
Sebuah mobil mewah berwarna merah berhenti di depan rumah tua yang terletak di dalam hutan di pinggiran kota. Lia telah turun sedangkan Kanaya tampak sibuk mengetik sesuatu di ponselnya. "Kanaya, ayo turun."
"Iya Tante, sebentar." kata Kanaya lalu menghapus chat yang telah selesai dikirimnya dan memasukkan ponselnya ke dalam tas. Setelah itu, dia pun keluar dari dalam mobil. "Tempat yang bagus Tante." kata Kanaya.
"Tentu, aku selalu merencanakan semua dengan begitu baik Kanaya. Ayo kita masuk."
Mereka lalu masuk ke dalam rumah tersebut, tampak dua orang anak kecil dan beberapa anak remaja sedang duduk di atas tempat tidur dan tipis sedang becanda gurau. Hati Kanaya begitu teriris. 'Benar-benar biadab.' batin Kanaya.
"Kapan Tante akan menjual mereka semua?"
"Dua hari lagi Kanaya, mereka akan kukirim lewat pelabuhan seperti yang biasa kulakukan. Kanaya, setelah ini Tante tidak memiliki stok lagi yang bisa tante jual, kamu bisa bantu tante kan Kanaya?"
"Tentu Tante, setelah semua ini beres, kita akan mulai mencari anak-anak jalanan yang bisa kita jual lagi." jawab Kanaya sambil tersenyum.
"Ayo Kanaya, kita pergi dari sini, rumah ini begitu kotor dan lembab, tidak baik untuk kesehatan kita."
"Iya, Tante." kata Kanaya sambil melirik beberapa anak yang melihat kedatangannya bersama Lia, hati Kanaya begitu sakit melihat mereka.
Kanaya dan Lia lalu meninggalkan rumah itu, kemudian pergi ke sebuah pemukiman padat di pinggiran kota, mereka lalu masuk ke sebuah gang yang di sepanjang gang tersebut banyak terdapat wanita cantik duduk dengan pakaian yang terbuka. Mereka masuk ke sebuah rumah mewah yang ada di ujung gang, rumah tersebut adalah milik Mami Cindy.
Seorang wanita bertubuh tambun dengan make up yang begitu mencolok tampak sedang duduk di atas sofa, sambil memulaskan berbagai macam kutek warna warni di jarinya.
"Selamat siang Cindy." kata Lia.
Mami Cindy yang melihat kedatangan Lia dan Kanaya pun sedikit terkejut. "Ooooh Nyonya Lia, silahkan masuk."
"Terimakasih, ayo Kanaya."
"Apa yang tadi kau katakan Nyonya? dia yang bernama Kanaya?"
"Ya, dialah Kanaya."
"Oh, jadi kamu anak buah Mirna yang sudah lari dariku?" kata Mami Cindy dengan begitu sengit.
"Hati-hati Cindy, kau tak boleh sembarang bicara padanya, sekarang dia menjadi salah satu bagian. dari keluarga terkaya di negeri ini."
Mami Cindy lalu melotot."Yang benar saja? Wanita jalanan seperti dia bisa naik kelas juga hahhahahhaha."
"Mami Cindy, tolong jaga kata-kata anda atau saya akan membuat anda menyesal." kata Kanaya dengan sedikit emosi.
"Wah, ternyata kamu galak juga Kanaya, baik aku tak ingin membuat masalah denganmu. Lalu apa maksud kedatanganmu Nyonya Lia? bukankah sudah kukatakan jika aku sudah tak mau bekerjasama denganmu lagi? kematian Tania karena penyakit yang ditularkan suamimu sudah menyebar."
"Darimana mereka tahu?"
"Itu bukan perkara sulit Nyonya Lia, Tania masih sering berkomunikasi dengan semua anak buahku, dan sebelum kematiannya mereka semua sudah tahu jika Tania mengidap penyakit mematikan akibat pekerjaannya. Apa kamu tidak lihat, lokalisasi ini menjadi sedikit sepi karena sudah banyak diantara mereka yang memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan ini!"
__ADS_1
"Itulah gunanya aku disini Mami Cindy."
Mami Cindy lalu menatap Kanaya. "Apa maksud kata-katamu?"
"Kamu ingin mendapatkan stok wanita cantik lagi kan Mami Cindy?"
"Tentu."
"Aku akan membantu mencarikannya untukmu Mami, aku pikir kamu adalah orang yang pintar, tapi ternyata dugaanku salah hahahaha."
"Apa maksudmu Kanaya?"
"Mami, apa anda tak sadar jika jaman telah begitu berkembang? sebuah berita bisa dengan cepat menyebar, kamu salah jika merekrut wanita yang sudah tersisipi oleh kemajuan tekhnologi."
"Lalu apa yang harus kulakukan?"
"Carilah gadis yang masih polos Mami, cari saja gadis desa atau gadis jalanan yang belum mengenal tekhnologi."
"Ah, aku sudah pernah melakukannya, bekerjasama dengan Hendra, namun kini aku sudah malas bekerjasama dengannya, karena dia meminta bayaran yang begitu besar padaku."
"Bekerja samalah denganku Mami hahahahaha."
"Sungguh kau ingin bekerja sama denganku?"
"Oh, bagus Kanaya, aku suka itu." kata Mami Cindy sambil menyeringai.
'Ya akan kubuat lokalisasi milikmu ini tutup Mami Cindy, dan kau akan masuk penjara.' batin Kanaya.
"Kapan kita mulai bekerjasama?"
"Secepatnya Mami, aku harus membantu Tante Lia menjalankan bisnisnya dulu, setelah selesai aku akan mulai membantumu."
"Baik Kanaya, aku akan menunggu kabar darimu."
Kanaya lalu mengangguk, beberapa saat kemudian mereka berpamitan karena hari sudah semakin sore. Kanaya diantar Lia menuju cafe tempat mereka bertemu untuk mengambil mobilnya.
"Dasar, benar-benar orang-orang jahat." kata Kanaya sambil mengumpat. Dia lalu menelpon William.
[Halo Willi, apakah kau sudah membaca semua pesanku?]
[Ya Kanaya, aku sudah membaca semuanya.]
[Tolong bantu aku Willi, aku tak ingin anak-anak tak berdosa menjadi korban dari keserakahan Tante Lia.]
[Tentu Kanaya, aku akan membantumu, salah seorang temanku dan saudara Mama adalah petinggi di kepolisian, jika kita memiliki semua bukti kejahatan mereka, kita bisa memasukkan mereka ke penjara.]
__ADS_1
[Aku sudah memiliki semua buktinya William.]
[Baik Kanaya, mulai besok kita akan mengurusnya.]
[Terimakasih Wili.]
[Kanaya.]
[Bisakah kita bertemu?]
[Dimana Willi?]
[Aku baru saja bertemu dengan klienku di Hotel Grand Victoria, temuilah aku di sini Kanaya.]
[Baik Willi.] kata Kanaya sambil tersenyum dan menutup teleponnya.
Setengah jam kemudian, Kanaya telah sampai di hotel tempat William menunggu dirinya, dia lalu masuk ke salah satu kamar yang telah dipesan oleh William. Saat Kanaya masuk, tampak William hanya mengenakan handuk dengan dada yang terbuka.
Kanaya lalu mendekat sambil menyunggingkan senyum. "Sepertinya aku datang di saat yang tepat Willi." kata Kanaya sambil membuka handuk yang menutup tubuh William. William hanya bisa tertawa kemudian mendekatkan wajahnya pada Kanaya dan melu*at bibir Kanaya dengan begitu bergairah.
"Sabar Willi, aku baru saja datang."
"Hahahaha, aku selalu sulit mengendalikan perasaanku saat bersamamu Kanaya." kata William sambil membuka satu per satu kancing baju Kanaya.
"Kita mandi bersama Willi."
'Tentu." jawab William sambil membuka seluruh pakaian milik Kanaya lalu membopong tubuh polosnya ke dalam kamar mandi.
Selesai mandi, kini keduanya tampak menikmati makan malam di balkon kamar hotel sambil menikmati pemandangan kota Jakarta. "Bagaimana Kanaya.?".
"Apa?"
"Kamu sudah kenyang kan?"
"Lalu?"
William lalu mendekat pada Kanaya dan membopong tubuhnya kembali ke atas ranjang. "Willi." kata Kanaya sambil tersipu malu.
"Aku ingin menghabiskan malam ini bersamamu sayang, tanpa ada yang mengganggu. Besok Papa dan Mama sudah pulang, kita tak bisa bebas menjalani hubungan ini lagi."
"Iya William, aku juga ingin bersamamu, kita habiskan malam ini berdua." jawab Kanaya lalu menempelkan bibi*nya pada William, lalu mereka berciuman dengan penuh gairah.
"Aku mencintaimu Willi." kata Kanaya diiringi d*sahan dan erangan yang menggema di salah satu kamar hotel berbintang.
"Aku juga mencintaimu Kanaya." balas William sambil mengu*um bu*h d*da milik Kanaya yang membuat des*han Kanaya semakin begitu keras.
__ADS_1