
Setelah berjam-jam Lidya mencari, namun anak yang dicarinya tidaklah ditemukan. Santi yang sebenarnya tahu keberadaan anak yang sudah dibawa oleh kakak perempuannya hanya berpura-pura menenangkan Lidya yang masih histeris sambil sesekali berteriak. Dia juga ikut menjaga Devin karena Lidya begitu acuh dengan keberadaan Devin dan hanya kebingungan mencari Casandra.
"Sudahlah Bu, sebaiknya kita cari lagi besok." kata Santi saat Lidya sudah sedikit tenang.
"Kita cari dengan kepala dingin, semoga Casandra masih ada di sekitar sini. Mungkin sekarang Casandra sedang beristirahat di rumah orang yang menemukannya."
"Tapi bagaimana jika Casandra masih berkeliaran di jalan Mba?"
"Jika dia masih berkeliaran di jalanan, pasti kita sudah menemukannya Bu. Lihat anak Ibu yang masih kecil itu, kasihan dia sepertinya di juga kelelahan." kata Santi sambil mengelus rambut Devin.
"Iya Mba, kamu benar, kalau begitu saya pulang dulu ya. Rumah Mba dimana biar sekalian saya antar?"
Namun Santi hanya terdiam mendengar kata-kata Lidya. "Mba, rumah Mba dimana?"
"Em.. E... Maaf Bu saya tidak memiliki rumah."
"Apaaa? Ya ampun kasihan sekali kamu, jadi selama ini kamu hidup di jalan? Sendirian?" Santi lalu menganggukkan kepalanya perlahan disertai raut wajah yang begitu sedih.
"Ya sudah, kalau begitu kamu pulang ke rumah saya saja. Kebetulan saya sedang membutuhkan pembantu. Suami saya baru meninggal satu minggu yang lalu, sedangkan saya hidup sendirian. Saya harus mengurus perusahaan suami saya, dan saat ini saya membutuhkan pembantu yang bisa mengurus rumah dan anak saya. Apa kamu mau bekerja pada saya Anti?"
"Mau... Mau Bu." kata Santi dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Baik kalau begitu, ayo kita pulang."
"Iya Bu, terimakasih banyak."
Santi lalu ikut Lidya pulang dan bekerja untuknya, sekuat tenaga Santi selalu berusaha agar Lidya tidak menemukan Casandra, dia takut jika Lidya menemukan Casandra, maka Rena akan dipenjara karena telah menculik Casandra. Namun pada suatu hari, Lidya mendapat sebuah informasi dari seorang pedagang yang berada di lokasi kejadian jika Casandra telah dibawa seorang wanita yang masuk ke dalam mobil pengangkut sayuran ke arah Jakarta. Lidya begitu panik mendengar penjelasan pedagang itu, dia lalu memutuskan untuk pindah ke Jakarta.
Santi sebenarnya begitu takut jika Lidya menemukan Rena dan Casandra, namun Jakarta adalah kota yang besar, tidak mudah menemukan keberadaan seorang anak kecil yang telah lama terpisah dari kedua orangtuanya. Apalagi informasi yang dimiliki Lidya sangatlah terbatas. Hingga akhirnya, Lidya menikah dengan Fadil yang memiliki seorang putra yang umurnya tidak berbeda jauh dengan Casandra. Sejenak Lidya pun sedikit terhibur dengan kehadiran William, meski tetap berusaha mencari Casandra.
Hari berganti bulan, bulan berganti tahun. Sudah dua puluh tahun, Lidya belum bisa menemukan Casandra, dia telah benar-benar kehilangan Casandra dan sudah pasrah jika dia tak akan pernah bisa menemukannya. Hingga suatu hari, Lidya menyuruh Santi untuk mengambil sebuah foto yang ada di dalam gudang untuk dipanjang kembali di ruang keluarga.
Jantung Santi seakan berhenti berdetak, dadanya terasa sesak, saat melihat sebuah foto keluarga sepasang suami istri dengan anak perempuan mereka. 'Ayah.' gumam Santi. Air mata pun mengalir begitu deras membasahi wajahnya. 'Ayah.' gumam Santi lagi.
"Iya Nyonya." jawab Santi.
Santi lalu membawa foto itu ke ruang keluarga. "Ini fotonya Nyonya, mau saya taruh di mana?"
"Taruh di samping foto keluarga saya saja Bi, mereka adalah kedua orang tua saya."
"Jadi anak kecil ini adalah Ibu?"
Lidya lalu mengangguk sambil tersenyum. Perasaan emosi semakin berkecamuk di dada Santi. 'Lidya, jadi selama ini kau yang sudah merebut Ayah Hasan dari hidupku dan Mba Rena. Kamu begitu bahagia hidup dengan Ayah Hasan dan menikmati semua harta miliknya, sedangkan aku hidup terlunta-lunta di jalan selama bertahun-tahun. Lihat saja Lidya, aku akan membalasmu, aku juga berhak memiliki kekayaan ini karena aku juga adalah anak dari Ayah Hasan.' gumam Santi.
__ADS_1
Berbagai cara pun Santi lakukan untuk membunuh Lidya, uang yang dikumpulkannya selama bertahun-tahun bekerja di rumah Lidya dia pergunakan untuk membeli obat-obatan pelemah jantung. Dia selalu menukar obat yang baru ditebus Lidya dengan obat miliknya, dan semakin memperburuk kesehatan Lidya.
Suatu hari, Santi begitu kesal karena Lidya bercerita padanya tentang mantan istri Ayahnya yang pemabuk dan sering berselingkuh. 'Sial, berani-beraninya dia menjelek-jelekkan Ibuku, bahkan menyebutku anak tidak jelas karena Ibu pun tak tahu siapa sebenarnya Ayah kandungku.' gumam Santi.
Dengan diselimuti kemarahan, Santi akhirnya meracuni Lidya. Namun dia tidak menyadari jika itu semua adalah sumber petaka baginya, karena sejak itu Lidya jadi tahu jika di dalam rumahnya ada seseorang yang menginginkan kematiannya. Nasib baik masih berpihak pada Lidya karena susu yang telah diberi racun itu tumpah dan diminum oleh kucing kesayangannya.
'Bren*sek.' gumam Lidya.
Beberapa hari kemudian, Santi mendengar jika William tengah menelpon seseorang. Santi begitu takut jika William telah mengetahui semua rencana busuknya, selama ini William memang begitu menyayangi Lidya, Santi pun takut jika William akan menjadi penghalang terbesar baginya.
Akhirnya dia pun membayar seorang penembak jitu untuk menembak William dengan berpura-pura mengancam kekasihnya saat mereka pulang dari liburan di Eropa. Dia memberi upah penembak tersebut dengan menjual salah satu cincin berlian milik Lidya yang pernah diberikan untuknya. Namun ternyata William hanya mengalami koma selama beberapa bulan, Santi begitu marah melihat kepulangan William ke dalam rumah.
Tak lama setelah kepulangan William, Santi juga dikejutkan dengan pernikahan Fadil, karena dia tahu jika Fadil telah dikeb*ri oleh Devin. "Bagaimana mungkin laki-laki impo*en itu menikah lagi dengan seorang gadis cantik? Aku yakin wanita itu adalah orang suruhan Lidya untuk mengawasi seluruh gelagat penghuni rumah ini." kata Santi.
Di hari pertama Kanaya di rumah Lidya, Santi menyelidiki gerak-gerik Kanaya yang ternyata memang orang suruhan Lidya untuk mengawasi semua orang yang ada di dalam rumah. Santi pun berusaha untuk meracuni Kanaya, namun gagal. Dia pun menyelidiki siapa sebenarnya Kanaya yang ternyata adalah kekasih William, dan yang lebih mengejutkan bagi Santi adalah sebuah kenyataan jika Kanaya adalah anak kandung Lidya. Namun Lidya pun tak mengetahuinya.
Santi sudah curiga karena nama gadis itu sama seperti nama anak perempuan dari Rena, karena setiap kali bertemu seorang anak kecil dia selalu memanggil anak-anak tersebut dengan nama Kanaya.
Dugaannya semakin kuat saat melihat syal usang yang dipakai Kanaya untuk menutupi lehernya. Syal itu adalah syal milik Rena yang diberikan oleh mantan suaminya.
Santi lalu mengambil syal milik Rena saat Kanaya memasukkan syal itu ke dalam mesin cuci. "Mba Rena." kata Santi sambil memeluk syal milik Rena.
__ADS_1