
Bismillahirrohmanirrohim.
Sebelum baca jangan lupa bismillah dan shalawat dulu 🤗
بسم الله الر ØÙ…Ù† الر ØÙŠÙ…
Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.
اللهم صلي عل سيدن Ù…ØÙ…د Ùˆ عل ال سيدن Ù…ØÙ…د.
"Lalu Alex peduli?" dia berlalu pergi dengan tatapan tajam mengarah pada Cia.
"Alex, kamu...!"
"Apa?" tantang Alex pada Sela, dia bahkan menatap benci pada wanita yang telah melahirkan dirinya itu.
Dalam hidupnya Alex paling membenci dirinya karena lahir dari rahim Sela. Alex benci akan hal itu. Karena dia harus memilik saudara tiri seperti Riko.
"Jangan kurang aja kamu, Alex! Aku ini Mamamu, dimana sopan santun kamu pada orang tua!" maki Sela semakin geram pada anak bungsunya.
Cia dari tadi berusaha menenangkan Mama mertuanya. Dia menatap adik iparnya itu sejenak sebelum menghembuskan nafas pelan, melihat tingkah Alex.
"Mama sudah, Ma. Kita duduk dulu," ajak Cia pada Sela.
Cih!
Decit Alex tak suka melihat perhatian Cia pada Sang Mama. "Cari muka lo sama Mama, tadi malam cari muka di depan kakek," sindiri Alex.
Kali ini Cia tidak akan dia seperti biasa jika harga dirinya diinjak-injak, Cia tak masalah tapi ini mertuanya sendiri, apa yang dilakukan Alex pada mertuanya menurut Cia sudah keterlaluan.
"Alex," ucap Cia pelan tapi penuh penekanan. "Selama ini saya membiarkan kamu menghina dan memaki saya, karena saya tidak sakit hati, tapi ini Mama yang telah kamu bentak!" tegas Cia.
"Saya tahu jika sebenarnya kamu menyayangi Mama, tapi dengan kamu berlaku kasar pada Mama sama saja, kamu telah menyakiti hati Ibu kandungmu sendiri, hati-hati dengan sakit hati seorang ibu Alex. Walaupun aku tahu mau kamu menyakiti hati Mama sesakit apapun, beliau tidak akan pernah mendoakan suatu keburukan untuk anak sendiri."
Alex tertegun sejenak mendengar penjelasan dari Cia. Dia menatap dalam Sela yang sedang menundukkan kepala menatap lantai, Alex tahu Mamanya itu sekarang sedang menangis karena kata-kata kasar yang keluar dari mulutnya.
"Ngomong apa sih lo," sahut Alex setelah itu. "Gue peringati sama lo, jangan pernah ikut campur urusan keluarga Wiguna! kalau Mama sakit hati sama omongan gue, maka bilang sama Mama jangan pernah mengatakan aku memiliki seorang kakak! Lagian gue gak peduli mau Mama sakit hati apa nggak sama omongan gue,"
__ADS_1
Gadis yang sudah satu bulan menjadi istri orang itu, terkekeh mendengar ucapan yang keluar dari mulut iparnya ini.
"Justru hari ini saya masih berada di keluarga Wiguan, karena akan ikut campur masalah keluarga ini Alex." Cia terkekeh melihat ekspresi terkejut Alex.
Sedangkan Sela yang duduk di sopa mengangkat kepalanya kaget mendengar ucapan Cia.
Deg!
'Apa Cia sudah tahu semuanya,' batin Sela menyesal, apalagi setelah Cia menjadi mantunya gadis itu sangat baik. 'Maaf Cia, Mama minta maaf, seharusnya dari awal Mama tidak menyeretmu dalam keluarga ini. Sejak awal pernikahan kamu dan Riko memang sudah tidak baik. Semua diawali dari kebohongan keluarga kami,' sesal Sela.
Sekarang wanita paruh baya itu menyesali ide gilanya yang pernah dia ucapkan pada sang suami, selama satu bulan ini mungkin sudah tak terhitung berapa kali hati Cia disakiti selama berada di keluarga Wiguna.
"Apa tujuan lo masuk ke dalam keluarga Wiguna?" tanya Alex penasaran.
"Saya tidak tahu! saya biasa ada di keluarga ini bukan keinginan saya! tapi karena sekarang keluarga Wiguna adalah keluarga saya juga, jadi apapun itu saya berhak ikut campur urusan kalian."
"Lo emang perempuan li..."
"Papa pulang." Alex tidak meneruskan perkataannya kala mendengar suara sang papa.
"Alex minta maaf Ma," bisiknya pelan di telinga Sela.
Sela mengangguk sebagai jawaban dia tahu Alex pasti akan kembali pada dirinya.
"Lagi pada kumpul rupanya, tumben ada apa?" tanya Tedy pada ketiga orang di ruang tamu itu.
"Cuman lagi pengen ngobrol aja, Pa," sahut Sela tersenyum pada suaminya.
...****************...
Waktu bergulir sore telah menyapa penduduk bumi. Para pekerja mulai kembali pulang ke rumah mereka masing-masing.
Riko baru saja pulang ketika jam sudah menunjukkan pukul 4:30 sore hari, wajah Riko terlihat kusut.
Melihat sang suami sudah pulang Cia cepat menyambut Riko, untuk membawakan tas dan jas yang Riko kenakan.
Deg!
__ADS_1
Jantung Cia berpacu dengan cepat, dia terdiam mematung di tempatnya kala mencium wangi parfum berbeda dari jas suaminya, ada bau parfum perempuan yang melekat di jas Riko. Cia rasa indra penciumannya tidak bermasalah.
'Ya Allah, Cia. Kamu nggak boleh soudzoh, nggak mungkin suamimu bersama perempuan lain, dia hari ini sudah berjanji menemui klien, tak mungkin dengan perempuan bukan.' Cia masih berusaha berpikir positif.
"Mas mau Cia buatkan kopi?" tawar Cia, Riko mengangguk saja.
Hari ini Riko sedikit lelah, tadi setelah menemui klien di sebuah restoran Riko kembali ke rumah sakit untuk melihat kondisi perempuan yang telah menyelamatkan dirinya. Tenyata perempuan cantik tersebut harus dirawat di rumah sakit untuk beberapa hari ke depan.
"Mas kopinya diminum," ujar Cia tangan kanannya meletakkan secangkir kopi di atas meja.
"Terima kasih," ucap Riko langsung meminum kopi yang Cia buatkan untuk dirinya.
Melihat hal itu Cia merasa senang, karena sekarang Riko sudah mau meminum kopi buatannya.
"Gimana tadi lancar Mas?" Cia bertanya dengan hati-hati.
Riko teringat satu hal. "Aku berhasil Cia, klien mau bekerja sama dengan perusahaan kakek, semua ini berkat kamu. Terima kasih banyak."
Tiba-tiba Riko memeluk Cia, tapi anehnya Cia tak merasakan apa-apa saat berada didekat suaminya, berbeda ketika dia sedang bersama Kakak sahabatnya.
'Ya Allah, ada apa dengan, Cia? kenapa rasanya hampa, Mas Riko suami Cia, tidak boleh seperti ini.' Cia mengadu pada sang Kuasa. Akan hatinya yang tak bergetar.
"Maaf," ucap Riko merasa tak enak pada Cia, kala dia tersadar sudah memeluk Cia secara tiba-tiba.
"Untuk apa minta maaf Mas," sahut Cia tersenyum menatap Riko.
"Aku mau bersih-bersih badanku terasa lengket," ucap Riko pada Cia.
Malam hari suami istri itu telah masuk ke dalam kamar mereka masing-masing.
Cia termenung menatap keluar jendela, memikirkan kejadian tadi sore ketika Riko dengan refleks memeluk tubuhnya.
"Hidup itu memang belum tentu indah, langit belum tentu akan selalu tampil cerah, dan malam belum tentu banyak bintang yang menemani bulan untuk menghias langit," gumam Cia menatap langit malam yang tidak memiliki bintang untuk malam ini.
"Aku serahkan masa depanku pada Engkau, Ya Raabb. Sang Pemegang kendali atas dunia yang fana ini, Insya Allah. Aku akan berusaha ikhlas atas semua kehidupanku ini, jangan biarkan aku menjadi seorang hamba yang sombong."
Tatapan Cia kosong menatap kearah langit, sekarang entah apa yang ada di dalam pikiran Cia.
__ADS_1