Akhir Dari Padamu Dan Aku

Akhir Dari Padamu Dan Aku
■ VII. Perubahan Yang Baik


__ADS_3

Hari-hari begitu cepat berlalu, semua berjalan dengan penuh hikmat dari Tuhan.


Hari ini adalah hari pertama Rania memulai kehidupan masa putih abu-abu, Rania bangun dari tidurnya dengan penuh rasa syukur. Rania sudah berjanji pada dirinya akan berubah menjadi anak yang lebih baik lagi.


Perubahan itu dimulai dari cara Rania bangun tidur lebih awal dari hari-hari sebelumnya, dan juga ikut membantu Nek Siti membuat sarapan pagi.


"Pagi Nek, Rania bantu buatin sarapan ya" Rania menghampiri Nek Siti yang sudah berada didapur


"Pagi sayang ku, kok tumben-tumbenan bangun cepat, ada apa ini ya?" Goda Nek Siti


"Ya ampun Nek, perasaan beberapa hari ini Rania selalu bangun lebih awal deh" Rania menyanggah omongan Nek Siti sambil memanyunkan bibirnya


"Iya deh iya, Nenek cuma bercanda kok, jangan baperan dong" Nek Siti mengkedipkan matanya


Rania dan Nek Siti mulai memasak makanan, mereka berdua menjadi satu tim yang hebat dalam urusan dapur sekarang. Nek Siti tak kalah jago dalam urusan dapur, masakan Nek Siti juga tak kalah jauh dari semua masakan yang ada di restoran kota tempat mereka tinggal. Nek Siti juga mulai mengajari Rania tentang bumbu-bumbu masakan, supaya ketika Nek Siti tidak ada dirumah Rania bisa memasak makanan sendiri. Seisi rumah Pak Bams termasuk orang yang tidak suka masakan restoran, mereka lebih suka makan masakan rumahan, selain hemat mereka jadi lebih sehat.


Rania bertugas menjadi asisten dapur Nek Siti, jadi tugasnya mencuci dan memotong sayur-sayuran, sesekali Nek Siti menyuruh Rania mengulek sambal dan disitulah Nek Siti mengajari Rania tentang bumbu-bumbu dapur.


Dalam waktu 30 menit masakan sudah selesai dan sudah tersedia diatas meja makan, Nek Siti pun menyuruh Rania untuk mandi dan mempersiapkan diri supaya tidak terlambat pergi ke sekolah.


💥💥💥


Di meja makan sudah ada Pak Bams, Kak Ryan dan Nek Siti menunggu Rania yang tak kunjung keluar dari kamarnya.


"Pasti keasikan molor tuh anak manja" Ketus Kak Ryan yang bosan menunggu


"Sabar dong kak, ini kan hari pertama Rania masuk sekolah, pasti banyak keperluan yang harus dipersiapkan" Pak Bams menenangkan Kak Ryan


"Iya Pa, tapi kan seharusnya Rania bisa mengatur waktunya" Kak Ryan kembali ngedumel


"Sabar dong Kak, tadi Rania yang bantuin Nenek buatin sarapan, dan sudah beberapa hari ini Rania juga bangun lebih awal" Bujuk Nek Siti memberi pengertian ke cucu laki-lakinya


"Memang sudah seharusnya Nek, mau sampai kapan coba" Kak Ryan kesal karena Nek Siti ikut membela Rania


"Ryan..." Tegur Pak Bams yang tak ingin anak laki-lakinya membuat perlawanan


"Iya Pa" Kak Ryan pun terdiam dan menyandarkan tubuhnya dikursi


Beberapa menit kemudian Rania keluar dari kamar dan menghampiri keluarganya dengan membawa perlengkapan sekolah.

__ADS_1


Rania yang sudah rapi dari ujung rambut sampai ujung kaki melangkah dengan senyum yang ceria, terlihat dari raut wajahnya bahwa Rania akan memulai hari pertama sekolah dengan penuh kebahagiaan.


"Pagi Pa, pagi Kak, pagi Nek" Sapa Rania dengan semangat


"Cii... sok asik lagi, dah tau lambat malah cengengesan" Kak Ryan berbicara pelan tapi masih bisa terdengar ditelinga Rania, hanya saja Rania tak ingin mempermasalahkannya dan tetap tersenyum manis


"Ryan..." Pak Bams menatap tajam Kak Ryan lalu tatapannya berubah kearah Rania


"Pagi sayang, kamu cantik sekali" Pak Bams memuji Rania dengan takjub


Mendengar pujian dari Papanya Rania berputar memperlihatkan kecantikannya dalam memakai seragam putih abu-abu.


"Cantikkan?" Rania bertolak pinggang dan berdiri layak nya seorang Miss Universe


"Cantik..."


"Biasa aja..." Pak Bams dan Kak Ryan menjawab bersamaan dan seketika mereka berpandang-pandangan, lalu Pak Bams melototkan matanya ke Kak Ryan


"Kamu cantik kok sayang, cantik banget. Layaknya seorang Bintang Dunia Miss Universe" Pak Bams mengangkat kedua tangannya dan membuat tanda kutip


"Ayo makan sayang nanti kamu terlambat ke sekolahnya" Pak Bams mempersilahkan Rania untuk duduk


"Ryan..."


"Iya Pa iya" Kak Ryan melanjutkan makannya


Nek Siti hanya tersenyum dan menggelengkan kepala, ada rasa senang dalam hatinya melihat tingkah lucu kedua cucunya tersebut.


•••


Ditempat lain (Di kediaman Zio Alfaro)


"Zio... kok belum selesai juga sih nak, nanti kamu ketinggalan loh ini, sudah jam berapa ini coba" Suara nyaring Bu Devi yang berada di meja makan memanggil Zio


"Lagi-lagi tuh anak kebiasaan deh, alarm nya tidak ada apa?" Pak Arya pun tak sabar menunggu Zio


"Ada Pa, Mama sudah atur kok tadi malam. Ya mungkin dimatiin sama dia kali, tau sendiri anaknya gimana" Bu Devi mengipas wajahnya dengan kipas tangan


"Zi....."

__ADS_1


"Iya sabar Ma, ini sudah selesai kok, heboh sekali" Zio keluar dari kamar, sebelum Bu Devi ingin memanggil namanya dengan suara oktaf


"Kok masih acak-acakan sih sayang" Bu Devi ikut merapikan baju Zio yang masih berantakan lalu memasukkan perlengkapan Zio kedalam tas


"Kamu mandi sayang?" Tanya Bu Devi curiga, karena dulu pada saat SMP, Zio jarang sekali mandi


"Mandi dong Ma" Jawab Zio sok cool


"Kok keliatan kucel ya?" Bu Devi tidak percaya


"Mana mungkin Zio kesekolah tidak mandi. Malu lah sama Rania" Zio menjawab spontan


"Rania? Who is that sayang?" Bu Devi melototkan matanya ketika mendengar kata Rania


"Bukan siapa-siapa Ma" Zio tidak memberi tau mamanya, karena Zio tau kalau mamanya adalah orang yang paling heboh sedunia


"Hmmm..." Bu Devi mensipitkan kedua matanya tanda curiga dengan Zio


💥💥💥


••• (Disekolah)


Semua murid berkumpul dihalaman sekolah, semua berpakaian rapi dan bersih lengkap dengan atribut sekolah. Mereka membaca mading dimana nama-nama mereka tercantum. Setelah mengetahui kelas mereka masing-masing lalu mereka masuk kedalam kelas sesuai daftar yang ada di mading.


Rania dan Sisilia berada dalam ruangan yang sama yaitu dikelas X², kini mereka berdua sudah berada didalam kelas. Dan betapa senangnya hati mereka berdua karena ditempatkan dalam ruangan yang sama, dan memang ini yang mereka harapkan.


"Permisi..." Zio membuat celah supaya bisa melihat mading yang masih dikerumuni banyak siswa


Lalu dia mencari nama dan ruangannya, ternyata Zio ditempatkan diruangan X³, setelah itu Zio mencari nama orang yang masih bersemi dalam pikirannya, ya dia adalah Rania. Tangannya terus mencari daftar nama itu satu-persatu sampai tangannya berhenti di satu nama dan Zio melihat bahwa nama tersebut berbeda ruangan dengannya. Hatinya sedih dan wajahnya murung, kakinya melangkah masuk kedalam ruangan dengan hati yang gunda gulana.


"Kenapa begini ya, padahal sudah berharap bisa sekelas sama" Batin Zio yang sudah berada diruangan


"Tapi kelasnya sebelahan kok, tidak masalah juga sih, kan masih bisa lihat Rania" Batin Zio yang menyemangati dirinya


"Tapi kan lebih bagus sekelas jadi bisa lihat Rania tiap saat. Aku harus cari cara supaya bisa sekelas sama Rania" Zio mulai memutar otak nya mencari jalan keluar


Beberapa menit Zio melamun dan mencari cara bagaimana supaya dia bisa sekelas dengan Rania.


"Mama... mama kan punya teman disini, pasti mama bisa membantu" Zio kembali semangat setelah menemukan ide berliannya

__ADS_1


__ADS_2