
2️⃣0️⃣🆙️
mataku masih terasa berat untuk ku buka rasa lelah, ku rasakan ada sesuatu yang terjadi padaku, kurasakan sakit yang hebat dibagian belakang, ternyata tuan wijaya melakukannya dibagian belakang, aku menggerang kesakitan, tuan wijaya tetap melanjutkannya, semakin aku menggerang minta ampun tuan wijaya malah menjambak rambutku. setelah tuan wijaya mencampai puncak, aku merasakan sakit yang luar biasa di bagian belakang tubuhku.
"tiap hari layani aku, asih"
"ya, tuan" aku takut untuk menolaknya
"saat ada istriku, minuman jus makan malam kamu kasih pil ini 2 butir"
tuan wijaya menggambil botol yang berisi pil dan memberinya kepadaku
"ya, tuan" aku menerimanya pil itu
"jika pil itu akan habis, bilang padaku"
"ya, tuan"
"bagus kalau begitu, siapkan aku air, ganti sprei yang ada noda darahmu, dan buatkan aku sarapan, aku mau ke kantor"
"ya, tuan"
aku bergegas ke kamar mandi untuk menyiapkan air tuan wijaya tanpa sehelai baju ku rasakan ada yang mengganjal perih dibagian tubuh belakngku, ku ganti sprei dan aku ke dapur untuk membuat sarapan tuan wijaya.
pukul 21.26
aku mengecek pintu gerbang, ku tutup pintu-pintu, jendela-jendela, ku lihat kamar pak darman sopir pribadi bu novi sudah ditutup, mungkin sudah tidur, terakhir ku lihat tadi sehabis makan pak darman merokok
__ADS_1
pintu kamarku di buka oleh tuan wijaya, dan menguncinya. aku dan tuan wijaya melakukan hubungan seperti suami istri. sebelum kami melakukan hubungan terlarang tuan wijaya menelan pil yang tak ku ketahui. tiga kali dalam semalam, aku melakukannya dengan tuan wijaya.
hari-hariku setiap malam melayani suami dari majikanku tak lain adalah tuan wijaya, dengan bolak balik bu novi keluar kota A, untuk menjengguk ibunya yang terkena stroke dan anak-anaknya, tuan wijaya dan aku lebih leluasa melakukan hal-hal yang seharusnya tidak boleh di lakukan, berciuman, sampai melakukan hubungan suami istri dimanapun, di dapur, ruang makan, kamar mandi, ruang tamu dan diruangan lainnya di rumah ini.
satu bulan lebih
"huek huek" aku bergegas ke kamar mandi ku lihat bu novi kaget
aku tidak muntah, hanya cairan bening yang sedikit keluar. setelah itu aku melanjutkan mencuci piring.
"kenapa, bik asi" kata bu novi tak tahu kenapa memanggilku bik asih, padahal aku belum tua
"masuk angin, nyonya"
"cuma masuk angin biasa, nyonya" aku kaget bu novi ngomong seperti itu
"bener..."
"ya, nyonya"
"jawab jujur, bik. apakah kamu masih perawan?"
aku binggung, apakah bu novi sudah tahu kalau setiap malam aku melakukan hubungan terlarang dengan suaminya. bagaimana kalau aku benar-benar hamil bila aku tidak jujur.
"ditanya, malah diam, jujur saja"
__ADS_1
"sa saya su dah tidak pe perawan, nyonya" aku takut kalau aku memang benar hamil, karena memang aku telat
"ya, bisa jadi kamu hamil tu, belum nikah sudah hamil, coba beli tespack nanti"
aku hanya menganggangguk, bodohnya aku saat ini, aku binggung bila memang hamil
pekerjaan sudah beres, aku langsung ke apotik membeli dua tespack yang berbeda merk, untuk meyakinkanku. setibanya di rumah, aku langsung ke kamar mandi dan ku celupkan kedua tespack tersebut ke dalam wadah yang berisi air seniku, ku lihat keduanya berubah menjadi garis dua. ku sandarkan tubuhku ke dinding.
"aku hamil"
"tidak"
"aku hanya melakukan dengan tuan wijaya"
"apakah tuan wijaya, mau bertanggung jawab?"
"aku harus bicara dengan tuan wijaya"
seperti biasa, tuan wijaya ke kamarku karena bu novi ada di rumah ini, kami melakukan hubungan suami istri di kamarku, sebelum kami melakukan ku beranikan diri untuk memberi tahu tuan wijaya
"tuan, sa saya ha hamil"
"terserah kamu mau kamu gugurkan atau pertahanin, kalau kamu mau mempertahankan kamu bilang hamil sama orang lain bukan aku, kalau mau gugurkan juga terserah kamu"
"tu tuan tidak mau bertanggung jawab"
__ADS_1
"kenapa, aku harus bertanggung jawab, ayo layani aku"