
Kanaya berjalan di sebuah gang sempit yang di sepanjang kanan kirinya ada beberapa orang wanita yang memakai pakaian terbuka sambil bercakap-cakap dengan teman-temannya. Beberapa diantara mereka tampak menyelipkan sebatang rokok dan sesekali menghempaskan asapnya ke udara.
Langkahnya terhenti saat dia sudah sampai di sebuah rumah mewah di ujung gang. Kanaya lalu masuk ke dalam rumah itu, tampak seorang wanita bertubuh tambun yang bergincu merah sedang asyik menonton televisi.
"Selamat siang Mami Cindy."
Wanita itu begitu terkejut lalu menoleh ke arah sumber suara, matanya sedikit melotot saat melihat seorang wanita cantik berdiri tak jauh darinya.
"Ka... Kanaya?"
"Ya, kenapa Mami? Terkejut?"
Mami Cindy hanya terdiam, Kanaya lalu duduk di sampingnya sambil tersenyum kecut. "Tampaknya kau sedang asyik menonton berita Mami? Wow lihatlah, berita yang sangat bagus bukan?" Kata Kanaya sambil melirik berita di televisi yang masih saja menyiarkan penangkapan Lia.
"Ka, Ka, Kanaya, apakah kau yang melakukan semua itu?"
"Lalu menurut anda bagaimana Mami?"
"Aku tak tahu Kanaya, aku hanya bertanya padamu?"
"Hahaha, bagaimana jika semua itu benar? Apakah kau juga ingin kujebloskan ke dalam penjara sama seperti Tante Lia?"
"Jadi benar kau yang melakukan semua itu?"
Kanaya lalu tersenyum. "Saat ini aku juga bisa dengan mudah melakukan itu semua padamu!"
"Cukup Kanaya, apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?"
"Apa kau juga belum menyadari semua kesalahanmu Mami? Lihatlah disini begitu banyak wanita di bawah umur yang kau pekerjaan, mereka bahkan belum mengenal apa itu dunia, tapi kau sudah menjual keper*wanan mereka dengan harga yang begitu tinggi, lalu kau menikmati uang yang didapat hanya untuk keuntunganmu sendiri! Bahkan kau sering memaksa dan menculik para remaja untuk ikut bekerja di lokalisasi ini tanpa sepengetahuan dan persetujuan dari mereka. Kau benar-benar bi*dab Mami!!!"
"Itu bukan urusanmu Kanaya! Bukankah kau sudah memiliki kehidupan yang sangat mapan, bukan urusanmu untuk mencampuri kehidupanku!!!"
"Ini semua sudah menjadi urusanku saat kau akan menculikku, dan kau juga yang membeli Tania dari Hendra, padahal saat itu usia kami masih di bawah umur!!!"
"Ja... Jadi kau mengenal Tania?"
"Tentu, dia adalah sahabat baikku saat sejak kami masih kecil."
"Lalu apa yang kau inginkan dariku?"
"Bebaskan semua remaja di bawah umur yang kau pekerjakan, lepaskan mereka juga yang bekerja di sini dengan keterpaksaan."
"Bagaimana jika aku tidak mau?"
__ADS_1
"Kau akan bernasib sama seperti Tante Lia."
"Tidak semudah itu aku tertangkap Kanaya, karena aku juga selalu rutin memberikan hadiah pada para aparat keamanan."
"Hahahaha, mulai saat ini jangan pernah bermimpi untuk melakukannya lagi Mami."
"Apa maksudmu?"
"Hahahaha, lihatlah ini." kata Kanaya sambil memperlihatkan sebuah video penangkapan Hendra dan anak buahnya.
"Bagaimana mungkin? Bukankah mereka juga berteman baik dengan Hendra?"
"Ya, mereka berteman baik sampai ikut menemani Hendra di dalam sel penjara." Kata Kanaya sambil memperlihatkan video beberapa aparat berwajib yang selama ini melindungi bisnisnya kini meringkuk di tahanan.
"Ba.. Ba.. Bagaimana mungkin?"
"Di dunia ini tidak ada uang tidak mungkin Mami Cindy. Masih ada waktu bagimu untuk memilih melepaskan mereka atau menemani Bang Hendra di penjara."
"Ba, baik Kanaya akan kuturuti semua kata-katamu, akan kebebasan mereka semua yang masih di bawah umur."
"Bagus, lakukan sekarang juga?"
"Gani, Gani." kata Mami Cindy memanggil anak buahnya.
"Tolong bilang pada anak-anak, mulai hari ini mereka bebas, jika mereka masih mau ikut denganku, mereka bisa tinggal, tapi jika ada yang ingin pergi dari sini biarkan mereka pergi."
"Baik Mami."
Gani lalu ke luar rumah ke beberapa rumah-rumah petak yang menjadi tempat tinggal mereka. Kanaya masih duduk di samping Mami Cindy sambil memainkan ponsel dengan tingkah manjanya serta senyum yang terus mengembang di bibirnya, sedangkan Mami Cindy, wajahnya begitu dipenuhi ketakutan dan kecemasan. Beberapa saat kemudian, banyak penghuni yang membawa barang-barang milik mereka dan pergi, namun masih juga ada yang memilih untuk tinggal di lokalisasi.
Kanaya lalu berdiri sambil tersenyum. "Nah, kalau begini kan enak Mami, mereka yang bertahan di sini adalah orang-orang yang benar-benar ingin bekerja pada Mami, terimakasih banyak ya Mami, Kanaya pamit dulu." kata Kanaya sambil tersenyum dan mengedipkan mata kanannya.
"Bren*sek." terdengar umpatan-umpatan yang keluar dari mulut Mami Cindy tapi tak Kanaya hiraukan, dia tetap berjalan masuk ke mobilnya untuk pulang karena hari sudah hampir gelap dan tiba-tiba dia juga merasakan suatu firasat buruk.
Saat Kanaya sampai di rumah, tampak rumah begitu sepi.
"Tente, Tante Lidya." Namun tak ada jawaban. 'Mungkin Tante sedang tidur.' gumam Kanaya sambil berjalan menuju kamar Lidya.
***
"Tuan Devin." kata Reni dengan sedikit terkejut. Devin lalu tersenyum sambil melihat seisi rumah. Rumah itu terlihat begitu kosong, tak banyak barang-barang di rumah itu, hanya beberapa buah kursi butut, lemari dan tempat tidur.
"Bolehkah saya masuk?"
__ADS_1
"Tentu, tentu boleh Tuan." jawab Reni sedikit gugup. Devin lalu duduk, tampak dua orang anak kecil berumur sepuluh dan lima tahun datang menghampiri Reni.
"Anak Mba Reni?"
"Iya Mas."
"Lalu dimana suami Mba?"
"Suami saya sudah meninggal Tuan karena kecelakaan kerja, oleh karena itu Nyonya Lidya menyuruh saya untuk bekerja menjadi pembantu di rumahnya. Tuan, tolong jangan laporkan saya pada pihak berwajib, saya tidak tahu apa-apa, benar Tuan. Lalu kalau saya dipenjara, siapa yang mau mengasuh anak-anak saya?"
raut kecemasan begitu terpancar dari wajah Reni.
"Tenang Mba, saya kesini bukan untuk melaporkan Mba Reni."
"Benarkah itu Tuan?"
"Iya Mba, tapi saya punya satu syarat untuk Mba Reni."
"Apa itu Tuan?"
"Tolong ceritakan padaku yang sebenarnya terjadi di rumah saya Mba."
"Tapi saya takut Tuan. Dia mengancam akan membunuh anak-anak saya."
"Tenang, saya akan menjamin keselamatan Mba Reni." kata Devin lalu mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang.
"Sebentar lagi orang-orang saya akan ke sini untuk menjaga keselamatan Mba, sekarang Mba Reni bisa bercerita apa yang sebenarnya telah terjadi."
Dengan sedikit ragu-ragu dan raut wajah penuh kecemasan Reni pun mulai menceritakan kejadian yang dia alami beberapa hari sebelum dia diusir dari rumah. Wajah Devin kini berubah menjadi merah, dadanya kian bergemuruh dan detak jantungnya semakin kencang. Saat emosinya begitu memuncak, tiba-tiba ponselnya pun berdering.
'Kanaya.' gumamnya dalam hati, dia lalu menjawab panggilan yang masuk ke ponselnya.
[Ya, Kanaya.]
Beberapa saat Devin terdiam, lalu umpatan-umpatan kasar mulai keluar dari mulutnya.
"Ada apa Tuan?" tanya Reni.
"Mba Reni, mulai besok Mba Reni bisa bekerja di rumah saya lagi, sekarang berkemaslah, lalu bawa kedua anak Mba Reni tinggal di rumah saya. Nanti anak buah saya yang akan mengantar Mba Reni."
"Ya Mas. Terimakasih."
"Iya Mba, saya pulang dulu." kata Devin lalu pergi menaiki mobilnya dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1