba tiba dia ngegas.
"Bisa... Mungkin."
"Jangan setengah setengah! Kamu tau karena hadiah dari Quest ini, sudah banyak orang yang mati karena Quest ini?! Sudah lebih dari 20 orang lho!!"
"Iya iya, aku akan hati hati."
"Jadi kamu masih serius ingin mengambil Quest ini?"
"Iya."
"Hah... Karena ini Quest pertamamu akan ku buat menjadi Quest khusus. Ingat semisal kamu bertemu Nagari, jangan melawan! Lari! Tenang saja tentang denda biar ku urus."
"Iya Eli, iya... Terimakasih."
"Sama sama, nih, jangan sampai hilang dan juga jangan sampai mati." Eli memberikan Gulungan Quest.
"Aku tidak ada niatan untuk mati padahal."
Aku pergi keluar dari Guild dan bertemu orang yang tadi di penginapan, dia sepertinya juga ingin pergi ke guild.
"Oi kamu, kamu itu tidak terpengaruh oleh sihirku kan?" Dia tiba-tiba mengatakan seperti itu.
"Iya, soalnya tidak mungkin juga aku terpengaruh oleh sihir yang seperti itu."
"Lalu, kenapa kamu memberikan makananmu? Dan juga KENAPA HARUS AKU YANG BAYAR!!!!!"
"Lah? Bukannya kamu yang ingin makananku, ya aku kasih, tapi mana mungkin juga aku membayar makananku yang baru ku gigit sekali, lagian ya, harusnya kamu itu bisa kabur dengan sihirmu itu kan?"
"Tidak bisa tau! Aku juga tidak tau kenapa tidak bekerja! Padahal kemarin bekerja." Ngamuk sendiri.
"Hah... Jadi? Ada perlu apa tidak ini... Kalau tidak ada, aku mau pergi ini."
"Sekarang aku tidak akan main main, akan ku kendalikan dirimu! dan akan ku jadikan kamu Adik perempuan ku!!"
"Gitu ya... Ya udah aku pergi aja." Aku berjalan menjauh.
"Tidak semudah itu! Wahai sihir hitam, kendalikan musuhku agar patuh kepadaku! Brain Controller!"
|Sihir tingkat menengah, Brain Controller.|
|Sihir ini membuat kinerja otak dikendalikan dari jarak jauh dan juga dapat membuat si pengendali mengetahui beberapa informasi dari yang terkena sihir ini|
'Harusnya karena aku adalah AI, sihir seperti itu tidak bekerja.'
*Wuig!* Sihirnya melewatiku.
"Kukuku, sini wahai adikku tersayang!" Dia malah berlutut dan meregangkan tangannya seakan minta di peluk.
'biar orang ini kapok.'
Aku berlari sambil meregangkan tangan.
"Kakak!!! Kalau mau mengendalikan seseorang itu~ Lihat DULU LAWANMU!" Disaat sudah dekat, aku memukul perutnya hingga terhempas cukup jauh.
"Hah... Buang buang waktu aja, Hmph!" Aku menggunakan Flash untuk pergi dari TKP.
Dari peta yang ku lihat, tempat kristal nagari itu berada di gunung yaitu di sebelah barat kota Monalri.
Setelah menggunakan Flash selama beberapa menit aku menemukan sebuah desa di kaki gunung.
Aku pun langsung melewatinya tanpa sepengetahuan orang lain, tapi hal itu malah menyebabkan angin yang sangat kencang di desa tersebut.
*Wwuushhh* suara angin yang berhembus kencang
"Apa itu?!!"
"Apa yang terjadi?!
"Kyaaa!!!"
Seluruh warga desa kebingungan.
Sesampainya di daerah badan gunung, terdapat gua gua yang cukup banyak.
"Fiction tolong petakan gua yang ku masuki."
|Memproses Peta Gua...... Selesai|
Ternyata setiap lubang memiliki jalan yang terhubung. Jadi tanpa ragu aku masuk kedalam, didalam terasa agak lembab tetapi yang membuatku tidak sadar yaitu terdapat Nagari yang sangat besar sedang menatapku sedari tadi.
-"Sepertinya kamu bukan manusia ya?"-
"Heh?" Aku menoleh kan kepalaku menuju arah suara.
"N-nagaaa!!!"
Dengan cepat aku menggunakan Flash untuk berkeliling Gua dan mencari Kristal Nagari.
'Sial, aku tidak menemukan satupun! sebenarnya ada dimana sih?!!'
Tak lama kemudian Nagari itu mengatakan.
-"Jika kamu menginginkan Kristal Nagari, itu berada di puncak gunung ini, yaitu di bibir kawahnya."-
'Heh?! Dia memberitahu ku?'
__ADS_1
Lalu aku kembali ke Nagari itu, dan melihat ternyata dia Tersegel oleh beberapa Rantai Sihir dan Segel.