
Bismillahirrohmanirrohim.
Sebelum baca jangan lupa bismillah dan shalawat dulu 🤗
بسم الله الر ØÙ…Ù† الر ØÙŠÙ…
Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.
اللهم صلي عل سيدن Ù…ØÙ…د Ùˆ عل ال سيدن Ù…ØÙ…د.
Rahang Riko mengeras mendegar ucapan Alex, benar dia merasa tak terima Dila disindiri oleh Alex.
"Mau lo apa hah!" sentak Riko pada Alex membuat Cia yang berdiri di tengah-tengah kedua laki-laki itu terlonjak kaget.
"Seharusnya gue yang namanya, maunya lo apa? Lo itu laki-laki tidak tahu diri! tahu gak," suara Alex tak kalah keras dari pada Riko.
Nyali Dila mencitu, dia semakin merapatkan dirinya pada Riko. Melihat hal tersebut Alex dibuat semakin geram, apalagi Riko tak menolak disentuh oleh perempuan di sebelahnya itu. Padalah istrinya ada tepat di sebelah mereka.
"Astagfirullah hal-adzim! sudah Al, Mas. Tidak usah ribut mau makan saja kalian ribut dulu," tukas Cia sebal melihat sifat kekanak-kanakan suaminya.
Kalau Alex jelas Cia tahu adik iparnya itu sedang membela dirinya, walaupun Cia belum bisa mencintai sang suami, hati istri mana yang tak sakit melihat suaminya membawa pulang perempuan ke rumah mereka secara terang-terangan.
"Sudah Al, ayo masuk kita makan!" ajak Cia tegas, tanpa menoleh pada Riko sedikitpun.
"Mas, sepertinya aku membuat keluarga kalian jadi berantakan, aku pergi saja," ucap Dila pada Riko.
Alex yang masih dapat mendengar perkataan Dila tertawa sinis. "Masih tahu diri rupanya."
Jelas sekali Riko dan Dila masih bisa mendengar perkataan Alex yang mengarah pada Dila tentunya.
"Jaga bicara kamu, Alex!"
"Apa?"
__ADS_1
Sepertinya kesabaran Cia sudah mulai terkikis habis menghadapi kedua saudara didekatnya ini yang selalu saja ribut.
"Cukup!" sentak Cia membuat Riko dan Alex langsung terdiam.
"Kalau kalian berdua mau ribut silahkan, asalkan jangan disini tepatnya! disini tempat makan bukan tepat mengadu mulut kalian!"
Cia melirik Riko dan Alex secara bergantian, melihat kedua laki-laki itu terdiam setelah dia mengeluarkan suara membuat Cia menghela napas pelan.
"Sekarang makanlah, jangan membuat kekacauan lagi. Mari Mbak," ucap Cia yang sudah mulai merendahkan suaranya, tak lupa dia juga mempersilakan perempuan yang terus menempel pada suaminya itu.
"Sorry Mbak," sesal Alex yang mendapatkan anggukan dari Cia. Tandanya Mbak ipar Alex itu memaafkan dirinya.
"Mbak tadi masakannya mana?" tanya Alex setelahnya.
"Itu udang sambal," tunjuk Cia pada sambal udang yang ada di atas meja.
Mangkuk yang bersisi udang itu Alex simpan untuk dia saja berbagi dengan Cia, Alex tentu saja tidak akan membiarkan Riko memakan masakan kakak iparnya.
"Ini semua yang masak para pekerja Cia?" tanya Riko memastikan.
"Lalu masakan kamu mana?"
"Tidak ada, aku hanya masak udang itu juga untuk Alex, dia yang minta sendiri. Tadi juga Mas nyuruh Cia buat para pelayan yang masak." Cia menjawab dengan lugas pertanyaan yang dilontarkan suaminya.
Riko sangat menyukai masakan Cia, akhir-akhir ini dia banyak makan karena Cia yang masak. Melihat di meja makan tidak ada satupun masakan Cia membuat Riko tak berselera makan, hanya sambal udang itu saja masakan Cia. Tapi ada di tangan Alex, adiknya itu tak mungkin mau berbagi.
"Sudah makan saja yang ada, semua masakan ini disediakan untuk orang yang spesial, sampai istri sendiri rela turun tangan," kembali Alex menyindir kakak tirinya itu.
Dari tadi Dila hanya mampu terdiam. Sindiran yang Alex berikan sedikit menohok hati Riko, jadi mau tak mau dia tetap makan, makanan yang ada di meja makan.
"Ayo Dil makan," ajak Riko pada Dila.
Walaupun ragu-ragu Dila tetap ikut makan, melihat tingkah Dila, Alex semakin menatap sinis berbeda dengan Cia.
__ADS_1
"Makan yang banyak Mbak, tidak usah malu-malu," ucap Cia ramah.
Alex sampai menatap tak percaya pada Mbak iparnya ini. 'Mbak, hatimu itu terbuat dari apa sih? sudah jelas-jelas suami selingkuh di depan mata bawa perempuan lain, tapi kamu malah bersikap ramah pada perempuan tidak tahu diri ini,' batin Riko tak habis pikir atas kebaikan Cia.
Waktu bergulir.
Selesai makan Riko ingin bicara pada Cia untuk mengajak Dila tinggal di rumah mereka.
"Dila akan tinggal disini," ucap Riko membuat Cia menghentikan kegiatannya.
Dia menoleh kearah sang suami yang masih berdiri di belakang Cia. "Mas, tapi Dila tidak punya ikatan apa-apa jika tinggal disini."
Sebelumnya Riko sudah memberitahu pada Cia, siapa Dila sebenarnya. Riko juga mengatakan pada Cia, jika Dila telah menyelamatkan nyawanya.
"Tapi dia tidak punya tempat tinggal Cia," tegas Riko tak mau dibantah.
Cia memalingkan wajahnya ketika merasakan air matanya tanpa permisi menetes membasahi pipinya kala mendengar keinginan sang suami yang ingin mengajak perempuan bukan mahramnya tinggal di rumah yang sama.
'Jika kamu tetap ingin dia tinggal disini kenapa harus memberitahukan dulu Mas! jika penolakanku, tetap kamu tentang. Aku hanya ingin menjaga rumah tangga kita, tapi kamu sendiri yang merusaknya.'
Hati Cia begitu sedih mengetahui sang suami yang lebih mempedulikan orang lain, Cia sadar dia dan suaminya tidak saling cinta. Namun, perlakuan seperti ini sangat menyakitkan untuk Cia.
"Lalu untuk apa Mas mengatakan semua ini jika usulan Cia ditolak, Cia hanya tidak ingin terjadi fitnah di rumah ini. Jika semua sudah menjadi keputusan Mas Riko, Cia bisa apa? rumah ini juga milik Mas, jadi Mas bebas memasukan siapa saja yang tinggal disini, setidaknya Cia sudah memberitahu, jika tak boleh perempuan tinggal dengan yang bukan marhamnya," Imbuh Cia panjang lebar.
Perasaan Riko sekarang jadi tak menentu, tapi hatinya akan tetap mempertahkan Dila, gadis itu telah mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan dirinya.
"Benar rumah ini, rumah saya. Jadi saya bebas menyuruh siapa saja yang boleh tinggal disini!" balas Riko enteng sekali.
"Cia permisi mau ke kamar Mas," pamitnya tanpa mengubsir perkataan Riko.
'Dasar laki-laki tidak tahu diri! tidak punya perasaan sudah betul aku tak menganggapnya sebagai kakak. Jika tahu Mbak Cia sebaik ini orangnya, aku pasti sudah dari dulu menggalakan rencana Mama dan papa untuk menjodohkan si Riko itu dengan Mbak Cia. Kamu berhak bahagia Mbak, seharus kamu bertemu dengan laki-laki lain bukan Riko,' marah Alex merasa sangat tidak terima.
Tidak terima Cia diperlakukan tak adil, sengaja Alex berjalan mendekati Riko. "Laki-laki tidak tahu berterima kasih memang kayak lo wajahnya, dari dulu Lo nggak pernah berubah Riko! Nggak punya hati," tukas Alex tersenyum sinis.
__ADS_1
Di kamarnya Cia hanya mampu menangis, sudah 3 bulan lebih dia menjalin pernikahan seakan tak berarti ini, sekarang suaminya membawa perempuan lain masuk ke dalam rumah tangga mereka.
"Ampunilah segala dosa Cia, Ya Allah. Jika dulu Cia pernah melakukan kemaksiatan yang amat fatal, sampai rumah tangga Cia menjadi seberantakan ini. Haruskah Cia tetap bertahan?" rancau Cia dengan suara tangis yang bersamaan.