
Gairah yang menggelora diantara keduanya, kini sudah membuat mereka terbaring di atas tempat tidur. Marshal menciumi leher kemudian tangannya meringsak masuk ke gunung kembar Lara, merremasnya, lalu turun dan memainkan gundukan kenyal itu dengan menggunakan lidah kasarnya.
"Ahhh... Shal..."
Marshal pun melucuti pakaian mereka, dan memasukkan kejanttanannya ke liang surgawi milik Lara. Dessahan dan errangan lirih pun kini mulai terdengar, mereka pun sepakat untuk berhati-hati agar suara mereka tidak terdengar dari luar kamar, karena mereka tidak ingin ada yang tahu apa yang sedang mereka lakukan.
"Ahhhh.... Marshal..." lirih Lara.
"Ah... Damnnn, i love it Lara..."
Setelah bertukar peluh cukup lama, leguhhan panjang pun terdengar dari bibir keduanya, saat mereka mencapai puncak secara bersamaan.
"Ah Lara..." dessah Marshal, lalu ambruk di atas tubuh Lara.
"I love you, Shal."
"Me too, Ra."
Marshal kemudian menarik tubuh Lara ke dalam pelukannya, lalu mendekap tubuh itu dengan begitu erat. "Maafkan aku, Ra. Maaf aku udah lakuin ini ke kamu."
"Untuk apa minta maaf, kalau perbuatan kita saat ini menandakan kalau kamu sepenuhnya jadi milik aku. Aku tahu di luar sana banyak cewek yang ngejar kamu, inget kamu nggak boleh genit-genit sama mereka."
Marshal pun terkekeh. "Kamu cemburu?"
"Nggak cuma posesif aja, karena kamu cuma milik aku!"
"Hahahaha..."
"Baiklah Tuan Putri, kalau begitu, ayo kita menikah! Aku akan menikahimu setelah aku selesai wisuda. Lalu kau, sebaiknya besok kau cuti dari kampus, Ra. Sebelum perutmu semakin membesar."
"Iya Marshal, besok aku ke kampus urus surat cuti kuliahku."
"Iya Ra," jawab Marshal kemudian mengecup puncak kepala Lara.
***
Keesokan Harinya..
"Aku masuk dulu, Sayang."
"Iya Ra."
"Inget habis selese urus persiapan wisuda kamu langsung jemput aku ya."
"Iya sayang."
__ADS_1
Lara kemudian keluar dari mobil Marshal, lalu melambaikan tangan pada Marshal sampai mobil itu keluar dari gedung kampus. Namun, saat sedang berjalan di pelajaran kampus, tiba-tiba Lara dipepet oleh sebuah mobil mercy warna hitam.
"Nick!" teriak Lara saat melihat sosok laki-laki keluar dari mobil tersebut.
"Selamat pagi, Lara. Apa kabarmu, Sayang?"
"Menjauh dariku bajinggan! Aku tidak mau melihatmu lagi! Kau laki-laki yang sangat menjijikan bagiku!"
"Apa kau sadar dengan semua kata-katamu, Lara?"
"Tentu saja, kau sangat menjijikan! CUIH!"
Lara pun meludahI Nicholas, yang membuat laki-laki itu terpancing emosinya. Dia lalu mendekat pada Lara kemudian membekapnya, dan setalah itu, semuanya menjadi gelap.
...****************...
FLASHBACK END
"Begitulah ceritanya Lara, hari itu Nicholas menculikku dan membawaku ke kota ini. Lalu, dia menikahiku secara paksa."
Lara pun kembali terisak. "Lalu, bagaimana dengan anak yang Nyonya kandung?"
"Cinta, aku mengalami keguguran. Aku kehilangan anak yang ada di dalam kandunganku. Meskipun aku sedih, tapi aku mensyukuri itu. Memang terdengar jahat, tapi asal kau tahu, jika anak itu lahir, hanya akan dijadikan alat bagi Nicholas untuk mencapai tujuannya saja."
"Saat itu, Nicholas memang merenggut sengaja kesucianku, karena dia ingin aku mengandung darah dagingnya. Dia ingin anak itu yang nantinya akan menguasai perusahaan milik Opa. Lebih tepatnya keluarga Nicholas yang ingin menguasai perusahaan Opa."
"Jadi, Tuan Nicholas ingin menguasai perusahaan milik Opa-nya Nyonya Lara?" Lara pun menganggukkan kepalanya.
"Mengapa bisa sampai terjadi seperti itu, Nyonya? Bukankah perusahaan itu milik keluarga Nyonya?"
"Awalnya nggak, Cinta. Opa dan Paman dari Nicholas membangun perusahaan itu bersama. Namun, pada suatu hari keluarga Paman Nick mengalami suatu masalah dengan keuangan mereka, dikarenakan anaknya yang bernama Kevin memiliki banyak hutang akibat berjudi."
"Paman Nicholas akhirnya menjual mayoritas saham yang dimilikinya pada Opa, namun Opa memang memiliki kesalahan karena terlalu percaya pada teman baiknya itu. Saat terjadi jual beli itu, tidak ada perjanjian hitam diatas putih yang mereka lakukan, sehingga anaknya yang bernama Kevin menggugat kepemilikan saham milik Opa, saat orang tuanya meninggal. Padahal, Opa sudah memberikan bukti berupa mutasi transfer, tapi Kevin tetap tidak percaya, dan merencanakan semua ini padaku agar bisa memiliki separuh perusahaan milik Opa."
"Ooh, saya mengerti. Mereka benar-benar jahat!" gerutu Cinta yang ikut kesal mendengar cerita dari Lara. "Tenang saja Nyonya, saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantu Nyonya Lara."
"Terima kasih, Cinta. Tapi, kamu harus ingat, kita cuma punya waktu kurang dari 2 minggu untuk membebaskanku, karna dua minggu lagi umurku 23 tahun. Dalam catatan notaris, saat umurku 23 tahun semua harta milik Opa menjadi milikku. Dan, mereka pasti akan melakukan apa saja termasuk memaksaku untuk mendatangani surat hibah warisan pada mereka."
"Iya, iya, saya mengerti, saya harus bergerak cepat, gitu kan, Nyonya?"
"Iya, ada yang mau kamu tanyain?"
"Emh, ada Nyah. Tapi gini, saya sebenarnya malu"
"Ga usah malu tanyain aja!"
__ADS_1
"Gini nyah, tolong ajarin cara biar ponsel ini nyala. Dari tadi saya udah puter-puter kok ga nyala-nyala."
"Astagaaaa semiskin apa sih lu dulu sampe nyalain ponsel aja ga bisa!" gerutu Lara. Cinta pun hanya bisa tersenyum getir, Lara lalu menyalakan ponsel tersebut dan mengajari sedikit penggunaannya.
"Nih kamu buka aplikasi ini yang warnanya ijo, disini kamu bisa kirim pesan, kirim video, foto, dokumen, dan lain-lain. Nantinya kita juga saling tukar info pake aplikasi ini."
"Oh iya, saya ngerti."
"Ya udah sekarang kamu istirahat di kamar, besok kamu harus berangkat pagi, kalau mau ada yang mau ditanyakan, gue ada di kamar."
"Baik nyah, terimakasih banyak. Saya permisi dulu."
Lara mengangguk kepalanya, sedangkan Cinta kini beranjak dari sofa itu lalu masuk ke dalam kamar pembantu. Saat di dalam kamar, dia memandangi benda pipih dalam genggaman tangannya itu. Cinta merasa begitu bahagia. Sekarang, dia telah memiliki ponsel yang sangat dia idam-idamkan. Dulu jangankan membeli ponsel, untuk makan saja sangat pas-pasan.
***
Keesokan Harinya....
Sayup-sayup adzan subuh mulai berkumandang, Cinta sudah bersiap di dalam kamar untuk melaksanakan ibadah. Setelah selesai, Cinta begitu terkejut karena saat ini Lara telah berdiri di belakangnya.
"Lagi ngapain lu?"
"Oh ini namanya sholat subuh, setiap hari saya shalat lima waktu. Setelah sholat, hati saya rasanya tenang."
"Ooh ya udah kapan-kapan lu ajarin gue ya."
"Iya nyah."
"Yuk buruan, gue temenin lu keluar sebelum satpam di depan bangun."
"Baik Nyonya Lara."
Dengan mengendap-endap Cinta dan Lara melewati seorang satpam yang masih tertidur di pos jaga. Setelah membuka gerbang, taksi online yang sudah dipesan oleh Lara sudah menunggu di depan rumahnya.
"Nyonya saya pergi dulu."
"Iya Cinta, kamu hati-hati ya. Semoga berhasil, lu adalah harapan satu-satunya gue untuk membebaskan gue dari mereka. Satu lagi jangan pernah panggil gue Nyonya, panggil saja Lara."
"Ooh iya, baik Lara. Saya pergi dulu ya, saya janji akan berusaha semaksimal mungkin untuk membebaskan kamu dari sini! Tunggu aku, Lara."
Lara pun menganggukkan kepalanya.
__ADS_1