Aku Dan Kamu, Insya Allah Jodoh

Aku Dan Kamu, Insya Allah Jodoh
ADKISJ, Kembali bertemu


__ADS_3

Bismillahirrohmanirrohim.


Sebelum baca jangan lupa bismillah dan shalawat dulu 🤗


بسم الله الر حمن الر حيم


Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.


اللهم صلي عل سيدن محمد و عل ال سيدن محمد.


Cia baru saja kembali dari dapur masuk ke dalam kamarnya, dia melihat hpnya yang bergetar dengan segera Cia mengangkat panggilan tersebut.


Netranya membulat sempurna kala melihat nomor siapa yang menghubunginya, walaupun ragu Cia tetap berusaha mengangkat sambugan telfon.


📱"Assalamualaikum,"sapa Cia lebih dulu.


📱"Wa'alaikumsalam Cia, Aditya sama Lia masuk rumah sakit lagi," ucap orang diseberang telfon memberitahu Cia.


📱"Inalilahiwainalilahirojiu'n, Ya Allah. Kok bisa Bang," kaget Cia sambil menutup mulutnya dengan satu tangan tak percaya anak sahabatnya kembali tertimpa musibah.


Tentu Cia sangat kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Fahri. Benar, orang yang baru saja melakukan panggilan untuk Ulya adalah Fahri.


📱"Aku ke rumah sakit sekarang Bang, Cia tutup dulu telfonnya, Assalamualaikum," pamit Cia pada Fahri.


Di seberang sana tepat Fahri berada dia menjawab pelan salama Cia, setelah itu sambungan telfon mereka terputus karena Cia lebih dulu mematikan sambungan telfonnya setelah dia menjawab salam.


📱"Wa'alaikumsalam," jawab Fahri pelan.


Kedua netra Fahri menatap dalam gawainya yang baru saja melakukan panggilan secara langsung pada Cia.


"Ayo hari ini kita buktikan Fahri, apakah kamu benar-benar menyukainya atau tidak," gumam Fahri pada diri sendiri.


Setelah itu dia berlalu pergi dari tempat tersebut, sambil memasukan kembali gawainya ke dalam saku celanan.


"Astagfirullah hal-adzim, Astagfirullah hal-adzim, Astagfirullah hal-adzim, kamu harus tenang Fahri, bukan kamu sudah biasa bertemu dengan Cia," ucapnya memberitahu diri sendiri agar tetap tenang.


Fahri tidak tahu kenapa setelah melakukan panggilan telfon pada Cia barusan rasanya hati Fahri tidak terlalu tenang, seharusnya dia merasa lega karena sudah memberitahu Cia kabar adiknya, tap Fahri malah merasa ada yang mengajel.


"Gue kenapa sih?" bingung Fahri.


Sampai dia tidak sadar jika Arion terus memperhatikannya. Laki-laki SMA itu berjalan menghampiri Fahri.

__ADS_1


"Kenapa lo Bang? gue perhatiin kelihatannya kayak gak tenang gitu," ujar Arion yang telah duduk di sebelah Fahri.


Ada yang mengajaknya bicara Fahri menoleh sejenak, "gue baik-baik aja perasaan," sahut Fahri enteng.


Membuat Arion tak terlalu pecaya akan jawaban yang Fahri berikan.


"Tenang aja Bang, Aditya pasti sembuh," walaupun sejujurnya Arion tidak nyambung tapi dia tetap mengamini ucapan Arion, mereka semua berharap Aditya bisa cepat sembuh.


Kembali pada Cia yang baru saja mematikan sambung teflon tadi, dia masih berdiri di tempat yang sama.


"Ya Allah, semoga Lia sama Aditya baik-baik saja, berikan kesembuhan untuk mereka berdua." Cia berdoa dengan tulus untuk kesembuhan sahabat dan anak sahabatnya.


Segera Cia bersiapa-siapa untuk menuju rumah sakit, setelah mengganti pakaiannya Cia keluar kamar lebih dulu untuk mencari keberadaan sang suami, kebetulan Riko lewat di depan pintu kamarnya.


"Mas," panggil Cia pada Riko, membuat suami Cia menghentikan langkahnya.


"Ada apa?" tanya Cia sambil menatap penampilan Cia yang terlihat sedikit berbeda.


"Mas mau kemana?" Cia malah balik bertanya karena penampilan suaminya itu sangat rapi sekali seperti akan bertemu dengan seseorang.


"Rumah sakit, kenapa memangnya?"


"Apa itu penting buat kamu, kalau gak ada hal lain lagi yang mau kamu tanyakan sama say, saya mau pergi, buru-buru ini," nada bicara Riko kembali terdengar ketus di kuping Cia, dia kira gara-gara kejadian kemarin suaminya itu sudah sepenuhnya berubah.


"Etss, Cia ikut ke rumah sakit Mas, teman Cia juga ada di rumah sakit, Cia mau jenguk dia sama anaknya," buru-buru Cia berucap sebelum Riko pergi dari hadapannya.


"Bener kamu ikut karena mau jenguk teman? atau mau ngintilin saya," selidik Riko.


"Benar Mas, temen Cia ada di rumah sakit, sekarang Cia mau jenguk, jadi boleh ya Cia ikut Mas Riko."


Riko berpikir sejenak lalu mengangguk setuju, "tapi ingat jangan kamu ngikutin saya nanti di rumah sakit," pesan Riko sebelum mereka jalan menuju rumah sakit.


"Cia janji gak bakal ngikuti mas Riko," jawabnya berusaha meyakinkan sang suami.


Di dalam benaknya Cia sebenarnya merasa penasaran, siapa yang akan dijenguk Riko di rumah sakit kalau bukan keluarga Wiguna, tapi tadi Riko bilang dia bukan ingin menjenguk salah satu keluarga Wiguna.


Cia yang tak mau ambil pusing segera menyadarkan dirinya dengan apa yang telah dia pikirkan.


"Astagfirullah hal-adzim." Cia mengusap wajahnya menggunakan kedua telapak tangan dengan pelan.


"Ngapain bengong Cia? jadi ikut kagak sih, kalau jadi ayo kalau nggak saya tinggal."

__ADS_1


Cia tersadar buru-buru dia mengambil tasnya karena memang dia sudah siapa.


"Jadi Mas, Cia ambil tas dulu," sahut Cia tepat.


"Dasar lelet," maki Riko setelah Cia berlalu masuk kembali dalam kamarnya.


Waktu terus berjalan setelah sepasang suami istri itu selesai berdebat tadi mereka langsung menuju rumah sakit harapan Bangsa.


Setelah Riko mengendarai mobilnya kurang lebih dalam waktu 45 menit mereka akhirnya sampai di depan rumah sakit, keduanya sama-sama turun dari mobil.


"Kita pisah disini aja, ingat nanti kalau udah selesai telfon saya, saya duluan." Riko berlalu dari hadapan Cia.


Gadis itu hanya mampu menatap punggung suaminya yang semakin menjauh, sebenarnya Cia ingin menyusul Riko tapi ya sudahlah ya, dia memutuskan untuk segera ke ruang rawat Aditya.


Tanpa menunggu lama Cia sudah berdiri di depan kamar rawat Aditya.


"Assalamualaikum," ucap salam Cia.


Orang-orang yang ada di kamar rawat itu menatap kehadiran Cia sambil tak lupa menjawab salam yang dia ucapkan.


"Wa'alaikumsalam, Mbak Cia sini," ujar Aditya setelah mereka semua menjawab salam Cia..


Ada seorang yang hanya mampu diam saja melihat kehadiran Cia. Siapa lagi orang itu kalau bukan Fahri. Belum berahi Fahri untuk sekedar melirik Cia.


"Anak soleh cepet sembuh," ucap Cia pada Aditya.


"Insya Allah, Mbak Cia," jawab Aditya antusias.


"Gimana bumil satu ini udah lebih enak badanya?" tanya Cia pada Ulya setelahnya.


"Alhamdulillah, makasi lo udah datang,"


"Sama-sama," Cia dapat melihat Hans yang begitu perhatian pada istrinya tersenyum berharap suatu saat dia juga akan merasa kebahagiaan bersama suaminya.


'Ya Allah, semoga rumah tanggaku bisa seperti rumah tangga Lia, suaminya sangat perhatian," batin Cia ada sesak di hatinya apalagi jika mengingat jika dirinya berhadapan dengan sang suami, Riko selalu ketus pada dirinya.


Benar-benar Cia tak sadar apa yang menatapnya dari kejauhan di dalam kamar rawat Aditya.


'Ada apa dengan wajahnya yang terlihat murung, apakah sudah terjadi sesuatu pada Cia,' batin Fahri yang tadi tak sengaja melirik sahabat adiknya itu.


(Sebenarnya aku bingung mau lanjut apa enggak, takut ceritanya kurang seru, biar autor nggak males jangan lupa komen, kasih keritik juga saran semua, terima kasih)

__ADS_1


__ADS_2