Aku Cinta Bukan Lara

Aku Cinta Bukan Lara
Ketulusan


__ADS_3

"Dasar bedebah! Arya memang kurang ajar!"


"Kak Kevin, apa kau tidak bisa diam?"


"Apa diam, Nick? Kau seharusnya berfikir bagaimana caranya agar kita bisa keluar dari sini!"


"Keluar dari sini, Kak? Lebih baik kau tidak usah bermimpi karena mendapatkan pengurangan masa tahanan saja itu sudah cukup baik bagi kita."


"Apa katamu? Dasar bodoh, jadi ini artinya kau akan pasrah begitu saja, hah?"


"Memangnya kita bisa apa, Kak? Bukti yang mereka miliki sudah terlalu kuat, dan kita tidak memiliki banyak uang untuk membayar pengacara mahal untuk membantu kasus kita."


"DASAR BRENGSEKKKK!"


***


Sementara itu, Marshal yang saat ini sudah dipindahkan ke ruang perawatan, tampak ditemani Lara di sampingnya. Lara hanya bisa menatap Marshal dengan tatapan sayu. Jauh di dalam lubuk hatinya, dia sangat mencintai laki-laki itu, tapi setelah mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi antara Marshal dan Cinta, tentu saja dia tak bisa mengabaikan rasa sakit di dalam hatinya.


Mungkin itu semua hanyalah sebuah ketidaksengajaan, tapi tetap saja menimbulkan luka bagi Lara. Di ruangan itu, Lara tampak sendirian. Sedangkan Arya, pagi ini sedang mengurus tentang kasus penyerangan di rumahnya yang dilakukan oleh Kevin, yang sudah berhasil ditangkap oleh petugas kepolisian.


Tanpa Lara tahu, di balik pintu kamar perawatan yang sedikit terbuka, Cinta hanya bisa menatap keduanya sambil menangis. Sebenarnya, ingin rasanya dia masuk ke dalam ruang perawatan itu, dan melihat bagaimana keadaan Marshal. Tetapi, dia cukup sadar diri jika saat ini dirinya justru akan mengganggu mereka berdua.


Saat akan melangkahkan kakinya menjauh dari ruang perawatan itu, sayup-sayup terdengar suara dari arah dalam ruang perawatan itu.


"Kenapa tidak masuk saja," ujar sebuah suara yang Cinta kenali sebagai milik Lara. Spontan Cinta pun membalikkan tubuhnya, dan melihat Lara yang sedang menatapnya.


"Kalau kau ingin masuk, masuk saja dan tidak usah berdiri seperti itu."


Cinta pun menatap Lara sejenak, meskipun ragu dia akhirnya masuk ke dalam ruang perawatan itu. Dia kemudian duduk di atas sofa, lalu menatap Marshal yang saat ini terlihat begitu tidak berdaya. Ya, laki-laki itu memang mengalami luka tembak di beberapa bagian tubuhnya. Namun, satu hal yang membuat Cinta merasa begitu sakit saat berada di ruangan itu, yaitu genggaman tangan Marshal pada Lara.

__ADS_1


Meskipun saat ini Marshal sedang tidak sadarkan diri, namun di alam bawah sadarnya, seolah-olah laki-laki itu pun tak ingin kehilangan Lara, dan tidak ingin Lara meninggalkannya meskipun hanya sebentar saja. Semua itu menjelaskan bahwa Marshal memang sangat mencintai Lara.


"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Lara, memecah lamunan Cinta.


"Apa?"


"Ya, bukankah tadi saat Marshal berada di dalam ruang operasi, kau mengatakan kalau ingin berbicara denganku?" balas Lara, mencoba mengingatkan kembali pada perkataan Cinta saat mereka sedang duduk di depan ruang operasi.


Cinta kemudian bangkit dari atas sofa, lalu mendekat ke arah Lara, dan berlutut di depannya. Melihat Cinta yang tiba-tiba berlutut, Lara pun begitu terkejut.


"Hai, apa yang kau lakukan, Cinta?"


"Ra, maafkan aku. Sungguh aku benar-benar minta maaf padamu. Yang pernah terjadi antara aku dan Marshal hanyalah sebuah ketidaksengajaan. Saat itu, Opa memberi waktu selama satu minggu, dan hari itu adalah hari terakhirku berada di rumah Opa. Aku berusaha berfikir bagaimana caranya agar Marshal dan Opa percaya pada perkataanku. Saat itu, Opa sedang pergi keluar kota, jadi aku memutuskan untuk menemui Marshal di kamarnya. Aku memang lancang, Ra."


Cinta tampak menghapus air mata yang membasahi wajahnya, sedangkan Lara hanya menatapnya dengan tatapan yang begitu dalam.


"Jangan seperti itu, duduklah di sampingku!" perintah Lara agar Cinta bangun, dan tidak lagi berlutut di depannya.


"Tapi Cinta..."


"Ra, dengarkan aku... Saat itu, Marshal meminta bukti padaku, dan saat aku memberikan bukti berupa KTP, dia tidak mempercayaiku dan mengatakan jika itu palsu. Lalu, malam itu, saat aku berada di dalam kamarnya dia yang saat itu sedang sangat marah karena dia pikir kau sudah mempermainkan perasaannya, ingin melakukan hal yang sama dengan apa yang kalian lakukan sebelum kalian berpisah. Aku memang bodoh, seharusnya aku sadar kalau Marshal melakukan itu karena menganggap jika aku adalah kau. Dan seharusnya aku bisa menghentikan semua itu dengan menolak apa yang dia lakukan. Namun, saat itu aku yang sudah jatuh cinta pasa Marshal, malah membalas sentuhannya."


"CUKUP!" bentak Lara, yang kini mulai terisak. Rasanya, sungguh sakit mendengar semua pengakuan Cinta.


"Ra, tapi percayalah kami belum terlalu jauh melakukan itu. Saat Marshal menyadari ada sedikit robekan di inti tubuhku, Marshal langsung menghentikan apa yang kami lakukan. Sungguh Ra, kami tidak melakukan hal itu terlalu jauh. Kau bisa lihat seberapa besar cinta Marshal padamu, Ra. Dia mengorbankan nyawanya untukmu, bahkan saat di depan ruang operasi ketika kau mengatakan kalau kau ingin melepasnya untukku, dia memilih menyerah kan, Ra? Dia memilih meninggalkan dunia ini karena satu-satunya sumber kebahagiaannya memilih untuk meninggalkan dia. Ra, cinta Marshal begitu besar padamu."


Lara hanya terdiam mendengar perkataan Cinta. Ya, dia menyadari jika yang Cinta katakan itu memang benar. Cinta Marshal padanya, memang begitu besar. Tapi, bagaimana dengan kesalahan yang pernah Marshal lakukan? Sakit di dalam hatinya, tak bisa dia hapus dengan begitu mudahnya.


"Ra... Apa kamu masih ragu? Ingat Ra, sebenarnya bukan hanya Marshal yang melakukan kesalahan, tapi kau juga pernah Ra. Dulu, kau selalu tidak pernah mempedulikan larangan Marshal kan? Hingga Nick melakukan pelecehan padamu. Lalu, dengan segala kerendahan hatinya, Marshal mau menerimamu apa adanya, karena dia sangat mencintaimu, Ra. Cinta adalah ketulusan, dan cinta itu tanpa syarat."

__ADS_1


Dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Lara membenarkan perkataan Cinta, memang semua yang Cinta katakan itu benar, cinta adalah ketulusan, tanpa syarat. Dan Marshal sudah menunjukkan semua itu, lalu bagaimana dengan dirinya?


"Lalu bagaimana denganmu, Cinta? Bukankah kau juga mencintai Marshal?"


"Kau pikir apa artinya sebuah cinta tanpa mendapat balasan? Hanya akan menimbulkan rasa sakit. Memang tadi malam, aku pergi ke kamar Marshal dan menjatuhkan harga diriku dengan mengemis cinta dan memberinya tekanan agar bertanggung jawab telah merenggut kesucianku. Tapi apa yang aku dapatkan? Hanya kehinaan, karena cinta dia bukan buat aku, tapi buat kamu."


"Tolong jangan berdiri, Cinta. Tolong jangan bersikap seperti itu."


"Apa itu artinya kau sudah memaafkan kami?"


Lara pun tersenyum kecut. "Rasanya memang sangat sakit, tapi aku tidak punya alasan untuk terus menerus marah pada kalian. Aku tahu ini berat dan tidak mudah, tapi seiring berjalannya waktu aku pasti bisa menghapus rasa sakit hati ini. Jika Marshal bisa menerimaku apa adanya. Kenapa aku tidak? Sekarang berdirilah."


Cinta pun bangkit, lalu memeluk Lara. "Makasih Ra..."


"Iya..."


Cinta lalu melepaskan pelukannya pada Lara. "Aku pergi dulu, Ra."


"Kau mau kemana?"


"Kalian perlu waktu untuk berdua. Aku pergi dulu, Ra."


Lara pun menganggukkan kepalanya, sambil menatap Cinta yang pergi dari ruangan itu. Dia lalu beralih menatap Marshal yang saat ini masih memejamkan matanya. Lalu mendekat ke arahnya dan berbisik di telinganya.


"Maafkan aku, Shal. Aku cinta sama kamu."


Lara kemudian mengecup pelipis Marshal. "Ra..." lirih Marshal saat Lara sedang mengecup pelipisnya.


Bersambung...

__ADS_1


NOTE: Yang punya Fiz*o bisa mampir ke novel othor ya, judulnya Merebut Hati Suamimu, terima kasih 💙



__ADS_2