Akhir Dari Padamu Dan Aku

Akhir Dari Padamu Dan Aku
■ IV. CERITA KE PAPA


__ADS_3

Malam hari diruangan keluarga, Pak Bams, Nek Siti Kak Ryan dan Rania berkumpul. Kak Ryan dan Nek Siti menonton sinetron yang tayang di TV. Pak Bams membaca surat kabar sedangkan Rania sedang menulis cerita dibuku hariannya. Rania suka menulis cerita, baik itu puisi maupun kata-kata indah. Tapi itu hanya sebatas kegemarannya saja. Suasana diruangan itu hening, yang terdengar hanya suara yang berasal dari TV tersebut. Sesekali suara Nek Siti saja yang terdengar karena hebohnya menonton acara di TV.


"Iya itu, kamu ini loh masak itu saja tidak tau. Dia itu jahat sama anak mu, dia itu pura-pura baik" Suara Nek Siti memecah keheningan ruangan itu dengan menanggapi cerita yang ada di TV tersebut.


Rania sesekali melirik kearah Nek Siti karena kehebohan Nek Siti yang mengganggu konsentrasi Rania.


Kak Ryan yang mengetahui kekesalan Rania akan kehebohan Nek Siti pun mulai berniat membuat kehebohan yang pada akhirnya berakhir keributan dengan Rania.


"Iya nih Nek, masak itu tidak tau ya, kan kelihatan sekali kan ya kalau dia itu pura-pura baik, isss dasar" Timpal Kak Ryan yang sesekali melihat Rania


Tadinya Rania bersikap biasa saja dengan kedua suara itu. Kak Ryan melihat Rania yang biasa-biasa saja mulai menaikkan intonasi suaranya.


"Ayo dong sedikit lagi biar dia ketauan" Suara Kak Ryan memanas-manasi Rania


"Gitu aja kok heboh sih, dasar..." Rania menaikkan sebelah bibirnya


Melihat Rania yang mulai kesal, Kak Ryan semakin bersemangat mengeraskan suaranya.


"Ayo loh.." Kali ini suara Kak Ryan bergema diruangan itu, saking kerasnya suara itu membuat Rania kaget sampai buku cerita Rania pun tercoret dan sedikit tersobek


"Kakak bisa tidak suaranya dikecilin Rania kaget tau, buku Rania jadi rusak, mana Rania susah lagi buat kata-katanya" Rania mengomel menahan kekesalan hatinya


"Yee... kalau belajar itu dikamar bukan disini, ini tempat buat menonton, lagian apa urusannya suara kakak sama rusaknya bukumu?" Timpal Ryan semakin membuat Rania kesal.


"Iya Rania kaget dengar suara kakak. Lagian sinetronnya bukan yang heboh bagaimana-bagaimana tapi kakak saja yang heboh tidak jelas" Rania menahan air matanya


"I don't care" Ucap Ryan dengan santainya


Rania terdiam, rasa kekesalan di hatinya tidak bisa diluapkan. Rania menahan amarahnya, air matanya ditahan supaya tidak tumpah. Beberapa detik Rania memandangi buku ceritanya, lalu pandangan itu berubah ke arah Pak Bams yang duduk didekat Kak Ryan. Rania berharap ada pembelaan dari papanya. Melihat Pak Bams yang tidak ada respon sedikitpun membuat hati Rania semakin kesal. Rania beranjak dari tempat duduknya lalu Rania membuang buku cerita itu ke tempat sampah, buku itu dilempar sangat keras, sehingga membuat Kak Ryan, Nek Siti dan Pak Bams terkejut.


"Rania kesal sama semua orang" Rania teriak dan meninggalkan ruangan itu berlari ke kamarnya


Mereka bertiga melihat Rania masuk kekamar, beberapa saat mereka saling melihat satu sama lain.


"Kenapa kamu suka sekali membuat adik mu kesal Yan?" Tanya Pak Bams kepada Ryan


"Siapa yang buat kesal Pa, orang Ryan lagi asyik nonton. Rania saja yang aneh, buku nya rusak Ryan yang disalahin" Bela Ryan yang tidak mau mengakui kesalahannya


"Papa tau kamu itu sengaja buat Rania kesal, dari tadi papa sudah lihat Yan. Minta maaf sana sama adik mu" pinta Pak Bams tetap dengan suara lembutnya

__ADS_1


"Malas Pa, ntar Ryan dilempar buku lagi sama Rania, Rania kan kalau marah kayak nenek lampir Pa. Serem ihh... Ryan takut" Ryan menggetarkan badannya


"Tok...tok...tok..." Pak Bams mengetuk kamar Rania


"Rania sudah tidur, Papa mau ngomong sebentar sayang" Pak Bams membuka pintu kamar Rania


Melihat Pak Bams masuk ke kamar, Rania berpura-pura memejamkan matanya. Pak Bams duduk dipinggir tempat tidur lalu membelai rambut Rania.


"Sayang... kamu marah. Kamu kesal sama Kak Ryan?" Tanya Pak Bams


Tapi Rania tetap diam dan membelakangi Pak Bams.


"Atau marah sama Papa. Kalau Papa salah Papa minta maaf ya sayang. Papa tau Papa yang salah" Pak Bams berusaha membujuk Rania


Rania tetap diam dan masih memejamkan matanya.


"Ya sudah, kalau begitu Rania bobok ya, besok kan masih ada kegiatan MOS disekolah. Papa tinggal dulu ya sayang. Ini bukunya Papa letak di meja. Besok Papa beliin yang baru untuk Rania. Papa tinggal ya sayang" Pak Bams mencium kepala Rania lalu beranjak dari ruangan itu


"Papa..." Suara Rania menghentikan langkah Pak Bams yang hendak membuka pintu


"Iya sayang Rania butuh apa nak, bilang ke Papa" Pak Bams menghampiri Rania kembali


"Rania mau cerita apa sayang, ayo cerita ke Papa" Pak Bams membelai kepala Rania yang berada dipelukannya


"Kak Ryan tidak sayang sama Rania" Rania menangis


Pak Bams melepas Rania dari pelukannya lalu memegang wajah Rania dan memandang lekat kedua manik mata Rania.


"Tidak sayang, Kak Ryan sayang sekali sama Rania" Pak Bams mengusap air mata Rania


"Tidak Pa" Rania menggelengkan kepalanya


"Tidak sayang, Kak Ryan sayang sekali sama Rania. Hanya saja Kak Ryan suka membuat Rania kesal" Pak Bams mencoba memberikan Rania pengertian


"Tapi buku Rania jadi rusak Pa, itu karena kakak" Rania menunjuk buku ceritanya


"Iya, nanti Papa ganti yang baru ya, sekarang Rania jangan sedih lagi. Oke!!!" Bujuk Pak Bams


"Iya Pa" Rania mengangguk

__ADS_1


" Oh iya, tadi katanya mau cerita. Cerita apa sayang?" Tanya Pak Bams


"Tidak ada Pa, Rania malu" Senyum sumringah Rania


"Loh kok malu, ayo cerita dong, Papa jadi penasaran nih" Goda Pak Bams


"Tapi Papa janji ya jangan cerita ke kakak" Rania menunjukkan jari kelingkingnya


"Iya Papa janji" Pak Bams nelingkarkan jari kelingkingnya ke jari Rania


"Tadi disekolah Rania diledekin sama tema Rania, ehh bukan teman deh Pa, Rania malas punya teman seperti dia" Rania mulai bercerita


"Emangnya Rania diledekin gimana sih, kok sampai segitunya?" Tanya Pak Bams yang mulai penasaran


"Ya gitu deh Pa, Rania diledekin sama dia sampai Rania malu" Jawab Rania kembali


Rania mulai bercerita, semua kejadian yang terjadi disekolah hari ini Rania ceritakan serapih mungkin dan tidak ada yang terlewatkan.


"Ya sudah, tapi Rania tidak boleh sampai membenci teman, itu tidak baik, papa tidak suka"


"Iya Pa" Rania meng-iyakan kata-kata Pak Bams tadi dengan mulut manyun


"Oke... kamu istirahat ya, besok kan harus bangun lebih awal. Good nite sayang ku" Pak Bams mencium kening Rania


"Good nite Pa" balas Rania


•••


*Di tempat lain


*Aku menyukai senyumnya, matanya juga sama.


Aku berharap bisa dekat dengannya, tapi aku tidak tau bagaimana caranya.


(Tatapan itu tidak bisa kulupa)


^^^《Zio*》^^^


Zio menulis di buku kecil hariannya, ini adalah kali pertama dalam sejarah, Zio meluapkan isi hatinya kedalam sebuah buku harian.

__ADS_1


__ADS_2