Aku Dan Kamu, Insya Allah Jodoh

Aku Dan Kamu, Insya Allah Jodoh
11. ADKISJ, pembelaan Alex


__ADS_3

Bismillahirrohmanirrohim.


Sebelum baca jangan lupa bismillah dan shalawat dulu 🤗


بسم الله الر حمن الر حيم


Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.


اللهم صلي عل سيدن محمد و عل ال سيدن محمد.


"Lo ngapain sih Fahri," gumumnya meremas rambut sendiri.


"Bang...."


Seorang memanggil Fahri membuat sang pemilik nama mencari sumber suara, rupanya suara barusan adalah milik Arion. Fahri dapat melihat Arion yang berjalan mendekat kearahnya.


Bersama lalu-lalang para pasien rumah sakit juga keluarga yang mengantar pasien. Rumah sakit Harapan Bangsa milik keluarga Kasa tidak pernah sepi pengunjung, selain pelayanannya yang memuaskan. Rumah sakit harapan bangsa juga menyiapkan fasilitas lengkap, juga biaya gratis untuk orang yang kurang mampu.


Dada Fahri terasa sesak ketika netranya melihat para pasien rumah sakit yang terkena sakit bermacam-macam, bahkan ada orang-orang tuna netra dan disabilitas.


Kedua bola mata Fahri terpejam untuk mengatur dadanya yang terasa semakin sesak, jika harus melihat mereka semua.


'Ya Allah, berikanlah kesehatan untuk mereka semua yang sedang berjuang melawan penyakit,' batin Fahri. "Dan maafkanlah hamba yang kurang bersyukur ini," gumamnya lirih.


Bersamaan dengan itu Arion sudah berdiri di sebelah Fahri. "Bang, aelah, dipanggilin juga dari tadi diem aja nyahut kek," celetuk Arion.


Membuat Fahri membuka sebelah matanya untuk melihat Arion. Ternyata anak remaja 16 tahun ini sudah berdiri di sebelahnya. Kedua bola mata Fahri terbuka sempurna, menatap Arion yang tumben mencari keberadaannya.


"Ada apa, Ar? tumben banget lo nyari gue," ucap Fahri akhirnya.


"Nggak ngapa-ngapa sih Bang, Bang tahu nggak waktu dua minggu yang lalu pas Mbak Cia ke rumah sakit jenguk Mbak Lia sama Aditya," entah kenapa tiba-tiba Arion jadi membahas Cia.


Padahal nama itu yang sekarang Fahri berusaha hindari untuk menangkan detak jantungnya.


"Tahu, gue yang kasih tahu Cia. Kenapa emang?" sebenarnya Fahri tak niat bertanya tapi sudahlah ya, pertanyaan untuk Arion sudah terlontar dari mulutnya.

__ADS_1


"Mbak Cia datang sama cowok waktu itu tapi gue gak tahu siapa asing banget, baru lihat juga gue Bang!"


Tubuh Fahri tiba-tiba kaku untuk bergerak saja sudah tak bisa, tebakannya pasti tidak salah laki-laki yang Arion maksud pasti orang yang sama dia lihat tadi juga di restoran waktu itu.


"Terus apa urusannya sama gue Ar?" heran Fahri.


Cek!


Anak SMA itu berdecak kesal melihat Fahri yang tak peka akan ucapannya, salah ding! tak peka akan perasannya sendiri.


"Alah, bilang aja lo sukakan Bang sama Mbak Cia sebenarnya? dari gelaget lo aja udah kelihatan," tukas Arion membuat Fahri semakin bimbang.


"Tapi gue nggak yakin sama perasaan gue sendiri Ar," jawab Fahri lemah.


Sekarang bahkan dia telah menatap rumput dibawahnya, benarkah dia menyukai Cia, jika iya apakah tidak terlambat untuk semua ini. Apalagi akhir-akhir ini dia maupun Arion melihat Cia bersama laki-laki lain.


"Malah diem, benarkan Bang apa yang gue bilang, lo itu suka sama mbak Cia. Lo aja yang gak mau membenarkan perasaan lo sendiri." Arion menoleh pada Fahri yang masih diam saja.


"Saran gue nih ya Bang, lebih baik cepet lo lamar dari pada keduluan sama orang lain."


"Kalau gue terlambat gimana?" tanya Fahri pada Arion.


Sedikit menyesal telah memberi tahu Fahri, tak apa tapilah ya dari pada Bang Fahri terus menutupi perasaannya sendiri.


"Begini Bang sebentar lagikan Mbak Cia sama Mbak Lia wisuda, nah disana Abang bisa lebih dekat sama orang tua Mbak Cia. Lagipula gak mungkin Abang terlambat, misalnya kalau Mbak Cia mau nikah pasti dia bakal ngundang Mbak Lia sahabatnya," jelas Arion membuat Fahri mengangguk lemah.


Tak tahu kenapa di dalam hati Fahri mengatakan jika Cia sudah menikah dengan seorang, dia sendiri juga tidak tahu siapa.


'Tapi gimana kalau Cia udah nikah?' entah Fahri bertanya pada siapa mungkin diri sendiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mobil Riko telah terparkir sempurna di depan kediamannya, dia berjalan kesisi sebelah kiri mobil untuk membukakan pintu Dila.


Lagi-lagi hal semanis itu tak pernah Riko lakukan untuk istrinya, para pekerja penasaran kala melihat Riko bersama seorang, apalagi diperlakukan spesial oleh bos mereka itu.

__ADS_1


"Ayo turun," ucap Riko pada Dila tak lupa dia tersenyum manis pada gadis di dalam mobilnya itu.


"Mas ini rumah kamu?" tanya Dila dengan kedua mata berbinar menatap rumah Riko yang terlihat mewah baginya, Dila menatap takjub rumah Riko.


"Benar, mulai sekarang kamu juga akan tinggal disini," ucap Riko mantap.


Sungguh benar begitu? apakah dia lupa sudah memiliki seorang istri, apa Riko tidak memikirkan bagaimana perasaan istrinya ketika melihat suaminya membawa pulang perempuan lain ke rumah, padahal selama ini Cia selalu menjaga hati untuk sang suami, bahkan rela melupakan orang yang sangat dia cintai, balasan yang diberikan Riko sangat keterlaluan terhadap Cia.


"Benar-benar tidak tahu diri." Alex sengaja menunggu kedatangan kakaknya di depan pintu tatapanya tajam mengarah pada dua manusia yang sedang berjalan seiringan menuju kearahnya.


Yang perempuan memegang buket bunga dengan senyum tercekat di wajah perempuan itu membuat Alex menatapnya malas.


"Mereka berdua tidak tahu malu! semoga Mbak Cia baik-baik saja," gumam Alex. "Tugas lo harus janga Mbak Cia, Alex jangan sampai dipermalukan suaminya sendiri, kalau boleh milih lebih baik Mbak Cia yang jadi kakak gue dari pada laki-laki tak punya hati itu," ungkap Alex pada diri sendiri.


Tatapan tajam Alex mengarah pada Riko dan Dila, dia menatap sinis dua orang yang kini sudah berdiri di hadapannya.


"Al, kok disini?" heran Riko.


"Memangnya kenapa?" Alex balik melemparkan pertanyaan dengan nada ketus.


"Gak papa sih," sahut Riko entang, dia memang tidak bisa melarang Alex yang selalu berada di kediamannya.


"Al, sudah siapa makanannya," suara Cia terdengar di kuping mereka semua. Ternyata dia menyusul Alex ke depan.


Deg!


Tubuh Cia mematung sejenak kala melihat suaminya bersama perempuan lain. 'Apa dia orang yang Mas Riko katakan spesial?' sebisa mungkin Cia membuat dirinya bersikap biasa saja di hadapan ketiga orang yang sedang menatapnya saat ini.


"Mas sudah pulang," sapa Cia kala melihat kehadiran suaminya itu.


Tak lupa dia tersenyum ramah pada perempuan yang berdiri dengan jarak dekat di sebelah suaminya membawa sebuket bunga.


"Apa yang saya minta sudah disiapakan Cia?"


"Sudah Ma, ayo makan sekarang mumpung sudah kumpul semua disini," ajak Cia pada mereka semua.

__ADS_1


Alex menatap heran Cia yang tetap biasa saja melihat Riko bersama orang lain, setidaknya Alex merasa lega Cia tak mengais.


"Kita aja Mbak yang makan, orang gak tau diri kayak mereka ngapain diajak makan. Punya istri di rumah bawa pulang perempuan lain, emang laki-laki nggak punya hati," sindir Alex terang-terangan.


__ADS_2