
Tiin...tiin... Suara klakson mobil yang berhenti didepan pagar sekolah baru Rania, ternyata itu mobil Pak Bams.
"Maaf Pak,,, anak saya sedikit terlambat tadi ada kemacetan lalu lintas" Tegur Pak Bams kepada security sekolah tersebut.
Pak security membuka pagar dan mempersilahkan Rania untuk masuk.
"Daa sayang... nanti pulang papa jemput ya,,, sampai ketemu" Pak Bams berlalu meninggalkan sekolah Rania
"Lain kali sampai disekolah itu 10 menit sebelum bel berbunyi ya, kamu ini kan masih anak baru, apalagi ini Masa Orientasi Siswa ntar nama dan nilai MOS kamu kamu jelek lagi" Pak Security menegur Rania yang sudah didalam lingkungan sekolah. Rania hanya berjalan tanpa memperdulikan kata-kata Security barusan, jangankan memperdulikan melihat pun tidak.
"Ehhh... Dik kamu dengar tidak Bapak ngomong apa barusan??? Ucap Security yang mulai kesal akan sikap Rania
"Bapak ngomong sama saya??? Tanya Rania yang menoleh kesana kemari memastikan bahwa Security berbicara kepadanya
"Iya kamu lah,,, siapa lagi kan kamu sendiri yang telat, emang ada lagi selain kamu??? Ketus Security kepada Rania
"Iya,,, kenapa ya Pak??? Bapak bilang apa tadi??? saya tidak dengar bapak bilang apa" Tanya Rania kepada Security
"Tidak... tidak ada,,, silahkan masuk keruangan aula yang ada disana ya,,, sebentar lagi MOS nya akan di mulai" Balas Security yang sudah kesal, tetapi menahan sedikit emosinya
•••
"Permisi Pak saya boleh masuk ya,,, tadi saya kesiangan bangun,,, masih terasa suasana libur panjang Pak" Suara seorang siswa yang juga terlambat seperti Rania
"Kamu murid baru,,, lain kali jangan terlambat ya, kamu harus disini 10 menit sebelum bel berbunyi. Apalagi kamu murid baru nanti nilai MOS kamu jelek" Securitu tersebut menasehati Zio
Ya Zio adalah murid baru disekolah sama seperti Rania. Zio berlari menuju aula yang sudah dipadati oleh murid-murid baru dan pembimbing MOS
"Wah... wah... wah... anak baru tapi sudah terlambat ya. Sini kamu!!! Suara kakak MOS menghentikan langkah Zio yang mengendap-endap masuk keruangan aula
Zio berjalan kedepan dengan merasa malu karena semua mata siswa yang ikut MOS melihat nya. Zio sempat menunduk karena malu, dia fikir hanya dia sendiri saja yang datang terlambat. Padahal didepan sana ada seorang siswa yang terlambat sama sepertinya. Ya,,, itu adalah Rania. Rania juga disuruh berdiri didepan karena terlambat.
"Wah... aku ada teman ternyata,,, syukurlah" Wajah Zio agak sedikit bahagia ketika dia tau bahwa dia tidak sendirian terlambat, tetapi ada Rania juga
" Nama kamu siapa???" Tanya kakak MOS mendekati Zio dan menepuk pundaknya Zio
"Zio kak,,, nama saya Zio. Maaf kak tadi saya kesiangan bangun, masih terbawa suasana libur panjang kak" Jawab Zio sambil cengengesan tanpa rasa bersalah
__ADS_1
"Hahaha...hahaha..." Semua murid tertawa mendengar jawaban Zio begitupun kakak-kakak MOS ikut tertawa
"Baiklah... karena kalian berdua terlambat, apa hukuman yang pantas buat kalian berdua" Tanya kakak MOS
Rania hanya bisa diam dan menunduk karena malu dilihat semua orang yang ada di aula.
"Saya bisa lari kak" Jawab Zio cepat
Menurutnya lari adalah hukuman yang paling ringan untuknya saat ini. Lari adalah olahraga yang sering dia lakukan. Tetapi tidak untuk Rania, Rania yang mendengar itu pun langsung menoleh ke Zio. Dia berharap hukumannya tidak berlari dilapangan.
"Ta... tapi..." Rania ingin menolak hukuman itu
"Okay,,, kalau begitu kalian berdua saya hukum berlari dilapangan sebanyak 3 kali putaran. Bagaimana,,, kalian siap???"
" Siap kak,,, kami siap keliling lapangan sebanyak 3 kali putaran" Jawab Zio dengan cepat dan tegas
Rania hanya bisa pasrah dan menjalankan hukuman itu dengan perasaan yang kesal, dan mereka mulai berlari. Zio dengan cepat melintasi lapangan itu sebanyak 3 putaran selama 10 menit, sedangkan Rania masih 1 ½ putaran dan terlihat sangat kelelahan. Zio yang sudah selesai pun segera masuk kedalam aula, sedangkan Rania masih berjuang melintasi 3 putaran tersebut.
•••
" Kamu Rania masuk kedalam kelompok Cendrawasi"
" Baik kak" Jawab Rania yang sudah melemah
"Rania sini,,, kita satu kelompok dikelompok Cendrawasi" Seorang perempuan memanggil nama Rania, yang sebenarnya Rania sendiri pun belum mengenalnya
" Ini minum!!! pasti kamu capek banget ya??? baju kamu basah semua dan wajah kamu pucat" Perempuan itu memberikan sebotol air mineral kepada Rania
" Nama aku Sisilia,,, kamu bisa panggil aku Sisil" Sisil mengulurkan tangannya kepada Rania.
" Rania,,, nama ku Rania,,," Rania pun membalas uluran tangan Sisil setelah meneguk air yang diberi oleh Sisil
Rania dan Sisil tergabung dalam satu kelompok yaitu kelopok Cendrawasi. Kelompok Cendrawasi terdiri dari 10 siswa. 5 siswa laki-laki dan 5 siswa perempuan. Zio pun ikut tergabung kedalam kelompok mereka. Hanya saja, Rania belum mengetahui kalau Zio ikut tergabung kedalam kelompok mereka. Mungkin karena Rania masih lelah dan masih mengatur nafas.
Hari ini Masa Orientasi Siswa tidak berjalan dengan lama, karena mengingat hari ini adalah hari pertama MOS, jadi semua siswa hanya diarahkan untuk memperkenalkan diri dan mengenal teman kelompok mereka masing-masing. Pembimbing MOS sudah memberikan semua arahan tentang peraturan yang ada disekolah dan memberikan semua informasi apa saja yang akan dilakukan semasa MOS selama 3 hari kedepan. Hal-hal apa saja yang akan dilakukan dan peralatan apa saja yang harus dibawa selama Masa Orientasi Siswa.
•••
__ADS_1
Pukul 12.00 murid-murid sudah dibubarkan dari aula dan Rania menunggu Pak Bams untuk menjemputnya.
💥💥💥
Malam hari setelah Rania selesai melakukan rutinitas hariannya Rania pun keluar dari kamar menuju dapur, Rania ingin memasak sesuatu untuk bisa dimakan.
Rania masih teringat dengan omelan kak Ryan sewaktu sarapan tadi pagi. Dan Rania pun berusaha supaya tidak mendapat omelan lagi dari kakaknya. Ketika Rania menuju dapur matanya terfokus pada meja makan yang sudah dipenuhi banyak makanan.
"Siapa yang masak makanan sebanyak ini ya" Batin Rania dan berpaling meninggalkan meja makan dan menuju dapur
"Selamat malam sayangku" Suara wanita tua menyapa Rania, Rania menghentikan langkah kakinya dan berputar melihat suara siapa yang barusan menyapanya
"Nenek,,, nenek apa kabar Rania kangen sama nenek" Rania memeluk erat wanita tua itu dan menciumnya
Nenek Siti adalah orang tua kandung dari Pak Bams. Beliau selama ini tinggal dengan pak Bams, semenjak Bu Riana meninggal Nenek Siti lah yang menjaga dan merawat Rania dan Ryan. Nenek Siti termasuk nenek yang hangat bagi kedua cucunya, bagi Rania dan Ryan. Sudah sebulan ini nenek Siti pulang ke kampung halamannya karena beliau rindu dengan suasana kampung yang sudah lama tidak beliau kunjungi semenjak kakek Rudi meninggal dunia 2 tahun yang lalu.
" Nenek jangan pergi-pergi lagi ya, Rania sedih tidak ada teman buat cerita" Rania merangkul manja tangan Nenek Siti
"Kan ada kakak dan papa sayangku" Nek Siti mengelus kepala dan pipi Rania
"Papa akhir-akhir ini banyak kegiatan,,, dan kakak..."
"Kakak kenapa???" Suara kak Ryan menghentikan obrolan Rania
"Kakak kenapa ayo???" Goda kak Ryan kembali
"Tidak apa-apa,,, tidak apa-apa kak" Jawab Rania dengan suara gugup dan takut kak Ryan marah
"Sudah-sudah,,, sekarang kita makan ya" Nek Siti melepaskan pelukan Rania dan duduk di kursi meja makan
"Awas ya kalau berani ngadu yang macem-macem ke nenek,,, kakak jewer telinga mu" Kak Ryan berbisik pelan ke telinga Rania
Rania yang merasa jengkel dengan sikap kak Ryan pun mengepalkan tangan kearah kakaknya, untungnya kak Ryan sudah membelakangi Rania kalau tidak...
Suasana rumah selalu ramai dengan tingkah lucu kakak beradik itu, terkadang Rania yang cengeng sangat mudah dibuat kesal oleh kakaknya. Pak Bams sudah terbiasa dengan hal seperti itu. Apalagi kalau Rania sudah kesal dengan kakaknya, senjata paling ampuh Rania untuk membalas kakaknya adalah Pak Bams. Rania memaksa Pak Bams supaya memarahi Ryan, akhirnya Pak Bams memarahi Ryan langsung didepan mata Rania supaya Rania senang. Kalau saja Pak Bams menolak permintaan Rania untuk memarahi Ryan pasti dia akan ngambek dan tidak mau keluar kamar.
Ryan memang suka sekali membuat Rania kesal. Menurutnya Rania itu terlihat seperti bocah ingusan yang cengeng, bahkan sampai sekarang pun Rania yang sudah duduk dibangku SMA. Baginya Rania sangat menggemaskan kalau lagi kesal, apalagi kalau mulut Rania manyun dan komat-kamit. Rania seringkali membuat pembelaan dari kak Ryan tetapi tidak pernah berhasil, semakin Rania membela diri semakin semangatlah kak Ryan membuat dia kesal. Jadi jalan satu-satunya membuat kak Ryan supaya diam adalah papanya. Pak Bams cukup mengucapkan "Ryan jangan ganggu Rania", itu saja sudah cukup bagi Rania. Karena Rania tau bahwa kak Ryan sangat penurut dan takut ke Pak Bams. Tapi itu hanya untuk beberapa saat, setelah itu kak Ryan mulai beraksi kembali membuat Rania kesal. Begitulah terus menerus,,, mulai matahari terbit hingga matahari terbenam dan sampai mau tidur pun mereka selalu bertengkar. Tetapi mereka berdua saling menyayangi satu sama lain dan saling peduli.
__ADS_1