
"Lara..." ucap Marshal kembali. Laki-laki itu, perlahan pun membuka kelopak matanya.
"Shal, kamu udah sadar?"
Marshal pun menganggukkan kepalanya, disertai tatapan sayu. "Ra, tolong maafin aku. Aku bisa jelasin semua. Malam itu, memang semua salahku..."
"Cukup, Shal. Nggak usah diterusin, kamu lagi sakit."
"Tapi Ra, aku pengen semuanya jelas. Aku nggak mau kamu marah sama aku..."
Lara lalu menempelkan jari telunjuknya di bibir Marshal. "Nggak ada yang perlu dijelasin lagi, Shal. Aku udah nggak marah sama kamu."
Marshal pun mengerutkan keningnya, seolah tak percaya dengan perkataan Lara. "Aku udah nggak marah lagi sama kamu, Shal. Aku nggak boong. Kemarin aku memang kecewa setelah tahu kebenaran itu. Jujur, aku sangat sakit, tapi aku sadar kita hanya manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Kalau dulu kamu mau berbesar hati menerimaku apa adanya. Lalu kenapa aku tidak? Bukankah semua yang terjadi itu memang ketidaksengajaan dan kita pun tidak menginginkan itu?"
Marshal pun menatap Lara dengan tatapan yang begitu dalam, lalu perlahan mengangkat tangannya yang masih terpasang jarum infus, untuk membelai wajah Lara.
"Shal, kamu nggak usah banyak gerak deh. Liat keadaan kamu, mending kamu diem aja."
Marshal menggelengkan kepalanya. "Aku nggak apa-apa, Ra. Aku nggak apa-apa. Selama ada kamu di sisi aku, aku selalu baik-baik aja."
__ADS_1
Lara pun merasa gemas mendengar perkataan Marshal, ingin rasanya dia memeluk tubuh laki-laki itu. Namun, saat ini dia tak bisa melakukan itu karena luka di tubuh kekasihnya itu masih belum sembuh. Akhirnya dia pun hanya tersenyum, lalu mengecup bibir Marshal.
"Kita akan selalu bersama, sampai maut memisahkan. Cepat sembuh, Shal," bisik Lara sambil menempelkan wajahnya pada wajah Marshal, lalu dibalas anggukan dan kecupan di bibir Lara.
"I love you, Ra."
Tanpa mereka tahu, di balik celah pintu ruang perawatan itu, tampak Cinta menatap pemandangan di dalam ruang perawatan itu sambil berderai air mata.
"Aku adalah Cinta, dan dia adalah Lara. Tetapi dia lah yang mendapatkan cinta dan akulah yang mendapat lara. Namun, ini adalah suratan takdir yang harus kujalani. Memang rasanya begitu sakit, tapi aku sadar semua yang terjadi adalah cara Tuhan untuk menegurku yang telah berpaling dari-Nya. Tuhan, bimbing aku kembali ke jalanmu."
***
Mansion milik keluarga Arya telah berhiaskan rangkaian dekorasi disertai aneka bunga yang indah pada seluruh sudut ruangan. Ya, pagi ini Lara dan Marshal akan mengucapkan janji suci pernikahan mereka. Memang Lara dan Marshal sengaja tidak menggelar acara pernikahan dengan mewah dan hanya dihadiri oleh beberapa rekan bisnis dan saudara terdekat mereka saja, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan serta untuk menambah kesan sakral pernikahan mereka.
Meskipun Kevin dan Nicholas sudah mendapatkan vonis hukuman penjara seumur hidup, tetapi mereka tetap saja harus berhati-hati saat pernikahan itu berlangsung, sehingga mereka memutuskan acara pernikahan tersebut dilakukan secara private party.
Cinta menatap Marshal dan Lara yang saat ini duduk di depan penghulu. Marshal tampak menjabat tangan Arya seraya mengucapkan ijab qabul dengan begitu lantang.
Air mata pun jatuh di wajah Cinta saat kata "SAH" terdengar dari para saksi pada acara akad nikah tersebut. Rasanya hatinya terasa begitu sesak saat melihat mereka saling melempar senyuman kemudian Marshal mencium kening Lara. Keduanya pun tampak begitu bahagia. Namun, Cinta berusaha menepis semua rasa itu dan mencoba ikut merasakan kebahagiaan seperti yang dirasakan oleh semua orang yang ada pada acara tersebut. Dia kemudian menyeka air matanya lalu mendekat pada Lara dan Marshal.
__ADS_1
"Selamat Ra, selamat Shal."
"Makasih Cinta," jawab Lara. Sedangkan Marshal masih terlihat canggung jika berhadapan dengan Cinta.
"Semoga kamu juga secepatnya bisa mendapatkan pasangan yang tepat, Cinta."
"Terima kasih, Ra. Ya udah, aku mau temuin tamu undangan dulu ya Ra, mau nemenin Bapak sama Ibu juga."
"Iya Cinta."
Cinta kemudian membalikkan tubuhnya berjalan menjauhi Marshal dan Lara. "Aku ikhlas, aku ikhlas demi kebahagiaan mereka," gumam Cinta. Hingga langkah Cinta, tiba-tiba saja terhenti oleh sebuah sapaan seorang wanita yang memanggilnya.
"Cinta..."
Cinta lalu membalikkan tubuhnya dan melihat seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik sedang tersenyum menatapnya.
"Kau yang bernama Cinta? Maukah kau menikah dengan Tristan, putraku?"
TAMAT....
__ADS_1
Follow ig: queenweny. fb: Weny Hida, untuk mendapatkan berita terupdate novel² saya. Sekali lagi terima kasih 💙