Akhir Bahagia

Akhir Bahagia
chapter eight


__ADS_3

Memang jahat dan kejam kesepakatan yang Nisa buat itu. Tapi dia gak peduli, yang dalam pikirannya, harus menikah dengan Sky Airlangga Antonio, agar jabang bayi yang ada dalam kandungannya ada ayahnya, walaupun jelas-jelas bukan Sky ayah biologisnya.


" Oke, kalau kamu gak bersedia menggugurkan kandunganmu, setidaknya kamu enyah dari kehidupan Sky, Kinan," ucap Nisa tanpa rasa berdosa.


Kinan terpaku di tempat duduknya, menatap lekat pada sosok wanita yang usianya tidak terpaut jauh. Kenapa ada wanita tak berperasaan seperti Nisa, pikir Kinan.


" Aku akan turuti keinginan Mbak Nisa, sekarang juga aku akan pergi dari kehidupan kalian," ucap Kinan seraya bangkit dari tempat duduknya.


Dengan sigap, di tahan oleh Nisa yang terlebih dulu berdiri.


" Jangan terburu-buru, Kinan, Kita harus menyelesaikan beberapa berkas dulu yang harus kamu tandatangani, agar kemudian hari kamu tidak berkelit, " seringai Nisa.


Ternyata Nisa sudah mempersiapkan diri , agar tidak merepotkan dirinya di kemudian hari. Sungguh pintar atau licik ya, pikir Kinan.

__ADS_1


"Ada apa lagi , Mbak Nisa, tenang saja Kinan gak bakalan nuntut apa-apa kok! Bantah Kinan, yang sudah mulai jengah dengan sikap Nisa yang seenaknya sendiri.


"Kinan sadar diri, Mbak . sebaiknya Kinan harus cepat meninggalkan kota atau bahkan negara ini, Mbak. kalau di tahan disini terus, Air akan semakin curiga lho. " Kinan terus saja mencari alasan agar Nisa cepat membiarkan Kinan pergi dari rumah itu.


Nisa tampak sedang berpikir. Sepertinya dia mulai membenarkan apa yang dikatakan Kinan.


" Untuk memastikan kamu benar-benar menjauh dari Sky, aku akan mengirim seseorang untuk mengikuti mu," saran Nisa.


"Terserah Mbak saja deh, Kinan manut, " pasrah Kinan, memang rasanya melelahkan di tempat kan pada posisi Kinan. Dia pikir cepat pergi itu lebih baik.


" Mana tas mu, " tanya Nisa , sambil celingukan, seperti mencari sesuatu.


" Buat apa, mbak?, " bingung dan merasa aneh, kenapa tiba-tiba menanyakan tasnya.

__ADS_1


" Kan untuk memastikan semua Id card dan paspor kamu, dan juga ponsel kamu, takutnya Sky bisa mencari keberadaan mu, Mana tas mu ?


" Haissssss, ada-ada saja. dibawah bantal itu, Mbak, "


Tampak Nisa segera menggeledah bantal tempat Kinan tidur. Akhirnya dia menemukan yang dicari. Segera Nisa mengeluarkan semua isi yang ada di tas kecil Kinan. Ada ID card, paspor, yang memang selalu Kinan bawa kemanapun dia pergi. Dan ponsel Kinan pun gak luput dari Nisa, dia segera buka simcard, segera di patah-patahkan, lalu di buang ke tempat sampah.


Kinan yang menyaksikan semuanya hanya diam, pasrah. Bukankah itu lebih baik, daripada harus di siksa dan di bunuh sama Nisa. Bisa saja itu terjadi kan, hati orang siapa yang tahu. Pikiran Nisa berubah nantinya lalu melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.


Kinan tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan Nisa, begitu terobsesinya dia dengan calon suaminya, Air. Sampai nekat menculik Kinan dan menyuruhnya untuk pergi dari negeri ini. Tapi untung saja Nisa Nisa tidak membunuh Kinan. Itu lebih baik ya, karena kalau saja Nisa sampai tega membunuh Kinan, tentu saja Kinan akan gagal mempertahankan jabang bayinya. Walaupun bagaimana juga perbuatan Nisa tetap salah dimata hukum.


...****************...


to be continued

__ADS_1


__ADS_2