
"shine, kamu di dalam?" suara seseorang mengetuk pintu apartemen milik shine membuatnya bangkit dengan enggan. Ia melangkah sembari mengingat-ingat suara yang terdengar asing itu dan siapa yg tau namanya padahal ia bukan jenis manusia yg senang berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Ia bahkan baru pindah beberapa bulan yang lalu di tempat itu, apartemen yg ia beli setelah menguras habis tabungannya selama beberapa tahun ini.
Shine membuka pintu dengan malas kemudian dengam cepat ia menutup kembali pintu itu karna tersadar dengan penampilannya yg sedikit terbuka, ia mendengar suara wanita memanggil namanya barusan, lalu kenapa justru seorang pria dengan setelan jas rapi yg nampak berdiri tegak di depan pintu apartemennya?
"shine, ada yang mencarimu. Kenapa kamu tutup lagi pintunya?" itu suara Indira, tetangga baru yang selalu bersikap sok akrab dengan Shine padahal ia sudah sangat membatasi interaksi mereka.
Shine menyambar cardigan panjang kemudian membalut tubuhnya yang memang hanya mengenakan celana hotpans dan baju croptop tanpa lengan. Shine merasa bebas mengenakan apapun karna ia memang tinggal hanya seorang diri jadi penampilan tidak memusingkan nya.
"anda benar mencari saya?" ucapnya malas setelah membuka kembali pintu dan menyembulkan sebagian tubuhnya saja.
"yang sopan dong shine," tegur Indira mendengar cara Shine menyambut tamu, ia bahkan enggan membuka lebar pintu apartemennya.
"tidak masalah mbak, saya juga tidak ingin basa-basi, mungkin nona Shine sedang sibuk. Saya hanya ingin menyampaikan surat panggilan khusus untuk para penulis dan editor dari kantor direksi Gaster group. Nona Shine belum mengkonfirmasi alamat barunya sehingga saya harus datang langsung mengantar surat panggilan ini." Shine baru teringat bahwa ia memang belum mengonfiasi alamat barunya pada perusahaan tempat ia bekerja.
"baik, terima kasih, secepatnya saya akan mengonfirmasi alamat baru saya, dan hati-hati di jalan." Shine hendak menutup pintu apartemen nya saat pria bernama Malik yg sempat Shine baca namanya di kartu pengenal perusahaan yg tergantung di lehernya itu berlalu, tiba-tiba tertahan karna tetangga sok akrabnya itu memaksa masuk dan tersenyum dengan wajah tanpa dosanya itu. "Shine, boleh aku mencoba semua masakanmu ini? Kau masak banyak sekali padahal yang makan hanya kamu sendiri." tanya nya yang lebih tepat disebut pernyataan karna kenyataanya ia langsung mendudukkan dirinya di di kursi meja makan dan jangan lupakan wajah innocenct nya itu.
Shine adalah seorang penulis novel dewasa yang kini mulai mencoba menjadi editor karna tawaran dari editor pribadinya yang merasa bahwa Shine punya kemampuan di bidang itu. Shine yg memang sedang membutuhkan biaya lebih dengan sedikit terpaksa menerima tawaran itu karna memang ia memgajukan beberapa syarat termasuk ia tidak harus kerja di kantor yang sama dengan pegawai lainnya, ia bisa mengerjakan bagiannya dari rumah namun target pekerjaannya juga sedikit lebih banyak dari para editor yg bekerja mengikuti jam kantor.
Shine menatap malas pada Indira yang dengan tidak tahu malunya mencicipi semua jenis masakan yg tertata rapi di hadapannya. "katakan sejujurnya indira, apa kau salah satu dari suruhan pak tua itu yang ia tugaskan untuk mengawasi hidupku?"
Kalimat todongan itu membuat indira mengerutkan keningnya dan menatap Shine penuh tanya.
"maksudmu bagaimana?" tanya nya setelah tidak berhasil menebak tuduhan Shine padanya.
__ADS_1
"tidak. Lupakan. dan cepat keluar dari rumahku, aku sedang sibuk." balas Shine yang membuat indira menghela napas. Dasar manusia langka, senang sekali memyendiri. Pikirnya.
**
"Tangan dan kelopak matanya mulai bergerak, Dok." samar-samar Shine mendengar suara itu, suara indira, telinganya tidak mungkin salah mendengar meski kelopak matanya terasa berat untuk dibuka. hal pertama yg Shine lihat setelah dengan perlahan membuka matanya adalah wajah seorang pria memakai jas putih, ini bukan kamarnya, dan bau itu, bau obat-obatan yang mulai masuk ke indra penciumannya. Bau khas rumah sakit. mungkin pria ini seorang dokter, pikir Shine. Tapi tunggu dulu, rumah sakit? Kenapa ia berada dirumah sakit? Tepatnya terbaring di ranjang rumah sakit. Shine mulai mengingat-ingat kejadian terakhir sebelumnya. "akhirnya kamu sadar, shine, aku sungguh khawatir dan bingung." indira mengusap lengan Shine lembut dan ucapannya membuat Shine berkesimpulan bahwa ia memang sedang tidak baik-baik saja. Apa Indira yang membawanya ke rumah sakit? Tapi seingatnya, mereka tidak sedang bersama terakhir kali ia sadar.
"kenapa denganku? Bagaimana aku ada disini?" tanya Shine dan setelahnya ia merasakan nyeri dibagian kepala dan lengan kirinya.
"lakukan perlahan nona, tangan anda sedang cidera. Apa anda merasa pusing atau mual?" tanya seorang pria berjas putih yg sudah pasti adalah seorang dokter. "tenang Shine, nanti ku jelaskan. Jawab dokternya, apa kau pusing atau mual?" ulang Indira melihat tatapan penuh tanya yang Shine tujukan padanya. "kamu kecelakaan, dan riwayat panggilan terakhirmu adalah nomor telponku, jadi orang-orang yang melihat kejadian itu menghubungi ku." jelas Indira karna shine seolah menunggu penjelasannya tanpa berniat menjawab pertanyaan dokter yang masih setia melakukan pengecekan padanya.
"hanya sedikit pusing dan nyeri, dok. Tapi kenapa tangan saya tidak bisa digerakkan?" tanya shine setelah mendengar penjelasan indira.
"tangan kiri anda patah, nona, tapi bukan jenis patah yang parah, tulang pergelangan tangan anda sedikit retak jadi untuk sementara tangan anda akan sulit digerakkan." penjelasan dokter barusan membuat shine sedikit panik, bagaimana ia harus bekerja jika tangannya cidera. mengingat soal bekerja, harusnya ia berangkat ke kantor direksi memenuhi undangan khusus bagi para penulis dan editor. Lalu apa yg terjadi sampai ia kecelakaan dan sudah berapa lama ia di rumah sakit ini?
"siapa yang membayar tagihan rumah sakit ini, indira?" tanya Shine
"pria yang menganantar surat undangan di apartemenmu. Sungguh aku sudah bilang aku saja yang membayar, tapi pria berwajah datar itu bilang perusahaan bertanggung jawab atas keselamatanmu, shine."
"dan lagi, aku baru melihat ada bos yg datang langsung menjenguk pegawainya." sambung indira membuat shine bereaksi sedikit kaget. Bos siapa maksudnya? kalo yang Indira maksud adalah sang CEO, apa iya? Shine pribadi bahkan belum pernah melihat wajah bos perusahaan tempatnya bekerja.
"bos siapa maksudmu?" tanya nya sambil mencoba untuk bangun.
"jangan terlalu banyak bergerak dulu shine, kedua tangan mu bahkan sedang tidak bisa kau gunakan." omel indira yang kemudian mencoba mengatur brangkar tempat shine berbaring agar sedikit tegak.
__ADS_1
"semalam bos perusahaan mu menjengukmu. Tidak. Maksudku menjagamu disini. Aku harus pulang mandi shine, dan dia melarangku kembali karna memang sudah larut malam, jadi dia menjagamu sepanjang malam." sambung indira sembari membetulkan posisi Shine dengan perlahan.
"apa kau tau bagaimana aku bisa mengalami kecelakaan?" tanya shine seolah tak perduli dengan cerita indira sebelumnya.
"aahh soal itu-"
"mbak indira boleh pulang sekarang, biar nona shine saya yang jaga untuk sementara." potong seseorang yang shine ingat bernama Malik yang tiba-tiba sudah masuk dalam ruang rawatnya.
"yasudah. Shine, aku pulang dulu, aku harus mandi dan istirahat sebentar. nanti kubawakan makanan untuk mu." pesan Indira.
"jawab pertanyaan ku dulu. Dan tidak perlu kembali, banyak perawat disini. Kita tidak sedekat itu sampai kau berkewajiban menjagaku sepanjang hari." balas Shine sambil menatap datar pada Indira dan Malik. Sejujurnya perkataan itu juga ia tujukan pada pria berjas rapi itu. Apa dia selalu memakai pakaian rapi sepanjang hari? Atau dia hanya punya jenis pakaian yang seperti itu saja?
"apa tujuanmu repot-repot menjagaku disini tuan Malik?" tanya Shine memecah keheningan setelah beberapa waktu lalu Indira berlalu dengan menyebalkan karna tanpa menjawab pertanyaannya.
"saya tidak diberi hak untuk menjelaskan semua pertanyaan yang mungkin muncul di kepala anda, nona. Sebentar lagi Tuan Evanndo kemari. nona bisa menanyakan segalanya pada beliau." benar kata Indira, lelaki ini jenis manusia tapi menyerupai robot. Terlalu Datar dan kaku, pikir Shine.
"apa anda tahu penyebab saya mengalami kecelakaan?" tanya Shine lagi
"maafkan saya, nona." jawab Malik sambil menundukkan kepala pertanda ia memang tidak akan mau menjawab satu pertanyaan pun.
"duduklah. Apa kaki mu tidak pegal berdiri sejak tadi?" ucap Shine akhirnya. Ia malas bertanya lagi. suasana kembali hening. Shine tiba-tiba merasa ingin ke kamar mandi tapi bingung, bagaimana caranya ia buang air kecil sedangkan kedua tangannya sulit digerakkan. Sampai akhirnya sepasang sepatu mengkilap terlihat di samping tempat tidur Shine yang membuatnya reflek mendongak.
"selamat sore, Shine Aurora, bagaimana keadaanmu?" ucap si pemilik sepatu mengkilap itu membuat Shine seolah terhipnotis karna sumpah demi apapun, parasnya sangat rupawan.
__ADS_1