Aku Dan Ceo Dingin

Aku Dan Ceo Dingin
Bab 2


__ADS_3

Setelah kepergian dian, gerry dan mira sangat bahagia terutama mira dia sungguh bahagia akhirnya bisa menyingkirkan dian dan sebentar lagi akan menjadi istri satu satunya gerry tanpa harus jadi madu


Saat ini mira dan gerry sedang jalan jalan kemall karena mira ingin membeli tas keluaran terbaru sesampainya di toko tas favorit mira


"mas, kenapa kamu melamun? tanya mira yang melihat gerry seperti memikirkan sesuatu. ya benar gerry tidak sepenuhnya bahagia karna sudah berpisah dengan dian seperti tidak rela dia melepaskan dian wanita yang dulu dia cintai bahkan menemaninya disaat masih jadi staff biasa di kantor, namun segera ditepis pikiran itu ketika mira memanggilnya.


"tidak apa apa sayang, mas hanya memikirkan kerjaan saja, bagaimana tasnya sudah ketemu yang kamu mau? tanya gerry mengalihkan pembicaraan


" sudah mas, ini lihatlah bagus bukan..harganya hanya 15jt mas" jawab mira dengan senyum lebar memegang tas merek channel


" oh ya sudah kalo gitu ayo kita bayar"ucap gerry sambil mengandeng mira


dilain tempat tepatnya di rumah dian dan meira sedang makan malam bersama bi asih, kang amir dan anak nya bi asih yang bernama derry berumur 17 tahun.


"hah...sudah lama sekali aku tidak makan masakan bibi, masih sama rasanya ini enak sekali bi"ucap dian sambil melahap makanannya


"syukurlah neng masih suka masakan bibi"ucap bi asih


"der, kamu kan sudah mau lulus SMA mau melanjutkan kuliah dimana? tanya dian pada gerry yang masih asyik makan


"ehmmm. sebenarnya aku ingin kerja sama mbak, bantu ayah di perkebunan"jawab derry dengan menunduk


"kenapa? sayang sekali der, lebih baik kuliah nanti jika sudah lulus kuliah baru kamu bantu kang amir diperkebunan, kalau masalah biaya tenang saja mbak akan biayai kamu"ucap dian pada derry yang sudah dianggap adik olehnya.


"terima kasih mba, tapi aku ingin bantu ayah dulu saja, ayah sudah tua jadi setidaknya aku sebagai anak membantunya, masalah kuliah nanti aku pasti kuliah mba tapu tidak sekarang. jelas derry pada dian


Dian akhirnya hanya mengangguk anggukan kepalanya dan mereka melanjutkan makan malam mereka dengan hikmat


Dirumah gerry pun sama gerry dan mira sedang makan malam.


"mas, jangan lupa segera urus perceraianmu dengan dian, biar kita bisa secepatnya menikah mas, aku mau tinggal disini"ucap mira pada gerry yang sedang memakan makanannya


Tiba tiba gerry tersedak kaget mendengar ucapan mira karena jujur dalam hatinya kini dia menyesal telah menalak dian.


"hati hati mas makannya bisa tersedak begitu"ucap mira sambil memberikan minum pada gerry


"iya sayang, makasi ya.."ucap gerry sambil tersenyum

__ADS_1


"lalu bagaimana mas kapan mau urus perceraian mas?"tanya lagi mira


"secepatnya sayang, mas juga gak sabar ingin menikah denganmu"ucap gerry yang berusaha menenangkan mira agar tidak curiga.


"lagipula mas, kenapa aku tidak boleh tinggal disini sih mas, kan sudah tidak ada dian ini"tanya mira


"mira sayang, sabar ya nanti kita menikah kamu akan jadi nyonya disini, bukan karna tidak ada dian, tapi takutnya tetangga disini akan memikirkan yang tidak tidak"ucap gerry menjelaskan pada mira


"ishh, kenapa dipikirin sih omongan tetangga kamu, lagipula mas kan kita itu sudah seperti suami istri, bahkan mas selalu meminta aku memuaskan mas diranjang"ucap mira sambil merengut wajahnya karna kesal tidak boleh tinggal dirumah gerry


"ya pokoknya sabar saja tidak lama lagi kok, sudah lanjutkan makannya abis ni mas antar ke apartemen sekalian mas minta jatah,hehe"ucap gerry sambil tergelak.


"itu juga kenapa ga disini aj kenapa harus di apartemen aku, atau jangan jangan mas masih harapin dian ya jadi gak mau kita melakukan dirumah yang banyak kenangan kamu sama dia, ayo jawab mas?"cecar mira lagi pada gerry


"bukan sayang bukan gt, kan sudah mas bilang kalo disini nanti terdengar tetangga mas, jangan mikir yang tidak tidak mas tuh sayang dan cinta hanya sama kamu mir"ucap gerry


pagi harinya dian dan meira sedang jalan pagi sambil melihat perkebunan peninggalan papanya.


"ma, disini cejuk ya, meila cuka cekali dicini mah"ucap meira yang terlihat bahagia


dian dan meira duduk dipondok disekitar perkebunan yang sengaja dibuat untuk tempat istirahat para pekerja perkebunannya.


saat dian dan meira sedang asyik bercanda gurau ada seorang ibu paruh baya salah satu pekerja mendekatinya


"neng...neng dian kan? astaga neng ibu sudah lama sekali tidak melihat neng dian dikira siapa yang duduk dipondok"tanya ibu itu yang bernama ibu nuri


"iya bu, ibu apa kabar? bagaimana juga kabar reza ?" tanya dian yang mengingat ibu nuri pekerja diperkebunannya dari dian masih kecil, beliau hanya seorang janda miskin yang bekerja untuk menghidupi anaknya yang umurnya lebih tua 2 tahun dari dian.


"ibu baik neng, alhamdulilah..berkat kerja disini semua kebutuhan ibu dan reza tercukupi. Reza juga baik dia sekarang bekerja di kota M alhamdulilah juga sekarang sudah jadi asisten bos besar disana"ucap ibu nuri sambil tersenyum mengingat anaknya sudah bisa mandiri dan bekerja menjadi asisten bos.


" loh bu, jika reza uda sukses kenapa ibu masih bekerja dikebun, kasihan mending ibu dirumah tinggal nikmati hasil kerja keras ibu mendidik reza, atau reza tidak pernah pulang dan beri ibu uang? tanya dian yang sedikit kesal pada teman kecil nya itu yang dikira tidak pernah mengurusi ibunya


"bukan neng, reza juga sudah menyuruh ibu berhenti bekerja tapi ibu yang ingin daripada dirumah kan ibu tidak ngapa ngapain mending dikebun neng"jelas ibu nuri


"meski reza jarang pulang dia tetap mengirimi ibu uang neng, jadi tenang saja reza bukan anak yang tidak berbakti. hehehe"lanjut ibu nuri


"syukurlah ku kira reza tidak mengurusi ibu, kalau benar begitu dian juga ikut senang"

__ADS_1


saat dian asyik berbicara dengan ibu nuri, meira yang daritadi diam saja akhirnya berbicara pada mamanya


"mah,..ayo celiling lagi"ucap meira


dian menengok kearah meira


"oh iya sayang, ayo kalo gitu kita jalan lagi"ucap dian pada meira.


"mari ibu nuri saya dan anak saya mau keliling lagi"


"iya neng, silahkan ibu juga mau lanjut kerja lagi"


Dian pun berlalu jalan dengan meira, ibu nuri hanya memandangi dian dan meira dalam pikirannya bertanya mana suami dian jika dian sudah punya anak.


1 bulan kemudian saat dian baru selesai mandi, handphonenya berbunyi menandakan ada telepon masuk pas dilihat ternyata gerry.


"hallo mas"ucap dian


"hallo dian, ini mas telepon hanya mau bilang surat cerai kita sudah keluar, mau mas antar tapi kan mas ga tahu kamu tinggal dimana,tolong kamu kirimin alamat rumah baru kamu ya?ucap gerry yang sambil tersenyum mendengar suara dian yang sudah lama dia tidak dengar.


Dian berpikir jika gerry tau alamat rumahnya takutnya gerry datang kerumahnya dan dian tidak mau itu


"maaf mas kebetulan dian tinggal nya diluar kota B, jadi gini aja kalau mas tidak keberatan dian akan kerumah mas mengambil surat cerai itu sekalian dian ada urusan dikota B" ucap dian dengan lembut


"oh begitu ya..ya sudah kalau gitu kapan kamu kesini, kamu telepon dulu ya kalau mau kesini takutnya mas masih dikantor"ucap gerry


"mungkin lusa mas, iya nanti dian kabari lagi aja kalau dian sudah disana"jawab dian


"baiklah..ehmm dian bagaimana kabar kamu dan meira?tanya gerry yang merasa kangen sama meira dan juga ibunya


"aku dan meira baik mas, kamu tenang saja tidak usah memikirkan kami"jawab dian yang membuat gerry tersindir seolah selama masih bersama gerry tidak pernah peduli pada dian dan meira.


"ya sudah kalau begitu mas aku tutup teleponnya" ucap dian dan langsung mematikan panggilannya.


gerry berdesah sedih karna sikap dian seperti asing padanya.


"maafkan aku dian"ucap sesal gerry dalam hati

__ADS_1


__ADS_2