
Keyla menangis semalaman, air matanya tidak mau berhenti turun. Hatinya terasa sangat sakit. Kenapa Aksa bisa sejahat ini, memperlakukan Keyla seperti orang bodoh. Padahal bukan ini yang Keyla harapkan. Kenapa mereka tega menyakiti Keyla hanya demi permainan bodoh yang mereka mainkan.
Padahal pernikahan ini adalah sesuatu yang sakral. Keyla selalu meniatkan dalam hatinya, menikah sekali seumur hidupnya. Jika memang Aksa jodoh Keyla, apakah Keyla harus berusaha mempertahankan pernikahan ini atau mengikuti alur saja sampai Aksa menceraikannya nanti.
Banyak yang harus Keyla pertimbangan jika ingin bercerai sekarang. Ia juga harus memikirkan orang tua mereka, bagaimana perasaan mereka jika mendengar anak yang baru saja menikah tiba-tiba ingin bercerai. Baiklah jika itu yang Aksa inginkan, Keyla akan mengikuti permainan mereka. Jika mereka memang berjodoh pasti Allah akan tetap mempersatukan mereka bukan.
Keyla menghapus air matanya, tidak baik terlalu berlarut-larut dalam kesedihan. Tak terasa adzan subuh sudah berkumandang. Lebih baik Keyla segera sholat dan berkeluh-kesah kepada Allah agar perasaan lebih tenang.
Pukul delapan pagi, setelah mandi Aksa baru keluar dari dalam kamarnya. Ia melirik sekilas kamar Keyla, kamar gadis itu masih tertutup rapat. Sepertinya gadis itu masih tidur pikir Aksa, atau mungkin dia tidak ingin keluar karena masih marah dengan Aksa.
Sejujurnya Aksa ada sedikit rasa bersalah pada Keyla. Tapi ini juga bukan keinginan Aksa. Lagi pula kalau dari awal Keyla mau menerima Aksa jadi pacarnya pasti tidak akan sampai sejauh ini. Jadi yang bikin repot itu Keyla, sosoan tidak ingin pacaran sebelum menikah. Sok alim pikir Aksa.
Saat menuruni anak tangga, penciuman Aksa di manjakan oleh bau masakan yang membuat perutnya semakin lapar. Sumbernya berasal dari arah dapur. Aksa mengernyit heran, penasaran siapa yang telah memasak makanan seharum ini. Kalau ART tidak mungkin, karena Aksa sudah menyuruh mereka kembali bekerja di rumah orang tua Aksa kemarin. Jadi rumah Aksa tidak memiliki asisten rumah tangga.
Saat Aksa mendekati dapur, ia mendapati Keyla sedang menyiapkan makanan di meja makan. Aksa pikir Keyla sangat marah dan tidak mau keluar kamar, ternyata sekarang dia sedang memasak dengan santai. Aksa memperhatikan Keyla tanpa di sadari gadis itu. Ia menelan ludahnya ketika melihat makanan yang di masak Keyla. Semuanya tampak lezat.
"Eh udah bangun? Yuk makan!" ucap Keyla ketika menyadari keberadaan Aksa. Gadis itu memaksakan senyumnya dengan mata yang masih sembab karena menangis semalaman.
Keyla menarik salah satu kursi dan menepuk-nepuk nya pelan.
"Sini duduk!"
Aksa memasang tampang bingung, karena perubahan sikap Keyla. Semalam jelas-jelas Keyla menampar Aksa dan berkata kalau ia membenci Aksa. Sekarang kenapa Keyla bersikap biasa-biasa saja. Bahkan sekarang dia bersikap layaknya seorang istri, Aksa semakin bingung di karenakan nya.
Aksa duduk di kursi masih dengan tatapan bingung. Ia terus memperhatikan gerak-gerik Keyla yang juga ikut duduk di kursi yang ada di depan Aksa.
"Sebentar gue ambilin nasi nya," ucap Keyla, ia mengambil piring dan memasukkan nasi kedalamnya masih dengan senyuman di bibirnya.
"Lo dapat bahan masakannya dari mana? Setau gue kulkasnya belum di isi," tanya Aksa.
Keyla menghentikan kegiatannya dan menatap Aksa sejenak kemudian kembali menyendok nasi ke dalam piring.
"Gue beli sama mamang sayur yang lewat tadi pagi," jawab Keyla, "Lauknya mau apa? Tempe atau ayam?"
__ADS_1
"Lo kenapa tiba-tiba begini?"
"Begini gimana?"
"Bersikap seolah-olah lo istri gue?"
Keyla meletakkan sepiring nasi di depan Aksa, ia menatap mata Aksa dalam. Menatap wajah yang dulunya tidak berani ia pandang karena harus menjaga pandangan. Sekarang ia bisa memandangnya dengan bebas. Tapi sayang orang yang wajahnya bisa Keyla pandang dengan bebas ini tidak mengharapkan Keyla. Bahkan tidak menganggap Keyla sebagai istrinya.
"Karena gue memang istri lo dan lo suami gue."
"Gak perlu."
"Hah?"
"Lo gak perlu bersikap seolah-olah lo adalah istri gue dan gue gak perlu bersikap seolah-olah gue suami lo. Gue tau lo benci sama, dan gue juga benci sama lo. Jadi bersikap seperti biasa aja. Gue gak nyaman," jelas Aksa.
Karena Keyla sudah tahu rencana Aksa, jadi Aksa tidak perlu berpura-pura mencintai Keyla. Jadi jika Keyla bersikap seperti ini, Aksa merasa tidak nyaman dan tertekan karena mereka sama-sama saling membenci. Lebih baik bersikap seperti biasa saja, itu lebih membuat Aksa tenang.
Keyla masih diam memandang Aksa, matanya sudah berkaca-kaca. Kata-kata Aksa bagaikan sebuah pisau yang menusuk dadanya. Bukannya merasa bersalah dan meminta maaf pada Keyla, Aksa malah melontar kata-kata yang menyakitkan seperti itu. Namun cepat-cepat Keyla mengubah ekspresi wajahnya dan kembali tersenyum.
Aksa yang baru saja berniat menyuapkan sesendok makanan ke mulutnya langsung mengangkat kepalanya menatap Keyla.
"Kalau main itu harus totalitas dong," ucap Keyla.
Tatapan apa itu kenapa Aksa jadi merinding.
...💍...
"Kok bisa ketahuan sih?" tanya Aurora kaget sambil menghembuskan asap rokok dari mulutnya.
"Iya masak belum juga sehari lo nikah udah ketahuan aja," tambah Keysha.
"Gue lupa ngunci pintu waktu vidcall lan sama kalian. Jadi kedengaran dia lah, ketahuan deh jadinya," Aksa menyadarkan tubuhnya di sandaran sofa, kepalanya pening sekali rasanya.
__ADS_1
"Terus gimana?" tanya Marvin penasaran.
"Kayak yang gue bilang kemarin, dia minta cerai," balas Aksa lemah.
"Terus lo iyain?" tanya Arkana.
"Ya gak lah, yakali gue iyain. Yang ada gue di putusin sama Aurora ntar. Santai aja gue udah buat dia tenang dan gak minta cerai lagi. Jadi misi gue gak gagal."
"Tututu anak pintar," Aurora menepuk-nepuk kepala Aksa pelan, "Makin sayang deh sama Aksa."
Aksa tersenyum senang sambil memeluk Aurora erat.
"Iya dong pacar siapa dulu."
"Pacar aku lah. Sini cium," Aurora sudah bersiap mencium Aksa namun bibirnya di tahan oleh Aksa dengan tangannya.
"Gak boleh ciuman sebelum nikah sayang," ucap Aksa yang membuat teman-temannya bergidik geli mendengarnya.
"Dih najis sok alim lu," ucap Marvin.
"Dunia rasa milik berdua yang bun," tambah Arkana.
Sedangkan Reihan hanya diam mendengarkan percakapan mereka. Yang satu ini memang lebih suka diam.
Memang benar adanya, Aksa tidak pernah berciuman dengan Aurora. Ia bilang, akan melakukan hal itu jika sudah menikah nanti.
"Memang kamu kira aku mau cium apa?" tanya Aurora.
Aksa menunjuk bibirnya polos, "Bibir kan?"
"Otak kamu yang mesum. Aku mau cium kening tau."
"Oh kening aku kira bibir hehe," Aksa mendekatkan keningnya ke wajah Aurora, "Ya udah nih cium."
__ADS_1
"Gak jadi udah ngambek akunya."
"Kok gituuuu~."