Aku Dan Kamu, Insya Allah Jodoh

Aku Dan Kamu, Insya Allah Jodoh
6. ADKISJ, seorang penolong


__ADS_3

Bismillahirrohmanirrohim.


Sebelum baca jangan lupa bismillah dan shalawat dulu 🤗


بسم الله الر حمن الر حيم


Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.


اللهم صلي عل سيدن محمد و عل ال سيدن محمد.


"Mas sudah paham apa yang Cia kasih tahu tadi? kalau masih ada yang bingung kasih tahu Cia," ucapnya antusias pada Riko.


Sebuah senyum terbit dikedua sudut bibir Riko, sekarang Cia sedang membantu suaminya bersiap untuk menemui klien, hari ini untuk pertama kalinya Cia mendapatkan senyum dari Riko.


Cia begitu senang, dia merasa semua yang telah dilakukan akhirnya perlahan-lahan mulai berhasil.


"Semoga Mas Riko berhasil, semangat Mas. Mas pasti bisa meyakinkan klien untuk kerja sama dengan perusahaan kakek." Cia berucap dengan antusias sekali.


"Terima kasih aku berangkat dulu," ujar Riko setelah Cia selesai membantunya memasangkan dasi.


"Mas," panggil Cia ketika Riko hendak keluar rumah.


Merasa dipanggil, Riko kembali memutar tubuhnya jadi menghadap sang istri.


Apa?


Mungkin pertanyaan itu yang pantas ditebak atas ekspresi yang ditunjukkan muka Riko.


Tangan Cia terulur mengambil tangan kanan suaminya lalu dia mencium punggung tangan suaminya.


"Hati-hati Mas," pesan Cia setelahnya, tanpa Riko mengatakan satu patah katapun dia segera berlalu dari hadapan Cia.


Melihat kepergian suaminya, Cia hanya menatap kosong punggung sang suami yang terus menjauh di depan sana.


"Wa'alaikumsalam Mas," ucap Cia pelan padahal suaminya pergi tanpa mengucapkan salam.


"Sampai kapan kamu akan terus seperti ini Mas?" gumam Cia.


Sepertinya Fahri sudah benar-benar pergi dari hati Cia. Buktinya sekarang yang dia pikirkan hanyalah suaminya walaupun dia tak pernah dianggap oleh Riko.


Sementara itu Riko di dalam mobilnya menyetir dengan kecepatan sedang, Riko tidak tahu jika ada seorang yang tersenyum senang dari kejauhan melihat mobilnya sudah melaju meninggalkan rumah.


"Kali ini kamu akan lenyap dari muka bumi Riko," ucap Gunawan.


Setelah itu Gunawan segera pergi dari rumah Riko karena dia juga harus menemui klien, sudah satu orang yang dia singkirkan. Sekarang dia akan bermain sehat dengan Feru, sepupu tertua mereka.

__ADS_1


"Ada apa ini!" kaget Riko di dalam mobilnya, ketika rem mobil yang dia injak tidak berfungsi.


"Kurang ajar! remnya blong, siapa yang sudah melakukan semua ini," keluh Riko.


Dia tidak punya pilihan lain, selaian membanting stir mobilnya menabrak sebuah pohon di samping jalan, hanya tempat itu saja yang sepi.


"Lihat saja aku akan mencari tahu siapa orang yang sudah berniat mencelakaiku," ucap Riko sebelum mobilnya dia tabrakan di pohon.


Bruk....


Duk!


Jidat Riko terbentur setir mobil, dia langsung tidak sadarkan diri di tempat. Kebetulan jalan yang Riko lewat terbilang sepi.


Seorang perempuan melintasi jalan tersebut, dia entah dari mana terlihat kaget kala mendapati mobil Riko yang sudah berasap.


"Ada kecelakaan," ucap gadis yang menutupi wajahnya dengan topeng.


Dia segera menolong orang yang ada di dalam mobil, hanya ada Riko di dalam segera gadis itu mengeluarkan tubuh Riko dari dalam mobil dengan susah payah.


"Mas bangun, saya mohon bangun ini bahaya," ucap gadis itu masih berusaha mengeluarkan tubuh Riko dari dalam mobil.


Susah payah usahanya, akhirnya dia berhasil mengeluarkan Riko dari dalam mobil, membawa tubuh Riko menjauh dari mobil yang sebetar lagi akan meledak itu.


Durr...


"Syukurlah," ucap perempuan itu merasa lega.


Riko yang tidak sadarkan diri menarik topeng yang menutup wajah perempuan itu.


"Eh," kagetnya tapi ketika menatap Riko, laki-laki tersebut masih belum sadar.


"Mas bangun, Mas bangun Mas," ujarnya sambil menepuk-nepuk pipi Riko agar terbangun.


"Uhuk....Uhuk...Uhuk...Mas saya mohon bangun...Uhuk..."


Karena asap lumayan banyak masuk ke dalam saluran pernafasan gadis itu membuat dirinya merasa sedikit sesak.


Mendengar suara orang batuk perlahan Riko membuka kedua bola matanya. Hal pertama yang dia lihat wajah cantik perempuan di hadapannya yang telah menolong dia dari bahaya.


Tatapan Riko tak teralih dari wajah cantik perempuan itu dengan rabut indah yang tergerai.


"Cantik," gumam Riko.


"Mas syukurlah kamu sudah bangun, saya...," belum selesai gadis itu bicara, dia malah pingsan di dada Riko.

__ADS_1


"Kasihan sekali kamu, maafkan saya sudah membuat kamu seperti ini." Riko mencium pucuk kepala perempuan yang sudah menolongnya tadi.


Tanpa Riko memikirkan perasaan istrinya di rumah yang selalu menunggu kepulangan dirinya, terus mendoakan untuk kelancaran semua yang Riko lalui.


Tanpa pikir panjang Riko membawa gadis yang telah menolongnya ke rumah sakit, setelah itu baru dia buru-buru pergi menemui kline kakeknya, masih ada waktu 20 menit untuk Riko.


"Jangan sampai aku terlambat, jika terjadi sama saja semua yang aku pelajari dari Cia akan sia-sia, bahkan aku sampai tidak tidur olehnya karena materi yang harus aku pelajari," keluh Riko. Dia menatap sejenak wajah cantik perempuan tadi.


"Cantik aku tinggal dulu ya, aku janji akan kembali kesini lagi untuk melihat keadaanmu," ucap Riko.


Sebelum pergi dia mengelus lembut pucuk kepala perempuan itu terlebih dahulu.


Di rumah.


Cia terlihat gelias, dari tadi dia mondar-mandir saja sambil menatap pintu rumah, entah mengapa Cia berharap suaminya muncul di depan pintu sekarang juga.


"Ya Allah, lindungilah dimanapun suami Cia berada," doanya pada sang Kuasa.


"Cia, kamu kenapa Nak? Mama perhatiin dari tadi mondar-mandir aja di ruang tamu," ujar Sela membuat Cia berjalan mendekatinya.


"Assalamualaikum Ma," sapa Cia sambil menyalami mertuanya itu.


"Wa'alaikumsalam, ada apa, Cia?" tanya Sela untuk yang kedua kalinya.


"Tidak apa Ma, Cia hanya mengkhawatirkan Mas Riko," kata Cia jujur.


"Ayo kita duduk dulu." Sela menuntun Cia agar mereka duduk di sopa rumah Riko.


"Kamu tenang Cia, pasti suami kamu akan baik-baik saja."


"Aamiin Ma, semoga tidak terjadi apa-apa pada Mas Riko."


Mereka terdiam sejenak lalu tak lama Sela kembali bersuara. "Kamu ikut mama saja ke rumah depan Cia, lagipula kalau nunggu suamimu pasti dia masih lama pulang," ajak Sela.


"Baik Ma," sahutnya.


Mantu dan mertua itu segera pergi meninggalkan kediaman Riko, menuju kediaman orang tua Riko yang terletak di depan dari kediaman suami Cia itu. Sampai disana seorang menatap Cia penuh permusuhan.


"Ngapain orang asing Mama ajak ke rumah kita?" sindir Alxe terang-terangan dia menatap tak suka pada Cia.


"Hus, kamu ngomong apa Alex! dia kakak ipar kamu," tegur Sela, merasa tak enak Sela mengelus-elus punggung tangan Cia.


"Kakak ipar? udah Alex bilang berkali-kali sama Mama, Alex gak pernah punya kakak! Alex anak tunggal dari Tedy Wiguna." Alex bicara dengan nada tegas pada sang Mama.


"Alex! Mama tidak pernah mengajarkanmu tak menghormati orang lain," marah Sela geram atas kelakuan bungsunya.

__ADS_1


"Lalu Alex peduli?" dia berlalu pergi dengan tatapan tajam mengarah pada Cia.


"Alex, kamu...!"


__ADS_2