
"Marshal!" teriak Lara saat tubuh pemuda itu jatuh di depannya. Dengan sekuat tenaga, Lara pun mengangkat tubuh Marshal yang saat ini sudah bersimbah darah masuk ke dalam mobilnya. Beberapa orang juga tampak berada di sekitar Lara untuk melindunginya.
Sementara itu, beberapa orang anak buah Arya kini masih terlibat baku tembak dengan lima orang yang meringsak masuk ke dalam rumah tersebut. Hingga akhirnya, tembak menembak itu pun terhenti saat beberapa buah letusan pistol yang berasal dari lantai dua mansion itu mengenai lima orang pengacau tersebut.
Melihat lima orang pengacau yang terkapar tidak berdaya, Lara kemudian menyuruh salah seorang anak buah Arya untuk mengantarnya menuju ke rumah sakit. Lara meletakkan kepala Marshal di atas pahanya, sambil terus menangis.
Sebenarnya dia masih merasa begitu marah dan sakit hati pada Marshal yang ternyata sudah mengkhianatinya. Tetapi, melihat kondisi Marshal saat ini, tentu saja dia tak tega membiarkan laki-laki itu meregang nyawa begitu saja. Bagaimanapun juga, rasa cintanya pada Marshal masih begitu besar, meskipun dia tak tahu bagaimana ujungnya nanti hubungannya dengan Marshal.
Tak berapa lama, mereka pun sudah sampai di rumah sakit. Marshal langsung mendapat penanganan di ruang emergency, sedangkan Lara kini menunggunya sambil terus menangis. Tak berapa lama, seorang dokter pun keluar dari ruang emergency tersebut.
"Dengan keluarga Tuan Marshal?"
"Iya dok."
"Permisi Nona, Tuan Marshal harus langsung dioperasi untuk mengeluarkan peluru di tubuhnya."
"Iya dokter, lakukan yang terbaik untuknya."
"Baik Nona."
__ADS_1
Dokter tersebut lalu membawa Marshal ke ruang operasi, sementara Lara menatap tubuh laki-laki itu yang kini terlihat begitu tidak berdaya.
"Shal... Kamu harus bertahan, bukankah beberapa bulan lagi kita..." Lara tak melanjutkan lagi kata-katanya. Rasanya begitu sakit saat harus mengucap kata menikah, karena dia pun tak yakin, setelah kejadian ini, entah bagaimana kelanjutan hubungannya dengan Marshal.
Sementara itu, di mansion, petugas kepolisian telah datang untuk menangkap lima pengacau tersebut. Kelima orang itu, memang hanya mengalami cidera tangan dan kaki karena Tigor sengaja menembaknya pada bagian tersebut. Dia memang sengaja menembak mereka dari lantai dua mansion agar lebih mudah melumpuhkan mereka tanpa bisa melakukan perlawanan balik.
"Pak polisi, tolong usut siapa dalang di balik semua kejadian ini."
"Iya Tuan Arya, saya akan usut kasus ini sampai tuntas."
"Baik Pak polisi, saya tunggu perkembangan selanjutnya."
"Iya Pak."
Setelah beberapa orang polisi tersebut meninggalkan mansion itu, Arya tampak melirik pada Tigor. "Tigor, dimana Cinta?"
"Sepertinya Nona Cinta masih di kamarnya, tampaknya dia juga tidak tahu tentang kejadian ini."
"Baik kalau begitu, suruh anak buahmu untuk tetap waspada, dan menjaga Cinta. Aku mau ke rumah sakit dulu menyusul Lara, aku ingin tahu bagaimana keadaan Marshal."
__ADS_1
"Iya Tuan."
Arya ditemani oleh dua orang anak buahnya, dan seorang supir kemudian menuju ke rumah sakit. Sementara itu, setelah melihat kepergian Arya, Cinta yang sejak tadi mengamati kejadian itu dari kamarnya, kini tampak meneteskan air matanya. Sebenarnya saat melihat Marshal yang tertembak, Cinta ingin berlari mendekat padanya. Namun, dia mengurungkan niat itu, bukan karena dia takut, tetapi karena di samping Marshal sudah ada Lara. Dia cukup sadar diri, karena sampai kapanpun cinta Marshal, hanya untuk Lara. Dan, sekarang dia baru menyadari itu saat melihat pengorbanan Marshal.
"Maafkan aku, maaf..." ujar Cinta. Dia kemudian keluar dari kamarnya, lebih tepatnya keluar dari mansion, dan meminta salah satu anak buah Arya untuk mengantarnya menuju ke rumah sakit.
Tak berapa lama, Cinta pun sudah sampai di rumah sakit. Kini dia berjalan mendekat ke arah Lara yang sedang terisak dalam pelukan Arya.
"Lara, bisakah kita bicara sebentar?" tanya Cinta saat dia sudah berdiri di depan Lara.
Lara yang tengah terisak kemudian mengangkat wajahnya, dan menatap Cinta dengan penuh tatapan tanda tanya. "Kau mau apa, Cinta?" sahut Lara, sambil menatap Cinta dengan sorot mata yang memerah, serta menahan emosi yang bergemuruh di dalam dadanya.
"Aku ingin bicara denganmu, Ra. Sebentar saja."
"Sepertinya tidak ada yang perlu dibicarakan, setelah Marshal sembuh, kau bisa menikah dengannya," jawab Lara. Tepat di saat itulah suara nyaring terdengar dari dalam ruang operasi.
TUUUUUUTTTTTTTTTTTT
Bersambung...
__ADS_1
NOTE: Yang punya aplk f***o, bisa baca nopel othor yang berjudul MEREBUT HATI SUAMIMU ya, yang sudah mampir ke sana, terima kasih.