Aku... Sugar Baby

Aku... Sugar Baby
Relationship


__ADS_3

'Agung.'


Hanya ada satu nama di ponsel itu, mau tidak mau aku harus menghubunginya karena hanya dia yang dapat menolongku untuk saat ini. Aku lalu mencoba menelponnya.


[Hallo Om Agung, ini Kanaya.]


[Iya, ada apa Kanaya?]


[Om... Tolongin Kanaya Om, Kanaya mau dijual sama Tante Mira.]


[Kamu sekarang dimana Kanaya?]


[Ada di Sunflower Cefe Om, Kanaya takut preman-preman itu masih buntutin Kanaya Om.]


[Ya udah, om ke situ sekarang ya.]


[Iya Om, jangan lama-lama ya, Naya takut.]


[Iya, tunggu om disitu, kami jangan kemana-mana.]


Tak begitu lama akhirnya Om Agung pun datang, dia langsung menghampiriku yang duduk di pojok cafe. Hatiku sedikit dipenuhi rasa kebahagiaan, rasanya begitu lega setelah melihat kedatangannya.


"Om."


"Kamu gapapa kan?"


"Gapapa, aku cuma takut kalau mereka nemuin aku di sini terus aku dibawa ke lokalisasi."


"Tenang Kanaya kamu aman denganku."


Om Agung lalu mengajakku pergi, wajahku kututup dengan syal saat berjalan keluar cafe untuk menaiki mobilnya, agar para preman yang masih berkeliaran tidak melihat kepergianku dengan Om Agung.


"Om, aku bingung harus pergi kemana?"


"Tenang Kanaya, kamu tinggal di komplek rumah petak milikku saja, disana kamu aman karena ada orang-orangku yang menjaga rumah petak itu. Anak buah Mami Cindy tidak akan berani masuk ke situ."


"Baik Om, terimakasih sudah membantu Naya."


"Sama-sama Kanaya."

__ADS_1


Sekilas aku melirik pada Om Agung, pria berkacamata itu sebenarnya cukup tampan, tubuhnya tidak terlalu tinggi, namun tampak kekar. Di usianya yang menginjak 40 tahun dia masih terlihat muda, namun entah mengapa aku tidak terlalu tertarik padanya karena dia adalah laki-laki beristri dan aku tak mau mengganggu kehidupan rumah tangganya.


Akhirnya kami sampai di sebuah komplek rumah petak milik Om Agung. Dia lalu menyuruhku masuk ke rumah yang paling pojok dekat dengan gerbang pintu masuk.


"Silahkan masuk Kanaya, semua fasilitas sudah ada, kamu tinggal memakainya."


"Berapa saya harus membayar uang sewanya Om?"


"Tidak usah Naya."


"Jangan seperti itu Om, Kanaya sudah banyak berhutang budi sama om."


"Sudah jangan dipikirkan, kamu sekarang istirahat saja. om pulang dulu ya."


"Baik Om, terimaksih."


Aku lalu mandi untuk membersihkan badan, rasanya tubuhku begitu kotor oleh keringat, saat akan merebahkan tubuhku tiba-tiba pintu rumah petakku diketuk oleh seseorang. Aku sebenarnya masih takut jika itu adalah anak buah Mami Cindy, namun ketukan itu semakin keras, aku lalu membukakan pintunya.


"Permisi Mba Kanaya, saya Firman penjaga rumah petak ini. Saya disuruh mengantarkan ini sama Pak Agung." kata laki-laki itu sambil memberikan aku dua bungkus kresek besar.


"Apa ini Mas?"


"Itu ada nasi kotak untuk makan dan stok makanan yang lain bisa disimpan di kulkas."


"Sudah disimpan saja Mba, itu adalah perintah Pak Agung, saya permisi dulu ya Mba." kata Firman sambil berlalu dari hadapanku.


Aku lalu mengambil ponsel dan menelpon Om Agung.


[Om apa-apaan ini kenapa Om memberikan aku begitu banyak makanan.]


[Itu untuk kamu Kanaya, sangat berbahaya jika saat ini kamu pergi meninggalkan rumah, makanya aku memberikan stok makanan yang cukup banyak untukmu.]


'Benar juga apa kata Om Agung.' gumamku dalam hati.


[Ya sudah kalau begitu, terimakasih banyak ya Om, kalau Kanaya sudah memiliki uang, nanti akan Naya ganti semuanya.]


[Tidak usah dipikirkan Kanaya, sekarang yang penting adalah keselamatanmu.]


[Baik Om.]

__ADS_1


[Mulai sekarang tolong kamu jangan panggil saya Om, panggil saja Mas.]


[Kalau kamu membutuhkan sesuatu, tolong kamu beritahu Firman ya.]


[Iya Mas, terimaksih.]


Aku lalu menutup teleponnya, lalu makan makanan yang dikirimkan Mas Agung. Setelah makan, aku lalu tertidur karena hari ini tubuhku begitu lelah akibat kejadian hari ini.


Esok hari, aku bangun saat adzan subuh mulai berkumandang, lalu aku melihat ponselku. Begitu terkejutnya aku melihat banyaknya pesan dan telepon masuk dari Mas Agung. Aku lalu mengirimkan pesan padanya jika saat ini aku baik- baik saja dan tidak menjawab panggilannya karena aku sudah tidur.


Tak terasa sudah hampir tiga bulan aku hidup di rumah petak ini, namun aku belum diperbolehkan untuk keluar sendirian. Segala kebutuhanku dipenuhi oleh Mas Agung, dia hanya mengijinkanku untuk pergi bersama Firman jika aku membutuhkan sesuatu. Aku sebenarnya merasa tidak enak dengan keluarganya terutama pada istrinya, aku tak mau dicap sebagai perebut suami orang. Namun seiring berjalannya waktu aku baru tahu melalui Firman dan para penghuni lain di rumah petak ini jika hubungan Mas Agung dan istrinya tidaklah baik. Mereka menikah karena perjodohan, dan sampai saat ini Mas Agung masih sulit mencintai istrinya karena istrinya tipe wanita yang sangat kasar, egois, dan kekanak-kanakan. Firman bahkan pernah bercerita jika Mas Agung jarang diperlakukan sebagai seorang suami yang dihargai, namun lebih sering diperlakukan layaknya pembantu oleh istrinya. Aku sebenarnya merasa begitu sedih mendengarnya.


Mas Agung terkadang datang untuk menemuiku setelah pulang bekerja ataupun saat hari libur, seperti saat ini, hari ini adalah akhir pekan. Dia datang ke rumahku pagi-pagi sekali dan mengajakku untuk pergi dengannya.


"Kita mau kemana Mas?"


"Kita mau berlibur Naya, kamu pasti belum pernah berlibur kan?"


Aku hanya tersenyum dan mengangguk. Sepanjang hidup kulewati dengan mencari uang untuk bertahan hidup, jangankan berlibur, bisa makan saja itu sudah cukup untukku.


Setelah menempuh perjalanan selama dua jam akhirnya kami sampai di Puncak. Kami terlebih dahulu check in di hotel untuk beristirahat sebelum memulai liburan. Mas Agung memang memesan dua kamar, namun kamar kami adalah kamar hotel connecting room. Mas Agung beralasan untuk memudahkan kami jika terjadi apa-apa.


Aku lalu masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhku. Begitu pula Mas Agung, dia sudah masuk ke kamarnya untuk beristirahat setelah lelah mengendarai mobil.


Aku terbangun saat waktu menunjukkan pukul dua siang, aku yang baru pernah merasakan tidur di hotel sedikit belum terbiasa karena suasana di kamar hotel sangatlah berbeda dengan suasana kamar di rumah. Kamar hotel cenderung dingin, dan tempat tidur yang begitu nyaman membuatku sangat malas untuk bangun.


Bahkan aku tak sadar saat Maa Agung sudah masuk ke kamarku melalui pintu connecting room.


"Kanaya, ayo kita jalan-jalan."


"Sebentar om, Naya masih ingin tidur." kataku dengan mata terpejam, tanpa sadar jika Mas Agung telah tidur di sampingku lalu memeluk tubuhku.


Aku begitu kaget, namun aku tak mau melawan, sebenarnya dalam lubuk hatiku memang aku memiliki sedikit rasa suka padanya. Dia memang tampan, dan pesonanya sangat sulit untuk kuhindari.


"Naya." kata Mas Agung sambil memelukku.


Aku hanya terdiam saat dia mulai menci*m tengkuk dan tubuhku, aku tak tahu harus berbuat apa, ada keinginan untuk menolak namun dalam hatiku aku juga menginginkannya.


Mas Agung lalu menc*um bibirku dan akhirnya kami pun saling berc*uman. Setelah itu, dia lalu mulai merambah bagian tubuhku yang lain hingga kini bagian atas tubuhku sudah setengah telanjang.

__ADS_1


Namun saat dia akan membuka seluruh bajuku aku menolaknya. Aku menggelengkan kepala "Nikahi aku dulu mas jika kau menginginkanku seutuhnya." kataku.


Mendengar kata-kataku Mas Agung pun terdiam.


__ADS_2