
Marshal pun membalas pelukan itu, dan mencium tengkuk Cinta. Namun saat dia sedang mengecup tengkuknya, tiba-tiba Marshal mendorong tubuh wanita itu.
"Tidak!"
Cinta yang mendapat penolakan dari Marshal pun tampak mengerutkan keningnya. "Ada apa, Shal?"
"Kenapa kau sampai berpura-pura seperti ini?"
"Apa maksudmu, Shal?" tanya Cinta yang mulai dihinggapi rasa cemas di dalam hatinya.
"Kau bukan Lara, tapi kau Cinta kan? Kenapa kau harus berpura-pura seperti ini, Cinta?"
"Aku Lara, Shal!"
"Cukup Cinta, memangnya kau pikir aku tidak bisa membedakan antara Lara dan Cinta? Kuakui saat malam itu, aku memang sedang sangat emosi hingga tidak mengamati setiap bagian tubuhmu, dan aku pun tak tahu kalau kembaran Lara masih hidup, tapi sekarang aku masih cukup waras untuk bisa membedakan antara kau dan Lara! Asal kau tahu, Lara tidak memiliki tanda di belakang telinganya. Sedangkan kau memiliki tanda di belakang telinga kananmu, Cinta!"
Cinta pun hanya terdiam, dan tampak menundukkan kepalanya. Tentunya dia malu karena Marshal mengetahui kebohongannya. Dan dia tidak bisa berkelit lagi.
"Maaf," ucap Cinta lirih, dia kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu kamar Marshal. "Tunggu Cinta!"
Cinta pun menghentikan langkahnya, dalam lubuk hati terdalamnya, ada sebuah harapan besar pada Marshal agar memberikan sedikit perhatian saja padanya. Dia kemudian membalikkan tubuhnya, hingga berhadapan dengan Marshal.
"Ada apa, Shal?"
__ADS_1
"Kenapa kau melakukan semua ini? Kau bukan seperti Cinta yang kukenal dulu. Cinta yang kukenal dulu, sangatlah taat pada aturan agama, dan tidak pernah melakukan tindakan manipulasi seperti ini."
Cinta pun hanya menatap Marshal dengan tatapan datarnya. "Cinta, kenapa kau bersikap seperti ini? Kembalilah pada Cinta yang dulu."
"Marshal, apa kau belum juga sadar? Aku sampai bertindak seperti ini, itu karenamu. Kau telah merenggut kesucianku, Shal. Dan saat aku terpuruk seperti ini, kau bersenang-senang dengan Lara. Kau pikir aku ikhlas? Aku telah banyak berkorban untuk kalian, dan saat aku terluka, kalian hanya bisa bahagia di atas penderitaanku? Kau pikir aku ini apa? Apa kau pikir aku tidak punya hati?"
"Cinta, aku tahu malam itu aku melakukan kesalahan. Tapi, kesalahan itu juga tidak akan terjadi jika kau tidak membalas semua yang kulakukan padamu kan?"
"Bukankah sudah kukatakan kalau aku Cinta, bukan Lara, tapi kau yang terus mendesakku?"
"Tapi tidak dengan membalas sentuhanku padamu kan? Aku tahu aku memang salah, aku tahu aku memang munafik, dan pecundang. Tapi, semua yang terjadi adalah sebuah ketidaksengajaan."
"Semua yang kau katakan hanyalah untuk menutupi kesalahanmu saja, Shal. Kau memang tidak bertanggung jawab."
"Apa masih harus kau pertanyakan, Shal? Aku hanya ingin kau bertanggung jawab karena kau telah merenggut kesucianku," jawab Cinta.
PRANG
Saat Cinta baru saja menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba terdengar suara gelas yang terjatuh. Saat Cinta dan Marshal menoleh ke ambang pintu, tampak pintu itu sedikit terbuka, dan dari celah pintu itu, tampak sosok Lara yang saat ini sedang berdiri sambil menatap keduanya dengan tatapan kosong.
"Tidak," ujar Lara lirih disertai air mata yang mulai keluar dari sudut matanya. Tiba-tiba, tubuhnya terasa begitu lemas mendengar kenyataan pahit yang baru saja diketahui olehnya.
"Lara!" panggil Marshal, sambil mendekat ke arahnya. Namun, saat Marshal sudah berada di sampingnya, Lara hanya menatapnya dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Jangan mendekat!" bentak Lara.
"Ra, ini nggak seperti yang kamu denger. Kuakui, aku memang melakukan kesalahan itu. Tapi semua aku lakukan karena aku nggak tahu kalau dia itu Cinta. Ra, sungguh setelah aku tahu kalau dia bukan kau, aku tidak melakukan kembali. Aku menghentikkan permainanku saat aku belum sepenuhnya merenggut kesucian Cinta. Sungguh, malam itu, aku belum sepenuhnya merenggut kesucian Cinta, Ra. Sungguh..."
"Cukup!" bentak Lara, dia kemudian berjalan menjauhi kamar Marshal, sedangkan Cinta hanya diam membisu melihat pemandangan yang ada di depan matanya. Terbersit rasa bahagia di dalam hatinya, karena itu artinya dia memiliki kesempatan untuk mendapatkan Marshal jika Lara tidak mau menerima Marshal kembali. Sedangkan Marshal, kini tampak mengikuti Lara yang meninggalkannya begitu saja.
Awalnya, Marshal pikir Lara hanya akan masuk ke dalam kamarnya, namun ternyata dugaan Marshal salah. Karena ternyata, Lara hanya mengambil kunci mobilnya, lalu keluar dari mansion itu. Dia kemudian berlari menuju ke garasi mobil diikuti Marshal yang berlari di belakangnya. Namun, saat mereka baru saja keluar dari mansion itu, terdengar suara letusan pistol dari arah gerbang.
Dor dor dor.
Mendengar suara letusan pistol, Lara pun seketika panik. Apalagi, dua orang satpam yang berjaga kini tampak bersimbah darah, tertembak oleh lima orang yang tiba-tiba masuk ke dalam mansion mereka.
"Bang Tigor!" teriak Marshal memanggil beberapa anak buahnya yang berjaga di samping rumah. Di saat itulah, salah satu penembak yang masuk ke mansion itu mengarahkan pistolnya pada Lara. Namun, saat penembak tersebut menarik pelatuknya, Marshal sudah berdiri di depan Lara dan melindungi wanita itu dari timah panas yang akan menembus tubuhnya.
Dor
"Marshal...."
"Aku akan melindungi kamu sampai akhir hayatku, Ra," ucap Marshal sebelum menutup matanya.
Bersambung...
NOTE: Maaf tidak bisa update setiap hari karena saya sudah tidak aktif menulis di sini lagi, terima kasih 💙
__ADS_1