Akhir Bahagia

Akhir Bahagia
chapter four teringat pedihnya 2


__ADS_3

Kin sudah terbiasa keluar masuk gedung perkantoran yang menjulang tinggi itu.


Jadi para penghuni gedung itu, seperti security, karyawan di sana sudah sangat familiar dengan Kin.


Mereka menunduk hormat dan menyapa ramah kepada Kin.


" Selamat Pagi, Nona Kin, Anda ingin bertemu Tuan Sky?" Sapa seorang resepsionis manis di belakang meja nya, dengan ramah dan hormat.


" Mmmm, Iya, Kak. Gak usah di antar ya, mau ngasih surprise," cengir Kinan.


Dia memang sengaja tanpa memberitahu Air terlebih dulu kalau mau datang ke kantornya.


Dengan langkah pasti, Kinan menuju ke Lift khusus CEO, dengan panduan penjaga lift di sana, Kinan masuk ke kotak besi itu, sambil sesekali merapikan diri dengan berkaca pada dinding lift yang berlapiskan kaca .


Kinan terlalu bahagia, dan tampak pada raut wajahnya. Dia membayangkan kekasihnya yang sebentar lagi menjadi suaminya itu kaget dengan kejutan kedatangannya.


Sambil berhumming lagu kesayangannya, Kinan melangkah keluar lift , karena lift sudah berhenti di lantai 30, tempat ruangan CEO berada.


Kinan melangkah perlahan namun pasti, menuju ruangan calon suaminya. Dia celingukan, melihat meja resepsionis yang merangkap sekertaris, kosong tanpa penghuni. Karena biasanya, Kak Anika selalu stand by di sana.


Tanpa pikir panjang, Kinan melewati meja itu. Dan menuju ruangan CEO yang pintunya tidak tertutup rapat. Kinan melangkah masuk, tanpa mengetuk pintu.


Dan alangkah kagetnya, Kinan melihat Air, calon suaminya sedang berpelukan dengan seorang wanita berparas cantik, anggun, dengan postur tubuh yang proporsional bak model, yang memakai terusan pendek di atas lutut. menambah kesan seksi pada wanita itu.

__ADS_1


Wanita itu menangis dalam pelukan Air, calon suaminya. Kinan mematung melihat interaksi mereka . Posisinya memang tak terlihat bagi Air, karena membelakangi pintu. sedangkan wanita itu posisinya menghadap pintu. Seolah-olah di sengaja dengan memeluk Air semakin erat dan mendramatisir tangisannya.


Kinan lunglai, tanpa berkata-kata, langsung keluar dari ruangan itu. Tampak seringai penuh arti tercetak di bibir wanita itu.


" Sudah baikan, Nisa, " Air melepaskan pelukannya pada wanita itu yang ternyata bernama Nisa.


Ya, Nisa adalah teman masa kecil Air yang berprofesi sebagai model papan atas di kota ini.


" Lumayan, thanks, Sky. "


jawab Nisa, sambil dituntun duduk oleh Air.


"Kamu kenapa? Ada masalah apa sih? "


Air dan Nisa memang bukan hanya teman biasa, mereka juga tumbuh kembang bersama. Air sangat menyayangi Nisa seperti saudara perempuan. Keluarga mereka pun berteman baik. Sebenarnya orangtua mereka berniat menjodohkan Air dan Nisa.


Tapi perjodohan itu di tentang mentah-mentah oleh Nisa. Karena Nisa sudah punya pacar, sedangkan Air kuliah di luar negeri.


Orangtua Nisa dan Air pun memaklumi. Dan tidak memaksakan kehendaknya pada anak-anak mereka.


"Gimana ceritanya, Nisa? tanya Air bingung.


"Kita lanjutkan saja perjodohan itu, Sky, orangtua kita pasti setuju," jawab Nisa, masih sesenggukan.

__ADS_1


"Hah!!!!! ohhh tidak bisa, Nisa, aku mau menikah, kamu tahu kan, jangan ngadi-ngadi deh mau minta pertanggungjawaban ku, " sela cepat Air sambil berdiri.


Drrrtttt Drrrtttt


Bunyi getaran ponsel Air di atas meja kerjanya.


"Hallo, mom,"


"......."


" Hah, masa!!!"


"......."


" Gak ada kok"


"........"


" Oke, mom, byee!!


"Gawatttt, apa Kinan melihat aku berpelukan dengan Nisa tadi, " batin Air, setelah menutup telepon dari Mom Diana.


"Ada apa, Sky? kenapa gelisah, " Nisa mendekati meja kebesaran Air.

__ADS_1


to be continued......


__ADS_2