
Sebuah mobil SUV warna silver berhenti di depan sebuah pekarangan. "Papa tunggu di sini, jaga Sapto agar tidak melarikan diri, kami akan mencoba masuk ke rumah itu." kata William.
"Iya Willi." jawab Fadil.
Mereka bertiga lalu turun dari dalam mobil kemudian berjalan mengendap-endap ke sebuah rumah yang tertutup oleh ilalang yang begitu lebat. Rumah itu tampak begitu kotor dengan warna cat yang sudah memudar.
"Sepi." bisik Devin.
"Coba kita intip dulu Devin."
Namun setelah beberapa saat mereka mengintip di balik lubang jendela dan pintu mereka tak dapat menemukan apapun.
"Devin, lebih baik kau jaga pintu belakang, aku akan masuk lewat pintu depan bersama Kanaya."
"Baik, aku ke belakang dulu."
Devin lalu mengendap-endap ke belakang rumah, sedangkan William lalu mencoba membuka pintu depan rumah.
KREKKK
"Hati-hati Willi, jangan sampai menimbulkan suara." kata Kanaya
"Iya sayang."
Mereka lalu masuk ke dalam rumah sambil melangkahkan kakinya dengan hati-hati. Namun rumah itu tampak begitu gelap. William lalu menyalakan senter di ponsel miliknya. Namun setelah mereka mencari ke seisi rumah, tak ada seseorang pun yang mereka temukan.
"Si*l, rumah ini kosong Kanaya! Jangan-jangan Sapto sudah membohongi kita."
William lalu menelepon Devin yang masih berjaga di pintu belakang. " Devin, cepat kita kembali ke mobil, rumah ini kosong."
Mereka bertiga lalu kembali ke dalam mobil, Fadil yang sedang asyik merokok begitu terkejut melihat kedatangan mereka tanpa membawa Lidya.
"Mana Mama Willi?"
"Rumah itu sudah kosong Pa."
"Br*ngsek, jangan-jangan Sapto sudah membohongi kita." kata Fadil.
Devin dengan penuh emosi lalu masuk ke dalam mobil dan menyeret Sapto keluar. Dia lalu mengarahkan bogem mentahnya ke wajah Sapto yang sudah babak belur.
"Hai pecun*ang, cepat katakan yang sebenarnya dimana kalian menyembunyikan Mami!!!"
"Hahahaha.. Hahahahahaha.."
"Apa jaminannya jika aku mengatakan yang sebenarnya pada kalian?"
__ADS_1
Mendengar kata-kata Sapto, emosi William pun semakin terpancing. "Dasar laki-laki bre*ngsek, cepat katakan dimana Mama sekarang juga atau..."
"Atau apa Tuan? Pasti sekarang Santi sudah berhasil mendapatkan tanda tangan Lidya untuk mengalihkan kepemilikan harta miliknya pada Santi. Tidak ada gunanya aku bicara jujur pada kalian, aku hanya mengulur waktu agar Santi bisa bebas menyiksa Lidya. Hahahaha."
"Dasar laki-laki kurang ajar bi*dab!!!" kata Kanaya sambil menjambak rambut Sapto.
"Hahahaha Nyonya Kanaya, kau pasti kecewa setelah tahu siapa dirimu sebenarnya tapi kau tidak mendapatkan sedikitpun harta milik Lidya."
"Hai baj*ngan, aku tidak seperti dirimu dan Santi yang hanya menginginkan harta milik Mami!!!"
"Aaapaa kata kalian." tanya Fadil disertai raut wajah yang penuh tanda tanya.
"Ooooh Tuan Fadil, jadi anda belum tahu jika Kanaya adalah Casandra? Sungguh malang nasibmu hanya dipermainkan oleh Lidya yang menggunakan Casandra untuk menyelidiki kalian semua."
"KAU TIDAK USAH BANYAK BICARA SAPTO!! SEKARANG KATAKAN DIMANA MAMA!!!" tanya William.
Devin lalu maju ke arah Sapto dan memukulnya berulang kali. Namun Sapto tetap tidak mau mengatakan dimana tempat persembunyian Santi.
"Lebih baik kita bawa Sapto ke kantor polisi, biar mereka yang memaksanya untuk berbicara."
"Hahahaha percuma saja kalian membawaku ke kantor polisi, karena saat ini pasti Santi sudah mendapatkan kekayaan yang kalian miliki. Sebentar lagi kalian pasti akan menjadi gembel." kata Sapto sambil tersenyum menyeringai.
"Kita jebloskan dia sekarang juga ke penjara, agar dia bisa merasakan hukuman karena telah berani berbuat macam-macam pada keluarga kita." kata Devin.
"Bren*sek." kata Devin sambil memukul wajah Sapto.
"Sudah Devin, jangan dengarkan dia, dia hanya ingin memancing emosi kita dan mengulur-ulur waktu. Kita langsung bawa dia ke kantor polisi."
"Baik." jawab Devin sambil menyeret tubuh Sapto kembali ke dalam mobil.
Tarikan tangan Devin yang begitu keras, akhirnya membuat sebuah benda pipih persegi panjang keluar dari saku milik Sapto. Wajah Sapto pun seketika berubah pucat takkala melihat ponsel itu jatuh. Saat akan mengambilnya, tiba-tiba sebuah suara panggilan masuk ke ponsel itu.
Devin lalu menyunggingkan sebuah senyuman takkala melihat siapa yang menelponnya.
[Mas Sapto, tolong bantu Santi. Saat ini Santi ada di rumah sakit Mitra Abadi karena keadaan Lidya semakin memburuk, aku takut jika dia mati, dia tidak bisa menandatangani sura pemindahan harta milik mereka.]
[Tetaplah di situ, sebentar lagi aku akan datang?] kata Devin dengan sedikit intonasi yang ditinggikan hingga suaranya mirip dengan Sapto.
Senyum Devin pun mengembang. "William, cepat kemudikan mobil, dan bawa pecun*ang ini ke kantor polisi."
William hanya diam mendengar kata-kata Devin lalu mengarah mobilnya ke kantor polisi terdekat. "Papa, papa masuklah ke dalam dan jebloskan orang ini ke dalam penjara, aku akan pergi sebentar dengan William dan Kanaya."
"Iya Devin." jawab Fadil.
"Satu lagi."
__ADS_1
"Apa?"
"Tolong suruh polisi untuk datang ke rumah sakit Mitra Abadi."
"Untuk apa Devin?"
"Sudah, ikuti saja kata-kataku."
Fadil lalu mengikuti kata-kata Devin, dia kemudian keluar dari dalam mobil dan menyeret Sapto yang sudah sangat tidak berdaya.
"William cepat jalankan mobil ke rumah sakit Mitra Abadi."
"Untuk apa Devin?"
"Sudah ikuti saja kata-kataku jika kau masih ingin bertemu dengan Mami."
William hanya diam mendengar kata-kata Devin, dia lalu mengarahkan mobilnya ke rumah sakit Mitra Abadi. "Ayo kita keluar." kata Devin sambil mengetikan sesuatu pada ponsel milik Sapto.
"Bersiaplah karena kita akan menangkap Santi."
"Benarkah?" tanya Kanaya.
"Apa untungnya aku berbohong pada kalian."
Beberapa saat kemudian, tampak seorang wanita berusia 40 tahun keluar dari rumah sakit dengan wajah penuh kecemasan.
"Lihat itu." kata Devin sambil tersenyum kecut.
Mereka lalu mengendap-endap mendekat pada Santi. William mendekap tubuh Santi dari samping, Santi pun terus meronta namun Kanaya juga ikut menjagal tubuh Santi sehingga dia pun tak bisa berkutik, kemudian Devin mendekat pada Santi lalu mengikat tubuhnya. Sesekali mulutnya meraung-raung memaki dan mengeluarkan ancaman.
"Dasar bede*bah kalian semua, akan kubalas semua perlakuan kalian padaku!! Tunggu saja pembalasan dariku yang lebih kejam!! Ingat itu, dan akan kubuat kau menderita selamanya."
"Sudah jangan banyak bicara, bisa apa kau Santi! Ingat, aku akan membuatmu membusuk di tahanan. Hahahaha." jawab Kevin.
"Bre*gsek kau Devin."
William dan Kanaya hanya tersenyum kecut mendengar kata-kata Santi, namun mereka malas untuk menimpalinya. Saat Santi terus mengeluarkan sumpah serapahnya, para polisi pun datang. Tangan Santi lalu diborgol dan dia di masukkan ke dalam mobil polisi.
"Selamat tinggal Santi, membusuklah di penjara bersama Sapto. Hahahaha."
Mata Santi semakin menatap tajam ke arah Devin yang menertawakannya. "Sudah Devin, sekarang ayo kita lihat keadaan Mama." kata William.
Mereka kemudian masuk ke dalam rumah sakit lalu bertanya pada resepsionis tempat Lidya dirawat. Kini mereka berdiri di depan ruang ICU. Dibalik jendela kaca, Kanaya menatap nanar tubuh seorang wanita yang terbaring lemah di dalam kamar ICU, wajahnya begitu pucat dan nafasnya tersengal-sengal.
"Bertahanlah Mami." kata Kanaya sambil meneteskan air mata.
__ADS_1