
Beberapa bulan kemudian setelah mereka sepakat menjalin hubungan rahasia itu, hubungan mereka semakin dekat hingga mereka lupa kalau mereka punya kekasih yang lain.
Hari ini mereka berencana nonton bareng di bioskop, seperti biasa Reno menjemput Yulia dirumahnya. Saat Reno sedang duduk menunggu Yulia, tiba-tiba Dimas datang.
"Kenapa loe disini?", tanyanya pada Reno.
"Gue mau pergi nonton bareng Yulia", jawab Reno santai.
"Enggak boleh", ucap Dimas dengan nada meninggi.
"Kenapa enggak boleh? Emang loe siapa? Bapaknya? Kok ngelarang gue jalan sama Yulia?", balas Reno tak kalah tinggi.
"Gue kan pacarnya", jawab Dimas tegas.
"Oh pacarnya! Baru jadi pacar aja sudah ngatur-ngatur. Gimana kalau sudah jadi suami?", ucap Reno.
Saat Dimas ingin menjawab lagi Yulia datang dengan penampilan yang rapi.
Yulia terkejut melihat Dimas dan Reno diteras rumah nya.
"Loe kenapa ada disini?", tanya Yulia pada Dimas.
"Emang gue enggak boleh kerumah pacar sendiri?", tanya Dimas dengan nada meninggi.
"Ya boleh, tapi kenapa enggak hubungin dulu? Gue kan udah ada janji sama Reno mau nonton bareng", jawab Yulia.
"Jadi kamu lebih pilih jalan sama dia dari pada ketemu sama aku?", ucap Dimas kesal.
"Ya bukan begitu, aku kan enggak enak sama Reno kalau batalin janji tiba-tiba", jelas Yulia.
Reno yang mendengar perdebatan pasangan kekasih itu, merasa tak tega melihat Yulia yang terus di pojokkan oleh Dimas. Ia memutuskan untuk berpamitan pulang, ia tak ingin menambah keruh suasana.
"Maaf kalau gue menghentikan pembicaraan kalian. Dimas gue minta maaf karena udah ngajak cewek loe nonton bareng gue, tapi niat gue hanya ingin menghibur dia. Dan untuk loe Yulia, gue enggak papa loe lanjut sama Dimas aja gue pamit pulang", ucap Reno sambil berlalu pergi.
"Tapi ren", ucap Yulia sambil memegang pundak Reno seakan tak ingin Reno pergi.
"Gue enggak papa kok Lia, loe jalan sama Dimas aja ya! Maaf", ucap Reno lagi sambil menurunkan tangan Yulia dari pundaknya.
Reno berjalan lesu menuju motornya, ia merasa perasaannya saat ini campur aduk antara marah dan sedih.
Setelah Reno pulang Yulia mempersilahkan Dimas duduk. Sebenarnya perasaan Yulia sedang tidak enak, tapi tak mungkin ia mengusir Dimas pulang karena pasti akan membuatnya semakin marah.
"Mau minum apa?", tanya Yulia pada Dimas.
"Enggak usah, kita jalan yuk!", ajak Dimas.
Yulia hanya mengangguk, tanpa berkata apapun. Sebenarnya ia tak ingin jalan bersama Dimas, tapi jika dia menolak pasti Dimas akan marah.
***
Sepanjang jalan Yulia hanya diam, ia benar-benar merasa tidak nyaman bersama Dimas. Sedangkan Dimas, ia lebih banyak berbicara walaupun hanya di balas senyum terpaksa oleh Yulia.
Saat mereka sedang berjalan-jalan mereka melewati restoran seafood kesukaan Yulia. Lalu Dimas mengajak Yulia untuk makan di sana.
Dimas memesankan makanan dan minuman untuk Yulia, seolah-olah dia yang paling tau keinginan Yulia. Melihat sikap Dimas yang seperti itu, Yulia semakin merasa tak nyaman dan ingin segera pulang.
Tak lama kemudian pesanan mereka datang. Dimas segera mengambil makanan Yulia dan meletakkannya di hadapan Yulia, setelah itu ia menyantap makanannya. Saat Dimas sedang asik memakan makanannya, ia melihat Yulia yang hanya mengaduk-aduk makanannya.
"Kenapa sayang? Kok enggak dimakan? Kamu enggak mau makan itu? Mau pesan yang lain?", tanya Dimas.
__ADS_1
Yulia hanya menggeleng, lalu Dimas berinisiatif ingin menyuapi Yulia tapi ditolak.
"Enggak usah aku bisa makan sendiri", ucap Yulia ketus.
"Oke kalau mau makan sendiri, cepat dimakan nanti kalau sudah dingin banget enggak enak", ucap Dimas dengan sabar.
Yulia terpaksa memakan makanannya, walaupun ia tak ingin. Setelah selesai makan Dimas mengajak Yulia untuk berbincang-bincang.
"Sudah sejauh mana hubungan kalian?", tanya Dimas pada Yulia.
"Maksud kamu apa?", tanya Yulia balik.
"Hubunganmu dengan dia? Sepertinya kalian punya hubungan yang lebih dari teman!", tanya Dimas lagi.
"Kalau iya, kenapa? Kamu aja enggak pernah punya waktu buat aku. Jangankan untuk pergi bersama seperti ini, hubungin aku aja cuma sesekali itu pun enggak sampai 15 menit. Kamu ngajak aku jalan begini karena kamu takut kan aku jalan sama Reno? Biasanya kalau kamu kerumah kamu hanya duduk sebentar lalu pulang", ucap Yulia sambil menahan tangis.
"Hey aku kerja keras begini buat kamu, biar nanti kalau kita sudah menikah kamu enggak hidup kekurangan", jelas Dimas dengan sedikit emosi.
"Aku enggak mau disayang dengan harta. Aku juga butuh perhatian dan kasih sayang yang nyata, dim", ucap Yulia sambil menangis, ia sudah tak bisa menahan air matanya lagi.
" Maaf tapi.."
Belum selesai Dimas berkata Yulia memotong ucapannya.
"Lebih baik kita putus", ucap Yulia cepat.
"Kenapa?", tanya Dimas terkejut.
"Aku capek ngejalanin hubungan yang seperti ini", jelas Yulia.
"Oke aku akan berubah. Aku bakal banyak luangin waktu buat kamu, tapi kita jangan putus ya!", ucap Dimas memohon.
Yulia keluar dari restoran itu sambil menangis, perasaannya saat ini benar-benar rapuh. Ia ingin segera sampai di rumah dan mengurung diri di kamar.
***
"Lia pulang", ucap Yulia memasuki rumahnya.
"Sudah pulang sayang? Gimana jalan-jalannya? Pasti seru!", ucap mama sambil tersenyum.
"Maaf ma, Lia capek mau istirahat dulu di kamar", ucap Yulia lesu.
"Oke sayang", jawab mama lembut.
Yulia segera membersihkan diri agar pikirannya lebih rileks. Setelah selesai ia segera tidur dan tidak lupa mematikan hp-nya karena ia tak ingin diganggu oleh siapa pun.
***
"Bangun sayang udah siang nih", ucap mama membangunkan anaknya.
Mendengar suara mama, Yulia segera bangun.
"Udah jam berapa ini, ma?", tanyanya.
"Udah enggak usah tanya jam, cepet mandi sana kita sarapan bareng. Mama udah lapar nih nungguin kamu enggak bangun-bangun", ucap mama.
"Iya iya Yulia mandi, mama sarapan aja duluan!", ucap Yulia.
"Mama tunggu di meja makan", ucap mama sambil berlalu pergi.
__ADS_1
Setelah siap Yulia segera keluar dan menuju meja makan. Yulia bingung melihat tiga piring roti bakar di meja itu, sedangkan mereka hanya berdua disana.
"Kok piringnya ada tiga, ma? Memangnya lagi ada tamu ya?", tanya Yulia penasaran.
"Tunggu aja sebentar, nanti kamu bakal tau", ucap mama, semakin membuat Yulia penasaran.
Saat Yulia masih memikirkan siapa yang bertamu ke rumahnya sepagi ini, ia mendengar suara langkah kaki dari belakang.
"Sudah bangun, Lia?", tanya seseorang itu.
Yulia segera menengok kebelakang dan ia terkejut melihat Reno yang berdiri di sana.
"Ren, sejak kapan kamu disini?", tanya Yulia.
"Reno yang bantuin mama siapin sarapan, kamu sih bangunnya kesiangan", ucap mama menjawab pertanyaan Yulia.
Reno hanya tersenyum melihat wajah Yulia yang bingung sekaligus malu. Melihat dua anak muda itu hanya saling pandang-pandangan, mama menyuruh mereka untuk segera sarapan dan mereka pun sarapan dengan lahap.
Setelah selesai sarapan Yulia dan Reno duduk diteras rumah. Mereka ngobrol bersama menceritakan hal-hal yang lucu dan membuat Yulia tertawa.
Disisi lain Dimas mengawasi mereka dari kejauhan. Melihat kedekatan Reno dan Yulia itu, ia pun merasa cemburu. Ia tak pernah melihat Yulia tertawa seperti itu saat bersamanya.
Hari sudah mulai siang, Reno berpamitan pulang. Dimas yang dari tadi menunggu Reno segera mencegatnya tak jauh dari rumah Yulia.
"Gue mau bicara sama loe", ucap Dimas menghentikan Reno.
"Ya udah ngomong disini aja", jawab Reno santai.
"Enggak, ikut gue!", ajak Dimas.
Reno mengikuti Dimas dan mereka berhenti di taman tak jauh dari rumah Yulia. Mereka memarkirkan motor mereka lalu, duduk digajebo ditaman itu. Dimas memulai pembicaraan mereka,
"Loe udah taukan gue pacaran sama Yulia?", tanya Dimas.
"Iya, terus kenapa?", jawab Reno santai.
"Kenapa kamu bilang? Kamu itu udah ngancurin hubungan gue sama dia!", ucap Dimas dengan emosi.
"Gue? Loe bilang gue yang ngerusakin hubungan kalian? Bukannya loe sendiri yang ngerusak hubungan loe sama dia?", jawab Reno sambil menahan emosi.
"Maksud loe?", tanya Dimas tak mengerti.
"Loe enggak ada waktu buat dia dan sikap loe terlalu posesif", jelas Reno.
"Gue enggak hubungin dia karena gue sibuk kerja", ucap Dimas membela diri.
"Oke loe sibuk kerja tapi apa loe kerja terus tanpa istirahat?", tanya Reno.
Mendengar itu Dimas terdiam sejenak. Ia mulai merasa memang ini salahnya.
"Oke gue akui ini memang salah gue, tapi bukan berarti loe boleh deketin dia. Jadi gue minta tolong sama loe untuk pergi menjauh dari Yulia. Gue Bakal berusaha memperbaiki semua kesalahan gue sama Yulia", pinta Dimas.
Reno menunduk dan berpikir sejenak, lalu ia menghembuskan nafas frustasi.
"Oke gue akan ngejauhin Yulia, tapi gue bakal kembali lagi kalau loe buat Yulia menangis lagi!", ucap Reno sedikit mengancam.
"Oke makasih", ucap Dimas.
Setelah pembicaraan itu Reno pun pulang tanpa berkata apapun lagi dan Dimas tersenyum senang karena Reno tak mendekati kekasihnya lagi. Ia merasa sudah tak ada lagi yang mengganggu hubungannya dengan Yulia.
__ADS_1