Aksa ( And his wife )

Aksa ( And his wife )
Aksa is crazy


__ADS_3

Keyla baru pulang dari pasar bersama Ayudia dan bik Sari. Keyla senang bisa berbelanja ke pasar bersama mertuanya, ia seperti merasa bersama umi nya. Tapi sekarang mertuanya itu sedang mengome-ngomel sendiri. Sedangkan Keyla dan bik Sari hanya diam mendengarkan omelan Ayudia seraya mengekorinya hingga ke dapur.


"Ada apa ma? Kok pulang-pulang udah ngomel aja?" tanya Farzan yang baru datang dari ruang tamu, karena mendengar suara omelan sang istri.


Ayudia meletakkan barang belanjaannya, sebelum akhirnya ia duduk di kursi meja makan. "Astaghfirullah, kesel banget mama," kesalnya.


"Iya kesel kenapa?" Farzan ikut duduk di depan istrinya.


"Pokoknya kesel banget," Ayudia menuangkan air ke dalam gelas dan meneguknya hingga habis. Mengomel-ngomel sedari tadi membuat dahaganya merasa haus.


Merasa tidak mendapatkan jawaban dari sang istri, Farzan beralih melirik Keyla yang duduk di samping Ayudia, "Ada apa sih key sebenarnya?"


"Gini pa. Mama tuh kesel gara-gara tadi, waktu kita naik angkot. Ada om-om yang tiba-tiba aja nunjukin alat kelaminnya di depan kita pa. Terus dia senyum-senyum serem gitu. Karena panik kita langsung berhentiin angkotnya dan turun," jelas Keyla seraya bergidik ngeri, "Ngingat nya aja Keyla udah merinding."


Farzan cukup kaget mendengar penjelasan Keyla. Menunjukkan alat kelaminnya? Di tempat umum? Astaghfirullah. Bisa-bisanya ada manusia tidak tahu malu seperti itu. Farzan juga ikut kesal di buatnya. Untung saja menantu dan istrinya serta bik Sari, tidak kenapa-kenapa.


"Makanya papa tadi nawarin, buat nganterin kalian ke pasar. Biar tidak terjadi hal-hal seperti ini. Tapi mama tetap kekeuh, mau pergi naik angkot," ucap Farzan.


"Ya mama kan pengen gitu, sekali-kali pergi ke pasar pakai angkot sama Keyla. Mana mama tau, bakalan ada orang mesum kayak gitu," balas Ayudia.


"Ya udah, pokoknya lain kali kalau mau pergi ke pasar. Bilang papa atau gak minta antar sama pak Adi." Adi adalah supir pribadi keluarga Aksa.


Ayudia menghela nafasnya pelan, "Iya pa."


"Ada apaan sih, ribut-ribut?" tanya Aksa yang baru saja datang ke dapur.


Mereka pun menceritakan semua yang terjadi pada Aksa. Aksa pun tak kalah kaget dari ayahnya.


"WHAT? NUNJUKIN ITU? DI TEMPAT UMUM? YANG BENER AJA! MINTA DI TEBAS TUH ORANG!"


...💍...


Sekitar pukul setengah delapan malam. Aksa dan Keyla berpamitan pada orang tua mereka untuk pulang. Karena besok hari senin, mereka sudah harus masuk sekolah.

__ADS_1


Saat di perjalanan pulang. Tiba-tiba saja Aksa menepikan motornya, di tempat yang lumayan sepi. Jarak antara rumah satu dan yang lainnya lumayan jauh.


Ternyata ponsel Aksa berdering sedari tadi. Ia merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya. Di layar ponselnya tertera nama sayang di tambah stiker love, sebagai penelepon. Yang berarti itu adalah Aurora. Aksa melepaskan helm full face nya dan segera mengangkat panggilan telepon tersebut.


"Halo Assalamualaikum, sayang."


Tak ada sahutan dari sang penelepon. Namun detik berikutnya terdengar suara isakan tangis dari sebrang telepon, yang membuat alis tebal Aksa mengernyit dengan ekspresi wajah serius.


"Sayang, Aurora. Kamu kenapa?" tanya Aksa lagi. Perasaannya mulai khawatir karena tidak ada jawaban dari sang pacar.


Keyla yang sedari tadi diam, di buat sedikit penasaran dengan pembicaraan Aksa dan Aurora.


"Ra, kamu kenapa hey?" ucap Aksa lembut, walaupun sebenarnya dirinya sangat panik, "Kamu kenapa? Tenangin diri kamu dulu, baru cerita sama aku."


Sepertinya sudah ada jawaban dari sang penelepon, melihat dari gelagat Aksa yang hanya diam dengan ponsel menempel di telinga kanannya.


Aksa menghela nafasnya pelan, "Ya udah kamu di mana sekarang? Biar aku jemput."


"Iya, kamu tunggu di sana ya. Jangan nangis lagi. Matiin teleponnya. Iya aku ngebut ke sana. Assalamualaikum." Setelah sambungan telepon berakhir, Aksa memasukan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.


Aksa yang tengah khawatir pun dengan panik, menyuruh Keyla untuk turun dari motor.


"Turun!" titah Aksa.


"Hah? Turun? Ngapain?" bingung Keyla.


"Turun aja, buruan!"


Dengan wajah penuh tanya, Keyla pun menuruti perkataan Aksa dan turun dari motor. Sedangkan Aksa kembali memasang helm full face nya kemudian melirik Keyla.


"Helm lo siniin!"


Seketika kening Keyla mengernyit heran, "Untuk apa? Lo mau ngapain sih? Mau ninggalin gue di sini?"

__ADS_1


Skakmat, pertanyaan sangat benar. Aksa memang berniat untuk meninggalkan Keyla di tempat itu sendirian.


"Lo pulang sendiri, gue mau jemput Aurora," ucap Aksa santai.


Mata Keyla melebar mendengar penuturan Aksa.


"Hah? Lo serius Sa, mau ninggalin gue sendiri di sini demi Aurora? Gak bisa anterin gue dulu ya, baru jemput Aurora?"


"Gak bisa, gue khawatir sama Aurora. Lo bisa pulang sendiri, gak usah manja," tegas Aksa yang membuat Keyla lagi-lagi menatapnya tak percaya.


"Lo waras kan Sa? Mau ninggalin gue di jalan sepi begini, malam-malam pula?"


"Kenapa? Lo takut? Bukannya orang alim itu pemberani ya? Kalau ada makhluk halus, tinggi bacain ayat-ayat suci. Nah kalau ada orang jahat, tinggal di lawan pakai jurus taekwondo lo itu," Aksa menunjuk wajah Keyla dengan telunjuknya.


"Gampang kan? Gak usah di bikin ribet. Terus lo bisa pesan ojol, otak di pakai dong katanya pinter. Dah ah gue mau pergi dulu, Aurora udah nungguin gue," lanjutnya yang membuat Keyla tidak bisa berkata-kata lagi karena ucapan tajam Aksa.


"Siniin helmnya!" dengan mandiri Aksa melepaskan helm yang masih terpasang di kepala Keyla. Gadis hanya diam, seraya menatap Aksa tak percaya.


"Tapi hp gue gak ad..."


"Assalamualaikum," potong Aksa dan langsung menjalankan motornya, meninggalkan Keyla yang bahkan belum sempat menyelesaikan ucapannya.


"Walaikumsalam. Tapi hp gue gak ada kuotanya Sa. Gimana mau pesan ojol," lirih Keyla, matanya masih menatap Aksa yang mulai menjauh dengan tatapan nanar.


Bisa-bisanya Aksa tega meninggalkan Keyla sendirian di sini. Jika Aksa tidak menganggap Keyla sebagai istrinya. Setidaknya bisa Aksa menganggap Keyla sebagai seorang perempuan yang tidak seharusnya ia tinggal di tempat berbahaya seperti ini.


Keyla menghela nafasnya pasrah, bahkan sekarang untuk menangis pun ia sudah tidak bisa. Karena sudah terlalu sering Aksa membuatnya menangis, dengan perlakuan dan kata-kata tajam yang Aksa berikan kepada Keyla.


Keyla mengedarkan pandangannya ke sekeliling, hanya ada ke gelapan di sini. Hanya lampu rumah warga yang redup, yang menerangi pandangan Keyla. Bahkan sekarang rembulan pun tampak enggan menunjukkan wujudnya dan menerangi Keyla.


Keyla mengelus dadanya sambil beristighfar. "Astaghfirullah. Sabar Keyla, orang sabar di sayang Allah.


Setelah itu Keyla mulai melangkahkan kakinya, menelusuri jalanan yang sepi itu. Dengan membaca bismillah, ia berlindung kepada Allah SWT. agar terlindungi dari hal-hal yang tidak diinginkan.

__ADS_1


__ADS_2