
Aku sangat terkejut mendengar kata-kata Tante Lidya. "Jadi Tante juga curiga padaku?"
"Hahahaha. Tentu tidak sayang, bukankah kau tadi mengatakan jika aku harus berhati-hati pada semua orang jadi kutanyakan apakah aku perlu curiga padamu?"
Aku hanya tersenyum mendengar kata-kata Tante Lidya. Saat kami masih terlibat obrolan, Om Fadil pun pulang. "Selamat sore sayang." katanya sambil mengecup kening Tente Lidya.
"Selamat sore Pa, bagaimana tadi dengan Tuan Tanaka?"
"Agak alot Ma, tapi berkat William dia mau menyetujui kesepakatan dengan kita."
"William memang selalu dapat diandalkan Pa."
"Iya Ma, aku ke kamar dulu ya Ma."
Tante Lidya mengangguk, saat itu juga dia memberikan kode padaku untuk mengikuti Om Fadil ke dalam kamar.
Saat aku masuk ke dalam kamar, Om Fadil tampak sedang membuka kemejanya, aku pun lalu langsung menghampirinya.
"Om Fadil, perlu Kanaya bantu?"
"Tidak usah."
"Jangan seperti itu Om, bagaimanapun juga Kanaya kan istri Om Fadil."
Aku lalu mendekati dan membuka seluruh bajunya, memang dia tampak begitu gugup dan gemetar. 'Sial' katanya dengan begitu lirih.
"Kenapa Om?"
"Gapapa."
"Tidurlah Om, nanti Kanaya pijat."
Om Fadil yang masih ragu-ragu lalu kutarik tangannya. Dia lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, dan aku mulai memijat bagian tubuhnya. Tampak keringat dingin mulai bercucuran.
"Om... Memangnya Om tahan hidup sama Tante Lidya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu?"
"Apa maksudmu Kanaya? Bukankah kamu memiliki hubungan yang baik dengan istriku?"
"Bulls*it, itu cuma di depan saja Om." lalu aku mendekatkan wajahku pada telinga Om Fadil. "Aku cuma ingin hartanya saja." kataku sambil berbisik.
Om Fadil lalu tersenyum kecut."Kamu memang licik Kanaya, kamu diam-diam memperalat istriku juga ya?"
Hatiku rasanya ingin berteriak saat melihat Om Fadil mulai menunjukkan sifat aslinya. 'Keluarkan semua sifat aslimu Om.' batinku dalam hati.
"Tentu Om. siapa yang tak ingin mendapatkan harta kekayaan sebanyak ini?"
Om Fadil membalikkan tubuhnya, lalu mendekap tubuhku. "Sayangnya aku tak bisa hidup seperti laki-laki normal pada umumnya, jika aku masih normal takkan kusia-siakan wanita secantik dirimu Kanaya."
__ADS_1
Aku lalu menjauhkan tubuhnya pada tubuhku. "Sabar Om, kita lakukan pelan-pelan. Apa selama ini Om tidak pernah ingin menghabisi Tante Lidya?"
"Menghabisi?"
"Ya."
"Aku belum pernah melakukannya Kanaya, memang sempat terlintas dalam benakku namun aku tak pernah melakukan apapun untuk menghabisi istriku sendiri."
'Sial, jadi siapa pelakunya kalau bukan tua bangka ini?' batinku dalam hati.
"Om, apakah memang tujuan Om menikah dengan Tante Lidya dulu untuk menguasai hartanya?"
"Tentu Tidak Kanaya, dulu sama sekali tidak terpikir olehku untuk menyakitinya. Saat masih muda, Lidya adalah wanita yang begitu cantik, meskipun dia adalah seorang janda. Saat itu aku begitu menyayanginya. Namun seiring berjalannya waktu, dia begitu membosankan dan sakit-sakitan, sehingga aku tertarik untuk berselingkuh dengan Lia yang masih tampak cantik dan segar."
Aku sungguh muak mendengar cerita Om Fadil, melihatku yang terdiam, dia lalu menghentikan ceritanya.
"Kenapa Kanaya? Kanapa kamu jadi diam?"
"Ga, Om. Kanaya cuma berfikir bagaimana caranya agar kita bisa secepatnya menguasai harta Tante Lidya seutuhnya."
"Sangat sulit Kanaya."
"Kenapa sulit Om?"
"Ada William dan Devin."
"Bukan, bukan seperti itu. Devin memang ingin menguasai harta Lidya seutuhnya, namun William."
"Ada apa dengan William Om?"
"Meskipun anak tiri, William sangat menyayangi Lidya, hal ini yang begitu menyulitkanku untuk memilih karena menyakiti Lidya sama saja dengan menyakiti William, anak kandungku."
"Jadi selama ini Om pernah ingin berbuat jahat pada Tante Lidya?"
"Iya, tapi belum pernah kulakukan, saat itu aku berselingkuh dengan Lia, sahabatnya. Devin begitu marah padaku, hingga suatu hari aku diculik oleh anak buah Devin, dan dia menyuntikkan cairan k**iri ke dalam alat ke*aminku. Itulah sebabnya aku tak bisa menyentuhmu Kanaya, padahal aku sangat ingin menikmati tu*uhmu."
'Dasar laki-laki b*engsek.' gumamku dalam hati. Rasanya aku ingin tertawa mendengar kata-katanya namun kutahan agar tak menimbulkan rasa curiga. Aku lalu mendekat kembali padanya, lalu bersandar pada bahunya.
"Tenang Mas Fadil, biar William dan Devin, Kanaya yang mengurusnya. Tapi Kanaya minta sesuatu pada Om."
"Minta apa Kanaya?"
"Pertemukan Kanaya dengan Tante Lia."
"Untuk apa?"
"Om, apa Om lupa? Apa pekerjaan Kanaya dulu?"
__ADS_1
"Ya Om tahu."
"Kanaya hanya ingin berbisnis dengan Tante Lia Om, Kanaya punya banyak stok wanita cantik yang bisa kita jual bersama."
Mata Om Fadil lalu berbinar. "Tentu Kanaya, aku akan mempertemukan kamu dengan Lia."
'Dasar manusia-manusia br*ngsek, akan kuhentikan bisnis kalian ini, manusia tak bermoral!' batinku dalam hati.
"Ya sudah Om mandi saja dulu, besok kita mulai rencana kita satu-satu. Setelah semua beres Kanaya mau mengajak Om ke suatu tempat untuk menyembuhkan penyakit Om."
"Jadi aku bisa sembuh Kanaya?"
"Tentu." jawabku sambil mengangguk.
"Bagus jika seperti itu, aku bahkan sudah tidak sabar untuk bercinta denganmu Kanaya." kata Om Fadil sambil mengedipkan sebelah matanya lalu masuk ke kamar mandi.
'Dasar, laki-laki br*ngsek, buaya darat.' batinku dalam hati.
Aku lalu mengambil ponselku lalu mengirimkan pesan pada William.
William:
Willi, bukan ayahmu yang meracuni Tante Lidya, dia memang laki-laki yang br*ngsek, tapi bukan dia pelakunya. Aku harus menyelidiki Devin dan Tante Lia, besok aku akan bertemu Tante Lia. Tolong suruh anak buahmu untuk berjaga selama aku menemui Tante Lia.
Tak berapa lama William pun membalas pesanku.
William:
Baik Kanaya, akan kusuruh anak buahku untuk selalu menjagamu saat kau pergi. Hati-hati, jaga dirimu sayang.
Aku hanya membaca pesannya tanpa membalasnya karena Om Fadil sudah keluar dari kamar mandi. Dia lalu mendekatkan tubuhnya padaku lalu memelukku. "Kanaya, aku sudah tidak sabar bersenang-senang denganmu."
"Sabar Om, kita harus menyelesaikan semua misi kita lebih dulu agar tidak ada yang mengganggu."
"Kanaya, tolong bantu Om juga untuk melenyapkan Devin. Om begitu membencinya, sejak masih kecil dia selalu membantahku padahal aku selalu berusaha menyayanginya seperti anakku sendiri. Dendamku padanya semakin memuncak saat dia membuat keadaanku seperti ini, tapi aku tak berdaya karena aku harus tetap bersikap baik di hadapan Lidya."
"Tenang saja Om, kita pasti akan melakukannya. Tapi bagaimana dengan nasib William? Apa lita harus menghabisinya juga?"
"Ohhh tentu tidak, aku sangat menyayangi William. Aku juga membutuhkan dia untuk menghandle semua urusan perusahaan karena William sangat jenius dalam berbisnis."
"Lalu apa yang harus kita lakukan agar William tidak ikut campur dengan urusan kita?"
"Menikahkannya!" kata Om Fadil sambil menyeringai.
"Menikahkan William?"
"Ya, Kanaya."
__ADS_1
Jantungku seakan berhenti berdetak saat mendengar kata-kata Om Fadil.