
Casandra duduk di bangku taman depan rumahnya sambil menatap seorang anak laki-laki berumur tiga tahun yang sedang asyik bermain di taman. Tiba-tiba seorang laki-laki mendekap tubuhnya dari belakang.
"Aku rindu kamu sayang."
"William, kamu sudah pulang?"
"Ya, aku mempercepat perjalanan bisnisku karena aku sudah begitu merindukanmu dan Shane."
"Hahahaha bilang saja tak ada yang mengurusmu."
"Ya itu salah satunya."
"Papiiiiii." kata anak kecil itu sambil melambaikan tangan ketika menyadari kedatangan William.
"Haiiii Shane, are you oke?"
"Sure." jawab Shane sambil terus bermain.
Seorang wanita muda berhijab pun mendekat pada mereka. "Mba Casandra, Mas William mari diminum dulu tehnya."
"Terimakasih Dinda. Devin mana?"
__ADS_1
"Oh dia sedang mengikuti pengajian di luar."
"Luar biasa dia benar-benar sudah berubah." kata William sambil sedikit meledek. Casandra lalu mencubit tangan William.
"Kau tidak boleh seperti itu Willi, bukankah kehidupan Devin sekarang jauh lebih baik?"
"Tentu sayang, kehidupan Devin sekarang memang jauh lebih baik, aku hanya tidak menyangka seorang Devin yang dulu begitu urakan.. ups.. Maaf jika aku salah bicara." kata William saat melihat Casandra memelototkan matanya.
"Maaf Dinda."
"Tidak apa-apa Mas, memang kenyataannya seperti itu, saat pertama kali Devin mengunjungiku di panti penampilannya pun masih sangat berantakan." jawab Dinda sambil sedikit tersenyum.
Casandra pun akhirnya ikut tertawa. William kemudian mulai berjalan mendekati Shane untuk mengajaknya bermain, Casandra dan Dinda pun ikut tersenyum melihat tingkah lucu Shane. Casandra lalu menggenggam tangan Dinda.
"Terimakasih banyak Dinda, kau sudah membawa begitu banyak perubahan pada diri Devin, apalagi setelah kalian menikah, dia kini lebih sibuk dengan urusan keagamaan."
"Alhamdulillah Mba, Dinda cuma bisa berusaha dan berdoa agar membuat Devin menjadi lebih baik."
"Ya Dinda, sejak Mami meninggal Devin memang berubah menjadi lebih baik dan sudah meninggalkan dunia malamnya. Dulu bahkan dia pernah begitu takut aku akan merebut semua harta milik Mami. Hahahaha."
"Benarkah Mba?"
__ADS_1
"Ya, tapi itu dulu setelah Mami meninggal dia sudah berubah jauh lebih dewasa, apalagi setelah bertemu denganmu. Terimakasih banyak sudah hadir dalam kehidupan Devin Dinda." kata Casandra sambil menggenggam tangan Dinda.
"Iya Mba."
"Dan aku juga tak menyangka pertemuan secara tidak sengaja saat Devin memata-matai Mba Reni telah mempertemukan dia dengan orang yang tepat. Hahahaha."
"Mba Casandra bisa saja." jawab Dinda sambil tersipu malu.
Casandra lalu melihat William dan Shane yang tengah asyik berlarian di taman, segurat kesedihan kembali menghampirinya. 'Mami hidupku kami kini begitu sempurna, namun kesempurnaan ini akan jauh lebih lengkap jika kau ada bersama kami.' gumam Casandra sambil meneteskan sebutir air mata yang menetes di pipinya.
***
Inilah akhir kisah perjalanan dalam hidupku, akulah Casandra atau lebih dikenal dengan nama Kanaya. Seorang wanita tuna wisma yang sudah mengalami berbagai kerasnya kehidupan dan kemalangan dalam hidup menutup akhir perjalanan hidup yang penuh penderitaan dengan kebahagiaan.
*Catatan Penulis*
Terimakasih buat para readers yang sudah membaca karya ini dari awal sampai akhir, tiada hal yang lebih berharga dan membuat penulis bersemangat selain dukungan dari para pembaca sekalian.
Silahkan mampir di karya saya yang lain yang berjudul SALAH KAMAR yang tak kalah seru.
Terimakasih
__ADS_1