AKU

AKU
sembilan


__ADS_3

2️⃣0️⃣🆙️


semakin hari perutku semakin membesar, sampai kaos kaos yang biasanya aku pakai sudah hampir tidak muat karena perutku semakin membesar.


"kamu, bener hamil? ku perhatikan perutmu tambah besar" tanya bu novi yang mungkin sudah tahu aku hamil tapi bu novi memastikan dengan jawabanku


"ya, nyonya"


"siapa yang menghamilimu?"


"di dia, nyonya" aku takut menjawabnya, apa bu novi sudah tahu


"dia siapa? pacar kamu?" tanya bu novi


"ya, nyonya" aku takut kalau bu novi tahu


"kenapa tidak minta pertanggung jawaban?"


"sudah"


"kamu mau dinikahin?"


"tidak, nyonya"


"trus"


"saya biarkan, mungkin suatu saat pacar saya akan sadar."


"bodoh kamu, ya kalau sadar, kalau tidak sadar?"


"tidak apa-apa, nanti saya rawatnya sendiri"


"ya, sudah yang penting kamu bisa bekerja disini, dan tidak ada alasan untuk bermalas-malasan karena hamil, kalau kamu tidak sanggup, akan ku ganti dan mencari pembantu lagi"


"saya sanggup, nyonya"


"ya sudah, ngomong ngomong kamu hamil sudah berapa bulan, seperti sudah sekitar 5 atau 6 bulanan?"


"tidak tahu, nyonya"


"bodoh kamu, nanti malam kamu cek biar darman yang mengantarkan"

__ADS_1


"ya, nyonya"


---


pukul 18.30 pak darman mengantarku ke dokter kandungan untuk usg, aku juga ingin tahu sudah berapa bulan usia kehamilanku.


"asih" pak darman memecah keheningan di mobil


"ya, ada apa, pak?" tanyaku


"kamu sudah nikah?


"belum"


"jadi, kamu belum bersuami?"


aku mengelengkan kepala


"kamu, hamil, berarti kamu..., apa kamu ga malu, asih?"


"aku malu, pak. harus bagaimana? yang menghamiliku tidak bertanggung jawab"


"ya, sudah. nanti aku temani ke dalam, nanti kita pura-pura suami istri, biar dokternya ga curiga"


"pak, minta tolong lagi, bisa anterin ke toko baju, mau beli daster, bajuku sudah pada ga muat"


"siap, itu perutnya kelihatan"


"ya, pak" sambil ku pegang perutku membesar


----


di toko baju aku memilih daster- daster ukuran besar yang muat untuk hamil dengan model lengan pendek, aku ganti pakaian langsung yang aku beli. rasanya nyaman sekali, karena agak longgar di bandingkan kaos kaos yang sudah hampir tidak muat aku pakai.


aku menaiki mobil lagi untuk menuju ke dokter kandungan


"asih, nanti aku ikut masuk ke ruangan biar dokternya tidak curiga kalau kamu hamil tanpa suami."


"ya, pak"


---

__ADS_1


setibanya antrian, saatnya aku masuk ke ruang periksa bersama pak darmanto


"malam, ibu, bapak, ada yang bisa saya bantu?" kata dokter yang masih muda dengan senyum yang ramah


"ini, dok. istri saya mau cek kandungan" kata pak darmanto yang seolah-olah menjadi suamiku


"baik, ibu terakhir menstruasi masih ingat tanggalnya?" dokter bertanya dengan menatapku penuh keramahannya


"saya tidak ingat"


"baiklah, saya usg, mari berbaring di ranjang"


pak darmanto ternyata mengekor dan berdiri disampingku seolah menunjukkan bahwa dia suamiku, dan tiba-tiba tangan pak darmanto mengelus-elus perutku. sebenarnya aku tidak suka tapi bagaimana lagi.


"maaf, bu. saya buka"


"silahkan, dok" jawab pak darmanto


karena aku memakai daster jadi baju bagian bawah di buka dokter, dengan sigap pak darmanto ikut membukakan bajuku sampai seluruh perut besarku kelihatan, pak darmanto ternyata pindah posisi yang awalnya disebelahku pindah ke sisi kaki, dan pak darmanto matanya tak henti-hentinya melihat bagian bawahnya perut dan tangannya mengelus-elus betisku, apa biar kelihatan bahwa pak darmanto suamiku, biarlah yang penting dokternya tidak bertanya, aku sudah menikah apa belum.


dokter menjelaskan dari lingkar kepala dan lainnya usia kandunganku sekitar 13 minggu, tak ada gangguan apa pun, janin sehat, rahimku juga kuat, dan di beritahu bahwa aku hamil kembar.


aku diberitahu antara senang dan sedih, senang karena janinku sehat, sedihnya aku hamil tanpa suami.


----


di mobil pulang dari cek kandungan pak darmanto tiba-tiba


"asih, aku tadi sudah membantumu, apa kamu tidak ingin berbalas budi denganku?"


"maksutnya apa, pak darmanto?"


"apa ya tidak paham dengan ucapanku?"


"maaf, saya tidak paham maksutnya"


"balas budi, setidaknya tadi kan saya jadi suami asih, nanti suaminya di kasih jatah gitu lho sih, jatah nenggokin kan kasihan ga ada bapaknya"


aku terdiam, sehinanya aku ini, atau ya sudahlah memang aku kenyataannya sudah tak berharga lagi di mata orang


"ya, pak. nanti kalau sudah malam, nyonya dan tuan sudah saya layani, baru pak darmanto. nanti pak darmanto di kamar saja, biar saya yang ke kamar, jangan di kamar saya takut ketahuan"

__ADS_1


"oke, siap sayang asih"


__ADS_2