Aksa ( And his wife )

Aksa ( And his wife )
Mulai berubah


__ADS_3

Keyla berlari menuju belakang sekolah, untuk sekarang itu tempat yang paling aman baginya. Dimana tidak akan ada yang melihat Keyla menangis. Keyla mendudukkan tubuhnya di bawah pohon besar yang ada di belakang sekolah. Keyla memeluk lututnya dengan air mata yang mengalir deras di pipinya.


Untuk beberapa saat Keyla tetap pada posisinya. Yaitu menangis seraya menyembunyikan wajah di atas lututnya. Bahkan ia juga tidak sadar ada seseorang berdiri di depannya.


"Bangun!" titah seseorang.


Keyla mengangkat kepalanya ketika mendengar suara tak asing tersebut. Wajah Keyla berubah datar, matanya menatap tajam orang tersebut.


"Ngapain lo ke sini?! Mau ngetawain gue? Iya? Ya udah ketawa aja, itu kan yang lo suka Sa?" ujar Keyla penuh penekanan.


"Lo ngomong apa sih? Gue gak sejahat itu," kesal Aksa.


"Lo sejahat itu," saut Keyla.


Aksa menghela nafasnya jengah, tujuannya ke sini bukanlah untuk berdebat pada Keyla. Aksa juga tidak tahu hati dan tubuhnya tergerak membawanya ke hadapan Keyla. Perasaan ingin menenangkan gadis itu, Aksa benar-benar tidak paham.


"Ya udah buruan bangun, gak usah nangis-nangis di situ," Aksa mengulurkan tangannya berniat membantu Keyla untuk berdiri.


Keyla menatap tangan Aksa dan Aksa bergantian, kemudian berdecih pelan.


"Gak usah sok perduli! Suka-suka gue lah mau nangis di sini atau gak!" sinis Keyla, matanya masih menatap tajam wajah Aksa.


"Bell masuk udah bunyi Keyla. Lo gak mau masuk kelas apa?" tangan Aksa masih senantiasa terulur ke arah Keyla, entah kerasukan apa Aksa sampai melakukan hal ini.


Keyla berdiri tanpa memperdulikan uluran tangan Aksa. Ia membersihkan roknya dan merapikan seragamnya yang agak berantakan. Kemudian beranjak pergi meninggalkan Aksa tanpa sepatah katapun.


"Syalan gue niat bantuin dia, tapi malah di cuekin," Aksa menendang rumput kering dengan kesal, "Ck ngapain juga gue perduliin tuh cewek, bego banget gue."


Di saat sedang kesal tiba-tiba saja suara notifikasi WhatsApp berbunyi dari ponsel Aksa. Terlihat ada pesan yang dikirimkan Marvin di grup khusus Aksa dan teman-temannya.


"Sa lu dimana? Jadi gak kita ngerokok di roof top. Mulut gue udah asem nih."


"Tunggu bentar, gue lagi di WC."


Aksa memasukan benda pipih tersebut kedalam saku celananya. Kemudian beranjak menyusul teman-temannya, yang berniat untuk membolos dan merokok di roof top sekolah. Ya walaupun Aksa tidak merokok, ia tetap harus ikut. Karena ada sang kekasih di sana. Lagi pula ia juga sedang malas masuk kelas sekarang.


...💍...


Pukul 14:00


Pandangan Aksa yang sebelumnya sedang menonton tv di ruang tengah, teralihkan ketika ia melihat Keyla menuruni anak tangga dengan santai seraya menggendong tas kecilnya. Mau kemana lagi perempuan itu, pikir Aksa.

__ADS_1


"Mau kemana lo? Kerja?" tanya Aksa ketika Keyla sudah di bawah.


"Iya, gue pergi dulu," Keyla berjalan mendekati Aksa, berniat untuk mencium punggung tangan sang suami.


Seakan sudah biasa, Aksa reflek mengulurkan tangan kanannya ke arah Keyla.


"Bukannya lo libur ya hari ini?" tanya Aksa lagi seraya menarik tangannya yang sudah Keyla cium.


Keyla diam sejenak. Ini hanya perasaannya atau Aksa memang dari awal seperti ini. Sepertinya beberapa hari ini Aksa lebih sering berbicara padanya dan penasaran dengan apa yang akan Keyla lakukan. Apa Aksa mulai ada perasaan pada Keyla? Ah tidak mungkin, dia kan bucin habis pada Aurora.


"Kalau kerja yang satunya hari ini memang libur. Nah hari ini gue mau kerja yang lain," jelas Keyla.


"Hah? Sebenarnya kerjaan lo apasih? Banyak bener," tanya Aksa sedikit kaget, sebenarnya pekerjaan apa yang istrinya ini kerjakan.


Keyla mengangkat bahunya, "Apa aja yang penting halal, yang penting gue bisa bantu Aba buat berobat."


"Ya udah gue berangkat dulu. Assalamualaikum."


"Walaikumsalam."


Aksa di buat takjub dengan Keyla, entahlah menurut Aksa sekarang Keyla benar-benar menakjubkan. Eh apa yang barusan Aksa pikirkan? Tidak-tidak ia tidak boleh terbawa perasaan pada gadis itu.


Oh iya Aksa hampir lupa mengatakan sesuatu pada Keyla.


Keyla yang baru berjalan beberapa langkah, menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Aksa.


"Kenapa?"


"Pulangnya jangan kesorean. Mama nyuruh kita nginap di rumah mama malam ini, karena besok hari minggu," jelas Aksa.


Keyla mengangguk, "Oke."


...💍...


Pukul 16:24


"Udah siap?" Aksa melirik Keyla yang baru saja keluar rumah seraya menggendong tas ransel berukuran sedang di punggungnya.


"Udah," Keyla mengambil helm yang Aksa berikan padanya.


Hari ini Aksa memilih pergi menggunakan motor dari pada menggunakan mobilnya. Mungkin Aksa ingin menikmati angin sore dengan bebas.

__ADS_1


Setelah sudah siap perlahan motor Aksa meninggalkan pekarangan rumah mereka. Jujur saja Keyla masih gugup untuk bertemu dengan mertuanya itu, walaupun ia sudah bertemu beberapa kali. Tetap saja rasanya Keyla masih belum terbiasa. Ya mau bagaimana lagi Keyla harus membiasakan diri.


Baru separuh perjalanan tiba-tiba langit berubah menjadi mendung. Sepertinya akan hujan.


"Pegangan gue mau ngebut!" ucap Aksa dari balik helm full face nya.


Keyla mengeratkan pegangannya pada jaket Aksa, ia tidak berani untuk memeluk Aksa lagi. Ia takut akan ada teman-temannya yang memfoto mereka berdua lagi, dan menjadikannya bahan untuk membully Keyla.


Namun seberapa laju pun Aksa membawa motornya, tetap tak kalah cepat dengan awan yang sekarang telah mengeluarkan tangisannya. Karena hujan mulai turun deras, terpaksa Aksa dan Keyla harus menepikan motornya dan berteduh.


"Neduh di sini dulu kita," seru Aksa.


"Iya."


"Baju lo basah gak?" tanya Aksa.


Keyla menggeleng, "Gak."


Bukannya reda, hujannya turun semakin deras bahkan suara guntur dan petir mulai terdengar.


Keyla memeluk tubuhnya sendiri, angin yang bertiup kencang cukup membuat tubuhnya kedinginan. Aksa melirik Keyla yang tubuhnya mulai bergetar karena kedinginan, di tambah percikan-percikan kecil air hujan yang mengenai kakinya membuatnya semakin dingin.


Aksa menatap jaket jeans berwarna hitam yang ia gunakan. Apa Aksa berikan jaketnya kepada Keyla saja ya. Aksa hendak membuka jaketnya namun tiba-tiba ia urungkan. Jika Aksa memberikan jaketnya kepada Keyla, nanti Keyla berpikir kalau Aksa suka lagi sama dia. Tidak tidak, biarkan saja. Untuk apa Aksa perduli. Lagian salah Keyla sendiri, kenapa tidak memakai jaket.


Di saat Aksa di lema antara ingin meminjamkan jaketnya kepada Keyla atau tidak. Tiba-tiba saja ada petir yang menyambar tak jauh dari tempat mereka, yang membuat mereka terperanjat kaget.


"Astaghfirullah!" pekik Keyla seraya menutup telinga dan matanya.


Belum sempat membuka matanya, tiba-tiba Keyla merasa ada tangan yang menariknya dan membawanya ketempat yang lebih hangat. Perlahan Keyla membuka matanya, ia mengangkat kepalanya menatap Aksa dengan bingung dan kaget. Ia sudah berada di dalam jaket Aksa. Tangan kanan laki-laki itu melingkar di punggung Keyla. Situasi macam apa ini, kenapa jantung Keyla berdetak lebih cepat. Posisi mereka sekarang hampir seperti orang yang sedang berpelukan.


Dada bidang Aksa terlihat jelas di depan mata Keyla, wangi parfum Aksa menyeruak menembus hidung Keyla. Ah tidak perasaan aneh apa ini.


Aksa menundukkan kepalanya menatap Keyla, yang juga sedang menatapnya.


"Gak usah ge'er dan mikir yang macem-macem, gue cuma gak mau mama marahin gue kalau lo kenapa-napa. Dan juga kalau gue lepasin jaket, gue terus di kasih ke lo. Ntar gue pakai apa? Gue juga dingin. Jadi biar gini aja," jelas Aksa.


Keyla mengedip-ngedipkan matanya menatap Aksa sedikit kesal. Hampir saja ia terbawa perasaan oleh sikap Aksa barusan. Tapi setelah mendengarkan perkataan laki-laki itu yang sangat jelas mengatakan bahwa Keyla jangan ke geeran. Dalam seketika hilang hal-hal yang tadi sempat Keyla pikirkan. Yah Keyla memang tidak seharusnya berharap lebih pada Aksa.


"Lepasin gue gak perlu jaket lo dan gue juga gak ke geeran!" Keyla berusaha melepaskan dirinya dari Aksa namun tangan Aksa menahannya.


"Udah diem biar gini aja, gue tau lo dingin," tahan Aksa.

__ADS_1


"Lepasin! Gue udah gak dingin, udah panas banget sekarang," Keyla terus berontak berusaha melepaskan dirinya dari Aksa.


"Keyla!" ucap Aksa dengan nada sedikit tinggi, "Bisa patuh gak kalau di bilangin suami? lanjutnya.


__ADS_2