AKU

AKU
dua belas


__ADS_3

hari berganti, bulan berganti bulan, tuan wijaya belum juga menunjukkan tanggung jawab atas kehamilanku, tuan wijaya hanya menginginkan tubuhku saja. perkiraan lahir kurang tujuh hari, semalam tuan wijaya masih tetap sama hanya mau menikmati tubuhku saja, tidak melihatkanh aku kelelahan mengandung darah dagingnya, meskipun aku meminta ampun tuan wijaya tidak menghiraukanku. aku bertekat untuk pergi dari sini, karena akhir2 ini perutku sakit. tadi pagi ku lihat ada flek darah di pakaian dalamku. aku mau menemui bu novi.


"nyonya" sapaku pelan, ku lihat bu novi menghentikan gawainya


"ada apa?"


"saya mau pulang, nyonya"


"kenapa?"


"saya mau mempersiapkan kelahiran, nyonya"


"memang sudah waktunya?"


"kalau kata dokter, perkiraan lahir kurang 7 hari lagi"


"mulai kapan berhenti bekerja?"


"sekarang, siang ini nyonya"


"baiklah, kalau begitu. apakah kamu rencana balik kerja disini lagi?"


"belum tahu, nyonya"


"hem, baiklah, ada nomer yang bisa di hubungi?"


"tidak ada, nyonya"


"bagaimana nanti tahu kalau kamu kerja disini lagi atau tidak?"


"saya yang akan kesini saja untuk memberi tahu"


"begini saja, selama satu bulan dari kamu berhenti bekerja kamu kesini, kalau tidak kesini berarti kamu tidak melanjutkan kerja disini, selama satu bulan itu akan mencari pembantu lain, nanti kalau kamu sudah kembali kerja, pembantu baru tidak saya pekerjakan"


"ya, nyonya terimakasih telah baik sekali dengan saya"


"saya juga berterimakasih, meskipun kamu hamil di luar nikah, saya senang dengan pekerjaanmu yang bersih, masakannya juga cocok"


"sama-sama nyonya, saya juga berterimakasih telah diberi pekerjaan dan memaklumi keadaan saya yang telah hamil"


"oh iya nanti biar di antarkan darman"

__ADS_1


"tidak, nyonya. biar saya naik ojek saja"


"ya sudah, mau ke kamar, ambil uang buat kamu"


"ya, nyonya. saya juga mau ke kamar dulu untuk mengemasi pakaian saya"


---


aku sengaja tidak pamit tuan wijaya, biarkan tuan wijaya tidak tahu aku pergi kemana. ku lihat jam menunjukkan pukul 10.05


aku telah sampai di depan rumah kontrakan bibiku, ya sepertinya bibiku sedang istirahat.


ku ketup pintunya dan kemudian di buka oleh bibiku


"cinta, apa yang terjadi padamu?" tanya bibi yang juga kaget dengan perutku yang besar


sambil masuk dan duduk "maafkan cinta, cinta hamil, bi"


"siapa yang telah menghamilimu?"


"tuan wijaya"


"apa, bukannya tuan wijaya majikanmu?"


"ya, bi"


"tidak, bi"


"kenapa kamu tidak meminta perranggung jawabannya?"


"sudah, bi. malah tuan wijaya menyuruhku untuk mengugurkan saja"


tanteku hanya geleng-geleng kepala.


"haduh, sakit, bi" kataku


"waktunya melahirkan, cin"


"ya, bi"


"ayo, bibi antarkan, bibi cari ojek dulu, kamu masih bisa tahankan, cin"

__ADS_1


aku mengangguk sambil meringgis menahan sakit kontraksi


--


sesampainya di rumah sakit ternyata sudah bukaan lengkap.


suara tangisan bayi bersahutan dan di tidurkannya kedua bayiku yang masih berlumur darah di dekapanku, ku lihat bayiku di bawa mungkin di letakkannya di ruang bayi. dan aku masih ada di ruang persalinan, karena sobekan karena melahirkan dilakukannya penjahitan.


malam hari, perawat mengunjungiku untuk melakukan pemriksaan


"mbak, bayi saya dimana" tanyaku


"ya, bun. ada di ruangannya, bayi ibu sehat" jelasnya


"apakah mereka tidak boleh dibawa kesini?"


"bunda, harus banyak istirahat karena bunda melahirkan kembar" alasan dari perawat


"baiklah, mbk"


"besok pagi, bunda sudah boleh pulang bila sudah lebih baik"


"terimakasih, mbk"


"sama-sama bunda"


--


keesokan harinya setelah dokter memeriksaku dan mengizinkanku pulang. bibi menjemputku dan bayi kembarku katanya sudah dibawa pulang duluan. ketika sudah sampai rumah, tiada tangis bayi atau suara bayi dan ternyata bibiku telah memberikan kedua bayiku kepada orang yang tepat dan membutuhkan bayi. aku menangis tiada henti. bibiku tidak mau nanti bayi kembarku hidup disini tiada bapaknya akan mendapat hinaan dan lain sebagainya.


----


sudah sebulan setelah melahirkan, kondisiku sudah lebih membaik, hanya saja nifasku belum selsai. aku sudah tidak ingin bekerja kembali ke keluarga tuan adi wijaya. aku ngomong dengan bibiku kalau aku ingin bekerja saja sam dengan bibiku. awalnya bibiku melarang tapi aku memaksakan diri. akhirnya bibipun mengajakku ketempat yang biasanya bibiku bekerja. ternyata banyak yang memilihku, disini aku menjadi pemain baru tetapi sudah banyak yang menjadi pelangganku dengan alasan aku masih muda. selama satu tahun sudah menjalani pekerjaan yang sama dengan bibiku. meskipun dalam hati kecilku menangis.


Ya nama cinta kasih yang diberikan orang tua, benar adanya aku banyak yang mencintai dan mengasihi tak lain dan tak bukan hanya tubuhku saja.


TAMAT


Terimakasih yang sudah membaca, ini hanya cerita khayalan saja. Apabila ada unsur yang kurang berkenan, baik terlalu vulgar dan lain-lain, saya pribadi meminta maaf.


Cerita ini jangan ditiru.

__ADS_1


Jika tidak berkenan cerita ini tampil di aplikasi ini, maka boleh dilaporkan, supaya tidak diterbitkan.


__ADS_2