
Aurora keluar dari dalam kamarnya menuju ke ruang tengah. Di sana sudah ada seorang wanita setengah baya yang masih terlihat cantik dan anggun, sedang bersantai sambil membaca buku sambil sesekali menyesap teh hangatnya. Wanita bernama Elena Rosalina itu mengangkat kepalanya menatap Aurora, ketika gadis itu sudah berdiri di depannya.
"Kenapa nak?" tanya Elena lembut.
Aurora hanya menatap ibunya datar seraya menyodorkan tangan kanannya ke Elena.
"Minta duit, aku mau shopping ke mall," pinta Aurora tidak ada sopan-sopan nya.
Elena menutup bukunya, kemudian kembali menatap putrinya dengan kening sedikit berkerut.
"Bukannya dua hari yang lalu kamu sudah mami kasih uang 20 juta? Sudah habis?" tanya Elena.
Aurora memutar bola matanya malas, "Udah habis lah, itu aja masih kurang. Sekarang ini apa-apa udah pada mahal mi."
Elena menatap Aurora lembut kemudian menghela nafas pelan. Tangannya tergerak menarik lengan putrinya.
"Duduk sini dulu," dengan malas Aurora menuruti perkataan Elena dan duduk di sampingnya.
"Kenapa sih?" tanya Aurora ketus, walaupun ia tahu ibunya pasti akan menceramahi nya lagi.
"Aurora, kamu kan sudah besar. Kamu harus belajar hemat, jangan boros-boros nak."
Nah kan benar apa yang di pikirkan Aurora, ibunya pasti akan menceramahi nya.
"Aduh mi, kita ini kan kaya. Ngapain hemat-hemat? Gak guna dong uang yang banyak itu, kalau gak di gunain," ucap Aurora.
"Aurora kamu dengerin mami ya. Walaupun kita punya uang banyak sekalipun, bukan berarti kita harus menghambur-hamburkan uang untuk hal yang tidak penting. Masih banyak orang di luaran sana yang membutuhkan," ucap Elena memberi pengertian pada putrinya.
Aurora memutar bola matanya jengah kemudian menatap Elena datar.
"Jadi mami mau ngasih aku uang atau gak?" tanya Aurora dingin.
"Kamu liat Keyla anak pak Agam," ucap Elena seolah tidak mendengarkan pertanyaan Aurora, seraya menunjuk ke arah rumah Keyla.
Mulai. Sesi banding membandingkan anak sendiri dengan anak tetangga di mulai.
"Saking dia tidak mau menyusahkan aba nya, dia sampai kerja padahal masih sekolah. Seharusnya kamu jadikan dia contoh," lanjut Elena lagi.
Aurora menundukkan kepalanya seraya mengepalkan tangannya kuat. Ia menghela nafasnya kesal kemudian kembali menatap Elena yang masih terus membandingkan nya dengan Keyla.
"Keyla terus! Keyla terus!" geram Aurora kesal.
"Kenapa cuma Aurora yang di banding-bandingin terus sama mami dan papi. Sedangkan kak Sheri aja gak pernah di banding-bandingin kayak gini," ucap Aurora kesal.
"Bukan begitu maksud mami nak. Mami sama papi gak ada maksud buat banding-bandingin kamu," Elena hendak menggenggam tangan Aurora namun di tepis oleh Aurora.
"Kami cuma ingin kamu jad..."
"Halah udah lah mi, kenapa gak sekalian aja mami jadiin Keyla anak mami. Aku kan cuma anak pungut!" ucap Aurora tajam.
"Aurora jaga ucapan kamu!" ucap Elena kali ini nada bicaranya bertambah tinggi.
Aurora menatap ibunya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Memang di rumah ini gak ada yang sayang sama Aurora," Aurora berdiri dan langsung beranjak pergi ke kamarnya.
Sheri yang baru saja keluar dari dalam kamarnya menatap Aurora heran.
__ADS_1
"Kenapa lo? Kecut amat tuh muka?" tanya Sheri.
"Bacot!" Aurora menatap kakaknya tajam kemudian memasuki kamarnya kemudian menutup pintu kamarnya dengan kasar.
BLAM
"Astaghfirullah kaget gue. Kenapa dah tuh bocah?"
Sheri beranjak ke ruang tengah berniat bertanya kepada ibunya apa yang telah terjadi pada Aurora.
"Mi Aurora kenapa sih?" tanya Sheri sambil duduk di samping Elena.
Elena menghela nafas berat, "Gak tau kak, mami pusing."
Sheri semakin di buat bingung karenanya.
"Apasih?" gumam Sheri.
...đ...
Setelah membanting pintu kamarnya dengan kuat, Aurora langsung menyambar ponselnya yang terletak di atas meja.
"Tanpa kalian kasih uang juga, gue tetap masih bisa dapat uang banyak dari bank berjalan gue," gerutu Aurora kesal seraya mencari nama Aksa di aplikasi WhatsApp nya. Kemudian mengirimkan pesan kepada lelaki itu.
Aurora
Aksa aku mau shopping ke mall âšī¸
Aksa
Mau aku transfer berapa sayang?
Aurora
Bisa kan?
Aksa
Iya bisa sayang.
Udah aku transfer ya cintaku, jangan cemberut lagi.
Aurora
Yess makasih sayang â¤ī¸
Aurora tersenyum senang. Ya bank berjalan yang ia maksud adalah Aksa. Apa gunanya punya pacar kaya kalau tidak di manfaatkan. Di tambah lagi Aksa cinta mati padanya, apa yang Aurora inginkan pasti di akan Aksa turuti. Walaupun sekarang mood nya masih kurang bagus setidaknya ada lelaki seperti Aksa bisa ia mainkan.
"Cowok bego," lirih Aurora terkekeh geli.
...đ...
Aksa duduk di kursinya seraya menatap surat-surat dan hadiah-hadiah yang di berikan oleh siswi-siswi yang mengagumi nya. Setiap hari selalu ada yang memberikannya hadiah dan surat cinta, padahal mereka tahu kalau Aksa sudah punya pacar.
Aksa melirik ke sampingnya, menatap Reihan yang juga mendapatkan surat cinta dam hadiah-hadiah dari pengagum rahasianya. Kalau Reihan tentu saja tidak masalah, kan dia tidak punya pacar.
"Widih seperti biasa dua pangeran kita ini selalu mendapatkan surat cinta dari ciwi-ciwi ya ges ya," ucap Marvin yang baru saja datang bersama Arkana.
__ADS_1
"Seperti biasa juga, kami akan mengambil alih hadiah-hadiah ini dari kalian. Sekian terima gaji," dengan santainya Arkana memindahkan hadiah-hadiah tersebut ke mejanya dan Marvin.
"Hallo gaes cewek paling cantik satu sekolah datang," ucap Keysha sambil mengibaskan rambutnya genit.
"Ayaaang~," seru Arkana manja yang membuat ketiga sahabatnya menatapnya jijik.
"Alay lu berdua," cibir Marvin.
"Iri bilang badak," balas Arkana.
Aurora yang juga datang bersama Keysha hanya diam dengan wajah yang sedikit tidak enak di lihat. Ya dia masih tidak mood untuk bercanda dengan teman-temannya, karena perdebatannya dengan sang ibu kemarin.
Aksa menatap sang pacar yang duduk di depannya, ia tahu suasana hati Aurora sedang tidak baik.
"Hey kenapa hm," Aksa meraih tangan Aurora dan mengelusnya pelan.
Aurora hanya menggeleng lemah, "Gapapa."
Aksa semakin mengeratkan genggamannya. "Tapi kalau kamu mau cerita sesuatu ke aku, cerita aja ya."
"Hm."
Reihan yang melihat kemesraan Aksa dan Aurora hanya membuang muka, tidak ingin menyaksikannya terlalu lama. Menjadi yang kedua memang cukup sulit.
"Makin hari makin banyak ya hadiahnya," ucap Keysha seraya mengikuti Marvin dan Arkana membuka hadiah-hadiah tersebut.
"Iya, padahal gue juga ganteng. Tapi gak pernah tuh dapat hadiah. Aneh gak sih?" tutur Marvin bergaya seolah-olah sedang berpikir.
Keysha menggeleng, "Gak aneh kok, emang lo nya jelek. Makanya gak ada yang suka."
Marvin menatap Keysha tidak percaya, kemudian melirik Arkana.
"Kan, cewek lu gue smak down boleh gak? Ngeselin soalnya," ucap Marvin meminta izin.
"Lo duluan yang gue smak down," ucap Arkana tajam, yang membuat Keysha tertawa penuh kemenangan.
"Ck tidak setia kawan lo. Kamu jahat mas," ucap Marvin penuh drama.
"Eh tumben nih ada yang ngasih tau namanya, biasanya kan pakai inisial doang. Suratnya untuk Aksa lagi, wah berani nih cewek," seru Keysha seraya membaca isi surat cinta yang di tujukan untuk Aksa tersebut.
"Siapa?" tanya Aurora dingin.
"Friska Adelicia namanya, adek kelas sih ini. Kelas 10," jawab Keysha.
"Eh ini juga ada nih. Friska Adelicia juga namanya, kelas 10 juga nih. Tapi untuk Reihan suratnya," ucap Arkana.
"Fiks orang yang sama," saut Marvin seraya mengintip surat yang di pegang Arkana.
"Wah maruk nih cewek, mau di embatnya dua-duanya," ujar Arkana tidak habis pikir.
Mendengar hal itu sukses membuat kepala Aurora semakin panas. Siapa yang berani menggoda miliknya dengan terang-terangan seperti ini. Aurora mengambil surat itu dari tangan Keysha dan Arkana kemudian membacanya.
"Cewek gatel, gak tau diri," geram Aurora.
"Udah Ra, biarin aja. Aku gak bakal respon dia kok," ucap Aksa menenangkan.
Aurora melirik Aksa datar, sejujurnya yang lebih membuat Aurora kesal bukan surat yang di tujukan untuk Aksa melainkan surat yang di tujukan untuk Reihan.
__ADS_1
"Bacot," ucap Aurora dan langsung beranjak pergi meninggalkan Aksa yang terdiam karena mendapatkan kata-kata seperti itu dari Aurora.