
Udara pagi menyambut orang-orang yang berlalu lalang. Beberapa aktifitas sudah dimulai dan tidak sedikit suara canda gurau yang melintas diluar ruangan.
Seperti biasa pak Bams memulai aktifitas pagi dengan membuat sarapan untuk anak-anak tercintanya, setelah dia terlebih dulu memanjatkan doa dan syukur kepada sang pencipta.
Sementara ditempat lain tepatnya di kamar anak laki-lakinya, Ryan sedang membenahi kamar sebelum mandi dan bersiap berangkat ke kampus.
Hari ini adalah hari pertama penerimaan siswa baru disekolah dan dikampus. Jadi hari ini tidak ada yang boleh telat pergi ke sekolah dan kekampus, termasuk Ryan dan Rania.
Sementara di kamar yang lain Rania yang masih saja molor tidak menghiraukan alarm yang sudah disetel malam hari. Suara alarm yang begitu kencang tidak berhasil membangunkan Rania, ya Rania masih terbawa suasana libur panjangnya yang biasa bangun pukul 8 pagi. Pak Bams sudah sering kali mengingatkan Rania untuk bangun tepat waktu supaya tidak terlambat ke sekolah.
"Rania... bangun sayang sudah jam berapa nih nanti kamu telat lohh" Teriak pak Bams sambil mengetuk pintu kamar.
"Iya Pa sebentar, masih juga jam segini Pa" Rania mengucek matanya dan mengambil alarm yang ada di samping bantalnya.
"Ya ampun,,, sudah jam segini ternyata" Gegas Rania ke kamar mandi
"Pagi Papa,,, waawww wangi sekali masakannya Pa, makanan ala-ala chef hotel bintang lima nih Pa" Ryan menyapa Pak Bams yang terlebih dulu duduk di bangku meja makan.
__ADS_1
"Pagi sayang papa fikir kamu lupa bangun, dan lupa kalau hari ini hari pertama kamu kuliah ditempat kuliah yang baru"
Ryan adalah mahasiswa pindahan dari kampus yang ada diluar kota, Ryan sendiri pindah ke kampus yang berada di kota kelahirannya supaya bisa lebih memperhatikan adik perempuannya yang sudah memasuki tahap dewasa.
"Ingat dong Pa, masak Ryan lupa,,, oh iya Pa Rania mana kok belum kelihatan???
"Biasalah Yan, adik mu itu tidak pernah bisa bangun cepat padahal ini hari pertama masuk sekolah loh"
"Ya sudah Pa kita makan aja dulu ntar Rania menyusul, siapa tau dia nggak sarapan" Ryan mulai memimpin doa makan...
"Pagi Papa,,, pagi Kakak, maaf ya Rania lama" Sela Rania dan mencium pipi pak Bams
"Kamu juga harus belajar masak buatin sarapan, masak kamu tega biarin papa terus-menerus buatin sarapan kita. Okelah kamu bisa andalin kakak, kalau papa dan kakak tidak ada siapa yang buatin sarapan buat kamu???"
Melihat Ryan yang benar-benar marah kepada Rania, pak Bams mencoba menenangkan situasi meja makan dengan memberi kode supaya Ryan menghentikan omelannya. Pak Bams juga melihat Rania yang matanya mulai berkaca-kaca, dan tentunya pak Bams tidak mau melihat anak perempuannya meneteskan air mata.
"Sudah... sudah kita makan ya, Rania janji kok kak Rania bakalan berubah. Iya kan sayang???" Pak Bams menyendokkan nasi ke piring Rania
__ADS_1
"Ayo makan sayang jangan diliatin aja, papa masak makanan spesial hari ini buat anak papa yang cantik dan pintar" Goda pak Bams sambil mengelus pipi dan rambut Rania
Rania yang menahan air matanya supaya tidak jatuh, dan mencoba tidak mengingat kata-kata kak Ryan tadi. Sebenarnya Ryan itu sangat sayang kepada Rania, hanya saja Ryan orangnya lebih disiplin untuk hal-hal seperti ini. Dan Rania lebih takut kepada kakak nya dari pada ke pak Bams.
Pagi ini Rania menikmati sarapan paginya dengan mata yang berkaca-kaca menahan tangis yang tak ingin dia tunjukan didepan Ayah tercintanya. Kata-kata yang diucapkan oleh kak Ryan begitu menyakiti perasaan Rania.
Sebenarnya kak Ryan sangat menyayangi Rania, baginya Rania adalah harta yang paling berharga yang tak bisa digantikan dengan apapun. Kak Ryan berkata seperti itu tidak bermaksud menyinggung perasaan Rania, hanya saja kak Ryan ingin adiknya tumbuh menjadi anak yang mandiri.
*Flsahback On
"Sayang ayo bangun,,, jangan tinggalin aku dan anak-anak kita. Lihat anak kita sudah lahir, dia cantik sepertimu. Lihatlah sayang,,, jangan tinggalin aku,,, ayo bangun sayang,,, ayo bangun!!! Tangis Pak Bams sejadi-jadinya membangunkan Bu Riana, istri tercinta yang telah dipanggil Tuhan setelah melahirkan Rania anak kedua mereka. Bu Riana mengalami pendarahan yang hebat sewaktu melahirkan Rania, dan itu yang menyebabkan nyawa Bu Riana tidak tertolong.
"Sayang... terima kasih sudah hadir menjadi penolongku, sudah menemaniku selama ini, terima kasih sudah memberikanku kebahagiaan yang tidak dapat digantikan oleh apapun didunia ini. Kamu yang terbaik sayang, terima kasih buat semuanya, disaat sekarang pun kamu masih yang terbaik. Terima kasih sudah melahirkan anak-anak yang luar biasa untukku. Aku janji akan merawat dan mendidik mereka dengan baik" Tangis Pak Bams disamping makam istri tercintanya.
Ryan yang pada saat itu juga ikut menangis melihat papanya begitu sedih.
*Flashback Off
__ADS_1
Ryan dan Rania terpaut usia yang cukup jauh yaitu selisih 10 tahun. Saat ini Rania berusia 15 tahun sedangkan Ryan berusia 25 tahun. Rania memasuji jenjang SMA sedangkan Ryan melanjutkan S2 nya dan juga bekerja disebuah perusahaan yang ada dikota kediaman mereka.