
"Marshal!" teriak Lara yang samar-samar mendengar mesin elektrokardiograf yang berbunyi nyaring. Lampu di atas pintu ruang operasi itu pun mati, lalu pintu ruang operasi itu tampak terbuka, dan seorang perawat keluar dari pintu tersebut. Melihat pintu ruang operasi yang sedikit terbuka, Lara yang begitu panik, lalu menerobos masuk ke dalam ruangan operasi tersebut.
"Lara!" teriak Arya, bermaksud untuk mencegah Lara karena selain petugas, tidak ada yang diperbolehkan untuk masuk ke ruangan operasi. Namun, upaya Arya untuk mencegah Lara sia-sia karena dia sudah masuk ke dalam ruang operasi tersebut.
Sementara itu, di dalam ruang operasi seorang dokter dan beberapa orang perawat yang baru saja selesai mengoperasi Marshal tampak begitu terkejut dengan kedatangan Lara.
"Maaf nona, sebaiknya anda keluar."
"Dok, tolong ijinkan saya untuk bertemu dengan Marshal. Tolong ijinkan saya untuk menemani Marshal di sini. Tolong dok," rengek Lara.
"Baiklah!" sahut dokter tersebut, dia pun berusaha menyelamatkan Marshal kembali dengan menempelkan alat kejut jantung di dada laki-laki itu. Lara pun menatap Marshal sambil terus menangis, seraya berdoa meminta keselamatan laki-laki yang sangat dicintainya itu.
"Tuhan, tolong selamatkan Marshal. Aku tahu, aku bukanlah manusia suci, dan hanyalah seonggok manusia kotor yang penuh dengan dosa. Aku tahu, aku tidak pantas meminta setelah begitu banyak dosa yang kulakukan. Tetapi hanya Engkau-lah harapanku, tempat ku meminta, tidak ada yang lebih berkuasa dibandingkan Engkau. Tuhan, tolong selamatkan, Mashal."
Lara pun menjatuhkan tubuhnya di atas lantai, diiringi air mata yang sudah membasahi seluruh wajahnya. Sudah tiga kali dokter menempelkan alat kejut jantung itu, namun Marshal belum menunjukkan reaksi apapun.
"Shal, bangun. Kamu kan udah janji kan selalu jagain aku sampe akhir hayat. Aku tagih janji kamu sekarang. I love you, Shal," ucap Lara sambil memejamkan matanya. Tepat di saat itulah, mesin elektrokardiograf pun terdengar kembali berbunyi teratur.
Lara yang masih bersimpuh di atas lantai pun sontak membuka matanya. Lalu tersenyum sambil melihat laki-laki yang sangat dia cintai itu.
__ADS_1
"Shal kamu denger aku? Aku tahu kamu pasti tepatin janji kamu."
Sayup-sayup dari atas brankar tempat Marshal dioperasi, terdengar suara rintihan dari Marshal. "Lara... Lara..."
Seorang dokter yang sedang menutup luka operasi Marshal dengan menggunakan kain kasa pun begitu terkejut mendengar ucapan yang keluar dari bibir Marshal.
"Anda yang bernama Lara?" tanya dokter tersebut sambil menatap Lara yang saat ini sedang berdiri sambil menatap Marshal. Lara pun menganggukkan kepalanya. "Nona, anda bisa menemani Tuan Marshal, semangat dari anda yang dia rasakan lewat alam bawah sadarnya, kemungkin besar bisa meningkatkan kesembuhan dan semangat hidupnya."
Tanpa pikir panjang, Lara pun mendekat ke arah Marshal. Karena saat ini, yang dia pikirkan hanyalah kesembuhan Marshal. Meskipun beberapa saat yang lalu, dia mengambil keputusan untuk meninggalkan laki-laki itu.
"Shal, kamu harus bertahan," ucap Lara sambil mengelus punggung tangan Marshal, lalu menggengamnya. Genggaman tangan itu pun dibalas oleh Marshal, meskipun saat ini Marshal sedang tidak sadarkan diri.
Sementara itu, lewat celah pintu ruang operasi itu yang sedikit terbuka, Cinta hanya bisa menangis melihat pemandangan yang ada di depannya.
****
Kevin yang baru saja selesai sarapan tiba-tiba dikejutkan oleh pembantu rumah tangganya yang mendekat padanya.
"Maaf Tuan Kevin, ada tamu di depan."
__ADS_1
"Tamu? Tamu siapa, Bi?"
"Saya tidak tahu, Tuan. Mereka cuma bilang mau ketemu sama Tuan Kevin."
Dengan langkah malas, Kevin pun beranjak dari meja makan lalu berjalan ke arah ruang tamu, dan melihat tiga orang berbadan kekar tampak berdiri di ambang pintu rumahnya.
"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?"
"Dengan Tuan Kevin?"
"Ya, saya Kevin."
"Tuan Kevin, anda kami tahan karena menjadi dalang atas kasus penyerbuan di kediaman Tuan Arya. Selain itu, anda juga menjadi tersangka atas kasus penculikan Nona Lara, cucu dari Tuan Arya, dua tahun silam."
"Apa-apaan ini! Kalian tidak bisa menangkap saya seperti ini! Saya mau menghubungi pengacara saya terlebih dulu."
"Itu nanti bisa anda lakukan di kantor polisi. Sekarang mari ikut kami!"
"DASAR BRENGSEKKKK!"
__ADS_1
Bersambung....