
Bismillahirrohmanirrohim.
Sebelum baca jangan lupa bismillah dan shalawat dulu 🤗
بسم الله الر ØÙ…Ù† الر ØÙŠÙ…
Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.
اللهم صلي عل سيدن Ù…ØÙ…د Ùˆ عل ال سيدن Ù…ØÙ…د.
"Mau kemana Mas?" tanya Cia melihat suaminya hendak pergi.
Ini sudah 1 minggu berlalu sejak kejadian Cia tak sengaja melihat Fahri di restoran dekat usaha bengkel milik Fahri.
Riko yang sudah rapi menatap istrinya tengah menunggu jawaban dari dirinya pasti, dia sedang meneliti penampilannya di depan cermin membuat Cia semakin heran, akhir-akhir ini Riko sering sekali memperhatikan penampilannya.
"Ke rumah sakit, tolong suruh para pelayan menyiapkan beberapa menu makanan yang enak," suruh Riko pada istrinya.
"Tapi buat apa Mas? apa ada tamu yang akan datang, akhir-akhir ini Mas juga sering ke rumah sakit jengukin siapa? Cia tanya sama Mama gak ada yang sakit kok," sungguh Cia merasa penasaran siapa orang yang setiap hari suaminya itu temui di rumah sakit.
"Udah sih Cia, nggak usah banyak tanya! nanti juga kamu tahu siapa orangnya, tinggal lakukan saja apa yang saya suruh. Memang ada tamu spesial yang akan datang ke rumah. Saya mau pergi ke rumah sakit dulu ingat pesan yang saya bilang tadi," ucap Riko berlalu dari hadapan Cia.
Cia hanya mampu menatap nanar punggun suaminya. 'Sampai kapan Mas pernikahan kita akan seperti ini? sudah hampir 3 bulan aku menjalani pernikahan denganmu, tapi kita masih seperti orang asing, banyak cara yang sudah aku lakukan tapi kamu tetap tak pernah menganggapku sebagai seorang istri, aku ini apa dimata mu Mas!' batin Cia, dadanya penuh sesak menatap kepergian sang suaminya.
Tidak ingin larut dalam kesedihan Cia menuju dapur untuk menyuruh para pekerja memasak pesanan suaminya.
"Bi tolong masak makanan yang spesial, kata Mas Riko ada tamu yang mau datang," ujar Cia pada pada pelayan.
"Baik Mbak," sahut mereka semua.
Mereka segera bergerak mulai membuat masakan yang Cia suruh tadi, ketika hendak berbalik keluar dari dapur Cia melihat seorang laki-laki yang baru saja masuk.
"Alex," ucap Cia merasa heran.
"Biasa Mbak, udah ada makanan belum?" tanya Alex.
Akhir-akhir ini Cia dan Alex sudah jauh lebih baik, mereka juga telah sering bertegur sapa. Apalagi setelah tahu masakan Cia enak, Alex selalu makan di kediaman kakaknya.
__ADS_1
"Lagi pada dimasak, kenapa memangnya?" tanya Cia heran.
"Laperlah Mbak, Mbak Cia dong yang masak juga saya ingin makan masakan Mbak boleh tidak?" pinta Alex penuh harapan.
"Baiklah." Cia menyetujui keinginan adik iparnya itu.
Dengan santai Alex mengambil tempat duduk di meja makan sambil memperhatikan para pekerja yang sedang memaksa. Cia juga sudah mulai melakukan kegiatannya untuk memasak menu yang Alex inginkan.
"Mbak ngomong-ngomong masak banyak memangnya ada siapa yang mau datang?" Alex bertanya dengan heran.
"Mbak juga kurang tahu Alex, tapi Mas Riko yang minta suruh masak banyak katanya ada tamu spesial yang mau datang," jelas Cia membuat Alex mengernyitkan dahinya bingung.
Tamu siapa yang akan datang mungkin pikir Alex, karena dia paham betul kakak tirinya itu paling jarang menerima tamu di kediamannya.
"Sekarang di mana Mas Riko, Mbak." Alex kembali melontarkan pertanyaan pada Cia.
"Tadi sih bilangnya mau ke rumah sakit, tadi bilang sama Mbak begitu," jawab Cia santai sekali, bahkan dia masih melanjutkan kegiatannya memtotong-motong sayuran.
Deg!
Kaget Alex selama ini dia selalu menyelidiki kakak tirinya itu, jadi dia tahu siapa yang selalu dijenguk oleh sang kakak di rumah sakit.
Jika dulu diawal-awal pernikahan Riko dan Cia, Alex sama sekali tidak menyukai kehadiran Cia di keluarga Wiguna berbeda dengan sekarang setelah dia tahu siapa Cia sebenarnya dan kenapa dia bisa ada di keluarga Wiguna.
Di rumah sakit.
Sebelum sampai di rumah sakit Riko sempat membeli sebuket bunga bukan untuk istrinya melainkan untuk perempuan lain. Riko berkali-kali mencium bunga itu.
"Semoga kamu suka sama bunganya Dila," ucap Riko pada diri sendiri, dia tersenyum senang.
Langkahnya terburu-buru melewati lorong rumah sakit menuju sebuah kamar rawat, tak butuh waktu lama Riko telah tiba di tempat yang dia tuju.
"Semoga Dila senang aku jemput dia pulang," gumum Riko sambil memutar knop pintu di depannya itu.
"Dila," ucap Riko melihat gadis itu tak lagi mengenakan baju rumah sakit.
"Mas Riko," sahut gadis bernama Dila yang telah menyelawatkan Riko dari bahaya dua minggu lalu.
__ADS_1
Dila dan Riko berjalan mendekat masing-masing ketika sudah berada di hadapan Riko, dia memberikan buket bunga yang sepat dia beli tadi untuk Dila.
"Buat aku Mas?" tanya gadis itu dengan ragu-ragu.
"Buat kamu memangnya buat siapa lagi." Riko tersenyum tulus pada Dila.
Senyum yang selama ini tidak pernah Riko berikan untuk istrinya, padahal Cia telah membantu banyak hal dalam hidup Riko.
Tanpa bantuan Cia, Riko tak akan berhasil masuk ke perusahaan Wiguna group, walaupun dia merupakan salah satu calon pemimpin Wiguna group, jika bukan karena Cia tak mungkin Riko bisa berhasil sampai sekarang.
Diperlakukan begitu baik oleh Riko, Dila merasa sangat senang. "Terima kasih Mas, bunganya bagus dan wangi," ujar Dila sambil mencium bunga pemberian Riko.
"Ayo kita pulang sekarang," ajak Riko pada Dila.
Wajah gadis itu tiba-tiba berubah sendu membuat Riko bingung, "ada apa, wajahmu terlihat tak senang kamu sudah diperbolehkan pulang."
"Aku sudah tidak punya tempat tinggal." Dila menundukkan kepalanya ketika menjawab pertanyaan Riko.
"Sudah tak apa, kamu bisa tinggal di tempatku, ada kamar spesial untukmu," ucapan Riko membuat Dila langsung menodongkan kepalanya.
"Benar begitu Mas?" dia terlihat antusias sekali, sedangkan Riko mengangguk yakin.
Mereka segera pergi dari rumah sakit, tapi ketika baru keluar dari kamar rawat Dila. Fahri yang kebetulan di rumah sakit tak sengaja melihat Riko tidak bersama Cia melainkan bersama perempuan lain.
"Laki-laki itu bukankah dia orang yang sama bersama Cia di restoran depan bengkel waktu itu," ucap Fahri pada diri sendiri.
"Benar aku tidak salah lihat, tapi kenapa dia bukan bersama Cia malah bersama orang lain? apa benar dia hanya saudara Cia," karena penasaran Fahri memutuskan untuk mengikuti dua orang tadi.
Sayangnya dia terlambat karena mereka sudah tidak lagi terlihat, mungkin telah pergi meninggalkan rumah sakit.
Cek!
Fahri berdecak sedikit kesal, "cepet banget perginya mereka," ujar Fahri bingung sendiri.
Pupus sudah harapannya untuk mencari tahu siapa laki-laki yang dia lihat tadi.
"Lo ngapain sih Fahri," gumumnya meremas rambut sendiri.
__ADS_1
"Bang...."