
Bismillahirrohmanirrohim.
Sebelum baca jangan lupa bismillah dan shalawat dulu 🤗
بسم الله الر ØÙ…Ù† الر ØÙŠÙ…
Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.
اللهم صلي عل سيدن Ù…ØÙ…د Ùˆ عل ال سيدن Ù…ØÙ…د.
Hari ini Riko ingin membawa pulang perempuan yang telah menolongnya ke rumah, tapi sebelum itu Riko mengajak Cia untuk makan di sebuah restoran yang tak jauh dari tempat mereka.
Cia habis menemani suaminya menghadiri pertemuan di perusahaan Wiguna, Cia diundang langsung oleh kakek Wiguna untuk datang, sebentar lagi pemimpin baru perusahaan Wiguna group akan dilantik.
"Kamu lapar kita makan dulu," ajak Riko pada istrinya, Cia hanya bisa menyetujui keputusan Riko.
Saat turun dari mobil Cia menyadari satu hal, jika mereka makan didekat bengkal milik Fahri.
'Astagfirullah, kenapa kebetulan banget disini makannya,' batin Cia merasa was-was, dia hanya tidak ingin kembali bertemu Fahri, sejak pertemuan mereka di rumah sakit satu minggu lalu, Cia kembali merasakan ada yang menganjal di hatinya.
"Ngapain bengong ayo masuk," ajak Riko pada Cia, membuat Cia sadar dari lamunannya.
"Mas kita makan di tempat lain saja," pinta Cia penuh harapan.
"Nggak ada saya sudah pesan, makan disini memang apa masalahnya, kurang enak? kurang mewah atau kurang mahal?"
"Astagfirullah hal-adzim, bukan seperti itu Mas! baik kita makan disini saja," putus Cia akhirnya.
Dia tak ada pilihan lain selain makan di restoran tepat di depan bengkel Fahri.
Sementara itu di bengkel Fahri sendiri.
Sudah berapa hari Fahri tidak melihat keadaan bengkelnya. Jadi hari ini dia memutuskan untuk pergi ke bengkel lebih dulu sore baru kembali ke rumah sakit.
"Assalamualaikum." Sapa Fahri pada para pekerja di bengkelnya.
"Wa'alaikumsalam Bang!" jawab semua orang.
Sekarang Fahri sudah menambah satu karyawan lagi, setiap hari bengkelnya itu selalu ramai. Tempat yang strategis membuat banyak pengendara mobil dan motor jika kendaraan mereka bermasalah jadi mampir di bengkel milik Fahri.
"Gimana bengkel, Dio?"
"Alhamdulillah, semakin hari semakin ramai saja bang. Omsetnya naik sudah 5 hari ini." Lapor Dio.
Mereka sudah berada di ruang kerja Fahri. "Alhamdulliah, masih kurang karyawan nggak? gue mungkin satu bulan ini belum bisa bantu kalian."
"Insya Allah, kalau sekarang masih bisa kita tangain berlima bang."
__ADS_1
"Kalau ada apa-apa langsung kabar gue aja ya, Di."
"Beres itu mah Bang."
Selesai mengobrol masalah bengkel sejenak, Fahri dan Dio kembali keluar bersama yang lain, Fahri memang dekat dengan seluruh karyawannya.
"Kalian udah pada makan belum."
"Belum bang!" jawab mereka kompak.
"Mau makanan dari restoran depan kagak. Makanya disini aja tapi biar dibungkus."
"Kagak bang!" sahut Vito.
Empat karyawan lainnya menatap Vito tajam, buru-buru Vito membenarkan ucapannya.
"Maksud saya kagak nolak bang Fahri, kali ditawarin makan enak kita semua nolak."
"Gue juga reques boleh kagak bang." Udi juga ikut nyambung.
"Catet aja apa yang kalian mau, nanti gue yang beli disana."
"Siap bang, ayo Dio catet." Ujar Andi bersemangat sekali dia.
"Boleh bungkus buat di rumah kagak bang."
Lima menit kemudian semua pesan mereka selesai dicatat oleh Dio. "Maafkan kami kalau maruk ya bang."
"Santai Dio, segini aja kalau udah gue pesen dulu di depan."
"Siap bang!"
"Gila baik banget Bang Fahri, pantes lo betah kerja disini Dio." Ucap Vito yang merupakan pegawai baru.
"Kalau bos sudah baik jadi jangan mengecewakan."
"Isnya Allah, itu mah." Jawab mereka semua.
Fahri sendiri baru masuk ke dalam restoran yang berada di depan bengkelnya itu. Restoran yang selalu ramai pengunjung.
"Mbak, saya pesen semua yang ada di dalam catatan ini. Saya tunggu di meja seperti biasa."
"Siap bang Fahri, pesanan akan segera tiba." Ucap seorang karyawan yang mengenal Fahri.
Bola mata Fahri sibuk menatap sekeliling dalam restoran, sampai netranya tak bisa diam itu melihat seorang yang Fahri kenal.
"Itu Cia, kan, sahabat Lia. Sama siapa dia disini, tumben." Ucap Fahri pada diri sendiri.
__ADS_1
Fahri tak sengaja melihat Cia sedang makan bersama seorang laki-laki yang tidak dia kenal. Membuat Fahri heran, sudah berapa kali dia bertemu Cia tak pernah sekali pun Fahri melihat Cia hanya keluar berdua dengan seorang laki-laki.
'Siapa cowok yang sama Cia itu,' Fahri begitu penasaran, tapi karena Cia bukan siapa-siapanya jadi Fahri merasa tidak perlu ikut campur urusan orang lain. 'Jangan bilang lo cemburu Fahri? ini nggak benarkan, lo nggak mungkin cemburu lihat Cia sama cowok lain,' kembali Fahri mengingatkan diri sendiri, entah kenapa Fahri selalu menentang hatinya yang benar-benar mencintai Cia.
"Mungkin saudaranya, lagipuna kenapa kepo sih Fahri!" gumam Fahri tersadar apa yang baru saja dia pikirkan.
Tapi Fahri masih tetap mengamati meja di depannya. Sampai 15 menit menunggu seorang karyawan menghampiri Fahri.
"Bang Fahri pesanan tiba." Ucap Okta membuat Cia yang mendengar nama sahabat kakaknya disebut mencari orangnya.
"Bang Fahri." Ucap Cia tanpa sadar.
Fahri masih bisa mendengar Cia menyebut namanya menoleh sejenak sampai mata mereka saling beradu tatapan. Fahri tersadar lebih dulu lalu tersenyum pada Cia.
"Sorry Ok, gue langsung kekasir bayarnya atau sama lo saja." Fahri segera beralih pada Okta yang menunggunya.
"Nih, udah gue bawa mesin atmnya bang."
"Tahu aja Lo, Ok." Fahri membayar semua belanjanya dengan kartu debit.
"Bang, salam sama Dio." Ucap Okta malu-malu.
"Pacaran lo sama Dio?"
"Kagak bang, elah soudzon aja cuman sekedar mengagumi."
"Bilang sama Dio kalau suka langsung ke rumah orang tua lo, duit udah banyak ini buat nikah, masalah kerja kalau udah nikah kerja lagi sama gue gampang."
"Orang tua gue kan di kampung Bang."
"Nanti gue urus waktu buat Dio dah, pergi dulu."
"Oke thanks Bang Fahri, I love you sebakom. Aku padamu Bang pokoknya!" teriak Otak.
Interaksi Fahri dan Okta tak luput dari Cia, dia tidak tahu apa yang mereka obrolkan. Entah kenapa ada yang aneh di hati Cia kala mendengar karyawan perempuan tadi mengucap I Love you pada Fahri.
'Kok sakit, ada apa denganku. Sadar Cia bang Fahri bukan siapa-siapa kamu, lagipula selama ini kamu cuman anggap dia seorang Abang sama kayak Lia. Sekarang kamu sudah punya suami Cia, dan kamu sudah berjanji akan melupakan Bang Fahri, hatimu hanya untuk suamimu.' Cia berusaha menguatkan hatinya.
"Cia, Cia, Cia!" orang yang sedang makan bersama Cia tampak sedikit kesal. Terus memanggil Cia tapi tidak ada respons.
"Astagfirullah hal-adzim, ada apa, Mas?"
"Jangan ngelamun, habis ini kita langsung pulang!" ketus laki-laki yang bersama Cia.
"Iya, Mas Riko, Cia minta maaf," sesal Cia.
Dia begitu menyesal telah memikirkan laki-laki lain padahal suaminya sendiri duduk di depannya.
__ADS_1